
Baru saja kaki melangkah sudah mendapatkan tatapan tak suka dari nyonya Kejora, aku mengerti perasaan seorang ibu yang menginginkan hal terbaik untuk anaknya. Aku menundukkan kepala tak berani menatap mata majikan ku itu, namun penasaran pada beberapa orang tamu.
"Luna? Itu kamu?"
Aku mendongakkan kepala saat namaku di panggil, tentu saja itu terjadi karena penampilanku sangatlah berbeda. "Iya Nyonya."
"Bagaimana Bun, Luna cantikkan?" sahut mas Biru yang menghampiri bunda nya.
"Lumayan."
"Ya sudah, kamu kembali kerjakan pekerjaanmu!"
"Baik Nyonya." Aku melangkah pergi, tak enak pada tamu majikanku yang datang berkunjung.
Biru menatap dua orang yang menatapnya dengan senyuman ramah, dia membalasnya dengan senyuman. Seakan mengerti, bunda Kejora segera memperkenalkan.
"Oh iya, ini tante Mehta dan anak gadisnya bernama Indri. Ini anak ku Jeng, namanya Biru."
"Salam Tante. Hai Indri." Sapa Biru ramah.
"Hai." Balas Indri tersenyum malu.
"Ini anak sulungmu, Jeng?"
Bunda Kejora menganggukkan kepala bersemangat memperkenalkan anaknya. "Iya, Jeng. Anak kedua ku masih kuliah di luar kota, mungkin lusa dia baru balik."
__ADS_1
"Oh begitu."
Biru merasa sudah cukup sekedar say hello, hendak berbalik dan pergi dari tempat itu. Tapi dengan cepat bunda Kejora memegang pergelangan tangan, membuatnya berhenti dan menoleh.
"Apa sih Bun."
"Kamu mau kemana?"
"Ke kamar, Biru capek."
"Di sini aja dulu, temani Indri. Ajak dia berjalan keliling rumah kita!" titah bunda Kejora.
"Yaudah deh … sebentar aja tapi."
"Mereka tampak serasi ya Jeng."
"Iya Jeng. Duh, udah gak sabar jadi besanan." Ujar Mehta.
"Sabar dulu Jeng, kita lihat perkembangan mereka. Kalau cocok, kenapa tidak."
Aku yang lewat mendengar semua perkataan itu, hatiku menjadi sedih tapi segera aku tersadar akan posisi yang hanyalah seorang pembantu dan statusku janda anak satu. Tentu nyonya Kejora menginginkan hal yang terbaik untuk anaknya, wanita yang masih gadis dan terlihat berpendidikan, bukan seperti aku.
"Sadar Luna … walaupun mas Biru menginginkanmu, tapi nyonya tidak menyukaimu. Jangan berharap lebih dan juga tinggi menjadi Cinderella, semua itu hanya cerita dongeng." Batinku meyakinkan posisi sebenarnya.
Aku segera ke dapur membuatkan cemilan dan juga teh untuk tamu nyonya, namun Kanaya yang menangis membuatku sedikit kesulitan menyelesaikan pekerjaan.
__ADS_1
"Cup … cup, jangan nangis ya Sayang." Aku menggendong Kanaya untuk menenangkannya, setelah itu kembali menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda.
Sementara di sisi lain, Biru terpaksa menemani Indri untuk berkeliling. Sebenarnya dia sangat malas, namun perintah dari Ibunda tentu harus di laksanakan sebelum bunda Kejora kesal dan mengutuknya menjadi batu.
"Kegiatan mas Biru apa aja?" tanya Indri mencairkan suasana yang sedari tadi kaku.
"Membantu ayah dalam usaha keluarga yang bergerak di bidang tekstil, dan kamu?"
"Aku bekerja di perusahaan Khana Corp sebagai sekretaris."
"Wow, aku dengar masuk di perusahaan besar itu cukup sulit. Itu berarti kamu sangat pintar dan kompeten, pertahankan."
"Alhamdulillah. Oh ya, tadi itu siapanya Mas?"
"Itu Luna, dia bekerja di sini."
Keduanya terus mengobrol hingga satu jam tak terasa, Biru kembali mengantar Indri dan berpamitan pada semua orang karena hari ini dia ingin istirahat di kamarnya.
"Bagaimana Indri?" tanya Mehta, sedangkan bunda Kejora juga menantikan jawaban dari gadis itu.
Indri tersenyum malu dan menganggukkan kepala. "Mas Biru orangnya asik dan juga pintar, wawasannya sangat luas. Juga …."
"Apa?" tanya dua wanita paruh baya yang sangat penasaran.
"Indri suka mas Biru." Jawab gadis itu tersipu malu, menyukai Biru pada pertemuan pertama mereka.
__ADS_1