Petaka Biohazard: Lorong Kematian

Petaka Biohazard: Lorong Kematian
Lorong Gelap


__ADS_3

Ardana mematung menyaksikan temuan mereka kali ini. Bukan rasa ngeri seperti ketika pertama kali menemukan yang serupa. Ada banyak pertanyaan yang menggelayuti pikirannya. Sambil menghampiri salah satu potongan tangan, dia mengeluarkan pisaunya lalu anggota tubuh yang membusuk kehitaman itu ditusuknya sebanyak enam kali.


Begitu pisau dicabut kembali, sisa daging tangan yang sedikit meleleh menempel di mata pisau mulai luntur. Berjatuhan ke atas lapisan beton solid yang diinjaknya.


“Ada zat khusus yang menghambat pembusukannya. Kuharap masih bisa makan dengan tenang setelah menyaksikan ini,” desisnya datar.


Tidak ada reaksi apa-apa dari Ilham yang melihat tindakan Ardana. Wajah lelaki paruh baya itu seperti beku, datar tanpa senyuman atau raut jijik. Dia menghampiri Ardana seraya meneliti plang yang terpancang. Pandangannya beralih ke lapisan beton di bawah kaki mereka.


“Menurutmu ada sesuatu di bawah sini?” tanyanya.


Ardana ikut menoleh ke bawah. “Mungkin saja, Pak. Bagaimana kita bisa memastikannya? Meledakkannya?”


Ilham menoleh ke kiri dan kanan lalu merogoh sesuatu dari balik rompinya. Sebuah bom seukuran kemasan tepung hunkwe yang bisa diledakkan melalui kendali jarak jauh.


“Asalkan suaranya tidak bergema sampai ke luar hutan. Kita bisa meledakkannya,” katanya.


Ardana tampak ragu setelah melihat wujud benda di tangan Ilham. Benar-benar menyerupai bungkusan tepung hunkwe yang biasa dibeli ibunya untuk membuat kue yang akan dijual di pasar. Tidak sulit bagi Ilham untuk mendapatkannya meski sudah tidak aktif bertugas di Kopassus. Relasinya di PINDAD dapat diminta menyediakannya dengan pembayaran sejumlah uang yang senilai dengan harga pasarannya.


Sambil menimbang-nimang bom itu di tangannya, Ilham melirik Ardana.


“Saya tahu kamu tidak mahir menggunakan bom untuk saat darurat. Jadi biar saya saja yang ledakkan,” ucapnya sedikit sombong.


Tanpa diminta, Ardana membalikkan badan untuk mengambil langkah mundur ke belakang. Selama menjalani proses perekrutan sampai lolos, dia memang belum mendapatkan pelatihan demolisi karena rencana tersebut baru diajukan sebagai bagian dari pelatihan utama personil Baihaqi Armed Corps tahun depan. Dalam jarak dua puluh meter dari tanah lapang berlapis beton itu, Ardana menyaksikan Ilham yang memasang bom di bagian tengahnya. Tampak mudah namun sebenarnya sulit. Yang dilakukan Ilham adalah menyinkronkan hubungan antarkabel, agar ketika tombol pemicu ditekan dapat menciptakan reaksi yang memicu ledakan.


Beberapa detik kemudian, Ilham berjalan ke arahnya dengan sesuatu yang lain di tangan kanannya. Bentuknya mirip ponsel Nokia 3310 yang sering dijadikan lelucon populer yakni alat-komunikasi-para-dewa. Ketika diperhatikan lagi dari dekat, ternyata itu memang ponsel dengan tipe tersebut. Ardana menggaruk-garuk kepalanya dengan ekspresi keheranan. Sepintas dia melihat Ilham seperti seorang *******. Serupa dengan beberapa film aksi yang pernah ditontonnya, para pemeran antagonisnya menggunakan ponsel sebagai alat kendali peledak dari jarak tertentu.


“Kita bersembunyi di sini,” kata Ilham sambil berjalan menuju pohon besar yang berada tepat di sebelah Ardana.


Ardana mengikuti Ilham sambil melongok ke arah tanah lapang. Ilham tidak langsung meledakkannya, dia justru memainkan jari-jemarinya di ponsel Nokia di tangannya. Sepasang gumpalan penyumbat telinga dari kayu dipasangkan di telinganya.


