
Pertemuan agak mengharukan—setidaknya itu dalam sudut pandang Ardana Putra—beberapa saat lalu membuat tekad Paramitha untuk kembali ke rumah keluarga ibunya menjadi semakin bulat. Semangat di hatinya bertambah besar. Ibu pemilik lapak nasi angkringan tadi ternyata adalah salah satu teman ibunya ketika dia masih berusia dua tahun. Kemiripan rupa dan fisik antara dirinya dan ibu kandungnya membuatnya sedikit dikenali meski sempat tidak begitu yakin.
Jika ditanya kenapa Ardana mau menemani Paramitha kembali ke desa tempat ibunya berasal, bahkan mendorongnya, hanya satu jawaban yang dimilikinya. Cerita tentang keluarga Catranata yang harus mengalami pembantaian yang hampir memusnahkan sebagian besar anggotanya di masa lalu membuat hatinya tergugah. Terlebih faktor intrik kotor dari pemerintahan Facturia tercium jelas olehnya. Kejadian yang sudah berlalu bertahun-tahun tersebut menyisakan rumor yang juga tidak menyenangkan. Dan itu masih berkaitan dengan tugas utama yang sedang dijalaninya.
“Sayang sekali, ibu itu menolak untuk ikut. Apalagi hari masih pagi. Ah, dia tentu harus mencari rezeki,” kata Ardana sambil menatap lurus ke depan dan menyetir.
“Tidak apa-apa, Dan. Aku masih hapal letak rumah keluarga ibuku,” balas Paramitha.
Sejak meninggalkan lapak nasi angkringan tadi, Paramitha memang selalu mengarahkan Ardana untuk tetap berjalan lurus atau berbelok ketika bertemu persimpangan jalan. Sekali lagi, dia mengingatkan pemuda itu untuk tidak melaju terlalu cepat. Ardana benar-benar mengikuti semua arahannya dengan sangat teliti sambil sesekali pandangannya menyapu semua yang dipantulkan kaca spion tengah maupun kiri dan kanan.
“Ngomong-ngomong, kamu kenal dengan ibu tadi?” tanya Ardana.
“Kenal. Beliau Ibu Yati Suharti, rumahnya hanya berjarak beberapa puluh meter dari rumah nenek. Tapi... aku jujur saja sudah tidak ingat wajah beliau. Karena terakhir bertemu dengannya ketika aku baru berusia lima tahun,” jawab Paramitha.
“Sudah lama sekali. Satu kejutan lagi kalau keluarga ibumu tahu kalau kamu pulang menemui mereka,” tukas Ardana.
Paramitha mendesah kecil. Membuat Ardana melirik sesaat sambil mengerutkan kening. Baginya, suara desahan tadi seperti sedang ada sesuatu yang dipendam dan sulit dikeluarkan.
“Kok mendesah begitu?”
Si gadis menoleh dengan malas lalu menghadapkan badannya ke kanan.
“Aku sering kehilangan teman dekat karena berani terbuka menceritakan bahwa diriku adalah salah satu ahli waris Catranata yang tersisa. Sejauh ini, hanya kamu, Pak Ilham dan keluarga Sumita yang menerima dan mendukungku. Kalau reaksi warga Desa Cikembang, aku sudah paham. Mereka pasti akan mengusirku lagi karena takut akan hal-hal mistik. Hanya saja aku takut kalau warga di desa ini juga sama,” jelasnya.
Ardana menyeringai sinis, bukan karena mendengar pengakuan Paramitha. Namun perilaku warga Desa Cikembang yang kerap kali mengaitkan kejadian orang hilang di Hutan Sirnasurya dengan dendam Catranata ataupun keangkeran lainnya.
“Kamu takut?”
Paramitha tampak ragu dan akhirnya tidak menjawab. Dia kembali terdiam sambil memandangi Ardana yang sedang fokus mengemudi. Si pemuda tahu sedang diperhatikan namun memilih tidak balas menatap.
“Hanya karena ada warga desa ini yang hilang di Hutan Sirnasurya? Kalau sampai begitu, mereka konyol sekali!” sergahnya kemudian. Lalu menggeleng-geleng keheranan.
Paramitha mengernyit penasaran. Yang dikatakan kekasihnya tadi adalah hal yang baru diketahuinya. “Kamu tahu dari mana ada warga desa ini yang ikut hilang?”
