
Ardana mengambil foto para serdadu KNIL itu sambil membalikkannya seperti sedang mencari sesuatu. Entah kenapa, tiba-tiba dia berpikiran ada semacam puzzle yang bisa ditemukannya pada bagian bingkai. Menyadari perbuatannya seperti orang bodoh, Ardana menyeringai geli. Kegemarannya memainkam gim Resident Evil sampai terbawa ke dunia nyata.
“Kamu sama saja seperti keponakan saya. Setiap ada foto bersejarah pasti selalu dilirik.”
Ucapan Marni membuat Ardana membalikkan badan dengan cepat. Efek terkejut yang dialaminya membuat dirinya tampak seperti pencuri yang tertangkap basah. Wanita paruh baya itu entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya dalam jarak empat meter.
“Eh, i—iya. Saya dan Paramitha sangat menyukai sejarah dan budaya,” kata Ardana sambil meletakkan kembali foto itu di tempatnya semula.
Marni tidak menanggapi. Dia beranjak menuju meja baca di dekat Ardana lalu ikut memegang foto tadi. Tangannya mengusap lembut bagian kaca yang menutupi lembar foto yang usianya sudah di atas angka seratus tahun. Ardana tidak bergeming melihat apa yang dilakukan bibi dari Paramitha itu.
“Sayang sekali suami saya sedang bertugas di perbatasan. Sepupunya Mitha berkuliah di Tasikmalaya dan belum mendapatkan libur. Mereka berdua tahu cerita tentang foto ini,” ujarnya.
Ardana menoleh pada Paramitha yang baru saja muncul dan mendekati bibinya. Dengan isyarat mengangkat kedua alisnya si gadis menanyakan ada apa. Ardana hanya menggeleng pelan. Baru ketika dilihatnya sendiri apa yang ada dalam genggaman sang bibi, Paramitha mengerti meski dirinya juga baru tahu keluarganya menyimpan foto itu.
“Kalian pasti penasaran dengan orang yang di tengah itu, kan?” tanya Marni tanpa menoleh.
“Hmmm... iya. Terutama karena wajahnya mirip sekali dengan Paramitha,” jawab Ardana berterus terang.
"Orang yang mirip denganku? Mana?" tanya Paramitha.
Tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Marni meninggalkan kedua muda-mudi itu dengan membawa serta foto tersebut, kembali ke ruang tamu. Ardana dan Paramitha mengikuti meski tidak disuruh. Sesampainya di sana, Marni menduduki posisinya semula lalu meletakkan foto tua para serdadu itu di atas meja. Tangan wanita ini kemudian saling bertumpu di pangkuan.
__ADS_1
“Yang paling mengerti tentang kisah di balik foto ini adalah kakek dan ayah Paramitha. Karena mereka berdua adalah keturunan langsung dari orang yang ditandai dengan tulisan ‘Tjatranata’ seperti yang kalian lihat,” jelas Marni.
Paramitha mengamati foto di hadapan mereka selama beberapa detik. Ternyata orang yang dimaksud Ardana mirip dengannya ada di tengah. “Aku baru kali ini melihatnya, Bi. Tapi sejak kapan foto ini ada di rumah?”
“Ayah dan ibumu sendiri yang membawanya. Beberapa jam sebelum mereka ditemukan meninggal di Hutan Sirnasurya,” jawab Marni datar. Kedua matanya terpejam sesaat sambil memalingkan wajah dari Ardana dan Paramitha.
Ardana menggenggam tangan Paramitha untuk menenangkannya. Meski gadis itu tidak menampakkan reaksi kesedihan, gejolak emosinya masih bisa dirasakan. Sorot matanya bisa ditebak dengan mudah oleh si pemuda.
Paramitha tidak mengatakan apapun sebagai respon atas jawaban bibinya. Bahkan ketika Ardana menggenggam lalu mengusap punggung tangannya, dia tidak menoleh sama sekali. Jika boleh jujur, dirinya merasakan kesedihan setiap kali disinggung sesuatu yang berhubungan dengan saat-saat terakhir kehidupan kedua orangtuanya. Hanya saja dia menutupinya di balik kepribadian yang tegar dan mengesankan sebagai orang yang kuat.
Memahami keadaan yang berubah menjadi lebih kaku dari sebelumnya, Ardana mengalihkan pembicaraan ke arah yang lebih spesifik mengenai riwayat foto yang ada di tengah mereka bertiga.