“Saya lupa bawa alat kendali aslinya. Untung saja saya masih ingat cara mengatur sinkronasinya dengan media lain,” ujarnya santai.


Tidak ada balasan apapun dari Ardana. Pemuda ini hanya merapatkan kedua tangannya di telinga, untuk berjaga-jaga kalau suara ledekannya bisa sangat besar yang ditakutkan akan berefek pada berkurangnya indera pendengaran.


“Siap? Saya akan tekan tombolnya.” Ilham memberi aba-aba dengan mengangkat tangan kirinya yang dikepalkan.


Pip!


BLEGGARRR...!!


Tanpa adanya hitungan mundur, Ilham langsung menekan tombol pemicu ledakan di ponsel dalam genggamannya. Suara ledakan yang ditimbulkan ternyata cukup besar. Getarannya bisa dirasakan Ardana hingga dada. Dalam sekejap bom seukuran bungkusan tepung hunkwe tadi menghancurleburkan lapisan beton solid di tanah lapang yang tadi mereka injak. Kepulan asap tebal langsung menyebar hingga ke tempat keduanya bersembunyi.


Ardana buru-buru mengenakan kacamata taktis dan buff penyaring udara agar terhindar dari paparan asap ledakan yang berbau sangat menyengat. Entah bahan kimia apa yang ditambahkan. Yang pasti pemuda ini sempat merasakan mual namun hanya sesaat. Ketika melirik Ilham, orang tua itu hanya berdiri tegap dengan tatapan lurus ke depan. Seolah efek ledakan tersebut tidak berpengaruh padanya.

__ADS_1


Mereka menunggu hingga asap benar-benar hilang. Setelah dua menit berlalu, di hadapan mereka kini muncul sebuah lubang sumur menganga dengan diameter kurang dari enam meter berbentuk trapesium. Posisinya berada tepat di bawah tiang plang yang tadi terlempar entah ke mana.


Ardana membidikkan senjatanya ke dalam lubang yang tampak gelap. Dari mulut lubang ke dalam sana juga dilapisi dinding beton yang tampak kusam. Dia bisa melihat jelas deretan anak tangga dari besi yang dipasang spiral menuju ke bawah.


“Lapisan beton seluas lapangan futsal hanya untuk menutupi lubang sumur yang lebarnya tidak seberapa,” gumamnya sambil melangkah perlahan ke mulut lorong.


“Pak, kemarilah! Ada tangga menuju ke bawah.”


Ilham menghampiri Ardana yang mengarahkan tangannya ke dalam lubang sumur.


“Saya tidak yakin makhluk-makhluk itu lewat sini, sudah jelas ditutupi dengan lapisan beton yang kita ledakkan tadi,” ujarnya.


Ardana mengangguk, “Tapi, sepertinya ini menuju ke sebuah tempat di dalam tanah.”


Ilham tidak menanggapi. Dia teringat kembali pada catatan rahasia yang pernah dibacanya dua bulan lalu. Sebuah dokumen enam puluh halaman yang berisi catatan dari seorang mantan penjaga Hutan Sirnasurya yang identitasnya dirahasiakan. Dia mendapatkannya dari salah seorang sahabat yang menjadi salah satu petinggi Badan Intelijen Negara. Si penjaga hutan bertugas mulai dari tahun 2009 hingga 2013. Orang itu, dalam catatan yang dilampirkan bersumpah ada sebuah tempat yang disembunyikan di balik rumor keangkeran hutan buatan tersebut. Di akhir catatan juga ditegaskan dirinya pernah tidak sengaja menemukan sebuah pintu baja di dalam tanah Hutan Sirnasurya yang tidak bisa dibuka.


Dalam lampiran lain di dokumen yang sama terdapat beberapa foto yang diabadikan langsung oleh si penjaga hutan. Tampak banyak potongan anggota tubuh yang tidak lagi utuh dalam berbagai serpihan di sekitar pintu baja tadi. Si mantan penjaga hutan, meski tidak menyebutkan secara langsung, menduga orang-orang yang hilang di Hutan Sirnasurya dibunuh oleh sesuatu.


