Petaka 40 Hari Masa Nifas

Petaka 40 Hari Masa Nifas
Perasaan Luna


__ADS_3

Akhirnya aku bisa bernafas lega, mas Biru sudah mengatasi polemik yang sedang aku hadapi. Dia memintaku untuk menceritakan apa yang terjadi, aku ceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat. Tak sengaja aku melihat tangannya terkepal erat, menyadari kalau dirinya selalu ada di saat aku membutuhkannya. 


Aku menundukkan kepala mengingat pernyataan cinta mas Biru, kenyamanan dan juga selalu merasa aman membuatku sudah terbiasa dengan kehadirannya. Aku merasa bersalah, andai saja dia tidak memaksaku bercerita mengenai apa yang terjadi, apa yang bisa aku lakukan sekarang?


"Terima kasih, Mas ada di saat aku membutuhkan. Tapi Mas tidak perlu khawatir, aku bisa menangani mas Adam." 


Aku berusaha agar mas Biru tidak terpancing emosi, namun gerakannya sangat cepat sampai aku bingung yang sekarang sudah berada di dalam pelukannya. Aku membulatkan mata, kami sangat dekat tanpa ada jarak menghalangi, bahkan aku bisa mencium aroma parfumnya yang sangat wangi menusuk hidungku.


Aku berusaha untuk melepaskan pelukannya, tapi pelukan itu malah semakin mengerat. Ini sudah tidak benar, bagaimana dengan perkataan bunda Kejora mengenai anaknya. Aku bukanlah wanita yang kejam, mengerti kecemasan ibu lainnya. 


"Mas, ini tidak benar." 


"Sebentar saja." Lirih pelannya. 


Aku merasa dada ku berdebar dengan sangat cepat, tidak ada jarak membuatku sedikit bingung untuk menyembunyikan ini. Jantung yang berdetak dua kali lebih cepat, seakan mau lepas dari tempatnya. 


"Ya Tuhan, ada apa dengan jantungku?" batinku bingung, mencoba untuk mendorong tubuh mas Biru, takut kalau dia sampai tahu hal ini. 


Pelukan yang terjadi cukup lama, aku bahkan mendengar suara detak jantungnya dengan sangat jelas. Ya, tubuhnya yang tinggi dan aku hanya setinggi dadanya saja jelas mendengar debaran jantungnya. 


"Mas Biru juga berdebar? Mungkin perasaanku saja." Pikirku yang sengaja menepis fakta yang berlaku. 


Akhirnya pelukan itu terlepas di saat kami mendengar suara tepuk tangan yang menertawai. Aku mengalihkan pandangan menuju sumber suara, dan melihat sosok mas Adam menatap kami sinis. 


"Kamu wanita yang sangat hebat, Luna. Kamu bahkan belum terlepas sepenuhnya dariku tapi sudah mencari laki-laki lain, wanita macam apa kamu ini." 


Kalimat sindiran dari mas Adam terasa menyakitkan telinga yang mendengar, dengan cepat aku menahan mas Biru agar diam tanpa memperpanjang masalah. 

__ADS_1


"Kamu di sini, Mas?" 


"Ya. Sebenarnya aku datang untuk membantu biaya perawatan Kanaya, semua aku lakukan setelah pertengkaran batin. Tapi sepertinya aku datang di waktu yang salah."


Sangat terlihat jelas mas Adam kembali menyindirku, dari tatapannya yang merendahkan. 


"Membantu?" Aku tertawa getir, bagaimana mas Adam yang tidak memiliki rasa khawatir pada Kanaya. Aku sempat berpikir, mengapa aku bisa baru mengetahui sifat aslinya setelah lima tahun kami hidup bersama. Aku seperti tidak mengenali mas Adam lagi, bagai satu orang yang memiliki kepribadian. 


Dua tatapan sengit yang menusuk, aku tak ingin adanya perkelahian di rumah sakit dan segera menarik tangan mas Biru untuk menjauh. Walaupun dia enggan untuk pergi, aku memberikan isyarat mengalah. 


"Wanita tak bermoral, bahkan kamu belum lepas sepenuhnya dari ku dan hanya seorang pengecut yang lari dari kenyataan … dasar j*lang."


Bugh


Aku sedikit berteriak sambil menutup mulut menggunakan tanganku saat mas Biru memberi bogeman mentah di wajah mas Adam, pria yang menghina juga merendahkanku jatuh tersungkur hanya dalam sekali pukulan saja. 


