
Kejadian tadi pagi seolah tidak diingat lagi oleh Ardana. Toh, temuan mayat tadi sudah diurus oleh pihak yang berwenang. Tidak ada kerumunan warga desa seperti sebelumnya karena Ilham memberitahu Odang agar hanya Babinsa, Bhabinkamtibmas dan perangkat desa lainnya saja yang datang. Mereka semua menggotong mayat bersama-sama hingga ke pinggir hutan. Selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit Kota Ciamis dengan kendaraan operasional milik puskesmas yang kebetulan sedang tidak digunakan.
Malam pun tiba, sudah waktunya untuk melakukan hal lain yang lebih ringan. Dia sudah berjanji untuk menemani Paramitha berjalan-jalan ke luar desa sekadar mencari makan malam.
“Kujemput saja kamu di rumah Bu Nina, ya? Aku segera ke sana!” katanya melalui telepon. Sedetik kemudian wajahnya tampak senang, pertanda si gadis setuju.
Berjalan-jalan keluar pada malam hari sebenarnya memang bukan kebiasaan Paramitha. Sepulang dari bekerja pada pukul sepuluh malam, dia tidak pernah mampir ke coffee shop atau tempat berkumpul anak muda pada umumnya di Bandung. Meskipun di bawah jam sepuluh malam ketika libur, gadis ini tetap berada di dalam kamarnya untuk melakukan hobinya dalam edit fotografi. Duduk manis di depan laptop yang menyala bertemankan teh hangat tanpa gula.
Di antara sekian banyak penghuni rumah kos yang dimiliki Heni Sugama, Paramitha adalah yang paling disiplin. Para penghuni lain bahkan menjadikannya sebagai contoh dan berusaha menirunya. Sebagian dari mereka yang suka keluyuran di malam hari dan sering kena semprot Heni bahkan mulai insyaf.
Hanya saja ada yang berbeda kali ini. Paramitha ingin sekali melihat keadaan desa di malam hari sekaligus mencari tempat makan yang menurutnya bagus. Selama berada di rumah keluarga sahabatnya, dia belum pernah keluar pada malam hari. Baru setelah Ardana menyatakan sanggup melakukan penjagaan padanya, gadis ini merasa ada ruang bergerak yang lebih luas.
Sesampainya Ardana di rumah keluarga Nina, pemuda ini terkejut dengan jantung berdegup kencang. Di kursi tamu beranda, Paramitha sudah menunggunya. Gadis itu tampak cantik meski tanpa make up dan pesona yang dipancarkannya luar biasa. Padahal Paramitha memilih untuk tampil biasa saja dan menyesuaikan diri dengan gaya berpakaian penduduk setempat. Tubuhnya kali ini dibalut dengan jaket woll merah marun, warna kesukaannya. Rambutnya diberi pemanis di atas poninya yang menyamping ke kiri. Sebuah penjepit rambut berbentuk bunga mawar pipih.
“Jadi... mau kutemani pergi ke mana sekarang?” tanya Ardana pelan. Sambil membayangkan dia menggenggam tangan gadis itu lalu menuntunnya turun dari tangga beranda.
Sedangkan dalam kenyataannya, Paramitha turun sendiri sambil memberikan senyum simpul. Meski begitu, Ardana nyaris terhipnotis. Ini adalah pertama kalinya dia melihat gadis itu tersenyum begitu manis.
“Kalau kamu tidak keberatan, temani aku ke puskesmas desa. Di dekat sana ada rumah makan bakso yang terkenal enak sampai ke desa-desa tetangga,” jawab Paramitha kemudian.
“Siap, aku bisa,” ucap Ardana menyanggupi. “Bu Nina ke mana? Rumah ini tampak sepi.”
Paramitha hanya mengulum senyum geli mendengarnya. Gadis itu menoleh ke arah jendela depan.
“Kamu tidak merasa sedang diawasi, ya?”
Ardana terperanjat lalu menoleh ke arah yang sama. Dia baru menyadari Hadi dan Nina mengawasi mereka dari jendela. Siluet sepasang suami-istri itu terlihat samar dalam penerangan lampu utama di ruang depan. Berselang dua detik kemudian Nina muncul dari pintu sambil melambai ke arah Paramitha.
“Ulah peuting pisan balikna, Neng!” pesannya.
Paramitha balas melambai sambil mengangguk. Ardan ikut melambai. Keduanya lalu berjalan meninggalkan area pekarangan rumah Nina dan berbelok ke arah kanan menuju lokasi balai desa dan puskesmas yang berdekatan.
