Petaka Biohazard: Lorong Kematian

Petaka Biohazard: Lorong Kematian
Digantung Dengan Kulitnya


__ADS_3

Dari beragai penjuru desa terdengar kentongan dipukul bekali-kali dengan nada rajapati. Suara yang sama juga terdengar dari arah pos ronda yang berada tidak jauh dari rumah Sumita. Ardana mengernyit heran melihat beberapa orang penduduk berlarian ke arah dia dan Paramitha tadi datang, yang mana itu juga jalan menuju ke balai desa. Mereka didominasi oleh kaum lelaki yang tampaknya sedang menjaga warung atau pekerja serabutan yang sama-sama terkejut.


Nina keluar terburu-buru dari dalam rumah. Wajahnya tampak panik sambil meremas-remas kedua tangannya sendiri.


“Kenapa, ya? Suara kentongannya tanda bahaya begitu?” gumamnya cemas.


Ardana dan Paramitha hanya berdiri sambil saling berpandangan tidak mengerti.


“Biar kutanyakan pada mereka,” kata Ardana. Dia turun ke pekarangan dengan setengah berlari. Salah seorang bapak berkumis yang sedang mengarahkan para warga ditanyainya.


“Pak, ada apa ini?” Ardana mendekatinya dengan penasaran.


“Saya tadi dengar kabar dari balai desa, ada mayat yang ditemukan dekat Hutan Sirnasurya,” jawab si bapak berkumis. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, dia berlari mengikuti massa yang diarahkannya menuju balai desa.


Detak jantung Ardana nyaris terhenti mendengar jawaban bapak berkumis tadi. Perlahan dia berbalik ke belakang, memandangi Paramitha dan Nina yang masih berdiri di beranda. Pikirannya kini dibuat pusing karena menganggap kejadian mayat yang dikatakan si bapak berkumis adalah sebuah kecerobohan. Tampaknya ada orang yang masuk setelah mendengar suara tembak menembak yang dilakukannya bersama Ilham ketika dicegat makhluk hitam hangus di sana.


Tanpa buang waktu lagi, dia kembali ke beranda rumah.


“Ada mayat dekat Hutan Sirnasurya. Padahal....” Ardana nyaris saja keceplosan. Dia langsung diam.


Paramitha mengerutkan dahi melihat ekspresi Ardana yang seperti menyembunyikan sesuatu. “Padahal apa?”


Ardana menggeleng cepat, “Tidak, tidak apa-apa. Sebaiknya aku kembali ke balai desa. Pak Ilham pasti sudah menungguku.”


Pemuda ini mendekati Nina sambil membungkuk. Lalu mencium punggung tangan wanita paruh baya tersebut dengan penuh hormat.


“Saya pamit dulu, Bu. Terima kasih sudah menerima kedatangan saya,” ucapnya.


Nina tersenyum dan mengangguk pelan. “Kalau ada waktu kamu boleh main ke sini lagi. Di sini, Paramitha jarang sekali pergi keluar,” katanya.


Ardana mengulum senyum sambil mengangguk cepat. Baru saja dia melangkah turun dari beranda menuju pekarangan, Paramitha juga bergerak cepat kembali ke kamarnya. Tidak lama kemudian gadis ini muncul kembali dengan mengenakan jaket bomber berwarna merah marun dan menyusul Ardana.


“Bu, aku ikut dia dulu, ya? Hei, kamu! Aku ikut!” Paramitha berpamitan pada Nina lalu mengikuti Ardana yang berhenti sesaat sambil berbalik.


“Hati-hati, Neng! Ulah jauh ti si A’a eta!” seru Nina.

__ADS_1


Paramitha membalas dengan lambaian bersamaan dengan keluarnya dia dan Ardana dari area pekarangan. Keduanya berjalan ke arah kanan mengikuti kelompok massa tadi. Tanpa menoleh sedikitpun pada gadis yang kini bersamanya, Ardana terus menyusuri jalan yang akan mengarah langsung menuju balai desa. Dari kejauhan tempat itu sudah ramai oleh kerumunan orang. Pemuda ini baru tahu jalan yang disusurinya adalah jalan cepat karena seingatnya ada beberapa jalan bercabang termasuk yang tadi sudah dilaluinya ketika mengikuti Paramitha pergi ke rumah Sumita. Dia bahkan lupa jalannya yang mana.


