
Ardana tidak percaya dia benar-benar melakukan apa yang diinginkan Paramitha. Melihat bintang-bintang di langit malam yang sedang cerah. Namun bukan di situ letak masalahnya. Lokasi yang dipilih oleh gadis Catranata tersebut membuatnya berpikir belasan kali sebelum mengiyakan. Ditambah lagi dengan desakannya, membuat Ardana menyerah sekaligus harus mempersiapkan diri untuk menjaga keamanan lebih sigap lagi.
Paramitha ingin ditemani melihat bintang di tepi jalan raya yang memisahkan Desa Cikembang dengan Hutan Sirnasurya, tepatnya di dekat gapura selatan. Itu adalah jalan yang mereka gunakan ketika ikut menyaksikan penemuan mayat tergantung di pohon . Jika Ilham tahu, dirinya pasti sudah dicecar habis-habisan.
Sebelumnya terjadi negosiasi alot. Paramitha tetap nekad akan berjalan ke sana meski tanpa dirinya. Ardana kembali menyerah daripada kemarahan Paramitha menjadi lebih besar, lalu menumpukan harapan pada sepucuk pistol Glock 41 yang tersembunyi di belakang jaketnya. Senjata itu akan sangat berguna jika nanti permintaan Paramitha malah merepotkannya hingga mendatangkan masalah besar.
Di sepanjang jalan menuju ke gapura selatan masih banyak orang lalu lalang dengan berbagai keperluan. Namun tidak ada yang datang dari tempat yang akan mereka tuju. Berdasarkan informasi yang Ardana dengar, gapura selatan adalah daerah yang paling sepi dan dijauhi warga ketika malam tiba. Tentunya mereka menghindari Hutan Sirnasurya yang jaraknya hanya beberapa langkah. Satu-satunya pemisah adalah jalan raya penghubung antardesa yang tidak diberi pembatas.
“Kamu yakin tetap mau ke sana?” tanya Ardana memastikan.
“Yakin. Kamu tidak perlu cemas, aku akan merahasiakan ini dari Pak Ilham,” jawab Paramitha dengan penuh keyakinan.
Ardana berharap Paramitha menepati perkataannya. Karena kalau sampai ketahuan, dia akan dianggap membahayakan keselamatan gadis itu. Sejauh matanya menyapu situasi sekitar memang tidak ada orang yang melihat mereka akan menuju ke gapura selatan. Posisi mereka kini melintasi tempat terbuka yang didominasi oleh perkebunan milik warga. Di kejauhan pada kiri dan kanan tampak beberapa rumah yang jaraknya cukup berdekatan. Para penghuninya dipastikan sudah mengurung diri di dalam.
Jika boleh jujur, Ardana lebih memilih agar mereka berdua mengunjungi sisa rumah besar keluarga Catranata dan makam kedua orangtua gadis itu. Namun dia takut akan mengguncang kejiwaannya, karena Nina secara rahasia mengatakan padanya bahwa Paramitha belum tahu kedua orangtuanya dimakamkan di dekat sisa rumah itu.
“Biasanya, kalau di Bandung saat malam hari kamu melakukan apa saja?” Ardana memulai obrolan kembali untuk megusir sepi.
“Hm? Sebenarnya aku tidak pernah keluar di malam hari. Pulang bekerja atau libur pun tetap di kamar kos, melakukan kegiatan edit fotografi atau mengobrol bersama sesama penghuni lainnya. Yang istimewa, setiap malam Minggu kita semua makan bersama Bu Heny di rumah kos. Suasananya penuh keakraban dan sangat hangat. Kami sudah seperti satu keluarga besar kalau sudah seperti itu. Yah... meskipun Ibu Heny kalau menagih uang kos bulanan seperti debt collector yang galak. Terkadang beliau menggunakan centong sayur untuk memukul penghuni yang nakal atau ketahuan keluyuran tanpa alasan jelas di waktu malam,” jelas Paramitha sambil tersenyum geli.
Ardana tidak bisa menahan tawa dan langsung meledak memecah keheningan. Paramitha yang melihat tingkah pemuda di sebelahnya itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
“Jadi Bu Heny suka memukul anak kos dengan centong sayur? Untung saja pemilik kontrakan tempatku tinggal di Jagakarsa tidak segalak itu,” komentarnya.
