
Markas Pusat Baihaqi Armed Corps
Kota Bogor, Jawa Barat
14 Maret 2021
Ruang tunggu yang cukup luas itu dipenuhi puluhan orang berseragam taktis hijau tua polos dari beragam usia. Rata-rata mereka yang ada di sana berusia antara 20-27 tahun. Kecemasan di wajah mereka terkadang hilang dan timbul lagi. Hanya karena hawa dari pendingin ruangan , keadaan sedikit membuat nyaman. Tempat mereka duduk dibagi menjadi dua, kiri dan kanan. Terpisahkan jalan akses keluar dan masuk dari pintu utama.
Di barisan kursi paling depan bagian kiri antaranya seorang pemuda berwajah agak oval dengan tatapan setengah percaya diri. Penampilannya sama rapi seperti yang lain dengan rambut cepak dipoles pomade sehingga tampak mengkilap. Kedua telapak tangannya saling merekat seakan menggenggam sesuatu. Sambil menunggu giliran namanya dipanggil, pemuda ini sesekali mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Hanya untuk memerhatikan orang lalu lalang atau sekadar mengobrol di mana saja mereka berhenti. Sudah sejak pukul tujuh pagi, tempat itu sudah mulai ramai oleh kegiatan dari mereka yang bertugas di sana.
Untuk memulai obrolan dengan orang di sebelah hanya membuatnya merasa risih. Dia bukanlah tipe orang yang cepat akrab dengan orang lain. Bahkan untuk memulai perkenalan nyaris tidak pernah dilakukannya. Alhasil dia hanya diam seperti orang bisu, sementara orang-orang di sekitarnya mengunggu panggilan dengan mengobrol meski tidak saling kenal. Hanya buku bacaan motivasi yang ada di tangannya yang menjadi teman.
Hari itu akan menjadi hari bersejarah baginya, di mana dia akan diterima bertugas di perusahaan militer swasta paling disegani di Indonesia dan mengubah taraf kehidupannya menjadi lebih baik. Angan-angan si pemuda yang berasal dari keluarga kurang mampu, dan bertekad untuk mengakhirinya. Ambisi yang sudah lama dimilikinya sejak dua tahun lalu meski tanpa pernah ada realisasi yang menjanjikan. Di tahun ini, dia baru bisa mewujudkannya setelah melalui semua pergumulan setuju dan tidak setuju dari orang-orang terdekatnya.
Bagaimanapun hidup harus berubah meski harus dengan cara yang tidak terbayangkan, begitu keyakinan yang selalu dipegangnya.
“Nomor 22 atas nama Ardana Putra! Sekali lagi, nomor 22 atas nama Ardana Putra!”
Suara lembut namun tegas khas perempuan dari teller melalui pengeras suara menyebutkan nama si pemuda. Yang menoleh bukan hanya pemilik nama itu namun juga orang lain. Bedanya, mereka celingukan ke sekeliling mencari-cari siapa sosok yang dimaksud.
__ADS_1
Dengan sigap, si pemuda pemilik nama tersebut berdiri lalu menghampiri meja informasi yang berjarak sepuluh meter dari deretan kursi ruang tunggu. Langkah kakinya dibuat sedikit tegas dan stabil untuk memberi kesan kalau dia adalah pemuda yang cukup percaya diri, kalau tidak mau dibilang setengah percaya diri.
“Selamat pagi, Mbak? Saya Ardana Putra, nomor antri 22,” ucapnya seraya menyerahkan kartu antri berhologram warna merah.
Seorang perempuan muda berambut lurus sebahu dengan seragam yang sama di balik meja penyerahan dan informasi melayaninya dengan ramah. Dia menatap sambil menyunggingkan senyum pada Ardana. Perlakuan demikian membuat Ardana merasa tidak seperti sedang mempersiapkan diri untuk mulai bertugas di sebuah perusahaan militer swasta. Tatapan mata teller tadi lalu tertuju pada layar monitor LED sebuah komputer sementara jari-jemarinya mengetikkan sesuatu.
“Ardana Putra..., Jakarta Selatan,” desis si teller perempuan.
Secara tidak sengaja perhatian Ardana tertuju pada nametag di bagian saku kanan seragam teller tersebut. Keningnya pun berkerut seraya mengeja nama tersebut di dalam hati.
Mira Dirgantari Melati.
