Petaka Biohazard: Lorong Kematian

Petaka Biohazard: Lorong Kematian
Mimpi Buruk


__ADS_3

Paramitha membuka kedua matanya. Entah bagaimana, tahu-tahu dia sudah berada di sebuah lorong berdinding beton yang cukup luas dan gelap yang seolah tidak berujung. Di tangan kanannya tergenggam sebuah senter yang menyala, yang juga dia tidak tahu berasal dari mana. Terkejut dengan apa yang dilihatnya sekarang, benda yang memancarkan cahaya itu terlepas dan jatuh di dekat kakinya.


“Ini... tempat apa ini? Bagaimana aku bisa berada di sini?” desisnya penuh tanya.


Dia menoleh ke belakang. Yang tampak dalam pandangannya hanya selubung warna hitam pekat. Gadis itu mencoba meraih senter yang tadi jatuh, berharap yang dialaminya saat ini adalah mimpi dalam tidurnya.


“Eh.” Gadis ini tertegun begitu menyadari benda pemancar cahaya itu terasa sangat nyata.


Kalau ini benar-benar mimpi, hal tersebut mustahil terjadi. Tapi pada kenyataannya dia bisa merasakan, mencium dan mendengar semuanya dengan jelas. Bau amis, hembusan angin yang dingin menusuk hingga desah napasnya.


Padahal sebelumnya dia tengah terbaring lelap dalam kamarnya di rumah Bu Nina. Ketika melihat kembali pakaiannya, dia masih mengenakan piyama berwarna merah muda dengan jaket woll merah marun. Begitu pula dengan kedua kakinya yang beralaskan sandal.


Drap! Drap! Drap!


Dari kejauhan di depan sana terdengar suara banyak orang berjalan. Seperti ada banyak sepatu yang dihentakkan serempak. Paramitha memberanikan diri untuk melangkahkan kaki menuju sumber suara sambil menyorotkan cahaya senter ke depan. Kini tampak jelas kalau lorong tempatnya berada memiliki banyak ruangan di kiri dan kanan.


Perhatiannya tertuju pada salah satu ruangan sisi kanan lorong yang pintu besinya terbuka lebar.


Paramitha terdiam di depan ruangan tersebut sambil memerhatikan saksama kondisi pintu yang sudah berkarat berat. Di bagian tengahnya terdapat lambang yang tampak tidak asing baginya. Seekor ular emas yang melilit sebuah pisau yang ujungnya menghadap ke atas. Di sisi kiri dan kanannya ada sepasang ular hitam yang melengkung membentuk setengah lingkaran ke arah yang saling berlawanan. Perlahan tangannya meraba lambang itu sambil pikirannya terus mencari tahu.


“Aku seperti pernah melihat lambang ini. Tapi... di mana?”


Rasa penasaran kemudian mendorong gadis itu masuk ke dalam ruangan. Di sana terdapat tujuh lemari besi yang enam di antaranya terbuka lebar dengan kertas-kertas berserakan di lantai. Cukup besar dan dapat digunakan manusia untuk bersembunyi di dalamnya. Beberapa meja dan kursi masih tertata rapi. Hanya saja sebuah pemandangan lain membuatnya terperanjat. Di atas setiap meja terdapat sisa darah yang sudah mengeras. Beberapa foto lelaki berwajah kokoh dengan seragam tentara juga terkena dan menyatu dengannya.


Kertas-kertas yang berserakan di sekitar keenam lemari besi yang terbuka juga menarik perhatiannya. Dengan saksama dia memeriksa beberapa lembar yang dipilih secara acak. Kedua matanya membesar ketika mengetahui isi semuanya adalah perintah untuk melakukan percobaan terhadap beberapa orang yang ditandai dengan ciri penampilan.


*Surat Perintah Nomor 216: Eksekusi percobaan terhadap lelaki berwajah kurus dengan jaket abu-abu.


Surat Perintah Darurat Nomor 13: Agar melanjutkan percobaan terhadap lelaki tambun dengan tahi lalat di bawah mata.