“Jagakarsa? Di mana itu?” tanya Paramitha.
“Itu nama kecamatan di Jakarta Selatan,” jawab Ardana, “meski tempatnya padat tapi para tetanggaku ramah. Sama seperti rumah kosmu, bedanya hampir tiap malam kami berkumpul dengan yang lelaki dari berbagai usia sambil minum kopi atau bermain kartu tanpa judi.”
“Tanpa judi... maksudnya?”
__ADS_1
“Iya, kami main kartu remi tanpa menggunakan taruhan, judi atau sejenisnya. Sebagai gantinya, masing-masing dari kami harus merelakan kepala kami untuk dipukuli dengan botol air mineral kosong. Bayangkan saja kalau yang bermain ada belasan orang, kasihan sekali yang kepalanya plontos. Untung saja tidak memakai sapu lidi.”
Kali ini giliran Paramitha yang tidak bisa menahan tawa. Meski tidak keras, namun gigi serinya yang rapi dan putih itu terlihat sedikit. Ardana sempat tertegun lalu tersenyum. Saat senyum maupun tertawa, keanggunan Paramitha masih tetap bertahan.
Tanpa terasa, keduanya sudah sampai di dekat gapura selatan Desa Cikembang. Suasana sepi langsung menyambut kedatangan mereka. Hanya ada lampu LED di balik atap yang menjadi penerangan utama. Pancaran cahayanya bahkan lebih kuat dari nyala lampu di sepanjang jalan yang dilewati oleh Ardana dan Paramitha.
“Kita sudah di sini,” kata Ardana, “sekarang kamu bisa lakukan yang kamu mau, asalkan tidak masuk ke sana.”
Tidak jauh dari mereka ada tanda batas antar desa berbentuk dinding beton bercat putih. Tebalnya hanya satu meter dengan tinggi sebatas paha orang dewasa. Posisi di sana cukup terbuka untuk seseorang mendongak ke langit untuk sepuasnya menikmati pemandangan langit malam. Ardana melihatnya lalu membalikkan badan pada Paramitha. Dengan segenap keberanian, dia mengulurkan tangan.
“Mau duduk di sana? Genggam tanganku, ayo!”
Paramitha membuang muka sambil mengulum senyum. Perlakuan Ardana yang berbeda dari sebelumnya membuat jantungnya berdegup kencang.
“Kok malah senyum sendiri? Ayolah!” Ardana mengulurkan tangannya lebih dekat lagi.
Empat detik kemudian Paramitha menerima genggaman tangan Ardana, membiarkan dirinya dituntun ke dinding beton pembatas desa. Lalu keduanya duduk di atas dinding beton tadi.
“Dulu... ibuku pernah bilang tentang bintang. Mereka tidak bisa bicara, namun bisa merasakan sukacita seperti halnya manusia,” ujar Paramitha.
“Begitu, ya? Menurutmu kenapa mereka gemerlapan lebih terang dari biasanya,” tanya Ardana.
“Langit malam sedang cerah setelah kemarin sempat hujan. Malam ini adalah kesempatan mereka untuk kembali bermain dengan penuh sukacita. Mungkin... kalau ayah dan ibuku masih ada, mereka pasti ada bersamaku untuk menemaniku melihat mereka, bintang-bintang itu,” jawab Paramitha. Ada getaran kesedihan dari nada suaranya yang langsung tertangkap oleh Ardana.
Ardana terdiam. Dia tahu apa yang terjadi pada ayah dan ibu Paramitha melalui Ilham. Bahkan nyaris cerita lengkapnya meski dia tidak diberitahu bagaimana kronologinya. Namun demi menjaga perasaan gadis itu, dia memilih menjadi orang yang seolah tidak tahu apa-apa.
“Maaf, aku tidak tahu kalau kedua orangtuamu sudah tiada,” ucapnya dengan nada menyesal.
Paramitha tersenyum sambil memejamkan mata sesaat. “Tidak apa-apa. Aku hanya rindu pada mereka. Hanya dengan kembali ke sini, setidaknya aku sudah merasa sedikit bahagia.”
