
“I—ini seperti yang ada di dalam mimpi yang kuceritakan, Dan. Iya, sangat mirip!”
Paramitha hampir tidak bisa berkata apa-apa selain memberitahu kesamaan tempat tersebut dengan yang dilihatnya dalam mimpi beberapa waktu lalu. Di luar dugaan, mereka justru menemukannya tidak di sepanjang area lorong yang mereka lalui sebelumnya. Keduanya pun tidak mengerti kenapa harus dibangun secara tersembunyi di dekat basement yang akan menuju jalan keluar dari sana.
Ardana tidak menyahut, hanya kedua matanya yang menyalang bebas memerhatikan seisi ruangan besar dan luas di depan mereka. Yang lebih mencengangkan adalah hanya tempat itu saja yang masih memiliki aliran listrik yang dia sendiri tidak tahu berasal dari mana sumber tenaganya. Padahal sudah ditinggalkan cukup lama dengan menyisakan jejak kematian yang tidak dapat dibayangkan oleh pikirannya.
Pandangannya beralih memerhatikan semua lampu yang menyala dengan warna merah keputihan. Sempat mengira nuansa merah yang menerangi ruangan berasal dari benda-benda itu, Ardana segera tersadarkan kalau noda darah yang terlampau banyak hingga menempel di dinding dan lantai menjadi penyebabnya.
Bersama Paramitha, mereka memberanikan diri mendekati salah satu ranjang terdekat dengan jasad seorang lelaki yang sudah hampir tinggal tulang belulang di atasnya. Seluruh bagian tubuhnya menghitam seperti bekas terbakar sampai hangus namun terasa lunak ketika disentuh. Pakaian yang dikenakan korban masih tampak utuh meski terdapat banyak robekan tidak rata. Di bagian mulut yang masih terdapat sisa kulit pipi, mata Ardana menangkap sesuatu yang menarik.
“Apa ini?”
Dia memberanikan diri untuk mengambil langsung benda berwarna hitam itu dengan tangannya sendiri. Residu kelopak bunga hitam dengan bintik merah darah yang sudah berdebu. Saat jarinya tidak sengaja meremasnya, ternyata langsung hancur tidak tersisa. Ardana menoleh ke beberapa jasad lain yang terjangkau oleh penglihatannya. Sebagian dari mereka kondisinya sama seperti jasad pertama. Sangat berbeda dengan jasad makhluk mutan yang masih terikat menggelantung di langit-langit.
Paramitha mendekati satu jasad lain. Gadis Catranata itu sempat tertegun melihat bagian mulut korban yang tersumpal sesuatu mirip tentakel yang putus dan hangus. “Yang ini kondisinya dengan yang kita temukan di salah satu jalur lorong tadi,” katanya.
Ardana mendekati Paramitha lalu melirik jasad yang ada di depan si gadis. Pemandangan itu mengingatkannya pada temuan salah satu jasad tentara yang terbakar hingga ke bagian dalam tubuhnya seperti disetrum oleh makhluk tertentu. Tentakel yang menyumpal mulut jasad tersebut sama seperti dengan yang sampel yang diambilnya.
“Kita tinggalkan saja tempat ini. Aku akan melaporkan temuan ini pada Pak Ilham,” katanya sambil menarik tangan Paramitha, mengajaknya pergi.
__ADS_1
Mereka berbalik kembali menuju pintu ruangan rahasia itu lalu menutupnya rapat seperti semula. Setelah keluar dari jalur sempit berlapis baja yang menghubungkan kedua ruangan Ardana juga menutup pintu lemari besi tanpa menguncinya. Ketika melirik ke arah whiteboard berisi data keberangkatan dan kedatangan semua kendaraan di dinding kanan dekat jendela, kembali terlintas dalam pikiran pemuda ini untuk memeriksa semua truk di area basement beserta muatannya.
Sekadar memastikan ruangan lantai dua tempat mereka berada benar-benar aman, semua jasad tentara di sana ditusuknya berkali-kali di bagian leher dan tengkorak kepala dengan pisau panjang miliknya. Ada dua jasad yang menggelepar singkat pertanda sebenarnya ada makhluk lain di dalamnya. Darah bercampur cairan tubuh yang menghitam pun keluar dari lubang telinga, hidung dan mulut. Setiap kali mencoba mencabut pisaunya, Ardana merasa seperti sedang menguji kelayakan konsumsi daging setengah beku yang mulai mengeras. Dari situ dia bisa menyimpulkan semua bagian dalam tubuh jasad sudah rusak parah oleh sesuatu yang menginfeksi mereka ketika masih hidup.
“Apa harus sampai melakukan itu? Biarpun sudah mati, mereka itu jasad manusia.” Paramitha memicingkan mata. Dari nada suaranya mengesankan dia kurang suka dengan tindakan kekasihnya.
“Daripada dapat jumpscare lagi. Aku kan paling tidak suka dibuat terkejut apalagi di tengah situasi sekarang. Lihat, kan? Ada dua yang kedapatan bisa bangkit lagi lalu berubah menjadi makhluk mengerikan,” balas Ardana dengan santai.
Paramitha tidak menyahut. Gadis itu tampak tidak tertarik meneruskan pembicaraan lalu memilih duduk di salah satu kursi dekat tangga. Pandangannya tertuju langsung pada whiteboard berisi data keberangkatan dan kedatangan truk yang terakhir dibuat pada tanggal yang tertera di tahun 2009.