Marni menyunggingkan senyum kagum pada anak muda di depannya.
“Pantas Paramitha mau denganmu. Kalian sama-sama menyukai dan mengerti sejarah.”
Ardana balas tersenyum simpul seraya menoleh pada Paramitha. Selanjutnya, dia kembali meneruskan penjelasannya dengan sopan dan hati-hati.
"J.L. Brandes yang ikut dalam ekspedisi tersebut menemukan banyak naskah kuno. Termasuk yang diketahui publik di antaranya ada Nagarakrtagama yang ditulis dalam media daun lontar. Kitab yang aslinya pertama kali ditulis pada jaman Majapahit masih berjaya itu dianggap sebagai rampasan perang yang paling berharga. Meski hanya naskah salinan, temuan Brandes menjadi hal penting bagi pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk memahami sejarah tanah jajahannya.”
“Satu hal yang tidak diketahui dalam sejarah umum adalah... tentang Brandes dan salah seorang perwira menengah KNIL yang menemukan satu naskah lain. Asalnya dari tanah ini, Tatar Sunda. Tanah kelahiran perwira militer yang saya sebutkan tadi. Ditemukan dalam ruang bawah tanah rahasia di perpustakaan istana. Isinya terkesan seperti dongeng namun membuat Brandes tertarik. Si perwira yang mengenali naskah itu terkejut lalu menyarankan agar dia sendiri saja yang menyimpannya. Brandes setuju, lalu membiarkan si perwira mengambil alih. Dan orang yang ada di tengah dalam foto ini adalah dia. Namanya adalah... Adriaan Willem Tjatranata,” sambung Marni sambil tetap tersenyum.
__ADS_1
Ardana menahan diri untuk tidak menyela. Baginya, yang diungkapkan oleh Marni adalah sesuatu yang sangat menarik dan sayang untuk dilewatkan.
“Adriaan Willem Tjatranata? Berarti dia berasal dari keluarga Catranata,” desis Ardana.
Marni mengangguk.
“Adriaan adalah putra sulung dari Aria Adiguna Tjatranata, ketua terpilih keluarga Catranata. Dia menikahi seorang putri petinggi militer yang bernama Anneke de Bruin dan dikaruniai tiga orang anak. Karena berbeda keyakinan, si perempuan merelakan diri untuk memeluk agama yang dianut Aria beberapa minggu sebelum mereka menikah. Dari pernikahan ini lahir tiga orang anak, dua laki-laki dan satu perempuan. Adriaan, Gandajaya dan Wina. Yang mengikuti jejak kakeknya, ayah Anneke, adalah Adriaan si sulung. Pengaruhnya pun besar baik di kalangan keluarga Catranata maupun De Bruin pada saat itu. Sebagai pengesahan atas kemampuannya, Adriaan menerima kujang hitam bergagang tanduk putih yang menandakan dia terpilih menjadi penerus Aria.”
Ardana langsung teringat pada kujang dengan ciri fisik yang sama di rumah Nina. Di samping itu dia pun turut terkesima mendengar penuturan tentang sejarah kakek buyut Paramitha. Bahkan orang di luar keluarga Catranata seperti Marni yang berasal dari keluarga Suheni bisa mengetahuinya dengan cukup jelas.
“Hanya itu saja yang Bibi ketahui tentang keluarga Catranata. Dan sudah seharusnya Paramitha mengerti tentang hal ini, lebih dari siapapun. Karena dia juga keturunan langsung Adriaan," pungkas Marni.
Ardana berusaha mencerna baik-baik semua yang sudah disampaikan Marni padanya dan Paramitha, sekali lagi. Jika kisah tentang Adriaan memiliki hubungan dengan kejadian tragis di masa lalu yang menimpa keluarga Catranata, maka dia akan berusaha mendapatkannya dengan cara apapun.
"Sebenarnya Bibi sudah merasakan ada sesuatu yang kamu sembunyikan, Mitha. Kenapa tidak kamu ceritakan saja tujuanmu menemui Bibi?" Marni menyilangkan tangan di depan dada. Sorot matanya berubah penuh selidik pada keponakannya itu.
Rrrrrrt! Rrrrrt!
Ardana melirik saku jaketnya. Sebuah pesan baru saja masuk ke smartphone-nya.
* * * * *
__ADS_1