__ADS_1
Mereka kembali terdiam. Ardana menguatkan genggamannya hingga membuat Paramitha tersadar. Gadis itu sempat terhenyak namun ikut larut dalam hening. Tidak ada sepatah katapun yang terucap dari lisan keduanya. Si pemuda mencoba memahami perasaannya melalui tatapan yang saling bertemu.
“Kalau kamu sendiri, bagaimana dengan keluargamu?” tanya Paramitha sambil mengalihkan wajahnya ke depan. Dia tahu Ardana mencoba menyelami kesedihan dari matanya dan menghindar.
Ardana yang juga mengalihkan pandangan ke arah yang sama tidak langsung menjawab. Pemuda ini terdengar mendesah berat dan kecil, lalu tertawa lirih. Paramitha kembali menatap Ardana. Meski lelaki itu tampak biasa saja namun dia juga bisa merasakan pertanyaannya bukan sesuatu yang ingin dijawab.
Bukan tanpa alasan Ardana berat untuk menjawabnya. Hidup berpisah dari kedua orangtua yang hubungannya sedang tidak harmonis membuatnya tidak ingin tampak seperti anak broken home. Sebisa mungkin dia bertahan menghadapi semuanya, tanpa mengeluh. Berlindung di balik senyuman dan keramahan yang ditunjukkan pada setiap orang yang ditemuinya. Namun, dia tahu gadis di sebelahnya itu mau tahu jawaban apa yang akan dia berikan.
“Hmmm, bagaimana aku memulainya, ya? Saat ini, aku hanya bisa bersyukur kedua orangtuaku masih ada. Meski ada banyak hal yang merubah hidup kami dan aku tidak tinggal bersama ayah ataupun ibu. Biarpun mereka tidak mendukung pilihan hidupku, aku memilih melanjutkannya sendiri dengan sepenuh hati. Kelak, suatu hari nanti aku bisa membanggakan mereka,” jelasnya sambil menerawang ke langit gelap.
Paramitha tersenyum mendengar perkataan Ardana. “Semoga mereka bisa mengerti keadaan dan pilihanmu, meski aku tidak tahu pasti apa yang kamu jalani. Tapi, aku bangga ada orang sepertimu mau menemaniku seperti sekarang,” akunya.
“Terima kasih,” balas Ardana, “aku hanya senang bisa berbagi cerita denganmu di suasana yang tepat seperti saat ini.”
Ardana beringsut sedikit ke belakang untuk mendapatkan posisi duduk yang lebih nyaman. Meski tidak ada tempat bersandar, dinding beton setebal satu meter dengan tinggi sebatas paha orang dewasa yang mereka duduki termasuk tempat yang nyaman sekadar untuk duduk menikmati pemandangan malam yang indah. Bintang-bintang di langit tetap gemerlapan indah, seolah bersukacita atas kebersamaan mereka. Kedua muda-mudi ini kemudian saling beradu pandang.
Lagi, keduanya merasakan hal yang sama. Detak jantung yang semakin cepat mengiringi deburan rasa di samudera hati yang sama-sama takut untuk diutarakan. Tidak ada sepatah kata yang keluar dari bibir mereka. Hanya wajah mereka yang saling berdekatan dengan sangat pelan. Dengan perlahan Ardana membelai wajah Paramitha. Gadis itu diam dengan tatapan yang penuh rasa penasaran.
“Aku mencintaimu, Paramitha. Dari lubuk hatiku yang terdalam.”
Kedua mata Paramitha sedikit membesar. Antara percaya dan tidak, dia meminta Ardana mengulanginya.
“Ka—kamu... bilang apa tadi?”
Ardana hanya tersenyum simpul. Tangannya yang yang membelai wajah Paramitha kini berpindah. Mengusap lembut bagian kiri ke belakang leher di balik rambut gadis itu.
“Aku mau mengakui... aku mencintaimu,” tegasnya.
Paramitha menatapnya lekat. Dia ingin membalas namun bibirnya sudah menyatu dengan kecupan manis dari Ardana. Terkejut dan tidak kuasa untuk menolak. Selanjutnya gadis ini tahu, dia jatuh ke pelukan seseorang yang mau menerima dirinya tanpa memandang kekurangan apapun.
__ADS_1
* * * * *