Petaka Biohazard: Lorong Kematian

Petaka Biohazard: Lorong Kematian
Kembalinya Si Gadis Catranata


__ADS_3

Nina Sunani, wanita paruh baya itu terkejut bukan main. Gadis yang ada di hadapannya mengaku sebagai Paramitha, gadis kecil dari keluarga Catranata yang dahulu pernah dirawatnya beberapa tahun silam. Seolah tidak percaya dia langsung memegang kedua bahu Paramitha sambil menatap lekat pada kedua matanya. Warna merah kehitaman dari sepasang mata yang indah itu akhirnya membuat Nina percaya.


“Mata ini... ternyata ini benar-benar kamu, Mitha!” Kedua mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca sekaligus berbinar.


Paramitha meletakkan telunjuk di depan mulut sambil memejamkan mata sesaat. “Jangan keras-keras, Bu. Iya, ini memang aku. Semua warga di sini tidak ada yang mengenaliku,” katanya.


Nina menoleh ke kiri dan kanan. Beruntung suasana pemukiman sedang tidak ramai. Rumah dari beberapa tetangga terdekat juga dalam keadaan kosong karena ditinggal oleh para penghuninya yang beraktvitas di dalam maupun luar desa. Tanpa mengatakan apa-apa, dia menggandeng tangan Paramitha dan kembali ke dalam rumah.


Wanita paruh baya ini kemudian membuatkan teh manis hangat dan membawakannya bersama aneka makanan kecil yang renyah dari keripik pisang berbumbu asin dan deblo (gorengan bulat yang terbuat dari ubi yang diberi warna kuning dari kunyit). Kedua kudapan ini adalah salah satu yang sering disajikan dan difavoritkan para anggota keluarga Catranata ketika mengunjunginya.


Sambil menikmati suguhan, keduanya duduk di ruang dapur yang juga menjadi ruang makan. Nina sengaja memilih tempat itu agar bisa leluasa membicarakan banyak hal bersama gadis yang pernah diasuhnya tersebut. Wanita paruh baya ini nyaris tidak melepaskan tatapannya dari Paramitha. Gadis itu membuatnya nyaris tidak percaya, kalau bukan karena kedua matanya yang merah kehitaman yang masih bisa dikenali.


Ruang makan tempat mereka berada adalah satu-satunya yang tidak berubah sejak dia masih kecil. Meski sudah menggunakan lantai keramik, namun dinding anyaman bambu masih digunakan. Hanya tampilannya saja yang tampak baru. Kursi dan meja kayu rotan tempat mereka bersantai masih bertahan. Paramitha tahu riwayat benda-benda itu. Sejak dirinya dan Sumita belum lahir, berbagai perkakas rumah berasal dari warisan turun-temurun dan tetap ada di rumah kayu besar itu hingga dia kembali hari ini.


Bagian belakang rumah itulah yang tidak pernah tersentuh perubahan meski sebagian besar lainnya sudah beberapa kali mengalaminya.


“Ibu téh benar-benar tidak mengenali kamu dalam penampilan seperti ini,” kata Nina, “dan lagi Sumita tidak pernah mengirimkan foto kamu pada Ibu.”


Paramitha mengulum senyum manis. “Aku dan Sumita sudah sepakat untuk tidak mengirim foto diriku, Bu. Biar nanti ada kejutan katanya.”


“Naha kudu aya nu kitu sagala atuh? Ibu mah bisa melihat perkembangan kamu di Bandung sudah senang sekali,” ucap Nina sambil mengernyitkan dahi. “Sekarang kamu sudah mirip Sumita, sama-sama geulis. Tubuh kamu juga lebih tinggi sedikit dari dia, saumpamana jadi model foto mah alus pisan!"

