
Kami saling tertawa membuat dua orang pria di luar sana menjadi penasaran, aku dan bunda Kejora mengalihkan perhatian menatap seorang pria yang tiba-tiba saja jatuh, bisa di pastikan mengintip kami.
"Biru? Kalian menguping pembicaraan kami?"
"Ahh Bunda, Biru tidak menguping."
"Ya, tentu saja." Cibir ku yang tahu kalau mas Biru berbohong.
"Apa yang kaliam bicarakan sampai tertawa? Bahkan tidak mengajak kami," sela ayah Bintang ikut menimbrug.
"Jadi benar kalau kalian sengaja menguping? Dasar tidak sopan."
Aku tertawa melihat bunda Kejora yang bertolak pinggang menatap dua orang yang sangat di cintai, sungguh keluarga yang menurutku harmonis.
Aku sangat bahagia sekali, nyonya Kejora sudah memberikan aku restu untuk menikahi anaknya. Apalagi yang ingin aku raih? Keluarga yang sangat sempurna.
Luna yang sekarang akan melangkah menuju kebahagiaan nya sangat berbeda dengan nasib Mawar, wanita yang dulu merebut Adam darinya melangkah menuju kesengsaraan. Pepatah pernah mengatakan, apa yang di tanam, itulah yang akan di tuainya.
Mawar menangis histeris mendengar perkataan dari suaminya, kehilangan sang buah hati dan juga rahimnya. Itu tandanya dia tak akan pernah dikaruniai seorang anak, kuasa sang Pencipta alam semesta tidaklah main-main dan kini hanya ada penyesalan.
Prank Prank Prank
"Mengapa semua ini terjadi padaku!" pekik Mawar yang tidak bisa mengontrol beban di hatinya.
"Sudahlah! Jangan menyalahi takdir yang sudah tertulis." Ucap Adam memeluk istrinya erat, berharap Mawar segera tenang.
__ADS_1
Namun Mawar bereaksi sangat berlebihan, dia mendorong tubuh Adam hingga terpental ke lantai. Entah kekuatan dari mana, yang jelas perasaannya sangat marah pada suaminya.
"Ini semua salahmu, Mas. Kamu yang membunuh anakku." Pekik Mawar histeris.
"Sayang, maafkan aku."
Mawar tertawa dan menangis secara bergantian, hal yang tidak bisa di terima membuat jiwanya terguncang cukup dahsyat. Inilah yang akan di tuainya, menghancurkan keluarga dengan merebut suami orang lain. Ganjaran yang di terimanya langsung di bayar lunas, kehilangan janin tak masalah baginya, tapi kehilangan rahim dan menjadi mandul akan membuatnya kesulitan. Ya, dia akan kesulitan mencari mangsa baru kalau keadaannya sudah mandul.
"Sayang, maafkan aku. Aku tidak sengaja melakukannya," Adam berusaha untuk meminta maaf, dia akan bertanggung jawab dengan tidak menceraikan Mawar sebagai kompensasi.
"Untuk apa kamu minta maaf pada wanita yang tidak bisa memberi kamu keturunan? Sekarang dia wanita mandul, CERAIKAN DIA!" tekan seseorang begitu arogannya saat masuk ke dalam bangsal.
"Aku kehilangan janin dan juga rahimku karena anakmu itu, bisa-bisanya aku di perlakukan seperti ampas yang tak terpakai." Protes Mawar.
Mulut kasar dari ibu mertuanya, Mawar sangat marah hingga dia melemparkan benda yang dekat pada jangkauan tepas sasaran mengenai kening ibu mertuanya.
"Wanita sialan!"
Adam begitu kalut melihat suasana itu, ibu dan juga istrinya saling menjambak satu sama lainnya.
"SUDAH HENTIKAN!" pekiknya membuat kedua wanita itu menghentikan aksi heroik mereka.
"Dam, lebih baik kamu ceraikan wanita yang tidak berguna itu!" rengek sang ibu.
"Ceraikan saja aku, maka aku akan menjebloskan mu ke penjara sampai membusuk." Ancam Mawar yang mengingat Iren, temannya yang bodoh itu pasti akan membantunya dalam kesulitan.
__ADS_1
Adam diam sejenak menatap kedua wanita secara bergantian, dia bingung mau memutuskan apa.
"Aku sudah memutuskan untuk tidak menceraikan Mawar apapun keadaanya."
"Dam."
"Ini sudah keputusanku, Bu."
"Kamu mau jadi anak durhaka, hah."
"Lalu, aku harus apa?" ucap Adam mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ibu tidak akan memaksamu menceraikan Mawar, tapi kamu janji harus memberikan ibu keturunan laki-laki dari istrimu."
"Tidak bisa. Mas Adam tidak aku ijinkan menikah lagi." Protes Mawar menolak persyaratan itu.
"Aku tidak butuh pendapatmu." Balas ibu mertuanya tak kalah sengit.
"Stop. Aku akan menikah lagi dan memberikan ibu cucu laki-laki sesuai janjiku."
"Bagus Nak."
"Mas."
"Maaf, ini sudah keputusanku. Aku janji akan bersikap adil padamu dan juga adik madumu."
__ADS_1