Petaka 40 Hari Masa Nifas

Petaka 40 Hari Masa Nifas
Awal kebahagian Biru


__ADS_3

Baru saja aku sampai di rumah milik mas Biru yang aku tempati, terdengar suara yang tidak asing di telinga. Aku segera menyeka air mata untuk menyembunyikan perasaan. Jujur aku tidak bisa berbohong kalau perkataan talak yang di ucapkan oleh mas Adam membuatku sedih, perjuangan dan janji yang dulu pernah di ucapkan masih terngiang di benak, tapi apa di kata kalau jodoh kami hanya sampai di sini.


"Luna." Panggil seseorang yang membuatku mengalihkan perhatian. 


"Eh, Mas Biru." Aku berusaha tersenyum dengan hati yang terluka, semoga saja pria itu tidak membaca ekspresiku.


"Kamu menangis, Lun?" 


"Gak kok Mas, aku kelilipan aja." Jawabku berkilah. 


"Jangan bohong, sangat jelas di wajahmu." 


Aku memejamkan mata sejenak sambil menghadapkan kepala ke atas. "Apa terlihat sangat jelas, Mas?" aku tertawa untuk menyembunyikan perasaan hancur, pernikahan ku kandas karena orang ketiga. 


Mas Biru mengangguk dan memegang pergelangan tanganku menuju kursi, memintaku untuk duduk. Aku terdiam melihatnya mulai menjauh, dan tak lama datang membawa teh manis. 


"Ini minumlah." 


Aku mengerutkan dahi tidak mengerti mengapa dia memintaku untuk minum teh. "Aku menyusui Mas, teh kurang baik untuk kualitas ASI." 


"Minum sedikit saja tidak apa-apa." 


Aku mengangguk pelan dan langsung menyeruput teh yang entah dari mana datangnya, mungkin membelinya tak jauh dari sana atau teh itu sudah ada di dalam mobil.


"Terima kasih Mas." Ucapku tersenyum sambil mengangkat cup yang berisi teh.


"Apa sudah baikan?" 


"Sudah jauh lebih baik, Mas." 


"Syukurlah. Aku lihat kamu menangis, ada apa?" 


"Aku … aku." Tetap saja aku ragu untuk menceritakan apa yang terjadi, hatiku masih terluka dan hanya ingin sendiri merenungi semua kesalahanku yang terlalu percaya pada perkataan dua orang terkasih. 


Aku terkejut saat tangan mas Biru menyentuh tanganku, buru-buru aku menarik tanganku. Tentu aku merasa kalau perkataan mas Adam yang menuduhku selingkuh itu benar, jika kedekatan kami terlihat nyata. 

__ADS_1


"Ceritakan saja, kamu akan merasa jauh lebih baik." 


Aku menundukkan kepala, tapi saat ini aku ingin menghabiskan waktu seorang diri. Aku butuh waktu pemulihan luka di hati, ku harap mas Biru mau mengerti. 


"Aku ingin sendiri Mas, kali ini berikan aku kesempatan itu." Aku menatap mata mas Biru seraya memohon padanya agar tidak mengganggu ku untuk saat ini. 


"Sepertinya ini cukup serius, sesuai keinginanmu. Aku pergi dulu, jika butuh sesuatu jangan sungkan menghubungi aku." 


"Baik Mas."


Setelah memastikan mas Biru pergi, air mataku mengalir tanpa aku minta. Aku curahkan seluruh kekesalan atas pengkhianatan mas Adam juga ibu mertuaku melalui bulir bening di pelupuk mata, aku menangis dalam diam sambil menggendong Kanaya yang pulas tertidur. 


Aku mengusap wajah anakku dan menciumnya, hanya Kanaya yang saat ini ku punya. Tanpa terasa aku menangis cukup lama, hingga beban yang tersendat itu keluar membuat perasaanku menjadi plong. Kemudian aku masuk ke dalam rumah, dan meletakkan Kanaya di atas tempat tidur. 


Sementara di dalam mobil, Biru memikirkan Luna. Dia tahu betul kalau wanita itu sedang bermasalah dan tidak ingin menceritakannya, hal itulah yang mengganggu pikirannya hingga tak fokus mengemudi mobil. 


"Ya Tuhan, hampir saja." Biru menghela nafas sambil mengusap dadanya, hampir saja dia menabrak pembatas jalan. Bagaimana kalau sampai orang tuanya tahu kalau dia menyetir dalam keadaan melamun, pasti sudah terkena semprot bundanya. 


