Petaka 40 Hari Masa Nifas

Petaka 40 Hari Masa Nifas
Karma


__ADS_3

"Sudahlah Bu! Jangan membuat kekacauan di rumah sakit." Tukas Adam yang memperingati ibunya, saat ini dia hampir frustasi karena merasa sangat bersalah kepada Mawar.


"Gak bisa gitu dong, Ibu hanya ingin cucu Ibu diselamatkan."


"Tapi takdir sudah berkata lain," sela dokter menghentikan aksi heroik dari wanita paruh baya yang tidak terima jika calon cucunya sudah tiada.


Wanita paruh baya itu memandang lurus ke depan dengan pandangan kosong, harapan yang sudah begitu banyak dan rencana-rencana yang sudah disusun rapi untuk menyambut kedatangan calon cucu laki-lakinya, hal itu membuatnya sangat sulit untuk menerima keadaan.


"Bagaimana dengan jenis kelamin dari janin itu dok?" 


"Belum bisa ditentukan." 


Pertanyaan Adam berhasil membuat ibunya marah hingga membuat pria malang itu mendapat pukulan di bagian lengan. "Apa kamu meragukan jenis kelamin calon anakmu itu, sudah pasti jenis kelaminnya laki-laki. Oh iya Dok, apa menantuku itu masih memiliki peluang mempunyai anak laki-laki? Setidaknya hatiku sedikit pulih mendengar penjelasanmu."


"Hem, ada hal penting yang harus kalian ketahui." Ucapkan dokter yang menghela nafas berat, tentunya dia merasakan bagaimana menjadi keluarga pasien. 


Adam dan ibunya fokus menatap dokter berharap itu bukanlah hal yang buruk.

__ADS_1


"Apa itu, Dok?"


"Insiden yang membuat pasien keguguran dan sangat membahayakan tubuhnya, dengan terpaksa kami mengangkat rahimnya."


Deg


Bagai tersambar petir di siang bolong, impian yang begitu tinggi terhempaskan hanya karena ucapan dari sang dokter, keduanya diam terpaku dengan perasaan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. 


"A-apa artinya kalau istriku … tidak bisa hamil lagi?" 


Merasa tak terima, ibu Adam kembali mencengkram leher dokter, dia berteriak karena tanpa persetujuannya tiba-tiba rahim sang menantu diangkat. 


"Berani sekali anda mengangkat rahim menantuku tanpa memberitahu kami terlebih dahulu, aku akan menuntutmu Pak dokter!" kecamnya yang menatap dokter dengan tajam juga menusuk.


"Ibu jangan membuat aku malu, sebaiknya Ibu pulang saja!" kejadian ini benar-benar membuat Adam merasa terpukul, anak yang dia nanti-nantikan sudah diambil sang maha Kuasa bahkan belum sempat lahir ke dunia.


"Maaf, kami terpaksa menindaklanjuti tanpa memberitahu kalian. Tapi kondisinya benar-benar darurat dan juga kritis, jika tidak mengangkat rahimnya maka nyawa pasien dalam bahaya."

__ADS_1


"Apa peduli kepadanya, gara-gara tindakan ceroboh mu Dok, membuat menantuku menjadi mandul." 


Adam merasakan sakit kepala yang luar biasa, perdebatan yang tiada ujung itu membuatnya dengan terpaksa menarik pergelangan tangan sang ibu dan membawanya keluar dari rumah sakit.


"Sebaiknya Ibu pulang, jangan membuat kepalaku tambah sakit!" 


"Harusnya kamu tidak membawa Ibu ke sini, semua ini gara-gara dokter itu, Mawar menjadi mandul."


"Bukan karena dokter, tapi akulah yang bersalah yang sudah mendorong Mawar hingga dia keguguran dan rahimnya diangkat."


"Mengapa semua ini terjadi? Apa salahnya kalau aku berharap mempunyai cucu laki-laki sebagai penerus keluargaku." Monolognya seraya berlalu pergi meninggalkan tempat itu, perencanaan untuk masa depan seketika sirna dalam sekejap mata. 


Adam tak ingin meninggalkan Mawar sendiri dan kembali masuk ke dalam bangsal. Kedua tungkai kakinya terasa lemas bila melihat tubuh yang terbaring lemah di atas brankar rumah sakit, perlahan dia menggenggam tangan sang istri kita mengecupnya. 


"Maafkan aku, karena aku … kamu kehilangan bayi kita dan juga rahimmu diangkat."


Tanpa disadari oleh Adam, tiba-tiba mata mawar yang masih tertutup meneteskan air mata. 

__ADS_1


__ADS_2