Petaka 40 Hari Masa Nifas

Petaka 40 Hari Masa Nifas
Mawar bebas


__ADS_3

Rasa Linu di antara kedua paha Adam masih terasa sampai saat ini, dia ingat betul bagaimana sang mantan istri menendangnya dengan sangat kuat. Sudah tiga hari dirinya tak bekerja dan beralasan sakit, seharian penuh dia terus mengipasi bagian sensitif itu agar rasa sakitnya berkurang. 


"Luna sialan, mentang-mentang dia sudah puas merasakannya dan sekarang malah membuat senjata andalanku tidak bisa bangun." Umpat Adam menahan amarah sembari mengipasinya.


"Kamu sedang apa Dam?" tanya sang ibu yang baru saja masuk ke dalam rumah, mengerutkan dahi melihat anaknya sedang memakai kain sarung dan di biarkan di tiup oleh kipas angin.


Dengan gerakan cepat, Adam segera menutup aksinya dan sedikit menahan rasa malu. "Ibu di sini?"


"Ya, seperti yang kamu lihat. Tapi apa yang terjadi?" 


"Bukan masalah besar Bu, kenapa Ibu kemari?" 


"Kita jenguk Mawar, pasti dia sangat kesulitan di penjara. Apa kamu gak kasihan padanya? Sangat bahaya karena kondisinya tengah hamil anakmu. Cepat keluarkan dia dari penjara busuk itu, Dam." Pinta sang ibu yang memohon sembari memegang tangan anaknya. 


"Apa Ibu kira aku tidak berusaha membebaskan Mawar? Aku sudah mencobanya dan cukup sulit membebaskannya."


"Ini semua karena pria itu, dia membantu Luna."

__ADS_1


Adam terdiam memikirkan mengapa sang mantan istri bisa mendapatkan pria seperti Biru yang membantu di situasi sulit, timbul rasa penyesalan di hati karena melepaskannya. "Andai saja tidak ada yang menekan ku saat itu, pasti dia masih menjadi istriku." Ucapnya di dalam hati. 


Keduanya pergi menuju lapas untuk menjenguk Mawar, namun mereka sangat terkejut karena tak mendapati wanita itu di sana. Menurut laporan, kalau Mawar telah di bebaskan dengan uang jaminan.  


"Apa? Siapa yang menjaminkan Mawar?" 


"Aku juga tidak tahu, Bu. Aku sudah mencoba untuk mencari tahu, tapi tidak ada nama yang menjaminkan Mawar." 


"Ini aneh. Apa Mawar punya relasi orang kaya? Bahkan memberikan uang jaminan tidaklah sedikit begitu mudah di lakukan oleh orang itu." Gumam si wanita paruh baya. 


"Ayo kita pulang, barangkali dia sudah menunggu di rumah." 


****


"Akhirnya aku bebas." Mawar menghirup oksigen sedalam mungkin dan mengeluarkannya secara perlahan. "Terima kasih, Ren. Kamu sudah banyak membantuku." 


"Iya, cukup sekali kamu di penjara." 

__ADS_1


"Iya, aku janji ini yang terakhir." 


"Hem, bagaimana dengan kandunganmu?" 


"Sejauh ini baik-baik saja. Apa langkahmu selanjutnya? Kamu yakin gak menemui ayahmu?" tanya Mawar yang serius. 


Seketika Iren tertawa sedih mengingat nasibnya yang sangat malang. "Untuk apa aku menemuinya? Ayahku sudah memiliki keluarga baru dan yang aku dengar dia sangat bahagia dengan keluarga barunya, mana ingat dia denganku." 


"Kau wanita yang tangguh. Aku pergi dulu!" pamit Mawar meninggalkan Iren seorang diri. 


****


Aku yang menyelesaikan tugas rumah dengan sangat cepat membawa Kanaya keluar dari rumah ke sebuah taman di halaman samping, taman yang di hiasi oleh berbagai macam bunga indah bermekaran. Aku sangat berterima kasih pada keluarga ini yang sudah membantu ku, bekerja menjadi pembantu dan tak masalah dengan anakku yang masih bayi. 


"Cepat besar, Sayang." Aku mengecup pipi Kanaya dan kembali membawanya masuk ke dalam rumah. 


Tanpa di sadari oleh Luna, seseorang memantau sedari tadi dan melihat semua aktivitas yang di lakukan oleh targetnya. 

__ADS_1


"Heh, ternyata dia tinggal di sini." 


__ADS_2