Petaka 40 Hari Masa Nifas

Petaka 40 Hari Masa Nifas
Suami sayang istri


__ADS_3

"Luna … Luna." 


Aku berlari menuju sumber suara, nyonya Kejora memanggilku. Aku meninggalkan pekerjaan dan menemuinya lebih dulu, penasaran mengapa  nyonya memanggil. 


"Iya Nyonya, ada perlu apa?" 


"Ini daftar belanjaannya, kamu pergilah ke pasar." 


Aku mengambil daftar belanjaan dari tangan nyonya Kejora dan melihatnya apa saja yang akan di beli nanti. 


"Dan ini uangnya. Kamu harus cepat pergi mumpung masih pagi, banyak sayuran segar yang bisa di beli." 


"Iya Nyonya."


Aku bersiap-siap dan membawa Kanaya ikut bersamaku, mana mungkin aku meninggalkannya sendirian. Seperti biasa aku berpenampilan sederhana, pakaian lusuh dan wajah yang sedikit dekil karena tidak pernah perawatan. Aku menggendong anakku di gendongan instan, tak lupa membawa payung kecil yang berguna melindungi bayiku dari sengatan matahari. 


Aku buru-buru pergi, tapi langkah terpaksa berhenti saat mendengar suara mas Biru. 


"Iya Mas, ada apa?" 


"Kamu mau kemana bawa Kanaya?" 


"Ke pasar cari sayuran segar." 


"Oh, aku ikut ya!" 


"Eh, gak usah Mas. Di pasar itu becek, nanti pakaian Mas Biru kotor." 

__ADS_1


"Kalau kotor bisa di cuci, apa kamu pikir aku gak pernah ke pasar?"


"Tapi Mas__."


"Udah, gak apa-apa. Masalah bunda bisa aku atasi, ayok aku antar ke pasar naik motor." 


"Iya Mas." 


Di sepanjang perjalanan, aku terdiam dan sesekali membalas perkataan mas Biru. Ku alihkan pandangan ke depan, sambil sebelah tangan memegang penyangga di bagian belakang, dan sebelahnya lagi memegang Kanaya. 


"Pegangan Luna, bahaya." 


"Tapi Mas."


"Cepat! Nanti kamu jatuh, kasihan Kanaya." 


Biru tersenyum dan menikmati suasana itu, melirik tangan lentik yang melingkar di pinggangnya. Tak bisa dia menyembunyikan betapa bahagia dirinya saat tidak ada jarak di antara mereka, jika orang lain melihat secara sekilas mereka akan menyangka kalau Luna merupakan istrinya. 


"Andai pasarnya jauh, bila perlu seratus lima puluh kilometer pasti aku tempuh." Batin Biru cekikikan membayangkan waktu berjalan sangat lama, apalagi bersama Luna dia mendapatkan kebahagian itu. 


"Mas kenapa?" Aku mengerutkan dahi, rasa penasaran ku cukup tinggi bila mendengar suara cekikikan dari Mas Biru. 


"Iya, kenapa Dik." 


"Hah?"


Dia memanggilku Dik? Apa aku tidak salah dengar. 

__ADS_1


"Mas kenapa cekikikan begitu?" tanyaku ulang. 


"Ah gak apa-apa, tadi Mas gak sengaja lihat kucing nyungsep masuk got." 


Aku tertawa, lebih tepatnya tertawa di paksakan, jawaban yang tidak sinkron dengan apa yang terjadi. Tapi ya sudahlah, aku pun diam sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahku dan sesekali melihat Kanaya. 


Satu persatu sayuran aku pilih, melihat isi di daftar yang sudah di tulis oleh nyonya Kejora. Dengan teliti aku menceklis beberapa di list karena sudah membelinya, mas Biru turut ikut andil dalam membantuku membawa belanjaan. 


"Neng beruntung dapat suami yang mau ke pasar bantuin istrinya bawa belanjaan." Ucap salah satu pembeli di tapak yang sama denganku. 


"Dia bukan __." 


"Iya Mba, namanya suami sayang istri, apapun pasti di lakukan." 


Aku memelototi mas Biru yang malah menyela perkataan ku, bisa-bisanya dia mengatakan itu di depan orang banyak. 


"So sweet, pasti Mas cinta banget sama istrinya sampai di kintilin ke pasar." Sela ibu-ibu yang lain. 


Semua orang di sana tertawa, lain halnya denganku. 


"Mas, kenapa mengatakan itu tadi?" 


"Yang mana?" 


"Jangan pura-pura lupa Mas, kita baru pergi lima menit yang lalu." 


"Aku tidak ingat." Jawab Biru tertawa puas.

__ADS_1


__ADS_2