__ADS_1


Dipuji oleh ibu asuhnya di masa kecil itu Paramitha tentu merasa senang, meski disimpannya di dalam hati. Setidaknya bukan hanya satu kali saja dirinya dipuji-puji oleh keluarga maupun orang lain. Namun keluarga Sumita berbeda dari yang lain. Hingga hari ini, memang hanya keluarga itu yang sudah berjasa besar padanya di masa-masa sulit terdahulu. Mereka juga yang menerima kehadirannya dengan tangan terbuka, sementara hampir seluruh warga Desa Cikembang menjauhi dan melakukan perbuatan buruk terhadapnya. Kedua orangtua Sumita mengenal dekat keluarga besar Catranata dan menjadi salah satu pihak yang sering dibantu oleh Rakean Wijaya Catranata, kakek Paramitha. Begitu juga dengan kedua orangtuanya.


“Desa ini tampaknya sudah banyak berubah, ya, Bu? Kulihat sudah banyak sekali kemajuan. Singkatnya semua memang bukan seperti Desa Cikembang yang kukenal, meski gapuranya masih seperti itu-itu saja keadaannya.” Paramitha mengalihkan pandangan ke jendela dapur yang sedikit terbuka, menerawang jauh ke arah luar.


“Benar. Semua sudah banyak berubah dan lebih modern. Tapi nilai-nilai tradisional masih tetap lestari di sini. Hanya saja....” Nina menampakkan wajah senang lalu tiba-tiba tampak sedikit merasa kecewa.


Paramitha dibuat penasaran melihat ekspresi Nina. “Ada apa, Bu?” tanyanya merendah.


Nina menarik napas dalam sekali sebelum melanjutkan kalimatnya, lalu menatap Paramitha begitu dalam. Sebuah penuturan yang nyaris saja terlontar begitu saja yang mungkin akan menyakitkan gadis muda tersebut, meski bukan sesuatu yang baru.


“Bu, kenapa?” Paramitha memegangi bahu Nina.


“Keluarga kamu... masih dianggap pembawa keburukan di desa ini. Mereka seringkali menyalahkan Catranata sebagai penyebab orang-orang hilang di Sirnasurya, hutan buatan itu. Katanya kedua orangtuamu ingin menyeret warga desa ke dalam kegelapan alam kematian seperti mereka berdua yang meninggal lebih dulu. Gusti Nu Ageung... mereka masih saja menganut keyakinan yang tidak-tidak. Setiap tidak sengaja mendengar obrolan miring mereka itu di pasar, atau di warung rasanya sangat sesak. Keluarga kamu téh keluarga terhormat, tidak pantas diperlakukan seperti itu. Ibu mah takut... takut kalau anggota keluarga kamu yang masih hidup dan tersisa benar-benar melakukan pembalasan karena tidak terima. Justru itu hanya akan menambah buruk nama keluarga Catranata yang berjasa besar untuk Tatar Sunda dan khususnya desa ini sejak masa silam,” terang Nina dengan nada yang terdengar sedikit sedih.


Nina yang merasa bersalah karena menyinggung masalah tersebut buru-buru mengalihkan topik obrolan.


“Duh, hampura pisan Ibu mah, geulis. Maaf sudah membuat kamu mengingat lagi kejadian itu. Sudah, ya? Biarkan saja mereka sampai kebenaran terungkap,” ucapnya tulus. Kedua tangannya membelai kepala Paramitha, membuat gadis itu mengangkat lagi wajahnya.


“Kamu mau di sini berapa hari? Kalau bisa jangan cepat-cepat kembali ke Bandung, ya?” Nina masih menatap Paramitha.


Paramitha terdiam. Dia tidak langsung mengiyakan permintaan Nina. Mendengar cerita tadi nyaris membuatnya ingin kembali ke Bandung dalam waktu cepat. Namun keinginannya yang terdalam untuk bisa menghapus semua sisa fitnah yang membuat nama keluarga besarnya jatuh tetap ada. Melihat tatapan Nina yang begitu dalam dan tulus, gadis ini luluh. Jika pulang cepat dia tentu tidak punya banyak waktu untuk mengenali situasi desa dan mencari banyak hal yang menurutnya bisa digunakan untuk membantunya. Dia tahu di mana bisa menemukan itu semua.