Mas Biru yang di kuasi amarah, bahkan aku sudah mencoba menariknya pergi agar tidak menjadi tontonan orang-orang yang berlalu-lalang.


"Pukulan mu boleh juga." Ucap Adam seraya menyeka sudut bibirnya yang sedikit koyak dan berdarah, merasa kalau mulutnya sakit untuk di gerakkan.


"Pergi dari sini sebelum aku hilang kendali." Ancam Biru tak main-main, kali ini dia terlihat seperti orang lain, dingin dan elegan. 


"Seharusnya kamu yang pergi." Adam meraih tangan Luna dan menariknya dalam pelukannya, menatap Biru sebagai rival yang harus tahu diri.


Beruntung ada mas Biru yang langsung menghalangi, aku tidak mau berada di dalam pelukan mas Adam. Tapi kini posisiku bahkan lebih sulit, kedua tanganku di tarik di dua arah yang berbeda layaknya dua orang memperebutkan mainan, dan aku lah mainan yang mereka perebutkan.


"Aww …" Aku tidak bisa menyeimbangkan tubuhku hingga terjatuh, si saat kesempatan itulah kedua pria yang tadinya memperebutkannya pergi menjauh. Aku segera bangkit dan mengejar dua orang yang sepertinya menuju taman, menjadi tontonan orang-orang di sana. 

__ADS_1


"Jangan ganggu Luna lagi." Biru mencengkram kerah leher baju Adam, tatapan amarah bergejolak sangat jelas. 


"Kamu hanya orang asing di antara kami, maka bertingkahlah layaknya orang asing." 


Keduanya tak ada yang mengalah, hingga tercipta pertengkaran yang saling menyerang. Aku berdecak kesal dan berlari menghampiri m, tentunya memisahkan keduanya dengan hati-hati agar tidak terkena serangan salah sasaran. 


"BERHANTI." Aku berteriak dan berusaha memisahkan, tapi tidak berhasil. Tak ada pilihan lain, aku bergegas kembali untuk memanggil security. 


"Awas kamu." 


"Pergi dari sini Mas!" pekikku pada mas Adam yang mengancam mas Biru. Ku alihkan pandangan pada pria yang membelaku, wajah tampannya terluka akibat pertarungan tadi. "Mas tidak apa-apa?" rasa cemas menyelimutiku, segera menariknya menjauh dari keramaian yang menonton aksi gratis. 


Aku mengobati luka di wajah mas Biru dengan penuh hati-hati juga pelan, takut kalau sampai menyakitinya. "Harusnya Mas tidak mendengarkan dan  menyerangnya." 


Seketika itu juga, tangan mas Biru memegang pergelangan tanganku dan menghentikanku untuk mengobati luka di wajahnya. Tatapan kami saling bertemu, dia seperti mencari jawaban di sana. 


"Apa kamu merasa kasihan padanya? Pria yang menolak kehadiran Kanaya dan pria yang sama menghina juga merendahkanmu." 


Aku terdiam kemudian tersenyum. "Aku sudah terbiasa, biarkan saja." 


Tatapan yang tadinya menyelidik sekarang berubah sangat lembut penuh kasih. "Aku tidak suka kalau ada yang menghinamu seperti tadi, karena aku sangat mencintaimu. Luna, berikan aku kesempatan dan bukalah hatimu. Aku tahu ini bukan waktu yang pas, sungguh aku tidak bisa hal buruk sampai terjadi padamu." 


Ya, aku tidak akan berbohong lagi kalau sebenarnya aku juga mencintai mas Biru. Namun ketakutan akan kegagalan itu masih saja menghantuiku, ingin sekali aku mempercepat proses perpisahan dengan mas Adam. 


"Aku … aku tidak tahu Mas." Aku segera beranjak dari duduk ku dan kembali ke ruangan Kanaya masih di rawat. 


"Aku tahu kamu sudah mencintaiku, Luna. Tidak lama lagi kamu akan menjadi milikku, tapi sebelum itu akan aku bantu proses perpisahanmu dengan pria brengsek itu. Aku berjanji akan membuatmu bahagia dan hanya maut yang bisa memisahkan kita." Biru tersenyum tipis dan memikirkan masa depannya bersama wanita yang dia cintai. 

__ADS_1


__ADS_2