Suasana Desa Cikembang di bawah jam sepuluh malam masih cukup ramai. Warga yang lelah sepulang bekerja, berdagang atau bertani biasanya berkumpul di beranda rumah tetangga atau pergi bersama-sama keluar rumah. Sekadar makan di kedai-kedai atau nongkrong minum kopi di warkop-warkop. Sikap mereka terhadap sesama warga maupun orang luar umumnya ramah. Melihat Ardana dan Paramitha yang berjalan beriringan, meski tidak mengenal, beberapa dari mereka menyapa dan menanyakan keduanya akan pergi ke mana. Sikap demikian menunjukkan betapa terjaganya keamanan dan kenyamanan di sana.
Ardana membalas sapaan dengan sedikit berbasa-basi sambil pamit untuk melanjutkan perjalanan. Begitu juga dengan yang dilakukan Paramitha. Justru respon ramah lebih kuat tertuju padanya ketimbang pemuda yang ada di sebelahnya itu. Pembawaan anggun dan keramahannya membuat warga merasa sangat senang melihatnya.
Kedai bakso yang berada di seberang puskesmas menjadi tempat tujuan mereka. Kedai ini lebih dikenal dengan Saung Bakso Kang Acil. Berkonsep padan bangunan tertutup dan semi terbuka bernuansa serba hijau, di sana terdapat saung-saung dari bambu dengan kapasitas empat orang. Sebisa mungkin pengelolanya menghadirkan konsep seni dan budaya Sunda yang kuat di dalamnya, termasuk papan nama kedai yang ditulis dengan aksara Sunda. Soal rasa, kedai ini memertahankan bahan-bahan alami dalam racikannya sehingga disukai para pelanggan. Sebagai hiburan, lagu-lagu daerah kontemporer mengalun untuk mengiringi suasana makan yang nyaman.
Karena bagian dalam kedai sudah ramai oleh pengunjung lain yang sudah datang lebih dulu, Ardana memilih saung yang berada di depan bangunan kedai. Ternyata pilihannya sesuai dengan selera Paramitha yang ingin menikmati ruang terbuka. Duduk di saung seperti itu pun membuat Ardana merasakan suasana khas pedesaan yang masih asri. Paramitha yang duduk di hadapannya mengedarkan pandangan ke sekitar mereka. Gadis ini tampak menikmati suasana yang dirancang pengelola kedai.
__ADS_1
“Mau kusamakan pesanannya? Aku mau bakso isi keju dan teh kayu manis saja.” Ardana melirik Paramitha yang sedang serius melihat daftar menu.
“Hmmm... boleh. Ya, sudah,” balas Paramitha sambil mencatat pesanan di buku nota yang tersedia. Tidak berapa lama kemudian, seorang pelayanan menyapa ramah sambil mengambil kertas berisi pesanan mereka berdua.
“Sumita... temanku yang juga anaknya Bu Nina sering membicarakan tempat makan ini,” kata Paramitha tanpa menoleh, “malah sering meledekku yang memang belum pernah datang ke sini.”
“Tempat makan seperti ini banyak juga di Bandung, kan? Apalagi di Lembang, kamu bisa datangi yang mana kamu suka,” balas Ardana.
Paramitha menoleh lalu menggeleng. “Suasana aslinya berbeda. Mungkin karena di sini adalah kampung halamanku, rasa yang ditawarkan sangat berbeda dari di Bandung,” ujarnya.
Ardana terdiam.
“Jadi benar cerita Pak Ilham soal kamu tidak pernah kembali ke sini?” tanyanya kemudian.
“Tidak pernah. Baru kali ini, setelah bertahun-tahun lamanya. Senang, hanya itu yang kurasakan ketika hari pertama tiba di sini,” jawab Paramitha.
Tanpa mereka sadari, seorang lelaki paruh baya mengamati mereka dari saung yang ada di bagian dalam bangunan. Orang itu tidak lain adalah Ilham Jati Rahwana. Meski bukan dalam rangka mengawasi dan hanya sekadar makan malam, dia tidak menduga anak angkatnya itu bersama Ardana berada di tempat yang sama. Sambil mengunyah bakso dengan lembut, kedua mata lelaki ini tanpa berkedip menyaksikan kebersamaan kedua muda-mudi tersebut.
Pemantauannya sempat terhalangi oleh kehadiran pelayan yang mengantarkan pesanan ke saung yang diisi oleh Ardana dan Paramitha. Kini dilihatnya mereka berdua mulai menikmati bakso sambil sesekali mengaduk-aduk bumbu di dalamnya. Kesempatan itu digunakannya untuk mengabadikan pemandangan tersebut lewat jepretan kamera khusus berbentuk pena rahasia miliknya.
“Sudah cukup akrab, baguslah,” gumamnya.
Tampaknya salah satu dari mereka mulai menyadari sedang diawasi. Yang paling peka dengan itu adalah Ardana. Ilham segera menyembunyikan diri ke tengah saung lalu bersikap seperti penduduk lokal yang juga sedang makan malam.
“Kamu lihat apa?” tanyanya.