Biru menghentikan mobil di pinggir jalan, mengeluarkan ponselnya yang mahal dan menghubungi seseorang. 


"Halo." 


"Aku ingin kamu selidiki rumah Adam, alamatnya akan aku kirim nanti." 


"Baik bos." 


"Hem. Pastikan kamu tidak ketahuan, aku tunggu semua informasi yang terjadi di rumah itu." 


"Laksanakan bos." 


Biru memutuskan sambungan teleponnya setelah memerintah anak buahnya, menghela nafas panjang karena sangat mencemaskan Luna, wanita yang dia cintai. 


Sesampainya di rumah, Biru yang sudah memarkirkan mobilnya melangkah masuk ke dalam rumah dengan santai. 


Puk

__ADS_1


Biru yang tidak mengerti dan lambat merespon dengan terpaksa menerima serangan bantal yang melayang tepat mengenai wajahnya, dia diam mematung tak berkutik sama sekali. Melihat siapa pelakunya yang tak lain sang bunda. 


"Anak pulang di sambut dengan senyuman bukan lemparan bantal, bagaimana kalau Biru geger otak? Bunda maj tanggung jawab?" 


Ya, inilah karakter sebenarnya dari Biru yang periang, mencintai keluarganya dan selalu hidup sederhana walau dia terlahir sebagai anak orang kaya. Baginya kekayaan itu hanya milik orang tuanya sementara dia hidup menumpang. Wajahnya yang tampan begitu memikat banyak wanita, tapi karena penampilannya yang sangat sederhana sering di cap sebagai pengangguran tak punya acara alias miskin.  Di zaman sekarang banyak wanita menilai seseorang dari materi juga penampilan yang mendukung, wajah saja tak menjamin. Wajar saja kalau selama ini Biru sudah mendalami peran sebagai orang miskin, hanya untuk menemukan cinta sejatinya yang dulu pernah menyelamatkannya. 


"Kamu pasti menemui Luna, istri orang itu kan?" selidik wanita paruh baya menatap tajam anaknya, tak lupa bertolak pinggang. 


Biru cengengesan. "Luna calon janda, Bunda." 


"Calon calon … tapi dia masih istri orang, jangan jadi pebinor." 


"Apaan sih Bunda, Biru bukannya perebut. Tapi suaminya yang sudah membuang Luna, wajar lah Biru membantunya." 


Ucapan dari Biru membuat sang Bunda geram, datang menghampiri anak sulungnya itu dan menjewer telinga sembilan puluh derajat. 


"Auh, Bunda … sakit." 


"Rasakan itu, udah Bunda bilang, jangan merebut istri orang. Coba bayangkan kalau Bunda ada di posisi itu, bagaimana jika ada pria lain yang merebut Bunda dari ayahmu!" 


"Jadi bunda mau ninggalin Ayah?" 


Deg


Wanita paruh baya yang mendengar jelas kalau suara itu milik suaminya langsung saja mengalihkan perhatiannya, melonggarkan jeweran di telinga anak sulungnya. Sedangkan Biru terkekeh melihat wajah bundanya yang diam membeku. 


"Jangan diam saja, Bunda." 


"Ahh Ayah mengapa tersinggung, itu ucapan perumpamaan untuk Biru." 


Biru terkekeh melihat kedua orang tuanya, terkadang dia iri dengan keharmonisan rumah tangga ayah bundanya yang sampai saat ini tidak pernah berubah, malahan cinta semakin berkembang seiring waktu.


Kesempatan yang tidak datang dua kali, diam-diam Biru pergi dan kabur dari omelan ibunda tercinta.


"Untung aku bisa kabur, jeweran bunda sakit juga." Dia tersenyum sambil mengelus telinganya yang memerah, omelan itu sebuah kasih sayang dari bundanya, hanya saja caranya sedikit bar-bar.

__ADS_1


Perhatian Biru teralihkan saat ponselnya berdering, seseorang yang dia perintahkan untuk memantau keadaan di rumah Adam, suami Luna. Senyum di bibirnya mengembang dengan sempurna mengetahui jika wanita yang selama ini di cintainya sudah di talak. 


"Akhirnya Luna ku sudah janda, hanya menunggu masa iddah nya selesai dan aku akan melamarnya." Ucapnya di dalam hati.


__ADS_2