Petaka Biohazard: Lorong Kematian

Petaka Biohazard: Lorong Kematian
Makhluk Bertubuh Hitam Hangus


__ADS_3

Perhatian Ilham tertuju pada tiga kue apem yang diambil (baca: dicuri) oleh Ardana dari sesajen di dekat puing rumah besar Catranata. Orang tua ini menggeleng-geleng melihat kelakuan pemuda yang kini bersamanya itu. Sementara Ardana sendiri bersikap seolah tidak terad apa-apa. Sambil mengunyah kue pertama yang tenggelam dalam gigitannya, dia memandangi keadaan di luar. Desa yang dianggap sudah modern seperti Cikembang ternyata masih memiliki kekurangan penerangan di bagian selatan, yang berhadapan langsung dengan Hutan Sirnasurya. Memikirkannya saja membuat Ardana kesal karena tidak paham dengan isi kepala para pejabat desa. Padahal penerangan yang memadai sangat dibutuhkan di sana.


Jalan raya yang tampak bagus di depan sebenarnya tidak begitu rapi. Sesekali ada lubang jalan yang dihindari atau terkadang harus dihantam begitu saja oleh roda mobil. Terkadang terjadi guncangan halus berturut-turut. Saking gelapnya jalur yang dilalui, Ilham yang mengemudi benar-benar memasang mata dan telinga. Satu-satunya andalan yang sangat berguna adalah lampu depan mobilnya.


“Masih seperti ini saja keadaannya. Pemda setempat tidak terpikirkan untuk memasang penerangan di sepanjang jalan ini, ya? Mengganggu sekali,” keluh Ilham sambil tetap berkonsentrasi mengemudi.


“Namanya juga di desa, Pak,” timpal Ardana, “kemungkinan sih uang dana pembangunan desa ada yang disunat sedikit.”


Ilham mendesah, “Mungkin begitu. Atau... mereka saking percaya dengan tabu Hutan Sirnasurya sampai tidak berani memasang tiang lampu pinggir jalan.”


Ardana menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. Baginya adalah kekonyolan jika sampai tidak berani melengkapi sarana dan prasarana pendukung di sebuah desa hanya karena kepercayaan lokal yang belum tentu terbukti kebenarannya.


“Saya jadi penasaran, seperti apa kengerian hutan itu sampai orang Desa Cikembang tidak berani menginjakkan kaki di sana? Padahal tidak ada bedanya dengan hutan tropis lainnya di Indonesia, meski itu buatan manusia,” keluhnya.


“Itu yang akan kita cari malam ini. Hmmm, ya, ya... padahal baru pukul delapan malam,” timpal Ilham. Kali ini matanya teralihkan sesaat pada jam tangan di pergelangan tangan kirinya.


“Jam delapan, ya?” Ardana refleks ikut melirik jam tangannya. “Sepi sekali, padahal belum sampai jam sebelas malam,” imbuhnya.


Ilham menambah kecepatan laju mobilnya. Selain takut terlalu lama menghabiskan waktu di jalan, dia ingin menghindari kemungkinan tugas Ardana tahap pertama kali ini berakhir ketika pagi muncul. Berbekal kemampuan mengemudi cepat yang didapatkannya ketika masih aktif di Kopassus, Ilham menginjak pedal gas sekuat mungkin. Kedua tangannya yang mengendalikan kemudi bergerak dengan cepat dan cekatan. Ardana bahkan dibuat ternganga melihat keahlian si lelaki tua yang belum pernah diketahuinya. Sebenarnya dia merasa ngeri kalau harus mengebut di malam hari dengan penerangan yang terbatas. Tanpa sadar kedua tangannya memegangi bagian sandaran kursi yang didudukinya.


Tidak sampai sebelas menit, akhirnya mereka sampai di depan Hutan Sirnasurya. Tentunya tidak berhenti dengan cara yang normal. Ilham membanting setir begitu tajam ke kiri hingga nyaris berputar-putar. Ardana memejamkan mata sambil mengatupkan mulut karena tidak ingin berteriak akibat rasa ngeri yang luar biasa. Lalu semuanya hening tanpa ada suara deru mesin.


“Saya sudah lama tidak kebut-kebutan begini sejak tugas terakhir di belantara Papua,” kata Ilham, yang bagi Ardana terkesan ingin pamer.


Ardana hanya diam tanpa berkata apa-apa. Dia merapikan rompi anti peluru yang sejak awal dikenakannya lalu mengenakan helm kevlar yang menganggur di dasbor. Berikutnya memeriksa senjata untuk memastikan tidak ada gangguan yang bisa membuat sistem tembaknya macet.


Ilham melakukan hal yang sama lebih cepat dari Ardana. Dia segera turun dengan santai namun waspada. Kedua matanya meyoroti hampir semua bagian hutan yang dapat dijangkau pengelihatannya. Ardana yang turun beberapa saat kemudian malah celingukan ke kiri dan kanan seperti orang kebingungan.


