Petaka 40 Hari Masa Nifas

Petaka 40 Hari Masa Nifas
Rahasia


__ADS_3

"Please, bantuin aku keluar dari sini, Ren." Pinta seseorang yang menggenggam kedua tangan orang yang duduk di hadapannya, berharap dia segera bebas dengan jaminan.


"Kan udah aku bilang sebelumnya, jangan pernah ganggu rumah tangga orang lain, begini nih akibatnya." 


"Iya maaf, aku pikir dia pria kaya tapi nyatanya Luna selalu beruntung mendapatkan pria kaya dari mas Adam."


"Nasi yang sudah menjadi bubur tidak akan balik lagi menjadi nasi, sekarang inilah yang kamu dapatkan berada di jeruji besi." Ujar wanita yang bernama Iren, sudah tak khayal jika temannya itu selalu menjadi wanita simpanan, pelakor dan sebagainya. Namun dirinyalah yang berperan penting agar Mawar berhasil menjebak laki-laki yang telah beristri. 


Dia membantu Mawar bukan tanpa sebab, baginya Mawar adalah hal yang utama dan paling berjasa dalam hidupnya. Pertemuan mereka tak sengaja saat dia ingin bunuh diri, datang sebagai penyelamat. Sejak hari itulah Iren menerima Mawar dan menjadikannya prioritas, contohnya membantu setiap kesulitan sang malaikat penolong. 


"Aku harus gimana dong? Luna si sialan itu melaporkan ku atas kasus penganiayaan anaknya, mana aku lagi hamil." Umpat kesal Mawar yang hampir frustasi.


"Sudah berulang kali aku ingatkan untuk stop menghancurkan kehidupan rumah tangga orang lain."


"Mulai deh." Kesal Mawar yang cemberut. 

__ADS_1


Mawar mengusap wajahnya dengan kasar karena tidak tahu harus berbuat apa. Apa lagi suami yang tidak bergunanya itu tidak bisa diharapkan, dia merasa sesak berada di dalam penjara, tidur bersama dalam satu sel sangatlah tidak nyaman hanya beralas tikar yang tipis.


"Aku gak nyaman tinggal di sini, bantu aku keluar ya … yaya!" bujuk Mawar mengerjapkan matanya beberapa kali, tentu saja untuk membujuk teman satu-satunya yang terbaik. 


"Kalau aku mengeluarkanmu dari sini, apa kamu gak takut suami dan juga ibu mertuamu sampai tahu mengenalku?" 


"Pikirkan alasan itu nanti saja, untuk saat ini aku ingin bebas."


"Baiklah, aku akan mengurus semua surat yang diperlukan untuk membebaskanmu. Tapi satu hal, kamu harus berjanji padaku kalau ini adalah yang terakhir, sudah banyak korban dan aku tidak akan membantumu lagi."


"Tunggu pembalasanku, Luna." Gumamnya yang bertekad. 


****


Prank

__ADS_1


Terdengar suara vas bunga yang sengaja di lempar ke atas lantai, hingga menjadi beberapa pecahan kaca. Kemarahan yang sudah tak bisa dibendung lagi, sangat terlihat jelas pada raut wajahnya tak bersahabat. 


"Biru, kamu apa-apaan sih?" 


"Mengapa Bunda tidak menceritakannya dan mendiskusikan dulu bersama Biru? Mengapa harus mendengarnya dari mulut orang lain?" 


Biru sangat kesal dan juga marah, tahu mengenai perjodohannya dari Indri. Bahkan dia tak bisa membayangkan kalau bunda Kejora lah yang merencanakan semua skenario perjodohan yang sangat dia tentang. 


"Bunda sudah tahu kalau Biru mencintai Luna, mengapa Bun?" lirih pelannya tak ingin berbicara keras, takut melukai hati ibunya yang sudah melukai hatinya. 


"Bunda hanya ingin yang terbaik Sayang, sementara Indri wanita pilihan yang sangat tepat untukmu. Selain dia masih gadis, Indri wanita yang berpendidikan. 


"Sejak kapan Bunda memandang seseorang dari kasta dan juga pendidikannya. Bukankah dulunya Bunda__." Perkataan yang tidak sanggup di teruskan oleh Biru, bahwasanya sang ibunda juga bukan berasal dari keluarga kaya maupun tidak memiliki gelar tinggi. 


Ya, bunda Kejora hanyalah seorang anak petani yang berhasil mendapatkan cinta dari ayah Bintang yang saat itu berkunjung ke desa, di sanalah cinta mereka tumbuh. Satu rahasia yang tidak di ketahui siapapun, jika bunda Kejora adalah istri kedua. 

__ADS_1


__ADS_2