
Kali ini Nyonya memintaku untuk membelikan sesuatu di swalayan yang jaraknya cukup jauh dari rumah, entah apa tiba-tiba dia memintaku membeli barang yang ada di swalayan terdekat. Aku melihat list belanjaan yang di tulis olehnya, sambil menggendong Kanaya aku memutuskan untuk duduk di sebuah halte. Tak terasa aku cukup berjalan jauh, bukan keinginanku berjalan kaki, tapi nyonya Kejora tak memberikan aku uang ongkos.
"Uangnya pas-pasan, di sini sangat panas." Gumam ku mengipasi wajah yang mulai memerah, payung kecil yang kubawa cukup menyelamatkan Kanaya dari panasnya terik matahari.
Aku berpikir, apakah nyonya Kejora sengaja melakukan ini padaku? Tapi apa alasannya membuatku berjalan jauh dan membahayakan anakku. Padahal aku sempat menolak, tidak mungkin aku membawa Kanaya ikut bersamaku, tapi juga tidak tega meninggalkannya sendiri. Masih terngiang bagaimana nyonya Kejora mengatakan tidak adanya uang cash, ini sama saja dia mengerjaiku. Hah, tapi apalah daya? Seorang babu tetaplah babu yang tidak akan menang melawan majikannya.
"Aku haus sekali." Aku menghitung uangnya dan berniat meminjamnya dua ribu rupiah untuk membelikan air mineral kemasan gelas. Namun seseorang merampas semua uang itu, aku sangat terkejut dan mencoba untuk mengejar pencopet.
"Copet … copet, seseorang tolong aku!"
Aku berlari dan tentunya berhati-hati membawa anak di dalam gendonganku, tidak mungkin aku membiarkan pencopet itu mengambil uang yang seharusnya untuk berbelanja beberapa list di dalam kertas yang di tulis oleh nyonya Kejora, bisa-bisa aku dipecat karena tidak becus.
Aku terus berlari mengejar pencopet itu, hingga seseorang datang membantu. Dari kejauhan aku melihat seorang wanita yang menghajar pencopet itu hingga babak belur, aku sangat terpukau oleh aksi heroiknya yang ahli dalam bela diri. Aku dulu juga mendalami seni beladiri, tapi tak pernah selesai karena waktu itu mas Adam menikahiku.
"Dia sangat keren." Pujiku menatap kagum wanita itu. Dia berhasil menghajar pencopet dan memberikan uang yang di rampas tadi kepadaku.
__ADS_1
"Lain kali hati-hati, di sini memang rawan." Ucap wanita itu yang menyerahkan uang sambil melirik Kanaya yang menangis. "Anakmu menangis."
"Terima kasih sudah menolongku, aku akan menenangkan anakku dulu." Kanaya pasti shock saat aku berlari mengejar pencopet itu, itu sebabnya dia menangis namun aku berhasil membuatnya kembali tenang.
"Bagaimana kalau kita duduk di kursi itu." Ajak wanita itu sambil menunjuk seberang jalan, sedangkan aku mengguk menyetujuinya.
"Kamu hampir membahayakan anakmu."
"Iya, aku tahu. Terpaksa aku lakukan agar aku tidak di pecat."
"Ini uang dari majikan aku." Jawabku sejujurnya.
"Hem begitu, lalu apa yang kamu lakukan di sini?"
"Aku ingin ke swalayan A."
__ADS_1
"Apa? Swalayan itu sangat jauh dari sini, mengapa tidak naik kendaraan umum saja?"
Aku terdiam sembari menatap sekilas Kanaya. "Aku tidak punya uang."
Aku melihat jelas kalau wanita itu berekspresi tidak setuju. "Majikan mu kejam sekali, apa dia tidak memikirkan bayi yang ada di gendonganmu?"
"Walaupun begitu dia sudah baik menerimaku, karena pekerjaan dengan membawa bayi sangat sulit aku dapatkan. Sekali lagi terima kasih sudah membantuku, jika uang ini hilang mungkin saja aku dipecat."
"Tidak masalah, tapi kita belum berkenalan. Iren dan kamu?"
Aku melirik uluran tangan dari wanita itu dan kusambut dengan sangat baik. "Luna."
"Luna?"
"Iya, itu namaku."
__ADS_1
"Eh, namanya juga sama dengan rival Mawar. Mungkin hanya kebetulan saja, nama Luna bukan hanya satu orang." Batin Iren.