“Pak, kita masuk ke sana sekarang?” tanyanya sambil menghampiri Ilham.


Ilham mengangguk. “Kita masuk sekarang, tapi pakai dulu kacamatamu!” perintahnya sambil menunjuk kacamata taktis yang menyembul dari balik celah leher, tepat di balik rompi anti peluru Ardana.


Ardana mengambil benda yang dimaksud lalu memakainya. Sebuah tombol kecil pada bagian sudut kanan antara engsel dan bingkai kacamata ditekannya. Kini yang tampak di kedua lensanya bukan lagi warna gelap gulita. Semua objek yang ada dapat dilihatnya dengan cukup jelas, melebihi sorotan cahaya senter LED. Makhluk hidup yang terlihat ditandai dengan sensor panas dalam jarak jauh, yang baru bisa dilihat dengan jelas wujudnya ketika berada dalam jarak dekat. Kacamata canggih itu juga menampilkan info grafis seperti peta lokasi, detak jantung pengguna yang aktif begitu bagian tangkai kacamata menyentuh kulit kepala dan detektor dini potensi bahaya.

__ADS_1


“Benar-benar canggih,” desisnya terkagum-kagum. Ini memang pertama kalinya Ardana menggunakan kacamata Wolf Eye yang diciptakan para ilmuwan di Baihaqi Armed Corps.


Ilham yang sudah terbiasa dengan peralatan seperti itu hanya menggelengkan kepala.


“Sudah dulu kagumnya. Fokus pada tugas!” tegurnya.


Perintah adalah perintah. Ardana yang tersadar segera menghampiri Ilham yang masih berdiri di sisi kanan mobil. Keduanya mencocokkan waktu yang ada di jam tangan masing-masing.


“Kita akan masuk sekarang, tetap waspada dan ingat baik-baik semua latihan yang sudah kamu dapatkan,” kata Ilham sambil bergerak. Dia menghindari garis kuning larangan melintas yang dipasang polisi di depan jalan masuk.


Ardana mengikuti di belakang dalam jarak satu meter. Sambil berjalan memasuki Hutan Sirnasurya. kedua matanya tetap bergerak ke segala arah, mencoba menemukan potensi ancaman yang dapat mengganggu atau bahkan mengancam keselamatan mereka. Sejauh ini yang dilihat hanya beberapa hewan malam yang mulai aktif berkeliaran. Rata-rata berukuan kecil dan tidak ada tanda bahaya. Meski begitu, dahan pepohonan yang begitu rapat sedikit mengganggu kenyamanan Ardana. Baru melangkah beberapa puluh meter, dia merasakan sensasi yang tidak enak.


Malam ini dia melihat langsung bagaimana keadaan sesungguhnya hutan buatan yang terkenal karena kasus orang hilang yang semakin banyak tersebut. Tidak hanya nyaris saling rapat, ada beberapa pohon yang sangat mirip dan mampu membingungkan siapa saja yang menjelajahinya. Ardana nyaris terjebak dalam kepanikannya sendiri begitu melihatnya. Tubuhnya nyaris terjungkal ke belakang menimpa Ilham, kemudian dengan terburu-buru dia meredam rasa paniknya dan terus berjalan.


“Jangan teralihkan untuk melihat yang aneh-aneh, Dan!” Ilham seolah tahu apa yang dirasakan Ardana. Dia menoleh beberapa saat pada si pemuda.


“Euh... iya, Pak. Maafkan saya,” ucap Ardana.


Ilham tidak membalas. Dia tampak tidak ingin konsentrasinya terganggu karena ulah anak muda di belakangnya itu.


Tiba-tiba dia teringat pada Paramitha, gadis pelayan di rumah makan di Terminal Cicaheum yang menarik rasa penasarannya. Tidak lain karena kedua mata gadis itu yang berwarna merah kehitaman, berbeda dari manusia pada umumnya. Timbul pertanyaan bagaimana rumah makan tersebut mau menerimanya padahal di desanya sendiri dia dianggap petaka. Setelah beberapa saat mencari jawaban yang tidak kunjung ditemukan, Ardana menyerah.


“Pak, saya penasaran dengan sesuatu,” katanya pada Ilham.


“Ya?” Ilham hanya merespon singkat tanpa menoleh.


“Saya teringat pada Paramitha. Apakah dengan kedua matanya yang dianggap janggal itu tidak membuat orang lain ngeri? Saya lihat para rekan kerjanya di Rumah Makan Abah Eman menerimanya tanpa merasa takut. Sangat berbeda terbalik dengan cerita yang saya dengar dari Anda dan pemilik warung kopi tadi pagi,” ungkapnya dengan sedikit hati-hati.