Ardana melirik Paramitha. “Ehm... tidak, hanya salah lihat saja,” jawabnya.
“Ukh!”
Paramitha tiba-tiba tersedak oleh rasa pedas di kuah bakso yang sedang disantapnya. Ardana refleks mengambilkan gelas teh kayu manis di sebelah mereka lalu meminumkannya pada gadis itu.
“Hati-hati, Mitha. Kamu tadi terlalu banyak menuangkan sambal ke dalam kuahnya.” Jari tangannya bergerak ke bibir Paramitha, mengusapnya untuk membersihkan sisa kuah pedas yang menempel.
Meski terkejut oleh perlakuan Ardana, namun Paramitha tidak menolak apalagi menepis tangan si pemuda. Beruntung orang-orang tidak begitu memedulikan pemandangan yang biasanya hanya dilakukan oleh pasangan yang dimabuk asmara itu. Terlebih ekspresi Ardana tampak datar cenderung polos. Namun sebenarnya tidak demikian. Jantung Ardana kembali berdegup kencang. Dia sendiri melakukannya refleks tanpa ada rencana.
“Kalau mau pesan yang baru dan tidak terlalu pedas, tidak apa-apa. Aku yang bayar,” kata Ardana.
“Jangan, biarkan saja. Biarpun pedasnya sangat terasa, tapi aku memang suka,” tolak Paramitha.
__ADS_1
Ardana yang penasaran dengan rasa pedas di mangkuk bakso yang sedang disantap Paramitha pun mengambil sedikit kuahnya. Begitu dicicipi di lidah, kedua mata pemuda ini membelalak. Rasa pedasnya ternyata sangat membakar sampai hampir masuk ke tenggorokan. Nyaris membuatnya batuk-batuk kalau tidak keburu dilumpuhkan dengan teh kayu manis yang masih hangat.
“Ya ampun... ini sangat pedas,” komentarnya terkejut.
“Sudah kubilang, kan? Kamu malah ikut mencobanya.” Kening Paramitha mengerut melihat Ardana merasa kepedasan.
Ardana menyeruput kembali teh kayu manisnya. “Sejak kapan kamu suka makanan pedas begini? Jangan bilan hampir setiap hari kamu menikmatinya.”
Paramitha berpikir sejenak.
“Hmmm, sejak aku masuk SMA. Di salah satu kedai kantin ada yang menjual seblak pedas dan rasanya enak. Sejak saat itu, entah kenapa aku jadi suka makanan pedas,” jelasnya.
“Sampai menular ke berbagai jenis makanan lainnya seperti bakso?”
“Iya, semuanya.”
“Apa tidak sakit perut? Tapi kalau terlalu sering kan berbahaya untuk pencernaan.”
“Selama aku tidak makan pedas tiga kali sehari, aku tidak akan kenapa-napa.”
Paramitha terkesan cuek dengan kesukaannya yang menurut Ardana kurang bagus. Pemuda ini mengangguk-angguk dengan ekspresi sedikit ngeri, terutama setiap kali melirik warna kuah bakso milik gadis itu yang berubah warna menjadi merah karena tambahan saus cabai cap Kuda Berguling dan sambal rawit. Dua tambahan untuk makanan yang tersohor sebagai kombinasi pedas nan mematikan.
Kalau diminta lagi untuk makan seperti yang Paramitha sukai, Ardana lebih memilih angkat bendera putih. Dirinya pernah masuk rumah sakit karena masalah pencernaan setelah menerima tantangan makan dua mangkuk bakso ekstra pedas di masa SMA dulu. Sejak saat itu dia jera menikmati makanan pedas di luar batas kesanggupannya.
Menit demi menit berlalu. Ardana dan Paramitha menyudahi makan malam mereka. Sebelum beranjak membayar, Ardana segera menghabiskan teh kayu manis bagiannya. Setelah itu dia bergegas membayar semua yang dipesan oleh mereka berdua.
“Kenapa kamu bayar semua? Nanti akan kugantikan, ya?” Paramitha yang tahu dirinya ditraktir menolak lalu mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya.
Ardana menggeleng pelan. “Sudah, tidak apa-apa. Kalau mau mengembalikan, nanti saja di lain waktu,” balasnya.
Selembar uang lima puluh ribu rupiah diserahkannya pada kasir yang ada di bagian dalam bangunan kedai. Ketika akan diberikan uang kembalian, Ardana menolak. Setelah itu dia mengajak Paramitha untuk meninggalkan kedai.
“Mau pulang sekarang?” tawarnya kemudian.
Paramitha menggeleng cepat, lalu melirik jam dinding yang ada di dinding belakang meja kasir.
“Dan, boleh aku minta sesuatu?”
Ardana mengernyit penasaran.
__ADS_1
“Apa itu?”
* * * * *