“Mas Ardana, semua data administrasi dan laporan seleksi menyatakan kalau Mas sudah bisa berdinas mulai tiga hari ke depan. Selamat, ya!”
Ardana yang menyadari kekonyolannya buru-buru mengambil kartu hijaunya.
“Eh? Ma—maaf. Hanya sedikit merasa canggung dan tidak percaya kalau saya bisa mulai bertugas nanti,” ucapnya sedikit kikuk.
“Ini langsung dibawa saja ke bagian perekrutan di lantai LG. Nanti Mas bisa bertemu langsung dengan Letnan Denis di sana. Pengambilan senjata juga sudah diperbolehkan.” Mira memberikan secarik kertas berwarna biru muda pada Ardana, seolah tidak mendengar permintaan maaf si pemuda.
__ADS_1
Ardana mengangguk-angguk. “Baiklah kalau begitu, terima kasih banyak. Selamat pagi!” balasnya.
“Terima kasih kembali, selamat bertugas!” balas Mira.
Sambil membalikkan badan, Ardana memejamkan mata sesaat lalu membukanya lagi.
“Aduh... kenapa pakai ulurkan tangan padanya segala, sih? Untung saja tidak kena cap sebagai orang tidak sopan!” gumamnya sambil terus melangkah tanpa menoleh lagi ke arah bagian informasi.
Sementara dia mulai menjauh menuju tempat yang sudah diberitahukan, Mira sempat memerhatikannya. Sambil menggeleng pelan dan tersenyum, dia kembali mengurus data administrasi pengantri yang lain.
* * * * *
“*Namanya Ardana Putra. Anak ini berasal dari keluarga golongan menengah ke bawah yang tinggal di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Pendidikannya hanya tamatan SMA dan sempat menjadi pekerja serabutan. Cukup mengejutkan, dari penampilannya yang biasa-biasa saja ternyata dirinya menyimpan potensi dan semangat besar untuk berjuang. Sepintas dia tampak seperti orang yang bergabung demi mendapatkan banyak uang. Tapi ketika nada suaranya terdengar jujur ingin mengubah hidupnya menjadi lebih baik ketika sesi wawancara, aku menyadari sesuatu. Anak ini tidak berjuang semata-mata untuk meningkatkan finansial dirinya, tapi ingin mengangkat hidup keluarga dan membanggakan orang-orang terdekatnya. Benar kata para senior kita dulu, hidupmu akan lebih baik ketika orang-orang yang mengisi harimu juga bahagia ketika kamu berbahagia.
Hanya dia yang bisa kurekomendasikan untukmu. Aku dan para petinggi lain sudah melihat hasil latihan para rekrutan baru itu dan sejauh ini Ardana adalah salah satunya yang unggul. Para anggota baru yang setara dengan anak ini sudah kusebarkan ke seluruh wilayah Indonesia untuk tugas pertama masing-masing. Kamu bilang menginginkan orang yang kemampuannya mirip dengan Faizar Sudiarta, ya kan? Kuberikan dia untuk melakukan tugas itu. Dia akan datang kepadamu*.”
Lelaki paruh baya bertopi rimba hijau tua itu duduk di sudut kafe dua puluh empat jam yang berada di kawasan Braga, Kota Bandung. Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu pagi dan hanya ada tiga orang pengunjung termasuk dirinya yang masih setia bersama secangkir kopi yang hangat. Penampilannya yang tidak berbeda dari warga sipil lainnya membuatnya tampak seperti orang tua pada umumnya. Tenang dan tidak banyak melakukan hal-hal yang enerjik. Meski secara kasat mata fisiknya menandakan dia tetaplah prima dalam keadaan apapun.
Perkataan rekannya di Jakarta yang disampaikan melalui telepon tadi siang itu terus terngiang di telinganya. Asap dari dalam cangkir yang berisi kopi hitam yang dipesannya beberapa saat lalu mulai menipis seiring dengan terus bergelutnya pertimbangan di pikirannya. Di sebelahnya lagi ada satu piring kecil dengan camilan keripik singkong berbalut bumbu tabur balado yang belum banyak dimakan olehnya. Matanya melirik malas pada makanan kecil di depannya. Antara lapar dan tidak tangannya tetap meraup sejumput keripik yang diremukkan terlebih dahulu kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya.
__ADS_1
“Baiklah. Kirim saja anak baru yang kamu ceritakan itu untuk tugas nanti,” desisnya lalu menyeruput kopi.
* * * * *