Paramitha pun melakukan hal yang sama. Seolah keduanya sengaja saling membuang muka. Dari kejauhan, balai desa sudah ramai oleh kerumunan warga setempat yang penasaran. Sebagian sudah ada yang tahu dan saling berbisik dengan yang lainnya. Ardana bisa melihat Ilham didampingi kepala desa yang berdiri di posisi lebih tinggi di atas podium.


“Kalau Pak Ilham tahu aku datang bersamamu, beliau pasti kaget,” katanya.


“Tidak apa-apa, nanti biar aku yang jelaskan sendiri,” balas Paramitha mencoba meyakinkan.


“Tapi... warga berkumpul hampir menutupi bagian depan balai desa.” Ardana menjulurkan leher sambil mencari cara agar bisa langsung menghampiri Ilham dan Odang yang sedang menjelaskan.


Tanpa persetujuan Paramitha, tangan gadis itu kemudian digandengnya. Paramitha terkejut namun tidak sempat mengelak ketika dia dibawa menerobos kerumunan yang nyaris rapat. Ardana berusaha melewati satu demi satu warga yang berdesakan. Beberapa orang yang merasa diterobos semula mengernyitkan dahi karena heran dan ada juga yang menyeletuk ulahnya. Namun mereka tertahan melihat penampilan Paramitha yang dianggap menarik perhatian. Gadis ini hanya tersenyum sebagai permintaan maaf atas tindakan Ardana. Spontan orang-orang itu terdiam.


Bersamaan dengan berhasilnya kedua muda-mudi ini menginjakkan kaki di bagian kanan beranda balai desa, Ilham yang tidak sengaja menoleh ke arah yang sama terkejut bukan main. Bukan karena kehadiran Ardana di sana, tapi karena gadis yang digandeng adalah Paramitha. Ilham dibuat tidak bisa berkata apa-apa, seakan tidak mendengar beberapa warga yang meminta penjelasan.


Ardana dan Paramitha menatap Ilham bersamaan. Satu lagi yang membuat mantan perwira Kopassus berambut pendek itu terkejut adalah... tangan keduanya yang saling bergandengan. Ilham memberi kode mengedutkan alis beberapa kali sambil menurunkan mata ke tangan mereka.


“Nanaonan silaing, euy?” tanyanya.


“Eh?” Ardana buru-buru melepaskan genggamannya dari tangan Paramitha.


Ilham mengangguk. “Benar, ada mayat. Dan warga yang berkumpul di sini meminta penjelasan. Tapi, kamu ke mana saja, heh?”


Ardana melirik Paramitha, meminta persetujuan. Paramitha mengangguk sekali tanpa ragu.


“Saya tidak sengaja bertemu dia, Pak. Lalu mampir sebentar di rumah sahabatnya yang ada di desa ini,” jawabnya.


Ilham menarik Ardana dari Paramitha lalu menggaet bahu si pemuda dengan erat. Membisikkan sesuatu dengan ekspresi sedikit tegang.


“Kamu... kamu sudah gila, ya? Kalau warga tahu dia Paramitha, kamu mau tanggung jawab keselamatannya?” Matanya melotot sedikit tanpa berkedip.


Ardana berkelit, “Apa boleh buat, Pak? Orangnya sendiri yang minta ikut. Dilarang pun dia tetap akan membuntuti dari belakang.”


Ilham mengalihkan pandangan sesaat ke arah kerumunan warga desa yang sedang dihadapi Odang.


“Kamu pasti bilang pada anak itu kalau saya juga ada di sini, ya?” tanyanya.

__ADS_1


Terpaksa, Ardana mengangguk kaku tanpa berani menatap Ilham.


* * * * *


Mayat lelaki itu tampak mengerikan untuk dilihat ramai-ramai. Beruntung karena anak-anak sudah dilarang untuk ikut agar tidak menimbulkan kepanikan baru. Hampir seluruh bagian tubuhnya yang menjuntai hancur seperti remuk. Dengan tubuh setengah badan dari kepala ke pinggang yang dibiarkan menggantung di dahan pohon, orang dewasa saja masih bisa ketakutan melihatnya. Yang membuat mereka berpikir macam-macam tentang takhayul yang dihubungkan dengan kematian si mayat adalah apa yang membuatnya berada di ketinggian sepuluh meter dari permukaan tanah. Digantung dengan kulitnya sendiri yang berasal dari paha ke kaki. Bagian bawah tubuh mayat lenyap tanpa jejak. Wajah mayat yang menampakkan ekspresi rasa sakit luar biasa dan mata membelalak dengan rahang hancur berat menunjukkan kalau dia mengalami kekerasan brutal.


