
“Iya, iya. Tenang dulu, Neng. Ada apa, kenapa kamu tampak panik begitu?”
Pagi-pagi sekali, Ardana sudah menerima telepon dari Paramitha. Semula dia mengira gadis itu minta diajak pergi keluar lagi, tetapi yang kemudian terdengar membuat keningnya mengerut. Nada suara Paramitha seperti orang yang sedang panik dan sedikit ketakutan. Bicaranya terkesan memburu dan tahu-tahu menyinggung tentang lokasi di mana Ardana menemukan memo bernoda darah.
Beruntung pengeras suara di smartphone-nya tidak diaktifkan, kalau saja ketika di awal panggilan dia menyentuh ikon pengaktifnya sudah dipastikan suara meninggi Paramitha bisa terdengar oleh anggota keluarga tuan rumah. Beberapa kali Ardana meringis karena tidak kuat mendengar gadis itu terus menerus bicara dengan intonasi yang tidak bisa diturunkan. Lebih mirip orang yang gusar daripada khawatir baginya.
“Baiklah. Kita bicarakan nanti di rumah Bu Nina, ya? Aku akan ke sana, jadi kamu tunggu saja.”
Pembicaraan berakhir setelah Paramitha mau menuruti sarannya. Ardana melirik ke tempat tidur di seberangnya yang ditempati Ilham. Lelaki itu sudah tidak ada dan tampaknya sedang berolahraga pagi di luar. Tirai jendela disibaknya untuk memastikan kalau Ilham ada di halaman. Dugaannya meleset apalagi setelah melihat mobil Ford Ranger yang biasa mereka gunakan juga tidak ada.
“Aduh, lupa! Pak Ilham kan pergi ke Dustira lagi,” desisnya teringat pada obrolan malam sebelumnya dengan Ilham.
Tidak lama kemudian, Ardana beranjak dari kamar dengan membawa peralatan mandi. Siraman air dingin di pagi hari memberikan kesejukan dan ketenangan pikiran yang luar biasa. Sambil merapikan diri, terlintas dalam benaknya untuk mengajak Paramitha berjalan-jalan sekadar mencari sarapan di luar. Hal itu juga untuk mengantisipasi jika ada pembicaraan yang seharusnya tidak boleh didengar Nina.
Dalam waktu hampir dua puluh tujuh menit, Ardana sudah sampai di depan pekarangan rumah Nina dengan berjalan kaki sedikit cepat. Dengan napas yang agak terengah-engah dia menuju beranda rumah. Tidak seperti biasanya, di beranda tidak ada siapapun. Rumah besar itu juga tampak sepi.
Selama hampir dua menit, Ardana berdiri mematung di depan rumah sambil celingukan ke kiri dan kanan sampai akhirnya Paramitha muncul dari samping kiri. Gadis itu membawa alat penyemprot di tangan kanan dan sebuah pot kecil tanaman hias di tangan kiri. Meski hanya mengenakan kaus berkerah warna merah muda dengan celana hitam panjang dari kain katun dan bandana kain hijau tua yang bertengger di kepala, Paramitha tetap tampak manis dan cantik.
“Oh, keindahan pagi,” gumam Ardana tanpa sadar.
Paramitha yang mendengar itu langsung mengerutkan dahi sambil meletakkan alat penyemprot dan tanaman hias di pekarangan.
“Duduk sini dulu, aku mau bicara,” perintahnya sambil menunjuk lantai beranda.
Ardana tidak langsung menurutinya. “Bu Nina ke mana?” tanyanya.
“Baru saja berangkat ke pasar. Mungkin sekitar satu jam lebih nanti baru pulang,” jawab Paramitha.
Tidak ada balasan dari Ardana. Pemuda ini kemudian naik ke beranda lalu duduk di ujung lantainya. Kedua kakinya dibiarkan lurus memanjang di barisan anak tangga. Sementara Paramitha masih sibuk menata letak pot tanaman hias yang ada sambil menyemprotkan cairan stimulan daya tumbuh herbal yang sengaja dibawanya dari Bandung.
“Jangan sarapan di luar. Aku sudah buatkan nasi bakar dengan isi ikan teri renyah. Ada sambal goreng juga kalau kamu mau,” kata Paramitha tanpa menoleh pada Ardana. Dalam sekejap, gadis itu sudah berlalu kembali ke samping kiri rumah menuju pintu belakang.