Surat Perintah Nomor 465: Lelaki bermata besar di sel 7 agar segera diserahkan pada subjek percobaan nomor 0015*.


BRAKK!!


Suara benda tumbang di ruangan yang sama mengejutkan Paramitha, membuat gadis ini berdiri refleks sambil mengarahkan cahaya ke pojok. Tempat ketujuh lemari besi tadi berderet.


Lemari di urutan ketujuh yang dalam keadaan tertutup entah bagaimana caranya tumbang begitu saja. Paramitha tidak langsung menghampiri benda itu karena seharusnya tumbang dalam keadaan tersungkur, bukan menyamping seperti yang dilihatnya sekarang. Untuk memastikan tidak ada yang aneh, Paramitha mendekat sambil mengulurkan tangan. Gagang pintunya sudah tergenggam dan hanya perlu ditarik karena tidak dalam keadaan terkunci.

__ADS_1


Krieeet!


Paramitha menahan napas sambil membuka pintu lemari ketujuh itu perlahan-lahan. Belum sepenuhnya terbuka, tiba-tiba dari dalam sana muncul enam tentakel merah berselimut lendir kuning pekat yang langsung menjerat leher dan kedua tangannya.


“Aaaakkhh!” Paramitha mendelik kaget sambil meronta kesakitan. Tubuhnya langsung terjatuh ke samping.


“Hah? Tidak mungkin!” ucapnya panik.


Tentakel-tentakel yang tadi menyerangnya tiba-tiba menghilang. Yang kini terlihat dari isi lemari ketujuh di depannya hanya tumpukan kertas yang tidak bisa dihitung dengan jari. Paramitha menarik napas sedalam mungkin meski masih terengah-engah di tengah kepanikannya.


Antara bingung dan penasaran, gadis ini berdiri lagi sambil mengusap-usap sikunya yang sedikit nyeri karena berbenturan dengan lantai ketika terjatuh. Kali ini dia kembali terkejut. Ruangan yang sebelumnya hanya berisi kursi, meja dan lemari dengan kertas-kertas berserakan berganti menjadi tempat lain yang lebih luas.


Paramitha ingin memekik namun lehernya seperti tercekat sesuatu. Di hadapannya terdapat banyak jasad manusia tak utuh dan tanpa busana yang tidak lagi bernyawa. Semuanya digantung dengan kulit mereka sendiri, terikat kasar pada rantai besi yang saling menjalin satu sama lain. Di bawahnya terdapat deretan ranjang di kiri dan kanan yang diisi jasad manusia lainnya. Mereka masih hidup walau dalam kondisi mengenaskan dengan badan penuh luka dan pakaian yang robek.


Tiba-tiba semua jasad yang digantung hidup dan meregenerasi menjadi berbagai makhluk mutan menyeramkan yang semuanya memiliki tentakel. Tangan besar mereka langsung mencakar dan menyambar manusia lain yang terbaring di ranjang. Makhluk-makhluk tersebut meraung penuh kemarahan. Tentakel-tentakel yang bermunculan dari semua jasad monster baru tadi dengan cepat menarik manusia yang masih hidup ke atas. Untuk kemudian dihabisi dengan koyakan brutal.


“AAAAAAAAAA...!”


“HAAAAAAAAKKKHH...!”


Sementara pembantaian tersebut masih berlangsung, dari arah depan Paramitha muncul beberapa makhluk lain dengan tinggi di atas manusia normal. Wujud mereka tidak kalah mengerikan dengan tubuh penuh luka bakar hebat yang merah kehitaman. Rahang atas dan bawah mereka sebagian menghilang, menyisakan bagian dalam leher dan organ dalam tubuh yang terbuka. Di antara mereka ada yang tubuhnya terbelit kain kafan hingga nyaris menyerupai mumi yang membusuk.


Sosok paling menyeramkan tanpa rahang bawah yang berdiri paling depan menyadari kehadiran Paramitha. Matanya yang hanya terdapat di sebelah kiri melotot tajam lalu mengacungkan arit besar yang menyatu dengan tangannya ke arah gadis itu.