__ADS_1
“Berkas kasus orang hilang yang ada di kantornya Pak Odang,” jawab Ardana, “dari desa ini ada enam orang yang hilang karena nekat masuk ke hutan itu.”
Nama yang disebut Ardana juga dikenali oleh Paramitha. Sosok kepala desa berbadan agak tambun dengan wajah teduh. Sumita pernah bercerita beberapa minggu yang lalu bahwa Odang adalah sosok yang mengayomi dan sabar. Dia adalah kepala desa pertama yang mau meluangkan waktu untuk menemukan fakta di balik kasus orang hilang di Sirnasurya dengan penyelesaian logis dan tidak macam-macam. Hal itu tentu saja memudahkan pekerjaan Ardana dan Ilham untuk menyelidiki apa yang sebenarnya tersimpan di dalam hutan buatan tersebut.
Meski begitu Paramitha masih tetap merahasiakan jatidirinya. Situasi desa yang tidak sama dengan masa kecilnya dahulu membuatnya jauh lebih berhati-hati. Tetap saja, jika satu kesalahan terjadi maka dirinya yang terancam.
Perjalanan mereka sempat terhenti ketika Paramitha meminta Ardana untuk menepi di pinggir kawasan pemukiman penduduk di bagian selatan desa. Di hadapan mereka berderet rumah penduduk yang sebagiannya merupakan peninggalan masa kolonial berdinding putih. Tampak tua namun terawat dengan rapi. Beberapa kaum lelaki tampak melakukan aktivitas masing-masing sebagaimana pekerja dan petani desa pada umumnya. Sementara para perempuannya ada yang sedang mengerumuni tukang sayur, membersihkan pekarangan dan lain-lain. Yang memberi kesan tidak biasa adalah pakaian yang mereka kenakan begitu kontras dengan hunian yang ada. Kaus oblong, daster lusuh dan celana pangsi di mata Ardana sangat tidak mewakili nuansa dan rasa kolonial yang ada pada rumah-rumah tersebut.
“Rumah bagus dan antik. Tapi penampilan warganya malah ala kadarnya begini,” komentar si pemuda kebingungan.
“Yang ada di depan kita itu rumah-rumah dinas peninggalan kolonial Belanda. Dulunya dipergunakan untuk tempat tinggal mereka yang bekerja di perkebunan. Penduduk desa kemudian mengambil alih semuanya setelah kemerdekaan sampai sekarang,” jelas Paramitha.
“Hmmm, kenapa kita berhenti di sini?” tanya Ardana penasaran.
“Kita sudah sampai. Masuk saja ke dalam, nanti kalau ketemu rumah yang berdiri sendiri di tengah tanah pekarangan yang paling luas kita berhenti. Itu rumah keluarga ibuku,” jawab Paramitha.
Tanpa menyahut, Ardana kembali menyalakan mesin mobil lalu masuk ke dalam pemukiman itu. Sesaat kemudian dia merasa seperti sedang berjalan melintasi lorong waktu kembali ke masa kolonial, di mana rumah-rumah putih tua tadi tampak serasi dengan alam yang masih hijau. Siapapun yang menghuninya pasti merasakan ketenangan karena menurut beberapa informasi yang pernah dibacanya, rumah berarsitektur kolonial dirancang dengan sirkulasi udara yang sangat baik dan pencahayaan yang cukup. Jika dijual ataupun direnovasi, nominal uang yang dikeluarkan tentu sangat besar mengingat usia bangunan yang sudah tua dan terkadang membutuhkan ketelitian melalui cetak biru yang pernah dibuat arsitekturnya.
Sambil menelusuri jalan, Ardana tidak berhenti mengagumi arsitektur setiap rumah tua yang dilihatnya. Sayup-sayup terdengar alunan musik gamelan Sunda, yang ternyata berasal dari sebuah radio antik milik seorang kakek di beranda rumahnya.
“Kakek yang ramah,” pujinya.
“Di depan sana ada pertigaan, ambil yang kanan dan jangan terus lurus. Kamu dengar tidak, Dan?!”
Suara Paramitha yang sedikit meninggi membuat Ardana kelabakan. Seketika konsentrasinya langsung kembali pada si gadis yang berusaha mengarahkannya.
“Kamu dengar tidak, sih?” Paramitha mengerutkan kening keheranan melihat tingkah Ardana.
Ardana mengangguk cepat, “Dengar kok, dengar. Ke depan pertigaan lalu ambil kanan, ya kan?”