Sebagian besar darah dari mayat itu sudah terciprat ke berbagai arah. Polisi yang datang melakukan penyidikan menemukan adanya bekas perkelahian di TKP. Mereka menanyai lima orang petani yang menemukan jasad lelaki malang tersebut dan menyimpulkan kalau korban tewas pada malam sebelumnya.


Di barisan paling depan kerumunan ada Ilham dan Odang. Tidak seperti Odang yang beberapa kali menggeleng kepala keheranan, Ilham hanya diam dan menatap tajam pada mayat yang masih menggantung di dahan pohon depan mereka. Dia meyakini itu adalah perbuatan makhluk hitam hangus yang mencegatnya dan Ardana di malam yang sama. Dengan mata kepalanya sendiri, Ilham sudah melihat bagaimana monster itu menyerang mereka berdua. Kuku tajam yang besar meenyerupai pedang dan juluran lidah berujung runcing bergerigi yang mematikan dari makhluk tersebut masih diingat dengan jelas.


“Baru kali ini sampai ada kejadian orang terbunuh di sini,” gumam Odang.


Ilham mendengarnya. “Ada yang tidak beres dengan hutan ini menurut saya, Pak. Tapi bukan sesuatu yang mistis penyebabnya,” terangnya memberitahu.


“Selama ini warga desa kerap mengaitkan semua kejanggalan hutan ini dengan dendam arwah Linggasatria Catranata dan istrinya beserta beberapa anggota keluarga Catranata yang terbunuh pada saat itu. Saya juga tidak percaya, tapi sulit untuk menyadarkan mereka,” balas Odang.


Ilham yang baru merasakan jejak ketakutan warga desa terhadap keluarga Catranata setelah semalam mendatangai makam Linggasatria dan Erni memilih tidak menanggapi. Sesajen yang diletakkan di makam kedua sahabatnya sudah menunjukkannya. Melihat sikap mereka, pria paruh baya ini hanya bisa menahan kesabarannya lebih dalam lagi.


Enam orang warga yang naik ke pohon besar tempat mayat itu menggantung perlahan mulai bekerja. Sementara jenazah korban berusaha diturunkan, Ilham mengalihkan pandangannya jauh ke arah dalam Hutan Sirnasurya.


Beberapa meter dari kerumunan warga, tepatnya di sebuah pos ronda pinggir desa, Ardana dan Paramitha menyaksikan proses penurunan jenazah tanpa terlintas sedikitpun niat untuk mendekat. Melihat dari jauh saja sudah membuat mual apalagi dari dekat. Dilihatnya juga warga desa yang berada di barisan paling depan muntah-muntah karena tidak sanggup menahan bau aneh dari mayat itu.


Ardana menoleh pada Paramitha yang duduk di sebelahnya. Wajah gadis itu mendadak muram seperti sedang memikirkan beban yang berat. Sejak pertama melihat mayat di kejauhan sana, perubahan terjadi padanya.


“Kamu kenapa? Maaf, tapi seharusnya kamu tidak ikut. Atau... kamu takut kena marah Pak Ilham?” Ardana berpindah ke depan Paramitha lalu menatap wajahnya.


Paramitha mengerjap sedikit lalu mencoba tersenyum. “Ah, tidak ada apa-apa! Hanya saja badanku agak sedikit kurang baik tadi,” katanya berbohong.


“Begini saja,” tawar Ardana kemudian, “kamu akan kuantar pulang ke rumah sahabatmu tadi, ya?”


Tawarannya tidak langsung diterima oleh Paramitha. Tentu saja, mereka baru bertemu lagi meski pernah satu kali sebelumnya d Bandung. Ardana mengira gadis itu belum bisa memercayainya. Apa boleh buat, dia pun tidak mendesak agar Paramitha mau menerima. Salah-salah yang ada wajahnya akan kena pukulan seperti yang sempat disinggung.


“Baiklah. Kamu boleh mengantarku pulang.” Kalimat yang kemudian terdengar oleh Ardana langsung dari bibir Paramitha meruntuhkan perkiraannya.


* * * * *

__ADS_1


__ADS_2