Petaka Biohazard: Lorong Kematian

Petaka Biohazard: Lorong Kematian
Lubang di Belakang Kepala


__ADS_3

Hutan Sirnasurya


Keesokan paginya


Ardana mengedarkan pandangan, menyapu semua yang terjangkau oleh pengelihatannya. Di pagi hari, suasana di Hutan Sirnasurya tidak berbeda dengan malamnya. Tetap menyeramkan seperti yang sudah tampak dari luar. Bedanya, semua bisa dilihat dengan jelas tanpa menggunakan alat bantu penerangan. Hanya di area tertentu saja yang memerlukan benda seperti itu. Dan Ardana ingin mengeksplorasi tempat-tempat tersebut.


Dia dan Ilham sudah berada di sana sejak pukul enam pagi kurang enam menit. Seperti biasa, tidak ada waktu untuk sarapan. Semula Ardana ingin kembali pada malam hari, namun tidak disetujui oleh Ilham. Apalagi hujan turun deras semalam sebelumnya dan itu sangat berisiko. Kondisi itu kemudian membuat mereka mengenakan jaket HBT yang lebih tebal, karena menurut penduduk desa hawa dingin di dalam hutan itu lebih kuat.


Keduanya membuktikan perkataan warga setempat. Wajah mereka adalah bagian pertama yang terpapar. Ardana sempat menggigil sedikit namun bisa ditahan. Syal merah marun pemberian Paramitha kembali menghangatkan bagian lehernya.


“Orang-orang desa itu benar,” kata Ilham, “hawa dinginnya lebih kuat dari di desa.”


Lelaki ini mengedarkan mata dengan serius ke sekelilingnya. Kabut tipis masih menyelimuti area hutan. Sejauh mana pandangannya tearah, semua yang tampak menjadi sedikit samar. Tanah yang mereka injak menjadi lebih basah dari biasanya, meninggalkan jejak sepatu yang sangat jelas.


“Sepertinya tadi lebih baik kita cari kopi dulu, Pak,” tukas Ardana. Dari nada suaranya tidak ada tanda keluhan namun Ilham paham maksudnya.


“Kamu ini... masih sempat memikirkan duduk santai dan minum kopi. Ingat, waktu kita hanya dua minggu dan yang kita hadapi jelas bukan manusia,” balas Ilham.


Ardana menyeringai, “Tidak sambil duduk santai juga, Pak. Kalau hanya seukuran satu cangkir kecil espresso, itu lebih dari cukup untuk mengawali pagi.”


“Ngomong-ngomong, makhluk-makhluk itu tidak muncul secara gaib, kan? Pasti ada tempat mereka bersembunyi... di dalam tanah atau di lubang-lubang tersembunyi,” sambungnya menebak-nebak.


Ilham tidak menjawab, tetapi membenarkan apa yang dikatakan Ardana tadi. Ya, dia tahu makhluk-makhluk mengerikan di dua malam yang lalu bukan makhluk halus atau dedemit penunggu hutan seperti yang beredar di tengah masyarakat. Dia juga melihat sendiri bagaimana peluru bisa melukai beberapa dari mereka.

__ADS_1


Perlahan kabut tipis yang mengelimuti Hutan Sirnasurya mulai menghilang seiring dengan meningginya matahari. Pengelihatan Ardana dan Ilham kini tidak terbatas jarak pandang tertentu.


Ardana memasang pendengaran secara saksama. Hutan itu, seperti beberapa kabar yang ditulis di berbagai media daring memiliki keanehan tersendiri. Hewan apapun seolah tidak ada yang menampakkan eksistensi. Di hutan lain biasanya akan mudah ditemui tupai yang berlarian bebas di dahan, burung yang berkicau beterbangan kesana-kemari, hingga kelinci-kelinci yang bermain riang. Mengesankan sebagai hutan terkutuk di mata beberapa pengamat, Ardana justru menemukan hal lain. Kesan kutukan itu hanya sebatas julukan karena prang-orang seperti itu tidak pernah masuk ke dalamnya. Yang dilihat secara langsung oleh Ardana adalah sesuatu yang lebih buruk dari sekadar predikat tempat terkutuk.


Hutan Sirnasurya adalah zona merah yang tidak seharusnya dimasuki manusia atau hewan manapun. Itu yang sering diucapkan warga dari beberapa desa di sekitar.


Berbeda dengan para penduduk setempat, Ardana belum menemukan alasan untuk takut. Kemunculan makhluk-makhluk mutan yang sudah dihadapinya di sana belum ada apa-apanya, meski kenyataannya dia sempat kelabakan dan panik. Kecuali... dia menemukan sesuatu lain di mana dia akan benar-benar terjebak dalam rasa takut luar biasa.


