Petaka 40 Hari Masa Nifas

Petaka 40 Hari Masa Nifas
Kedatangan Putih


__ADS_3

Aku sangat bahagia, dan berharap kalau mas Biru menjadi pelabuhan terakhirku. Jangan sampai kejadian lalu kembali terulang, sebab aku membutuhkan waktu agar luka itu kembali sembuh. Namun, kedatangan mas Biru yang tulus membuatku dengan cepat melupakan kekecewaan saat dikhianati.


Aku segera melangkah menuju kebahagiaan ku dan juga anakku, aku bersyukur kalau keluarga terutama bunda Kejora tak mempermasalahkan lagi mengenai status jandaku. 


Aku cukup beruntung memiliki calon mertua seperti bunda Kejora dan ayah Bintang, tapi aku cukup deg-degan untuk bertemu adiknya mas Biru yang bernama Putih. Begitu banyak yang aku pikirkan, terutama apakah dia akan menerimaku sebagai kakak iparnya? Apalagi aku menikahi seorang perjaka yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. 


"Tenanglah, Putih pasti menyukaimu." Bisik mas Biru seraya mengenggam sebelah tanganku, dia tahu kalau aku cukup grogi dan gugup untuk menemui calon adik iparku. 


"Jangan berlebihan, Lun. Putih orangnya periang dan ceria, dia pasti menerimamu dengan sangat mudah." 


Aku mengangguk, sedikit rasa di hati berkurang. "Iya Bunda."


"Ayah … Bunda … kak Biru, yuhuu." 


Semua orang menutupi telinga mereka, suara cempreng memang membuat gendang telinga bermasalah. 


"Berisik!" ujar mas Biru yang tampak kesal. 


"Biarin." 


Aku melihat seorang gadis cantik menggunakan jeans berwarna denim dan memakai baju kaos berwarna putih, rambut yang lurus yang di kucir kuda membuatnya sangat cantik. Tatapan kami bertemu beberapa saat, dia langsung memeluk kedua orang tuanya dan juga mas Biru. 


"Gimana kabarmu, Sayang?"

__ADS_1


"Aku baik Bunda, di sana aku sangat merindukan kalian. Aku mulai berpikir kalau kalian pasti melupakan aku." Ujar Putih yang cemberut. 


"Tidak ada yang melupakanmu, Sayang." 


"Benarkah? Lalu, mengapa akhir-akhir ini kak Biru susah di hubungi?" Putih menatap kakaknya tajam, merasa ini tidak adil. 


Biru terkekeh dan menghampiri Putih, memeluk adiknya untuk melepaskan rindu karena sudah lama tak bertemu. 


"Kakak, aku merindukanmu." 


"Aku juga." 


Putih menatap Luna dari ujung rambut hingga ujung kakinya, dengan sinis mendekati calon kakak ipar yang membuat kakaknya tak menghubunginya lagi. 


"Hai, aku Luna." 


Aksi kontes menatap itu terhenti saat Kanaya menangis, aku segera menggendong anakku dan menenangkannya. 


"Apa itu Kanaya?" seru Putih membuatku mengangguk. 


"Dia Kanaya, anakku." 


"Apa boleh aku menggendongnya?" 

__ADS_1


"Tentu saja." Aku menyerahkan Kanaya yang sudah tenang kepada Putih, tampak dia sangat antusias menggendong bayiku. 


"Bayinya sangat imut dan pipinya bulan seperti bakpao, ahh lucunya … ingin rasanya aku menggigit pipinya yang tembem."


Plak


"Bunda ih, asal geplak kepala Putih." 


"Jangan aneh-aneh kamu." 


"Aku cuma gemas Bunda, serius amat sih." Cetus Putih. "Bun, apa aku dulu juga sekecil ini?" 


"Memangnya kamu pikir langsung besar, begitu?" geram bunda Kejora mengenai pertanyaan anak bungsunya, bahkan sifatnya itu lebih parah dari Biru. 


"Jadi bagaimana?" tanya Biru melipat kedua tangannya di depan dada. 


"Bagaimana apanya?" tanya Putih yang sedikit loading lambat, cara berpikir lambat membuat orang-orang di sekelilingnya kesal. 


"Calon istri Kakak, apa kamu menyukainya?" 


"Is, memangnya aku ini homo apa. Aku masih normal Kak."


Biru menghela nafas berat, selain cerewet adiknya juga lambat berpikir. 

__ADS_1


"Apa kamu setuju kalau Kakak menikahi Luna?" 


"Aku tidak punya alasan lain untuk menolaknya, dia cantik. Sekaligus … aku menjadi aunty tanpa menunggu waktu lagi." Ucap Putih tanpa menoleh, seluruh perhatiannya tertuju pada Kanaya. 


__ADS_2