__ADS_1


Sekali anggukan dari si gadis Catranata memastikan satu kamar kosong yang ada di rumah Sumita untuk bisa digunakan beristirahat. Nina mengantarkan Paramitha menuju kamar yang dimaksud. Posisinya terletak di sayap kanan ujung depan yang berhadapan langsung dengan pekarangan. Jendelanya dibiarkan terbuka agar sirkulasi udara tetap lancar. Tempat tidur dari kayu jati di dalamnya ternyata juga masih baru, termasuk pula kasur kapuk dan seprei berwarna hijau tua di atasnya.


“Selama di sini kamu bisa tidur di kamar ini. Sumita sudah diminta pindah ke sini tapi tidak mau dan lebih memilih bertahan di kamar yang lama,” kata Nina sambil merapikan barang-barang di depan meja rias.


Paramitha meletakkan semua bawaannya di sudut kiri dekat bagian kepala tempat tidur. Pandangannya beralih ke jendela. Dari sana dia bisa melihat rumah tetangga yang lain dengan latar belakang langit biru berhiaskan gumpalan-gumpalan awan putih yang menyebar berjauhan. Pemandangan seperti itu beberapa hari ini sedang agak jarang ditemuinya di Bandung.


“Si bapak ingin Ibu masak sayur asem, ikan asin kering, sambal dan kerupuk kampung pipih anu tilu warna téa. Tapi kita makan duluan siang nanti, ya? Ibu mau masak menu itu tapi terlalu lama kalau harus menunggu bapak, pulangnya sore.” Nina menoleh begitu selesai merapikan meja rias.


Mendengar itu, Paramitha segera menghampiri Nina. “Aku bantu, ya, Bu? Aku sendiri memang belum pernah masak menu tadi karena di Bandung jarang menyentuh bahan-bahannya.”


“Ish, tidak perlu! Ibu masak sendiri saja, kamu kan baru datang dari Bandung,” sanggah Nina.


“Tidak apa-apa, Bu. Mitha ingin masak juga, biar nanti kalau sedang libur tidak kalah cepat dari Sumita di rumah kos,” balas Paramitha sambil memasang senyuman malu.


Nina berpikir sejenak lalu mengangguk-angguk. “Hmmm, benar juga. Kata Sumita kamu hampir tidak pernah memasak sayuran karena kalah darinya. Baiklah, kamu boleh bantu Ibu masak semuanya,” katanya menyanggupi sambil berlalu dari Paramitha.


Paramitha menghela napas lega setelah Nani kembali ke dapur. Tinggal dirinya yang berada di kamar itu. Setelah melepas jaket dan meletakkannya di pengait yang ada di balik pintu, dia kembali menikmati pemandangan tadi di jendela. Tentu ada kebahagiaan di mana dia bisa menikmati suasana damai desa kelahirannya meski harus datang dengan penampilan yang membuatnya tidak dikenali orang. Hanya saja dia tidak akan leluasa berjalan-jalan, kecuali memilih waktu-waktu tertentu khususnya di sore atau malam hari.


Tiba-tiba dia teringat pada seseorang. Pria paruh baya yang juga dianggapnya seperti ayah sendiri yang tinggal di Bandung. Lelaki itu berulang kali menyarankannya untuk tidak pulang dulu ke Desa Cikembang karena keamanan dirinya. Namun Paramitha tetap menolak. Dia pun tidak mau kalah dan meyakinkan orang tua itu bahwa dirinya akan baik-baik saja.


“Kira-kira... Pak Ilham marah atau tidak, ya? Aku tetap pulang meski beliau tidak mengijinkanku,” gumamnya sambil menerawang ke langit biru.

__ADS_1


* * * * *


__ADS_2