DAKK!
Suara benturan keras dari arah jalur lorong rahasia di balik lemari besi mengejutkan mereka. Ardana refleks mengarahkan senjata ke sana tanpa berani membukanya lagi. Paramitha bereaksi dengan segera berdiri mendekati Ardana.
Suara benturan susulan yang terdengar kini bertambah banyak. Seperti dipukul oleh sesuatu dalam jumlah besar dan bergerombol.
“Ardana,” panggil Paramitha. Si pemuda melirik sesaat sambil menggenggam tangannya.
“Aku tidak tahu ke mana lagi harus lari, tapi yang jelas kita tidak bisa berada di sini berlama-lama,” ujar Ardana sambil terus menatap tajam ke arah lemari besi di depan mereka.
__ADS_1
Atas inisiatifnya sendiri, Paramitha menggeser beberapa benda berat seperti meja atau lemari lainnya dengan dibantu Ardana. Semuanya dirapatkan ke arah lemari besi yang menjadi pintu masuk menuju ruangan rahasia tadi. Tidak cukup dengan itu, Ardana menambah perangkap menggunakan dua buah granat yang saling terhubung dengan kawat. Ketika pintu lemari tersebut berhasil dijebol, maka akan secara otomatis menarik kawat yang terikat pada kunci granat lalu menciptakan ledakan yang akan menjadi tanda bagi mereka berdua untuk segera mencari tempat bersembunyi atau lari.
Ardana meletakkan dua buah granat perangkapnya dengan hati-hati. “Sebaiknya kita segera periksa semua truk yang ada di luar sana sebelum mereka berhasil keluar.”
Dengan cepat pemuda ini meraih kembali tangan Paramitha lalu mengajaknya turun dengan segera dan keluar dari tempat itu. Begitu menginjakkan kaki lagi di area basement, mereka belari menuju deretan truk yang hanya berjarak empat puluh meter. Semua kendaraan besar dengan sepuluh roda ban di hadapan Ardana dan Paramitha tersebut bukanlah kendaraan militer biasa. Dengan bagian belakangnya yang berupa boks baja yang solid, kendaraan jenis ini difungsikan untuk mengangkut sesuatu yang bersifat penting dan rahasia. Terkadang disamarkan menjadi truk biasa yang tidak mencirikan khas milik militer. Untuk membuka pintu boks di bagian belakang dibutuhkan kata sandi yang menjadi kunci, tidak dengan alat keamanan konvensional.
Hal itu ternyata cukup menyulitkan Ardana dan Paramitha. Dengan terpaksa, si pemuda menghamburkan amunisi shotgun miliknya untuk menghancurkan pengaman yang seharusnya dibuka dengan sistem dijital. Namun semua pengunci di setiap boks seperti sulit untuk dihancurkan.
“Ayolah! Aku sedang terburu-buru,” dengus Ardana sambil mengokang senjatanya lalu bersiap menembak kembali.
* * * * *
Sebuah Ford Ranger menembus kegelapan malam di sebelah selatan Desa Cikembang yang berhadapan langsung dengan pinggiran Hutan Sirnasurya. Pengemudinya, seorang lelaki paruh baya yang tidak lain adalah Ilham Jati Rahwana memasang mata dalam keadaan siaga. Pemandangan yang sama tidak berbeda dari malam-malam sebelumnya, selalu sepi. Dia bahkan tidak melihat ada orang atau kendaraan lain yang berpapasan dengannya.
Terputusnya komunikasi dengan Ardana memaksa purnawirawan Kopassus ini untuk keluar dan menyusul. Apalagi pemuda itu diketahui sudah berhasil menemukan Paramitha dan masih berada di bawah tanah Hutan Sirnasurya. Di tempat yang bahkan tidak pernah diketahui oleh warga desa-desa sekitarnya.
Setumpuk senjata dalam beragam ukuran dan berbagai perlengkapan tempur lainnya memenuhi setiap kursi maupun bak terbuka di bagian belakang yang ditutup dengan kain khusus yang tebal. Lelaki ini sudah membulatkan tekad untuk masuk ke sana dan mengeluarkan kedua muda-mudi tersebut. Bagaimanapun dia memiliki tanggung jawab atas masing-masing dari mereka. Kepada Ardana, dia mengawasi untuk memastikan pemuda itu tidak melakukan tindakan di luar perintah. Dan Paramitha, gadis cantik salah satu keturunan Catranata yang masih hidup pasca tragedi berdarah bertahun-tahun lalu adalah anak asuhnya.
Selain itu, Ilham tidaklah sendirian menyusul. Tepat di belakangnya, ada satu mobil kendaran tempur taktis Komodo berwarna hitam yang ditumpangi keempat serdadu TNI. Mereka mengenakan seragam lapangan kamuflase bernuansa hijau dan cokelat dengan helm kevlar di kepala lengkap dengan perlengkapan pendukung seperti rompi anti peluru di badan. Bagian wajah masing-masing ditutupi buff masker berwarna hitam sehingga hanya bagian mata yang tampak.
__ADS_1
“Bapak akan menyusul kalian. Ardana, Paramitha...,” desis Ilham sambil menatap lurus ke depan.
* * * * *