Rahangnya mengeras setiap kali mengingat dokumen itu. Pikirannya kemudian tertuju pada Paramitha dan mata merah kehitamannya. Saat pertama kali mengadopsinya, gadis itu sering mengigau tentang tempat menyeramkan di sebuah hutan dalam tidurnya. Bahkan tidak jarang sampai menangis. Ketika ditanya, Paramitha kecil mengatakan melihat orang-orang yang berteriak dalam tempat yang penerangannya temaram dan suram. Ada pula sekumpulan orang yang melakukan sesuatu padanya. Jika sudah demikian, Ilham sering melihatnya memegangi kedua matanya sambil mengeluh sakit.


Bertahun-tahun berlalu dalam asuhan Ilham, Paramitha bersikap biasa-biasa saja. Tidak ada igauan dan tangisan yang sebelumnya terjadi di hampir setiap malam. Ilham berhasil mendidiknya menjadi gadis yang kuat dan tegar. Memfasilitasinya untuk berlatih beladiri serta banyak belajar ilmu-ilmu sosial dan pengetahuan umum. Dia bahkan merelakan si gadis untuk tinggal di rumah kos setelah lulus SMA dan bekerja di rumah makan terkenal milik salah satu sahabatnya yang lain di area Terminal Cicaheum.


“Apakah ini akan menjadi titik terang atas apa yang dulu terjadi padamu, Paramitha?” desisnya tanpa terdengar Ardana.


Ardana menoleh, “Boleh saya masuk lebih dahulu ke bawah sana, Pak? Kalau aman, Anda bisa menyusul.”


Area yang gelap di bawah mulai tampak jelas dengan cahaya senter dari helm dan ujung laras senjata Ardana. Tidak sampai dua menit, dia sudah berada di dasar sumur yang hampir penuh dengan sisa beton yang hancur terkena ledakan. Teepat di belakangnya, ada sebuah lorong yang dindingnya juga dilapisi beton solid.


Tluk!


Tanpa disengaja, siku pemuda ini menyenggol sesuatu di dekat tangga. Ketika membalikkan badan, sebuah benda yang cukup berat melayang tepat ke arahnya hingga nyaris membuat tubuhnya terjungkal.


“Aaaaaaaa...!”


Seonggok tubuh manusia yang sudah tidak utuh tahu-tahu sudah mendekapnya. Ardana yang panik langsung terjungkal. Hanya satu jengkal dari pengelihatannya, wajah setengah membusuk sosok lelaki berseragam tentara menyambutnya dengan mulut menganga lebar. Anggota tubuh bawahnya hancur seperti dikoyak. Daging pipi dan wajahnya sudah mengeras namun lembap. Mayat itu seolah tidak bisa lepas dari tubuh si pemuda dalam posisi seakan sedang memeluk.


Mendapatkan jumpscare yang terlalu dekat di sebuah tempat yang tidak dikenal adalah sesuatu yang tidak disukai oleh Ardana. Dengan gerakan kilat dia berhasil lepas dan onggokan tubuh itu ditendangnya hingga terpental ke arah lorong.


“Ardana...! Hei, ada apa?!” Ilham berteriak dari atas sambil melongok tegang ke arah bawah.


Ardana mendongak sambil menggoyang-goyangkan cahaya senter. “Saya baik-baik saja, Pak! Hanya mendapat kejutan saja!”


“Kalau begitu saya turun!” sahut Ilham.

__ADS_1


Sambil menunggu lelaki itu turun, Ardana duduk bersandar di dinding beton. Pandangannya tertuju lurus ke lorong di hadapannya. Entah kenapa ketika mencoba memerhatikan ke arah depan sana, ada sensasi ngeri yang tidak bisa dijelaskan. Seperti halnya ketika turun ke dasar sumur, kegelapan juga menyelimuti lorong yang ujungnya tidak dia ketahui akan berakhir di mana.


Sebelum kakinya benar-benar menyentuh dasar lubang, Ilham sempat menoleh ke bawah. Melihat ekspresi terkejut Ardana yang masih tampak jelas.


“Kenapa, Dan?”


Ardana tidak menjawab. Hanya menunjuk ke arah lorong di mana jasad tentara tadi tergeletak.


