
Sementara mayat anak kecil tadi masih berdiri dengan menyeringai, Ilham dan keempat personil Kopassus bersamanya kini mendapat masalah baru. Mereka mulai tersudut ke arah pintu baja karena di saat yang sama satu demi satu mayat hidup di ruangan rahasia itu bangkit dari kematian. Gerakan kaku anggota tubuh yang membuat ngilu bagi siapapun yang melihat disusul geraman seperti orang yang sekarat mulai ramai terdengar.
Tidak hanya sebagai mayat, mereka ternyata memiliki kemampuan berevolusi secara fisik. Beberapa di antaranya mulai timbul tumor baru yang berdenyut-denyut di bagian dada dan kepala. Ada juga yang kepalanya tiba-tiba meledak hingga rengkah, berganti dengan gumpalan daging penuh mata dilengkapi tentakel bergerigi yang menjijikkan.
Didin dan ketiga anak buahnya tidak segera menembak. Letnan Kopassus ini melirik ke arah Ilham yang masih berdiri dengan tenang di belakang mereka. Entah apa yang ada di dalam pikiran lelaki paruh baya itu. Sikapnya yang hanya berdiri tegap dengan senjata dipanggul di bahu membuatnya tampak seperti jagoan kawakan yang tidak pernah takut. Hanya matanya saja yang bergerak ke kiri dan kanan memerhatikan pergerakan semua mayat hidup di depan.
“Pak, Pak Ilham! Kita harus lakukan sesuatu. Apa kita harus kembali ke basement?” desak Didin. Ingin sekali dia memberi perintah jika orang tua itu tidak ada bersamanya. Namun dengan hadirnya Ilham, reputasi sebagai pasukan elit terpaksa dikesampingkannya. Bagaimanapun juga lelaki paruh baya itu pernah menjadi pelatihnya tiga tahun lalu di Batujajar. Entah kenapa rasa segannya lebih besar, mengalahkan kemampuan yang sebenarnya bisa dia lakukan tanpa diawasi Ilham.
Ilham hanya melirik Didin lalu menghela napas dengan sangat ringan.
“Saya tahu ini tugas lapangan pertamamu. Anak muda yang saat ini sedang bertugas menyelamatkan putri angkat saya dari tempat ini sama seperti kamu. Tapi... kamu lebih tahu apa yang harus kamu dan timmu lakukan di tengah situasi seperti ini, Din. Kalian itu pasukan khusus TNI, jangan menatap saya begitu seakan kita masih ada di dalam pelatihan yang dulu!” tegurnya.
Kata-kata Ilham menjadi penentu bagi Didin. Lelaki muda ini menepuk satu persatu bahu ketiga anak buahnya.
“Beri mereka asap!”
Adit dan kedua rekannya mengerti dengan cukup jelas. Ketiganya mengeluarkan bom asap yang kemudian dilemparkan ke arah gerombolan mayat hidup yang sudah cukup dekat dengan mereka. Asap putih yang tebal mulai menggulung seisi ruangan diiringi dengan menyingkirnya Ilham dan keempat personil Kopassus itu ke arah pintu.
“Granat! Mana granatnya?!” Didin mengomandoi anak buahnya untuk melempar granat ke dalam ruangan sebelum menutup pintunya.
Tiga buah benda hitam seukuran kepalan tangan menggelinding cepat dari arah pintu yang kemudian tertutup. Beberapa detik setelah Ilham beserta Didin dan anak buahnya menjauh dari sana, terdengar tiga ledakan beruntun yang cukup keras.
Sayangnya saat untuk bernapas lega belum bisa mereka nikmati. Seolah tidak terpengaruh akibat ledakan tersebut, pintu baja yang mereka tutup tiba-tiba terbuka disertai kemunculan belasan mayat hidup yang berdesakan keluar. Beberapa bahkan saling berimpitan, berusaha menjangkau kelima manusia yang sebentar lagi akan dijadikan makanan pembuka.
__ADS_1
“Keluar dari sini! Keluar!” teriak Didin sambil memberi sedikit ruang agar Ilham keluar lebih dulu. Setelah itu dia dan ketiga anak buahnya menyusul. Di dekat pintu lemari besi yang terbuka lebar, mereka secara bersama-sama membidikkan senjata ke arah pintu.
RATATATATATATAT! RATATATATATAT!
Beberapa mayat hidup yang tidak dapat mengelak dari terjangan peluru langsung tumbang di sepanjang jalan penghubung antara lemari besi dan pintu baja di ujung sana. Ketika peluru tajam mengenai bagian tumor dan mata, semua makhluk tersebut tumbang, Didin dan yang lainnya segera tahu itu adalah titik kelemahan yang harus dihajar. Apalagi jumlah selongsong yang terlontar dari palka pembuangan sudah mencapai puluhan lebih.
Sekuat tenaga bertahan, upaya keempat personil Kopassus itu untuk menahan laju mayat hidup dan makhluk mutan mulai goyah. Sesosok makhluk mutan bertubuh tinggi besar berwarna hitam hangus tiba-tiba menyeruak dari dalam. Ia membungkuk sedikit lalu menatap tajam ke arah Ilham dan yang lainnya. Seolah menertawakan kelima manusia yang terus menembakinya, mulutnya menyeringai lebar.
“Makhluk itu lagi,” desis Ilham. Dia segera menghentikan tembakan lalu menarik Didin untuk mundur.
“Kita keluar dari sini! Cepat, Din! Saya sudah pernah menghadapi makhluk hitam itu!”