BRUAKK!!


GRRRAAAAAOOOORRR!!


Dinding antara ruangan tadi dan jalur lorong dihancurkan hingga menimbulkan kerusakan yang parah. Beruntung, Paramitha sudah berada agak jauh dari jangkauan serangan. Dia terus berlari tanpa menoleh lagi ke belakang. Hanya telinganya saja yang terus siaga agar dapat menjaga jarak.


Paramitha mulai kebingungan. Kemanapun dia berlari, lorong yang dilewati seakan tidak berujung. Malah bercabang mulai dari pertigaan hingga perempatan yang dia sendiri tidak tahu harus memilih arah yang mana. Hanya sesekali berbelok mengikuti arah yang menurutnya benar.


“Ke mana jalan keluarnya? Tempat ini seolah tidak memiliki ujung.”


Setelah beberapa menit mencari jalan, dia menjumpai satu jalur lorong lurus yang tampak panjang. Di ujung depannya ada setitik cahaya dengan siluet sesosok manusia yang berdiri di tengah.


“Akhirnya, itu dia!”

__ADS_1


Paramitha berlari lebih cepat dari sebelumnya. Semangatnya untuk mencapai titik putih tersebut semakin menggebu. Semakin dekat, sosok siluet tadi mulai jelas dilihatnya. Seorang lelaki muda berseragam taktis hijau tua dengan perlengkapan tempur dan helm kevlar bersenjata lengkap. Wajahnya sangat familier di mata si gadis.


Ardana berdiri di depan sana, membentangkan kedua tangannya pada Paramitha.


“Sedikit lagi, Mitha! Aku sudah menung—.“


BRUAKK!!


“Aaaaaaarrrgghh...!”


Dinding lorong sebelah kiri Ardana tiba-tiba jebol disusul kemunculan sosok mengerikan bertubuh tinggi besar yang tadi memburu Paramitha. Pemuda itu jatuh tersungkur tertimpa reruntuhan. Dia tampak bersusah payah bangkit lalu menoleh ke belakang hingga kemudian sesuatu yang tajam menyasar tubuhnya.


“Ardaaaan...!” pekik Paramitha.


Zraatt!


Ardana mendelik kesakitan tanpa sempat berteriak. Lehernya robek dengan darah yang mengucur deras. Tidak lama setelah itu, dia tewas tepat di depan si gadis. Sementara makhluk tinggi besar bertubuh merah hangus kehitaman menyeringai puas.


“ARDANAAAA...!”


Pandangan Paramitha seketika menjadi gelap gulita.


* * * * *


“HAAAAH...! Hhh... hhhh... hhh....”


Paramitha nyaris terlompat kaget dari tempat tidur. Napasnya kembang kepis sedikit berat seperti orang yang baru saja selesai berlari dalam jarak jauh. Antara panik dan kebingungan, gadis ini berupaya mengumpulkan kembali kesadarannya. Beberapa detik kemudian dia mulai bisa mengendalikan dirinya sendiri lagi. Kedua matanya mengitari seluruh bagian ruangan yang ditempatinya. Ini masih kamar di rumah Bu Nina. Tidak ada yang berubah sama sekali.


“Ternyata yang tadi hanya mimpi,” desahnya lega sambil mengusap peluh di dahi.


Dengan sedikit gemetar dia mengambil segelas air minum yang masih penuh di atas meja sebelah tempat tidur. Tegukan kesegarannya membantu pikirannya kembali tenang. Namun ketika sosok Ardana melintas dalam pikirannya, kekhawatirannya muncul.


Sesaat kemudian Paramitha beranjak bangkit sambil merapatkan jaket woll merah marunnya lalu keluar dari kamar. Setelah menyalakan lampu ruang tamu, dia duduk di kursi sambil memejamkan mata. Mimpi mengerikan tadi membuatnya sulit untuk kembali tidur.


Bayangan saat-saat terakhir mimpinya tadi membuatnya ingin sekali menemui Ardana.


* * * * *

__ADS_1


__ADS_2