Ardana tersenyum. Terkadang dia mengagumi kesigapan gadis itu dalam menyiapkan berbagai hal yang terkadang tidak terpikirkan olehnya sendiri. Sampai soal sarapan pun Paramitha memerhatikannya dengan detail. Kebiasaannya dalam bekerja terbawa sampai ke ranah lain yang sifatnya umum dan lazim. Padahal hanya ingin mendengar langsung cerita yang tadi sempat dibahas di telepon.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Paramitha keluar dari pintu depan dengan membawa dua bungkus daun pisang berisi nasi bakar sebesar dua kepalan tangan, enam irisan selada air, semangkuk sambal goreng dan air minum. Melihat bawaan gadis itu yang agak banyak, Ardana membantunya meletakkan semuanya di lantai beranda. Aroma khas nasi bakar yang sangat menggugah selera menyapa indera penciumannya. Ardana yang semula ingin memulai obrolan menunda keinginannya. Alangkah baiknya mengisi perut yang sudah mengumandangkan pemberontakan atas rasa lapar.
Usai sarapan, keduanya duduk di tempat semula tanpa bergeser sedikitpun. Sejak awal, sebenarnya Ardana memerhatikan gurat keresahan di wajah kekasihnya yang sempat tertutupi dengan ekspresi senang beberapa saat lalu. Dia membiarkannya untuk memulai bercerita sendiri. Meski rasa penasaran memancingnya untuk menanyakan lebih dulu.
Paramitha melepas bandana kain hijau tua yang menutupi sebagian rambutnya yang diikat kuncir di bagian belakang. Dia menoleh pada Ardana.
“Kalau kamu mau bercerita sekarang, tidak apa-apa, Neng,” ujar Ardana.
Si gadis tidak langsung merespon. Pandangannya kembali terarah lurus ke depan dengan sorot mata seolah sedang menerawang sesuatu.
“Semalam itu mimpinya menakutkan,” katanya kemudian, “terlalu nyata sampai aku bisa merasakan semua yang terjadi.”
Ardana bergeser lebih dekat. “Apa saja yang kamu lihat?”
Paramitha mencoba mengingat kembali mimpi yang dialaminya semalam. Mulai dari pertama kali menemukan sebuah senter, menjelajahi sebuah ruangan dengan lambang misterius di pintunya hingga menemukan tempat lain menyerupai aula yang dipenuhi mayat dan makhluk mengerikan yang memburunya. Ketika akan sampai pada bagian di mana Ardana dibunuh makhluk bertubuh tinggi besar bertangan arit tajam di ujung lorong, gadis ini terdiam sambil memejamkan mata.
Meski tidak tahu, Ardana yakin ada bagian dari mimpi gadis itu yang sangat menakutkan. Dia menggenggam erat tangan Paramitha sambil mengusap bahunya perlahan.
“Tidak apa-apa kalau ada bagian seram yang belum sanggup kamu ceritakan,” katanya berempati.
“Jangan kembali ke sana lagi, Dan.”
Ardana tahu tempat yang dimaksud Paramitha. Lorong bawah tanah berisi banyak ruangan yang ada di bawah tanah Hutan Sirnasurya. Dari kekhawatiran gadis Catranata itu padanya, tampaknya ada bagian dari mimpi yang berkaitan dengan dirinya.
“Kenapa? Apa ada hubungannya dengan mimpi semalam?”
“Yang kulihat itu terlalu nyata, Dan. Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi kalau kamu kembali lagi ke sana!” Nada bicara Paramitha sedikit meninggi sambil meliriknya.
“Tidak bisa begitu, Neng. Tugasku memang harus menyelidiki tempat itu,” sanggah Ardana.
Pemuda ini memegangi kedua bahu Paramitha sambil menatapnya dengan sangat lekat.
“Aku yakin penyelidikanku nanti juga berujung pada pembuktian bahwa keluarga besarmu tidak ada hubungannya dan fitnah di masa lalu itu bisa dihapuskan. Dengar, tidak ada yang tahu tentang apa yang kulakukan selain Pak Ilham dan Pak Odang. Termasuk juga... kamu dan Bibi Marni. Tugasku yang sekarang juga untuk kebaikanmu. Agar kamu bisa bebas pulang ke tempat kelahiranmu sewaktu-waktu setelah ini, tanpa rasa takut akan intimidasi penduduk yang cemas berlebihan setiap kali mendengar nama Catranata.”
