
Hari ini adalah hari ulang tahun Indri, Biru yang diundang tak ingin datang seorang diri dan seperti biasa dia membawa Luna untuk ikut bersamanya.
Sedikit ada pemaksaan disana, tapi itu tidak berlangsung lama karena Biru mengancam tak ingin pergi sendiri.
"Baiklah, aku akan ikut. Hanya saja__." Perkataanku terputus di kala mengingat nyonya Kejora yang belum mengetahui hubungan kami, terbukti bagaimana sang nyonya memperlakukanku seperti biasa.
"Kamu khawatirkan bunda? Aku bisa beralasan mengapa kamu ikut denganku."
"Nyonya pasti tidak menyukainya."
"Sudahlah, Lun. Kamu mencintaiku atau tidak?"
Aku terdiam mendengar perkataan dari mas Biru, mengapa kalimat itu seperti mengikatku untuk keinginannya. "Iya Mas, aku akan ikut pergi bersamamu."
Biru tersenyum seraya merentangkan kedua tangannya, senyum sumringah sambil menghampiri sang kekasih. Dengan cepat aku menghindar dari pelukan itu, justru membuatnya cemberut dan itu membuatku gemas dengan tingkahnya.
"Apa salahnya aku memeluk calon istriku sendiri."
"Malu Mas di liatin orang, jangan sampai nyonya Kejora tahu dan bisa jantungan nanti."
__ADS_1
"Itu yang aku tunggu." Biru geram pada bundanya, dan hal itu membuatnya hampir menjadi anak durhaka yang sebentar lagi akan di kutuk. "Di pesta ulang tahun Indri, aku akan mengumumkan hubunganku dan Luna, nanti." Gumamnya di dalam hati.
****
"Bunda sudah siapkan pakaian yang akan kamu pakai di acara ulang tahun Indri."
"Aku sudah besar dan bukan anak kecil lagi, Bun."
"Tapi dimataku kamu tetaplah anak kecil," keukeuh bunda Kejora.
"Aku sudah punya setelan pakaian pilihanku sendiri, aku ganti dulu." Biru berjalan menuju kamarnya, meninggalkan sang ibunda seorang diri yang sudah bersiap-siap lebih dulu.
"Bagus, aku sudah tidak sabar dengan rencanaku nanti. Pengumuman Biru dan Indri yang bertunangan di hari ini." Bunda Kejora yang masih dengan egonya itu sudah menyiapkan segalanya bersama calon besan yang bernama Mehta, ibu dari Indri. Mereka sepakat akan melangsungkan pertunangan di hari ulang tahun Indri, tanpa berdiskusi pada anak dan juga suaminya. Rencana yang sudah di susun rapi, namun lupa mengkaji konsekuensinya yang akan dia terima nantinya.
****
Kali ini Biru memakai pakaian santai namun masih terkesan mewah juga elegan, dia tersenyum mengenai rencana untuk mengumumkan hubungannya dengan Luna di hadapan publik.
"Luna, tunggu aku. Aku akan memberimu kejutan yang sangat luar biasa ini, dan untuk Bunda … aku harap dia mengerti keinginanku." Monolog Biru.
__ADS_1
"Kamu sangat cantik sekali, Luna."
Aku tertegun mendengar pujian dari mas Biru, tersenyum dan kembali membalas pujiannya. "Mas juga sangat tampan."
"Tampan dan cantik, terlihat sangat serasi. Ayo!"
"Bagaimana dengan nyonya Kejora?"
"Ayah dan bunda sudah pergi lebih dulu, kamu tenang saja."
"Baik Mas."
Aku sedikit canggung berada di dalam pesta ulang tahun nona Indri, namun pakaian yang mendukung tertolong akibat mas Biru memberikannya padaku.
Semua orang menatap kami, menjadi pusat perhatian sangatlah membuatku risih tapi tidak terlihat begitu di wajah mas Biru.
"Mas, kita di perhatikan orang-orang." Bisikku.
"Karena mereka iri pada kita, jangan pikirkan itu!"
__ADS_1
Aku sedikit membelalakkan mata saat tanganku di tarik lembut oleh mas Biru berjalan mendekati nona Indri dengan membawa kado ulang tahunnya, namun aku merasakan aura negatif yang mengintai.
"Firasat apa ini?" batinku bertanya-tanya.