Ilham kembali menoleh lalu memalingkan wajahnya kembali ke depan.


“Jadi hanya karena itu kamu penasaran? Baiklah, saya beritahu lagi. Eman itu sebenarnya senior saya. Paramitha bisa bekerja di sana karena saya yang menjelaskan sendiri padanya tentang siapa gadis itu, asal-usulnya dan lain-lain yang penting untuk dipahami. Tanpa perlu saya jelaskan pun sebenarnya orang tua itu punya hati yang mulia dan mau menerima Paramitha menjadi pekerja di rumah makan miliknya,” terangnya sambil terus berjalan.


Beberapa saat kemudian keadaan menjadi hening.

__ADS_1


“Ada lagi yang mau kamu tanyakan lagi soal Paramitha, heh?” tanyanya kemudian.


Ardana menggeleng cepat. “Tidak, Pak. Itu saja untuk sementara,” jawabnya.


Hingga satu jam lebih kemudian, Ilham dan Ardana sudah semakin jauh masuk ke dalam Hutan Sirnasurya. Tanpa keduanya sadari, dari atas dahan pohon yang nyaris saling merapat ada yang mengintai mereka.


Sebuah mulut menyeringai lebar di tengah kegelapan, berasal dari sesosok makhluk yang menyerupai manusia dengan warna hitam yang membalut seluruh bagian tubuhnya. Ia seakan ingin memamerkan deretan gigi tajam yang nyaris memenuhi dinding rongga mulutnya. Lidahnya yang berujung runcing menjulur panjang dan menggeliat liar, dan di saat bersamaan kedua matanya menyipit tajam memerhatikan Ilham dan Ardana yang berjalan sambil sesekali berhenti ketika mendapatkan sesuatu yang menarik.


Makhluk aneh itu tiba-tiba merayap cepat di antara dahan pepohonan, mengikuti kedua calon mangsanya sambil mengeluarkan suara menggeram berat yang terdengar sayup-sayup.


Ardana mengerutkan kening lalu menoleh ke atas. Suara geraman berat yang tertangkap indera pendengarannya membuatnya berhenti.


“Tadi itu... suara apa? Sepertinya ada di atas sana,” gumamnya sambil mendongak ke atas.


Ilham yang menyadari si pemuda berhenti ikut menahan langkah. Dia berbalik badan dan mendapati Ardana yang sedang melihat ke atas dengan wajah menengadah.


“Kamu dengar apa?” tanyanya.


Tidak ada jawaban. Ardana kembali menghadapkan wajah ke arah Ilham yang menatapnya dengan penasaran.


“Ti—tidak ada apa-apa, Pak. Saya sepertinya salah mendengar,” kilahnya sambil menyeringai.


Tidak ada respon dari Ilham untuk jawabannya. Namun tiba-tiba tatapan matanya bergeser sedikit ke arah belakang Ardana. Ekspresinya juga berubah seperti orang yang terkejut namun tertahan. Ardana yang melihat perubahan sikap Ilham langsung mengerti bahwa lelaki paruh baya itu sedang melihat sesuatu di belakangnya.


“P—Pak, a—da apa, ya?” tanyanya sedikit terbata. Jantungnya mulai berdegup lebih keras.


Ilham tetap tidak menjawab. Ardana melirik jari telunjuk kanan orang tua itu yang bergerak ke bagian pelatuk senjatanya. Jika sudah begitu, berarti ada sesuatu yang tidak beres. Tanpa diminta, dia membalikkan badan perlahan untuk mencari tahu sendiri apa yang sedang dilihat oleh Ilham.


Betapa terkejutnya Ardana. Di belakangnya, hanya dalam jarak enam meter sudah berdiri sesosok makhluk aneh setinggi empat meter dengan wujud manusia berkepala plontos. Seluruh tubuhnya yang tampak mengeras berwarna hitam itu mengeluarkan efek hangus terbakar dengan bagian daging yang melepuh kemerahan dan berdenyut lemah. Ardana tidak bisa melihat kedua mata makhluk tersebut selain mulutnya yang menganga dan menyeringai lebar dengan deretan gigi tajam yang membuatnya merinding. Lidahnya yang bergerak-gerak liar seakan siap menyerang si pemuda.


Ardana merasakan sensasi ketakutan yang luar biasa hingga membuatnya tidak bisa menggerakkan anggota tubuh. Seumur hidupnya baru kali ini dia melihat sosok mengerikan dalam jarak yang sangat dekat. Padahal dia ingin sekali berlari menjauh dan menghindar dari makhluk aneh yang kini sedikit membungkuk, seolah memerhatikannya dengan sangat lekat.


“Ma—makhluk... apa i—ini?! Si—sial! A—aku... tidak bisa... berge—gerak!”

__ADS_1


* * * * *


__ADS_2