
Aku tersipu malu mendengar pujian dari mas Biru, dengan cepat aku mengalihkan pandangan agar tidak ketahuan.
"Gaun ini cocok, aku ingin satu perubahan lagi yang menunjang penampilanmu."
Aku rasa ini sedikit bersimpangan, dia majikan dan aku pembantunya. Apa pantas di perlakukan yang sedikit berlebihan, tapi aku juga tidak bisa menolak ajakannya.
"Ayo."
"Iya Mas."
Kami memasuki salah satu salon dan kali kedua aku di dandani, yang pertama saat aku menikah dengan mas Adam. Aku pasrah saja mendapatkan pelayanan dari karyawan, sangat nyaman dan merasa rileks. Dari rambut sampai ke ujung kaki, semuanya paket lengkap sesuai keinginan mas Biru.
Cukup lama aku di salon, tapi mas Biru tidak mengeluhkan bosan ataupun lelah menangani Kanaya.
"Wow, sangat cantik sekali." Ucap salah satu karyawan yang memoles wajahku setelah melakukan berbagai macam treatment.
"Nona sangat cantik." Puji karyawan yang lainnya.
"Benarkah?" aku juga tak menyangka bayangan di cermin yang berdiri di hadapan adalah bayanganku sendiri, aku sampai tidak mengenali wajahku sendiri.
__ADS_1
"Benar Nona." Jawab keduanya serempak.
Setelah perawatan akhirnya selesai, aku keluar untuk memastikan keadaan Kanaya dan juga mas Biru. Aku tersenyum saat keduanya tertidur, pasti bosan menungguku sampai selesai. Timbul perasaan tidak tega membangunkannya mas Biru, tapi aku harus melakukannya karena tak memiliki uang untuk membayarnya sekaligus waktu bersantai keluar rumah sudah berakhir.
"Mas … Mas Biru." Aku memegang pundaknya dan sedikit menekan, merasa bersalah karena lancang membangunkan tidurnya.
Biru yang merasakan guncangan itu segera menatap sang pelaku yang membangunkannya, mengucek kedua matanya melihat seorang wanita cantik. Dia sangat penasaran siapa wanita cantik yang membangunkannya, tapi mendengar suara wanita itu sangatlah tidak asing.
"Luna?"
"Iya Mas, ini aku. Maaf kelamaan menunggu, aku sudah selesai." Aku merasa canggung saat mas Biru menatapku tak berkedip, apakah ada yang salah dalam penampilanku? Mungkin terlihat aneh.
"Hem."
Aku kembali mengambil alih Kanaya untuk bergantian menggendongnya, melihat mas Biru yang membayar semua perawatanku.
Di sepanjang kaki melangkah, semua orang menatap kami tetap menjadikan pusat perhatian. Kali ini apa yang mereka gosipkan padaku? Aku bahkan tidak mendengar apapun lagi, karena mereka berbisik.
"Mas, kita jadi pusat perhatian."
__ADS_1
"Tapi ini hak yang baik, mereka tidak lagi meremehkanmu. Ayo!"
Setelah puas, aku meminta mas Biru untuk pulang saja. Bukan hanya lelah, tapi aku juga memikirkan Kanaya yang sedari tadi di ajak berkeliling di pusat perbelanjaan.
"Kamu benar, aku juga lelah berkeliling. Sebelum pulang kita makan dulu, kebetulan perutku sudah lapar."
Aku tersenyum mengangguk dan terkekeh dengan sikap mas Biru, sangat menggemaskan seperti anak kecil.
Selalu saja ada topik pembahasan dari mas Biru, dan hal itu mencairkan suasana yang sedikit kaku. Namun aku sangat terkejut saat tak sengaja menabrak orang lain, dengan cepat aku minta maaf hendak menolongnya.
"Maaf, aku tidak sengaja."
Betapa terkejutnya aku melihat siapa yang aku tabrak, begitupun reaksi dari orang itu yang juga sama denganku.
"Ibu?"
"Luna."
Aku mengulurkan tangan membantu mantan ibu mertuaku, tapi dia tepis dengan kasar dan menatapku juga mas Biru secara bergantian.
__ADS_1
"Wanita macam apa kamu? Baru bercerai sudah jalan dengan laki-laki lain." Ucap ibu mertua yang menatapku dan mas biru dengan sinis, apalagi setelah melihat penampilanku yang sudah sangat berbeda semakin membuatnya marah dan juga kesal.