
Aku dan mas Biru semakin dekat, hampir sepanjang jalan kami bersenda gurau. Namun itu usai saat seorang wanita yang menemui kami, dia tersenyum indah memperlihatkan wajahnya yang cantik. Aku mengangguk pelan seraya tersenyum menyapanya, namun malah mengacuhkanku dan menganggapku dan Kanaya tidak ada.
"Indri. Kamu kenapa di sini?" tanya Biru penasaran, mungkinkah keberadaannya di ketahui bunda Kejora? Hingga wanita itu sampai mencarinya ke pasar.
"Iya Mas, tante Kejora yang mengatakan kamu ada di pasar."
Aku merasa wanita yang bernama Indri tidak menyukaiku, beberapa kali dia menatapku sebagai rivalnya. Tentu saja itu terjadi, karena nyonya Kejora menentukan wanita itu sebagai calon istri mas Biru.
"Memangnya ada apa? Sampai kamu menyusulku?"
"Ada hal penting yang harus aku katakan padamu Mas, dan ini sangatlah penting."
"Katakan di sini saja."
"Ini bersifat pribadi, dan orang lain tak boleh sampai mendengarkan."
Dia langsung melirik ku dan memberikan isyarat peringatan agar aku tidak menempel pada mas Biru, ku balas pandangan yang tidak menyukaiku itu dengan intens, hingga terjadilah kontes menatap satu sama lainnya.
Biru menghela nafas dan segera melerai nya, dengan terpaksa dia mengikuti perkataan Indri setelah mendapatkan telepon dari bunda Kejora.
"Aku akan ikut denganmu, tapi sebelum itu biarkan aku mengantar Luna pulang."
__ADS_1
"Apa sih Mas, dia bukan anak kecil yang bisa tersesat. Dia kan bisa pulang pakai kendaraan umum," bujuk Indri.
Aku melihat raut wajah bimbang mas Biru, aku menyentuh lengannya beberapa saat dan pandangan kami saling bertemu. "Aku bisa kok Mas pulang sendiri, kamu pergi saja bersama mba Indri."
"Kamu yakin tidak aku antar pulang dulu."
"Yakin Mas, sekalian aku berkeliling mencari kebutuhan Kanaya, mumpung masih di pasar."
"Ya sudah deh, kabari aku kalau sampai rumah. Aku pergi dulu!"
"Iya Mas."
"Mas Biru itu calon suamiku, jauhi dia!"
Aku tidak memikirkan itu dan kembali berkeliling pasar, sejujurnya tidak ada yang ingin ku beli, itu hanyalah sebuah alasan agar mas Biru pergi dengan wanita itu. Ya, aku tahu posisiku sebagai pembantu, mana pantas bersanding dengan anak majikan. Satu hal yang tidak ingin membuat mas Biru sampai durhaka kepada ibunya.
Lima belas menit kemudian, aku memutuskan untuk pulang ke rumah majikan. Waktu yang pas dan juga logis, jika sewaktu-waktu mas Biru menanyakannya.
"Jadi kamu di sini!"
Aku terkejut bukan kepalang, tanganku di tarik saat hendak naik angkot. Pelakunya adalah mantan suamiku, berupaya aku memberontak.
__ADS_1
"Lepas Mas!" tegasku.
"Cabut tuntutan mu pada Mawar."
"Bukan aku yang menuntutnya."
"Aku tidak peduli siapa yang menuntutnya, Mawar tengah mengandung anak laki-laki ku. Jika sampai terjadi apa-apa padanya, aku akan membunuh anak haram mu itu."
Plak
Aku menampar keras wajah mas Adam, kemarahan sebagai seorang ibu tak bisa di tahan lagi dan menghukum orang-orang yang menghina anaknya.
"Tutup mulut mu itu Mas, sekali lagi kamu mengatakan hal buruk mengenai Kanaya, aku tidak akan tinggal diam."
Aku melihat reaksi mas Adam yang tertawa saat aku menamparnya.
"Punya nyali juga kamu melawanku."
Mas Adam berusaha merebut Kanaya dari gendonganku, sebagai seorang ibu aku melindungi anakku sekuat tenaga. Aku mencari titik lemah para pria, yaitu alat vital. Setelah mendapatkan celah, aku menendang bagian sensitif itu dengan sangat keras dan melarikan diri agar tidak tertangkap.
"Masa depanku." Ringis Adam yang melihat kepergian mantan istrinya, tendangan yang sangat kuat itu membuat bagian sensitifnya harus di bawa ke rumah sakit secepat mungkin.
__ADS_1