
Sungguh tak aku duga kalau mas Biru memang melamarku, aku melihat cincin putih yang sudah terselip di jari manis untuk sepersekian detik. Sekali lagi pria itu membuktikan keseriusannya dan juga cintanya yang sangat tulus, tapi aku tidak mudah percaya karena sebelumnya mas Adam juga pernah mengucapkan janji manis.
Sejujurnya sudah ada getaran cinta yang aku rasakan jika berdekatan dengan mas Biru, tapi untuk menjalin hubungan yang lebih serius banyak hal yang harus aku pikirkan, mulai dari rasa trauma dan nyonya Kejora tidak akan memberikan restu kepada kami.
Perlahan pelukan itu terlepas dan aku kembali duduk, pandanganku lurus ke depan karena banyak pertimbangan mengenai lamaran dari mas Biru.
"Ada apa? Mengapa kamu tidak bereaksi sedikitpun?"
Aku menatap wajah tampan dari mas Biru, wajah yang bertanya-tanya mengenai apa yang aku pikirkan saat ini. Aku terdiam beberapa saat dan menarik nafas dengan perlahan.
"Apa kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan?"
"Bukan begitu Mas, tapi nyonya Kejora sangat menentang hubungan ini. Bukan hanya itu, aku masih trauma menjalin hubungan dalam pernikahan."
"Jadi kamu tidak ingin menikah denganku?"
"Sejujurnya aku mulai menyukaimu Mas, tapi trauma masih membekas di hatiku. Berikan aku sedikit waktu, sekaligus untuk meminta restu kepada nyonya Kejora."
__ADS_1
"Kamu tidak perlu khawatir mengenai bunda, aku bisa mengatasinya."
"Ini masalah kepercayaan, berikan aku satu kepercayaanmu untuk meluluhkan hati bundamu, Mas."
Aku sudah membulatkan tekad untuk mendapatkan restu terlebih dahulu, sekaligus menata hatiku yang sebelumnya pernah rapuh. Aku berusaha keras meyakinkan Mas biru, agar mengabulkan permintaan ku itu.
"Aku yakin bisa melakukannya, beri aku satu kepercayaanmu."
Aku melihat mas Biru yang masih berpikir, dia menghela nafas berat dengan terpaksa dia mengangguk pelan menyetujui permintaanku. "Baiklah, aku percaya kamu bisa melunakkan hati bunda."
Aku melihat perjuangan dari mas Biru untukku, demi cinta aku juga melakukan hal yang sama dengan berjuang untuk mendapatkan restu dari ibundanya, semenjak malam itu aku dan mas Biru semakin dekat.
"Bunda ada di taman, dia sangat menyukai bunga anggrek."
Aku menoleh di saat melihat punggung mas Biru yang sudah menjauh, dia membisikkanku mengenai kesukaan dari nyonya Kejora, keyakinannya lah yang membuatku tak memandang status. Yang awalnya aku minder, kini aku lebih percaya diri berkat dukungan darinya.
Selesai semua pekerjaan, aku menuju ke taman dan mendekati orang yang telah menyirami bunga-bunga kesukaannya.
__ADS_1
"Sepertinya Nyonya sangat lelah, biar aku saja."
Awalnya nyonya Kejora menolak bantuanku, tapi karena aku sedikit memaksa dia menjadi tidak tega.
"Kamu sedang tidak mencari muka di depanku," terka Nyonya Kejora kenapa aku dengan selidik.
Aku tersenyum khas. "Tidak ada niat apapun selain membantu." Hah, berbohong sedikit membuatku kesulitan, namun itu aku lakukan sesuai ajaran dari mas Biru.
"Baguslah kalau begitu."
"Kalau boleh aku tahu, kenapa Nyonya tidak menyukaiku?"
"Tidak ada masalah denganmu, tapi aku tidak ingin anak perjakaku menikah dengan seorang janda memiliki anak sepertimu. Bukan karena aku membedakan, tetapi kegagalan dari rumah tangga bisa terjadi lagi. Aku sangat menyayangi Biru, dan tidak ingin membuatnya mendapatkan masalah."
Sekarang aku mengerti, apa dari akan permasalahan yang dihadapi oleh nyonya Kejora. Keterbukaannya itu membuatku sangat yakin kalau dia masih memiliki sisi baik.
"Aku akan menyentuh sisi baikmu nyonya Kejora." Batinku yang menatap punggungnya yang perlahan menghilang dari pandangan.
__ADS_1