Petaka Biohazard: Lorong Kematian

Petaka Biohazard: Lorong Kematian
Serangan Dua Arah


__ADS_3

“Mari kita lihat, tamu jenis apa lagi yang datang pada kita?”


Ardana mengaktifkan lagi fitur canggih kacamata taktisnya yang sejak beberapa saat lalu dianggurkan. Penglihatannya kini menjadi lebih jelas. Jauh di depan sana, di balik deretan mayat tentara yang berserakan memanjang ke depan, tampak siluet sesuatu berukuran besar yang merayap pelan di lantai. Makhluk itu juga kedapatan sedang menelan satu mayat tentara bulat-bulat yang terdekat dengannya, mengunyahnya beberapa saat lalu memuntahkannya kembali dalam bentuk remuk dan penuh lendir pekat.


Wujud makhluk tersebut mengingatkan Ardana pada sosok lintah besar yang muncul dari dalam tanah ketika malam kedua penyelidikan dilakukan bersama Ilham. Ketika memutar badan ke arah belakang, di sana juga ada siluet dengan bentuk yang sama. Paramitha hanya diam sambil menatapnya. Tampak jelas rasa penasaran dari sorot matanya.


“Ada dua lintah besar di depan dan belakang. Sangat mudah untuk dibunuh tapi tidak bisa dari jarak dekat.” Ardana menoleh bergantian ke depan dan belakang sambil merogoh sesuatu di badannya.


“Jadi, harus bagaimana?” tanya Paramitha.


“Kamu bisa menggunakan ini?” Si pemuda menunjukkan granat yang ada dalam genggamannya.


Paramitha mengangguk, “Bisa, tadi aku menggunakannya ketika menghadapi mayat Togar.”


Meski agak ragu, Ardana tetap memberikan gadis itu satu buah granat. Karena lebar jalur lorong itu tidak seluas seperti yang ada pada area di atas, keduanya harus memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin dan tidak meleset apalagi sampai memantul kembali ke arah mereka. Sementara Paramitha berdiri menghadap ke arah belakang, Ardana memberanikan diri untuk maju mendekati makhluk lintah raksasa yang berjarak hampir tiga puluh meter dari posisinya semula.


Kekhawatirannya sempat muncul membayangkan ledakan granat tidak mampu menghabisi monster itu dalam sekali ledakan. Akan sangat merepotkan kalau harus melakukannya sampai dua kali. Skenario alternatif yang muncul dalam pikirannya adalah menggunakan senjata api. Namun tetap saja sulit jika jaraknya terlalu dekat, terlebih lintah raksasa di depannya mampu menjangkau makanan dalam jarak hampir delapan meter seperti yang sedang dilihatnya saat ini. Makhluk tambun dan rakus itu seolah tidak peduli akan kehadirannya dan memilih fokus melahap setiap mayat manusia yang ditemuinya.


Mulutnya yang menganga lebar mengeluarkan satu rahang tambahan yang menyerupai gumpalan lonjong yang menjorok ke depan. Rahang tersebut ternyata juga mampu terbuka lebar dengan deretan gigi tajam bermandikan lendir merah yang mampu menghancurkan tengkorak, meski kenyataannya tidak terlalu berguna. Meski tidak pernah memilih jurusan IPA, menyaksikan pemandangan seperti itu membuat Ardana tidak habis pikir dengan siapapun yang nekat menciptakan makhluk semacam lintah raksasa tersebut.


“Coba makan yang ini!” seru Ardana tertahan sambil sedikit membungkuk. Setelah itu dia berlari kembali ke arah Paramitha.

__ADS_1


Kling!


Glutuk! Glutuk!


Melihat ada sesosok manusia yang berlari menjauh darinya secara tiba-tiba, lintah raksasa itu memuntahkan kembali mayat membusuk yang baru saja ditelan setengah dari pinggang ke kaki. Perhatiannya tertuju pada Ardana dan terpancing mengejarnya. Namun sebuah benda bulat agak lonjong sudah terlanjur menggelinding ke arahnya.


BLEGGAAAARRRR...!


Tubuh makhluk lunak itu seketika hancur berantakan dengan isi kepala dan jeroan yang terlontar ke berbagai arah. Sebagian kecilnya hampir mengenai bagian belakang tubuh Ardana yang keburu lolos. Potongan dagingnya bahkan ada yang sampai terbakar. Mendengar suara ledakan tadi, pemuda ini berhenti sejenak lalu menoleh ke belakang untuk menyaksikan sendiri hasil kerjanya.