Ilham menggeleng sambil menyeringai. Tangan kanannya diulurkan pada Ardana untuk membantunya berdiri. “Mayat, ya? Saya kira kamu diserang sesuatu sampai berteriak begitu.”


“Saya paling tidak suka kena jumpscare seperti tadi,” gerutu Ardana.


“Bagaimana mau menjaga Paramitha kalau dengan yang begitu saja sudah teriak? Kamu ini ada-ada saja,” celetuk Ilham.


Ardana berkacak pinggang. “Kalau mayatnya tampak hidup sekilas seperti tadi, ya semua orang juga kaget, Pak!”


Ilham mengibaskan tangannya sambil membuang muka. Melihat ekspresi kesal Ardana membuatnya ingin tertawa. Padahal dia baru sebatas meledeknya.


“Sudah, ayo kita teruskan ke depan sana!” tunjuknya ke arah lorong.


Cahaya senter LED dari helm kevlar masing-masing mengiringi perjalanan mereka. Sambil mengamati dinding lorong yang tinggi dan lebarnya mencapai enam meter, dia bersenandung lagu Saredona yang dibawakan Kuburan Band. Bukan tanpa alasan dia melakukannya . Selain karena nada yang ceria, lirik lagunya yang menggambarkan kehidupan sehari-hari tentang angkutan perkotaan memang disukai banyak orang. Ditambah lagi suasana menyeramkan di lorong yang mereka lintasi membuatnya tidak ingin berkata apa-apa. Sempat terlintas niat untuk lari sekencang-kencangnya dan kembali ke atas. Dengan catatan, kalau lelaki paruh baya di sebelahnya juga melakukan hal yang sama lebih dulu.


Sayangnya itu tidak mungkin terjadi karena llham memang tidak akan melakukannya. Dari yang sudah dilihatnya sendiri saat malam pertama penyelidikan, lelaki eks perwira Kopassus ini memberikan perlawanan sengit menghadapi serangan makhluk hitam hangus di dalam hutan. Ardana merasa tampak payah sendiri ketika bergerak kesana-kemari lalu berlari menghindar meski sempat melepaskan tembakan.


Lorong gelap itu ternyata sangat panjang dan berkelok-kelok untuk dilalui. Ardana sempat merasakan ketegangan ketika menyadari jarak mereka dengan tempat turun sudah sangat jauh. Setelah beberapa menit berjalan, mereka sampai di celah lorong yang lebih sempit. Hanya bisa dilewati oleh satu orang secara bergantian.


“Dan, kamu pimpin di depan!” perintah Ilham.


Ardana membelalak tetap tidak bisa membantah. Meski di satu sisi dia sedikit takut, di sisi lain ada dorongan kuat di hatinya untuk mengikuti rasa penasaran yang besar. Samar-samar tercium bau yang tidak begitu sedap. Bercampur antara amis, busuk dan entah apa lagi. Yang pasti, instingnya sudah memberi tanda akan ada sesuatu yang ditemuinya.


“Pak, mencium bau yang sama?” tanyanya berbisik.


“Iya, saya menciumnya. Bau ini... entah busuk atau apa. Tapi sepertinya ada bekas aktivitas tertentu,” jawab Ilham.


Jawaban Ilham malah membuat Ardana semakin kalut. Kejadian mayat yang mendekap tubuhnya tadi saja sudah sangat mengerikan. Sambil meletakkan jari telunjuk di pelatuk senjatanya, matanya memandang lurus tanpa berkedip sama sekali.


Celah sempit itu ternyata merupakan jalan tembus ke lintasan lorong lain yang lebarnya sama seperti ketika mereka baru masuk. Bau yang sangat tidak sedap tadi berasal dari sekitar sini. Ardana menyorotkan cahaya dengan hati-hati ke seluruh bagian lorong.


Deg!


Jantungnya berdetak lebih kencang setelah melihat semua yang terkena sorotan cahaya. Dua detik kemudian kedua tangannya mendadak lemas karena gemetar yang mulai muncul.


“Ini... ini?!”

__ADS_1


Kini mereka tahu dari mana sumber bau yang tadi tercium.


* * * * *


__ADS_2