
"Apa yang sedang kalian bicarakan?"
Aku melihat dua orang pria saling berdiskusi entah apa itu, aku dan bunda Kejora baru ikut bergabung merasa penasaran topik pembicaraan mereka.
"Mengenai pernikahanku, Bun. Aku dan Luna memutuskan akan menikah minggu depan, segera aku mengurus surat-suratnya."
"APA?" bukan hanya aku saja yang keget tapi bunda Kejora tak kalah dari ekspresi yang aku tunjukkan, aku memang ingin menikah tapi tak secepat itu juga.
"Apa kamu masih waras? Kamu pikir pernikahan itu seperti membolak-balikkan tangan begitu?" cetus bunda Kejora menegak pinggang. sambil memelototi anaknya. "Semuanya butuh persiapan yang matang, satu bulan itu sudah sangat cepat Nak."
"Tapi itu sangat lama Bun, gak apa-apa nikah dulu di kantor KUA dan resepsinya menyusul belakangan yang terpenting sah." Jawab Mas Biru membuat kedua mataku berkedut.
"Urus anakmu Yah, Bunda capek ngobrol sama dia."
Aku melihat dengan jelas, bagaimana bunda Kejora memijat kepalanya ya mungkin terasa pusing saat mendengar keputusan dari anaknya yang termasuk bar-bar.
"Jangankan Bunda, ayah saja kalah berdebat darinya."
__ADS_1
"Apa ini tidak termasuk cepat Mas? Maksudku, apa yang di usulkan kedua orang tua Mas itu sangat tepat."
"Memangnya kenapa? Bukankah lebih cepat itu lebih baik."
Aku tak tahu harus berkata apa lagi, hanya mengacungkan kedua jempolku sebagai apresiasi dan tak lupa senyum terpaksa untuk menghibur diriku sendiri. "Ya Tuhan … ternyata mas Biru ligat juga," batinku memujinya, namun itu juga terlihat seperti ambisi.
"Jadi sudah di putuskan kalau aku akan menikahi Luna minggu depan." Ucap Biru dengan bangga. "Dan tugas Ayah dan Bunda adalah memberikan kabar baik ini pada adikku yang sangat cerewet itu!"
"Ini kan rencanamu, kamu kabarkan saja pada adikmu." Sewot bunda Kejora.
"Bunda lagi PMS ya? Harusnya Bunda bahagia karena sebentar lagi Biru melepas masa lajang. Memang Bunda mau kalau Biru yang perjaka ini melajang sampai tua?"
"Ayah akan menghubungi Putih, dia pasti akan pulang!"
"Nah, begitu dong dari tadi. Jadi Biru gak perlu buat drama baru."
"Mengapa aku bisa mempunyai anak seperti Biru? Apa ini ada pengaruhnya saat membuatnya dulu aku sering mematikan lampu?" batin ayah Bintang.
__ADS_1
"Dengarkan Sayang, seminggu lagi kamu resmi menjadi istriku."
Senyum mas Biru membuat bulu kudukku meremang, senyum tak biasa utu mempunyai artian yang sangat berbeda. Aku menelan saliva dengan susah payah, pengalaman membuatku mulai memahami tujuan dari otak kotor seorang pria.
"Sebaiknya Bunda pergi, ada barang belanjaan yang harus di beli. Ayo Yah!"
Aku melihat bunda yang menarik tangan ayah Bintang, sudah dipastikan kalau mereka sama malunya mendengar ucapan mas Biru yang nyeleneh.
"Biru titip manisan."
"Oke."
Tinggallah kami berdua di ruangan itu, aku hendak pergi dari sana agar selamat tapi tanganku langsung ditarik hingga terjatuh di atas dadanya yang bidang.
Mas Biru melingkarkan kedua tangannya memelukku erat, aku berusaha memberontak karena aksinya yang terbilang berani.
"Mas, lepas! Ini tidak benar."
__ADS_1
Seketika pelukan itu terlepas, tapi tak ada penyesalan di wajah mas Biru yang bahkan mulai tersenyum nakal.
"Itu hanya latihan, nanti pas kita sudah sah." Bisik mas Biru membuatku mencari alasan kabur darinya.