Ardana menggeleng sambil memejamkan mata. Dia enggan untuk mengalaminya. Percuma saja menjadi seorang tentara di Baihaqi Armed Corps kalau harus ciut nyali menghadapi yang seperti itu.


“Tapi... Paramitha kalau marah, ya seram juga!” keluhnya membatin. Wajah gadis itu ketika sedang mrah karena lengannya dicengkram kembali terbayang.


“Ardana!” tegur Ilham tiba-tiba.


Ardana terperanjat lalu membuka mata lagi. Dia menoleh cepat pada Ilham.


“Mayat... lagi? Ternyata masih ada mayat lainnya,” desisnya.


Sejauh delapan belas meter di hadapan mereka, sesosok jenazah manusia utuh teronggok di atas batu besar berlumut. Kondisinya yang tinggal tulang belulang menunjukkan kalau orang itu sudah mati dalam waktu yang cukup lama. Wajahnya tidak bisa dikenali karena hancur merengkah, seperti diremukkan sesuatu yang besar. Pakaiannya yang berupa kaus merah pudar yang kusam menunjukkan kalau dia berasal dari daerah sekitar hutan. Sebilah golok berkarat yang terletak di bawah batu kemungkinan besar adalah miliknya.


Ardana dan Ilham mendekati mayat itu bersamaan. Si pemuda mengecek kondisi tulang korban dari kepala hingga kaki. Hanya bagian tengkorak kepala saja yang rusak parah. Selebihnya tidak ada tanda-tanda kekerasan serius.


“Yang ini sudah lama meninggal. Di dalam berkas laporan orang hilang yang diberikan Odang memang ada beberapa daftar yang di antaranya berasal dari desa sekitar lainnya. Bisa jadi, orang ini salah satunya,” ujar Ilham menerawang.

__ADS_1


Ardana mengambil salah satu ranting pohon di dekatnya. Dengan benda itu, tengkorak mayat yang rengkah diketuk-ketuk dengan sangat hati-hati. Beberapa bagiannya ternyata ada yang melunak lalu jatuh.


“Hmmm... ada yang lunak, ya?” Ilham mengerutkan kening menyaksikan tindakan Ardana. Dia langsung teringat dengan pacet mutan berukuran besar yang menelan bulat-bulat potongan kaki manusia di malam kedua penyelidikan.


“Apa mungkin dia korban pacet itu? Tapi seharusnya ditelan bulat-bulat,” tebaknya kemudian.


Golok berkarat yang ada di bawah batu diambilnya lalu diamati sejenak. Pandangannya beralih pada mayat yang kini sedang diteliti oleh Ardana.


“Senjata ini pasti digunakannya untuk melawan. Kalau dugaan saya benar, korban dibunuh dengan cara kepalanya dihisap sesuatu hingga rengkah, lalu bekasnya menimbulkan efek yang mampu membuat tulang menjadi lunak dan daging yang nyaris meleleh,” imbuhnya.


“Bukan begitu, Pak. Sepertinya ada yang berbeda dari perkiraan orang ini meregang nyawa,” sahut Ardana tiba-tiba. Dia menunjukkan bagian berlubang di belakang kepala dekat tengkuk.


Ilham yang baru menyadari itu buru-buru melihat. Benar kata Ardana. Bagian tengkorak yang rengkah ternyata ada yang tertutupi oleh daun yang gugur. Ketika dibuka, terdapat lubang pipih yang cukup lebar.


Dengan sedikit keberanian Ardana menggunakan jari telunjuknya untuk mengorek-ngorek isi di dalam tengkorak.


“Kosong, sepertinya juga dihisap. Dugaan saya, korban diserang dari belakang ketika tidak sadar atau mencoba melarikan diri. Lalu jasadnya diseret ke atas batu ini,” ujar Ardana.


Tanpa menyela sedikitpun Ilham mencoba memahami penjelasan Ardana. Lelaki ini membenarkan juga. Meski tidak tahu dengan menggunakan apa untuk menciptakan lubang di bagian belakang kepala seperti itu, dia sepakat dengan yang dikemukakan Ardana.


Ardana menghampirinya setelah penelitian terhadap kondisi mayat sudah selesai. Sesuai prosedur, dia mengabadikan temuan tersebut melalui kamera smartphone untuk kemudian langsung dikirim ke markas pusat.


“Kamu tunggu di sini. Saya mau menghubungi Bhabinkamtibmas di desa,” kata Ilham.

__ADS_1


Si pemuda membelalak. Menunggui mayat dan sendirian di tengah hutan yang menyeramkan?


* * * * *


__ADS_2