Didin dan keempat anak buahnya segera mundur dari lantai dua dan turun ke bawah. Ilham sengaja terus menggiring mereka keluar ke area basement agar mendapatkan ruang gerak yang lebih leluasa. Sesuai dugaannya, makhluk hitam hangus itu ternyata mengejar dengan cara merayap dan melompat. Lidahnya menjulur panjang hampir menyambar belakang leher Adit yang kebetulan berada di urutan buncit. Serdadu muda ini beruntung dapat menghindar tetapi harus merasakan kengerian karena dinding yang berada di dekatnya seketika rusak parah terkena sambaran serangan lidah bergerigi tadi.
KRAKK! KRAKK! BLEGGARRR!
Baru saja mereka berlima menginjakkan kaki di luar bangunan pemantau dan berusaha mencari tempat perlindungan, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Dinding basement dengan langit-langit lebih dari enam puluh meter ke atas itu tiba-tiba detak dan meledak tanpa kobaran api. Dalam selubung asap dan debu yang berhamburan terdengar suara benda raksasa yang diseret paksa diiringi lenguhan besar yang berat.
Ilham dan keempat serdadu Kopassus di dekatnya tertahan menyaksikannya. Mereka sama-sama terpana tanpa tahu apa yang sedang terjadi. Berselang tiga detik kemudian sebuah tentakel berwarna hitam berbintik merah darah keluar dari sana. Ukurannya sangat panjang hingga lebih dari seratus meter dengan warna hitam penuh bintik merah darah. Gerakannya cukup lamban namun begitu dihantamkan ke lantai efeknya cukup dahsyat. Hentakannya mampu menciptakan retakan yang lebih parah dari bagian dinding yang dijebol. Beberapa jasad mayat hidup yang sudah terbakar ikut remuk dan rata.
Belasan tentakel lain menyusul keluar dengan menjebol sisa dinding yang nyaris rusak. Semua benda hidup lunak yang sangat besar tersebut berupaya menarik keluar tubuh asal yang ukurannya tidak kalah besar. Kilatan-kilatan listrik berwarna merah menyala bermunculan dari setiap ujung hingga pangkal tentakel yang menggeliat bebas.
“Berlindung...! Berlinduuung...!” Suara lantang Ilham segera membuat Didin dan ketiga anak buahnya tersadar. Masing-masing berlarian mencari tempat berlindung di antara rongsokan kendaraan militer yang ada di sekitar mereka. Sebuah teror yang tampaknya tak terhentikan dan sangat mengerikan kini muncul di depan mata.
__ADS_1
RATATATATAT! RATATATATATATAT! RATATATATATATATATATATAT!
* * * * *
Suara rentetan senjata api yang saling bersahutan membuat Ardana dan Paramitha menghentikan langkah mereka di tengah jalur transit. Secara bersamaan keduanya membalikkan badan menghadap ke arah belakang. Ardana dengan cepat menyadari suara yang mereka dengar tadi berasal dari arah basement. Wajahnya seketika menegang. Ternyata tidak hanya dia dan Paramitha saja manusia sungguhan yang berada di area bawah tanah Hutan Sirnasurya.
“Ada orang lain di sana. Kita harus kembali untuk memastikannya,” katanya sambil memasang magasin utuh yang baru pada senapan serbu SS2 V-4 miliknya. Begitu juga dengan Sako RK.95 dan shotgun STF/12 di kedua sisi bahunya.
Paramitha tidak menyahut. Gadis ahli waris Catranata ini terdiam sejak pertama kali mendengar suara tembakan beruntun yang sekarang masih tetap berlanjut. Dan entah dari mana, pikirannya langsung terpaut pada Ilham.
“Dan, jangan-jangan itu... Pak Ilham,” duganya. Dia menoleh pada Ardana dengan ekspresi cemas.
Dugaan Paramitha ada benarnya juga menurut Ardana. Secara logis, tidak ada satu orang pun yang ditemukan masih dalam keadaan hidup di tempat yang sudah terbengkalai selama bertahun-tahun, di bawah tanah hutan yang menyandang reputasi angker dan menakutkan. Satu-satunya jawaban paling masuk akal yang bisa dibenarkan adalah dugaan si gadis jika dihubungkan dengan kesulitan mereka mencoba berkomunikasi dengan lelaki paruh baya mantan perwira Kopassus tersebut.
“Kalau begitu kita kembali ke sana. Neng, jangan jauh-jauh dariku!”
Pasangan muda-mudi ini akhirnya membatalkan niat dan usaha untuk terus menelusuri jalur transit yang diyakini akan mengantarkan mereka menuju jalan keluar. Perhatian mereka lebih tertuju pada suara tembakan senjata api di basement yang sebelumnya sudah dilewati. Ada sedikit kecele di hati Ardana, mengingat ulah gilanya membakar hampir seluruh bagian tempat tersebut membuat banyak makhluk mutan dan mayat hidup ikut terbunuh.
Paramitha yang ikut memikul tiga kotak rahasia temuan sebelumnya mencoba mengimbangi langkah kaki Ardana yang terasa sulit untuk dikejar. Sebenarnya jaraknya dengan si pemuda tidak jauh, malah tetap terjaga dekat kira-kira enam jengkal. Tetap saja baginya dirasa cukup jauh. Ardana bahkan sama sekali tidak menoleh sekadar untuk memastikan dirinya tidak tertinggal.
“Ardana, tunggu! Jangan cepat-cepat jalannya!”
* * * * *
__ADS_1