
Aku tidak menyangka jika jalan hidupku berakhir seperti ini, sekarang aku sudah resmi berpisah dari mas Adam. Aku harus berterima kasih pada mas Biru yang sudah banyak membantu, dia juga yang mengurus semuanya. Akhirnya aku bisa bernafas lega, tidak ada beban di pundak lagi dan sekarang aku benar-benar terlepas darinya.
Aku menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, sebelum pergi aku menatap mantan suamiku yang di temani oleh mantan ibu mertua dan juga Mawar.
Aku tahu betul kalau Mawar dan ibu pasti bahagia dengan perpisahan kami, tapi aku tidak peduli apapun yang mereka rasakan. Setidaknya aku sudah terlepas dari sang pengkhianat dan hak asuh Kanaya jatuh padaku, keinginan yang di kabulkan oleh mas Biru.
Ya, mas Biru mengupayakan agar aku memenangkan hak asuh Kanaya. Janji yang dia ucapkan sudah di laksanakan dan aku sangat berterima kasih padanya, pria asing yang sangat berjasa yang dulu pernah di tolongnya.
"Ayo, kita harus pergi!" ajak mas Biru yang memegang pundakku.
"Ayo Mas."
Baru saja beberapa langkah terpaksa berhenti karena seseorang mencegat kepergian, aku segera menoleh begitupun mas Biru ke sumber suara. Mas Adam datang menemuiku, aku mengerutkan dahi dan berpikir apa yang akan di perbuatnya kali ini.
__ADS_1
"Iya Mas, ada apa?" tanyaku penasaran.
Lama dia terdiam. "Apa aku boleh memeluk Kanaya," pintanya dengan ragu-ragu.
Aku membalas dengan anggukan kepala. "Boleh Mas, Kanaya juga anakmu."
Aku memberikan Kanaya dengan hati-hati dan melihat mas Adam menggendong darah dagingnya yang kedua kali, tapi aku bingung saat melihat air matanya menetes. Apa dia menyesal telah berpisah dariku? Ataukah ada masalah lain.
"Ini, tolong jaga Kanaya dengan sangat baik. Aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi, kamu pantas mendapatkan pria atau suami yang lebih baik dariku. Aku … aku minta maaf karena selama ini tidak memberikan kasih sayang kepada anak kita."
"Kita memang resmi bercerai, mantan istri dan mantan suami memang ada, tapi tidak ada mantan anak di dunia ini. Mas boleh menemui Kanaya kapanpun, aku pasti memberikan izin."
"Terima kasih. Aku pergi dulu!"
__ADS_1
"Pergilah Mas, ibu dan Mawar sudah menunggumu di sana."
Aku mengucap seribu kali rasa syukur, itu artinya tidak akan ada dendam lagi di hati. Melihat sikap dari Mas Adam yang menerima perpisahan, yaa … walau sebenarnya aku merasa aneh mengapa mantan suamiku itu tiba-tiba mengalah.
"Ayo, kita harus pergi."
Aku mengangguk mengikuti mas Biru yang membantuku untuk naik ke dalam mobilnya, sebelum itu aku lihat bangunan yang sudah membuatku berpisah, lalu aku tersenyum melepaskan beban.
"Selamat tinggal masa lalu, dan selamat datang masa depan." Gumamku yang terdengar oleh mas Biru.
"Kamu bahagia?"
"Sangat bahagia Mas, terima kasih sudah membantuku bercerai dari mas Adam dan memenangkan kasus hak asuh Kanaya."
__ADS_1
"Itu hanya hal kecil saja."
Bukan hanya Luna yang bahagia, jauh di atas itu Biru lah yang paling bahagia karena dia berhasil membuat Adam mundur. Ya, dia tahu kalau pria itu berniat mengambil hak asuh dan menyewa seorang pengacara. Tapi dia telah berhasil membuat keadaan berbalik, dan orang-orang bawahan yang dia perintahkan untuk mengancam pria itu.