“Iya, tapi pelan-pelan jalannya. Kamu tadi agak terlalu cepat,” jawab Paramitha yang kembali menyandarkan badan.
Setelah melewati pertigaan dan mengambil arah kanan, Ardana memilih diam seperti saat pertama kali diarahkan melintasi jalan raya utama Desa Karanghawur. Paramitha lah yang cerewet menyebutkan arah mana yang harus diambil, termasuk membuat si pemuda menginjak pedal rem mendadak karena terkejut akibat suaranya yang tiba-tiba meninggi.
__ADS_1
“Sabar... sabar,” desis Ardana.
Mobil Ford Ranger yang mereka tumpangi terus melintasi jalan raya dengan mengambil jalur memutar sana-sini. Setelah memakan waktu hingga hampir dua puluh menit, tempat yang dicari-cari akhirnya berhasil ditemukan. Rumah bergaya kolonial berlantai satu yang cukup besar, berdiri di tengah tanah pekarangan paling luas. Baik dari ukuran maupun citarasa arsitekturnya, semuanya tidak sama dengan rumah lain yang ada di sekitarnya. Bentuknya mengingatkan Ardana pada bangunan Museum Seni Rupa dan Keramik yang berlokasi di area Kotatua Jakarta, hanya saja yang ini adalah versi mininya. Dia bahkan melihat sedikit pengaruh gaya Rococo pada bagian berandanya yang besar. Jika dibandingkan dengan sisa puing rumah keluarga Catranata, rumah di depan mereka itu lebih kecil.
“Mitha, apa ini rumah yang kamu maksud?” tanya Ardana. Lelaki ini mencoba memastikan kalau mereka sudah sampai di lokasi yang tepat.
Paramitha mengangguk pelan.
“Kalau begitu, ayo turun!”
“Tunggu dulu, Dan.”
Ardana mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil. Dia melihat keraguan di wajah Paramitha. Gadis itu tampak memikirkan sesuatu sambil memandangi rumah keluarga ibunya yang hanya berjarak delapan meter dari tempat mereka berhenti.
Paramitha lalu mengambil sesuatu yang menggantung di lehernya, tepatnya dari balik kerah kemeja. Seutas kalung perak dengan bandulan persegi panjang berisi batu berlian putih kini menjuntai hingga dada. Bagian bandulnya ditimang-timang beberapa saat di tangan kirinya. Sorot matanya berubah menjadi sayu dan tiba-tiba terpejam.
Ardana tidak bereaksi apa-apa selain menunggu. Selama mengenal Paramitha, dia baru tahu kekasihnya itu menyimpan sebuah kalung perak yang tampak antik. Kemungkinan besar itu juga bagian dari warisan keluarga, pikirnya menebak-nebak.
“Semoga saja mereka masih ingat,” gumam Paramitha sambil membuka matanya.
“Itu apa, Neng?” tanya Ardana memberanikan diri.
Paramitha melepas kalungnya. Benda antik itu lalu berpindah tangan pada Ardana yang mengamatinya dengan penasaran.
“Kalung ini tanda pernikahan ayah dan ibu,” jawab Paramitha, “dan ini tanda pengenal yang diberikan hanya untukku.”
Ardana memicingkan mata. Berlian putih dalam kurungan bandul persegi empat kalung itu memiliki potongan dalam bentuk serupa dan sangat rapi. Jarang sekali dia melihat batuan permata yang dipoles sedemikian rupa hingga menampilkan selubung warna-warna tertentu dalam sorotan cahaya. Dengan diameter yang tidak lebih dari satu sentimeter, benda berharga tersebut tentu memiliki nilainya tersendiri.
“Hmmm, ternyata agak rumit juga. Ahli waris Catranata seperti kamu sampai harus mengenakan tanda pengenal seperti ini,” ujar Ardana.
“Kakek pernah bilang, setiap lelaki dari luar keluarga Catranata yang serius mendekatiku nanti harus mengerti semuanya,” balas Paramitha sambil tersenyum.
Ardana membalas senyuman manis si gadis dengan membantunya mengenakan kembal kalung bermata berlian antik tadi. Setelah itu, dia bergegas turun lalu berputar ke tempat Paramitha duduk.
__ADS_1
Di saat yang sama, Paramitha belum beranjak. Ekspresi wajah gadis cantik ini datar dengan tatapan lurus ke arah rumah kedua dari masa lalunya.
* * * * *