__ADS_1
Paramitha tidak membalas. Mulutnya tetap mengatup dengan wajah yang masih menunjukkan kekhawatiran. Tapi Ardana tidak memiliki pilihan karena tugas yang dilakukannya adalah bagian dari pekerjaan yang sudah dipilih sejak awal.
“Sekarang... beritahukan padaku, apa yang kamu lihat lagi di mimpimu semalam?”
* * * * *
Ilham baru saja tiba di rumah Odang pada malam hari, ketika Ardana sudah berada di kamarnya sambil menggambar sesuatu di atas buku sketsa. Lelaki itu tampak penasaran melihat si pemuda yang seolah tidak menyadari kedatangannya. Bahkan ketika dia sengaja membunyikan kantung karton berisi martabak bangka rasa cokelat keju yang sengaja dibelinya di tengah jalan, Ardana tidak melirik sama sekali.
“Sedang apa kamu, Dan? Serius sekali sepertinya,” ucapnya berbasa-basi.
“Hm?” Hanya itu respon yang dikeluarkan Ardana seraya melirik sesaat, lalu kembali fokus pada kegiatan menggambarnya.
Ilham meletakkan bungkusan martabak bawaannya di tengah meja yang memisahkan tempat tidur keduanya. Sambil melepas jaketnya, dia memerhatikan sikap Ardana yang kali ini menurutnya tidak biasa. Mau tidak mau harus menunggu sampai pemuda berambut cepak pendek tersebut menyelesaikan gambar yang sedang dibuatnya.
Yang dilakukan Ardana adalah menggambar lambang misterius yang diceritakan Paramitha, yang dilihat gadis itu dalam mimpi. Karena tidak ada warna emas untuk ular yang melilit pisau, dia menggunakan pensil warna kuning untuk mewarnainya. Meski kemarin dia tidak menemukannya, ada keyakinan dalam hatinya kalau itu bisa ditemukannya di ruangan lain yang belum diselidiki. Gambar tersebut kemudian diperlihatkannya pada Ilham.
“Apa ini?” tanya Ilham. Dia mengambil gambar yang dibuat Ardana lalu mengamatinya secara saksama.
“Seperti pernah melihat lambang ini sebelumnya,” gumamnya kemudian. Ilham tampak menerawang ke depan, sambil mencoba menjangkau daya ingatnya yang sudah lewat.
Ardana yang baru mengetahui Ilham membawakan martabak bangka tanpa bicara apa-apa langsung mengambil satu potong dari dalam bungkusannya. Lelehan cokelat isian dalam irisan martabak itu nyaris lumer dari mulutnya.
“Paramitha bermimpi buruk tentang tempat yang kita temukan di bawah Hutan Sirnasurya, Pak. Dia bilang melihat lambang ini di salah satu pintu. Lalu ada sebuah aula berisi manusia yang dimakan hidup-hidup oleh banyak makhluk mengerikan. Dan terakhir dia melihat saya dibunuh oleh salah satu dari mereka,” jelasnya.
Ilham terdiam mendengar penjelasan Ardana. Perhatianya kembali tertuju pada gambar tadi. Meski tidak ingat betul, dia merasa pernah melihatnya di suatu saat yang lalu.
“Gambar ini yang dilihat Paramitha dalam mimpinya?” tanyanya memastikan.
Ardana mengangguk. “Bukankah mimpi juga muncul sebagai refleksi atas kejadian yang sudah berlalu, Pak? Maksud saya, bagaimana kalau ternyata....”
“Ternyata apa, Dan?” Ilham mengerutkan dahinya.
Si pemuda seperti sedang memikirkan sesuatu lalu menatap Ilham dengan serius.
__ADS_1
“Bagaimana kalau ternyata Paramitha pernah masuk, atau tepatnya dibawa masuk ke dalam sana? Hanya saja... saya belum tahu karena seperti yang Bapak pernah bilang, Mitha cenderung menutupi sesuatu. Iya, kan?”
* * * * *