Sementara itu satu sosok lintah raksasa lain sudah menampakkan diri hanya dalam jarak belasan meter di hadapan Paramitha. Meski jelas makhluk itu mulai bergerak ke arahnya, dia belum juga melemparkan granat yang diberikan Ardana padanya. Paramitha malah bergerak mundur sebanyak satu jengkal, seolah membiarkan pemangsanya terus mendekat.


“Hah, Paramitha? Apa yang sedang dia lakukan?!” Ardana yang terkejut bergegas menghampiri sambil menodongkan senjatanya untuk bersiap menembak.


BLEGGAAAARRR...!


Sama seperti nasib makhluk sejenisnya yang di depan sana, lintah raksasa itu hancur berkeping-keping hingga separuh tubuhnya. Ardana yang sempat terperangah menggapai tangan Paramitha yang terduduk di lantai lorong. Kedua kaki gadis itu ternyata sempat terasa lemas ketika berlari menghindar setelah berhasil memasukkan granat ke mulut makhluk tadi.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Ardana sambil membelai wajah Paramitha. Sorot matanya menampakkan kecemasan atas apa yang sudah dilihatnya.


Paramitha mengangguk sambil tetap mengarahkan pandangan ke bangka lintah yang baru saja meledak. Gadis itu perlahan berdiri lagi dengan bantuan Ardana.

__ADS_1


“Kakiku tiba-tiba lemas. Kita jalan pelan-pelan saja,” keluhnya.


Ardana melirik ke kaki Paramitha. “Sakit, atau bagaimana?” tanyanya.


“Sepertinya karena tidak terbiasa berlari terlalu cepat lebih dari yang aku bisa. Aku memang belum pernah merasakan situasi seperti ini,” jawab Paramitha sambil menggerak-gerakkan kedua kakinya dengan pelan.


Ardana terdiam. Sebenarnya dia juga merasakan hal yang sama pada kedua kakinya. Hanya saja masih tahan sedikit lebih lama dan tidak terlalu lemas. Yang paling merepotkan justru di bagian punggung, di mana dia masih harus membawa beban ransel berisi perlengkapan milik sendiri serta bahan peledak yang diambilnya dari gudang senjata. Sementara luka memarnya masih belum pulih. Namun karena tidak ingin tampak lemah di mata Paramitha, dia memilih menahannya. Seseorang harus ada yang menjadi penyangga bagi orang lain di tengah kesulitan yang dihadapi bersama.


“Kalau begitu, kita ke mana lagi sekarang?” tanyanya. Ardana mulai mencoba mengalihkan suasana yang mulai memancing sisi melankolisnya.


“Lurus... ke depan sana ada ruangan lagi, di sebelah kiri. Kalau kita terus mengikuti jalur ini ada beberapa kelokan yang menuju langsung ke jalan keluar lain. Hanya saja aku tidak ingat pasti itu tempat apa,” jawab Paramitha sambil menoleh ke arah yang dimaksud.


Ardana memeriksa ulang amunisi senjatanya sebelum memulai kembali perjalanan. Kali ini dia berjalan tepat di samping Paramitha, tidak lagi di belakangnya. Pemuda ini menggunakan kesempatan itu dengan membantu si gadis berjalan meski tanpa diminta. Tangan kirinya menggenggam lembut lengan Paramitha, membantunya melewati bangkai lintah raksasa yang masih terbakar kecil.


“Hati-hati,” ucap Ardana.


Paramitha melangkah dengan hati-hati sambil memerhatikan bangkai lintah mutan yang separuhnya sudah tidak berbentuk lagi. Sempat tidak sengaja menginjak potongan tangan manusia yang menyembul dari dalam usus yang terkoyak, gadis itu langsung menyingkirkannya. Bagian tubuh yang tidak utuh itu justru tergeser tepat di depan mata Ardana. Pemuda ini refleks menutup mulut dan hidungnya sambil memejamkan mata demi menahan dirinya agar tidak muntah lagi.


“Eh? Maaf, aku tidak sengaja.” Paramitha menyunggingkan senyum tipis padanya.


Ardana hanya bisa melongo sambil menahan mual yang kembali muncul.

__ADS_1


* * * * *


__ADS_2