
Kedua prajurit muda itu bergerak serentak menuju ke tangga. Salah satu dari mereka mengusap dinding dari ujung atas hingga ke barisan anak tangga paling bawah secara horizontal. Dua detik kemudian muncul sebuah deretan tombol layar sentuh berbentuk persegi dengan ukuran yang menyamai telapak tangan. Benda itu menyembul dari dalam bagian dinding yang menjadi titik akhir usapan. Ternyata untuk mengunci ruangan itu membutuhkan enam angka rahasia yang diinput sebagai pengunci. Setelah semua angkanya selesai dimasukkan, sebuah lempengan baja di bagian atas jalan masuk bergeser menutup ruangan tempat mereka berada. Penerangan yang semula benderang kini digantikan dengan lampu darurat broken white yang temaram.
Ilham baru menyadari kalau mereka mengunci ruangan bawah tanah tersebut.
“Hei, Zuq. Kamu mengunci kita semua di sini?!” Menghampiri Marzuqi yang sudah siaga dengan Glock 19 di tangan.
“Hanya satu saja, Ham. Kita bisa melumpuhkannya,” ujar Marzuqi santai.
Ardana tidak ikut berkomentar. Dia lebih berkonsentrasi mengarahkan bidikannya ke arah lemari pembeku yang kacanya mengalami keretakan semakin parah. Kaca anti peluru yang dianggap kuat justru bisa dihancurkan oleh makhluk bertentakel lunak yang kini mengamuk di dalamnya. Di belakangnya berdiri para petugas forensik yang sudah memegang senjata laras panjang masing-masing, yang semuanya terdiri dari shotgun SG-1 buatan PINDAD. Jas putih yang mereka kenakan sudah ditanggalkan begitu saja, menampakkan seragam dinas harian dan kamuflase lapangan TNI.
PYARR!
Kaca pelindung lemari pembeku itu akhirnya pecah berantakan. Ardana dan yang lainnya menahan napas dengan tegang. Makhluk di dalamnya perlahan keluar dengan memunculkan tentakelnya terlebih dahulu.
“Tembak! Habisi makhluk itu!” perintah Marzuqi.
Jdar! Jdar! Dor! Dor! Dor!
Peluru-peluru dari berbagai ukuran dan jenis senjata yang berbeda langsung berhamburan ke arah lemari pembeku yang kacanya hancur di depan mereka. Mayat hidup setengah mutan yang baru saja menampakkan kepalanya itu harus merasakan terjangan proyektil panas yang tidak tertahankan. Raungannya terdengar cukup memekakkan telinga. Para manusia yang membantainya tidak mengendurkan serangan hingga lemari pembeku wadah penyimpanannya nyaris ikut hancur.
Di luar dugaan mereka, makhluk itu masih bisa keluar dengan cara melompat. Merayap cepat di dinding meski tentakel-tentakelnya sudah berlumuran darah merah kehitaman yang sangat pekat. Sosok mengerikan itu kini tidak lagi berwujud manusia seutuhnya. Ukuran tubuhnya yang terkoyak pun berubah sedikit lebih besar tertutupi daging yang berdenyut-denyut seperti akan meletus namun tertahan. Kepalanya yang tadi terkena regenerasi rengkah hingga benar-benar hancur, digantikan dengan kepala baru yang hanya berselimut daging hitam kemerahan. Sorot mata merahnya liar menyasar para penembak di depannya. Mulutnya yang meneteskan cairan hitam menyeringai lebar seolah memamerkan ratusan gigi tajamnya yang siap menerkam mereka.
“Makhluk apa itu?!” Marzuqi terkesiap melihat sosok makhluk yang belum pernah dilihatnya seumur hidup. Dia menoleh pada Ilham yang juga sama-sama terkejut.
Keenam tentakel yang semula menggeliat liar itu tiba-tiba menyerang dan membuyarkan kelengahan mereka. Dua petugas forensik TNI yang tidak sempat terhindar langsung terhempas dan menghantam dinding dengan keras. Sementara Ardana yang jatuh berguling tidak menyadari posisinya justru malah semakin dekat dengan mutan predator dalam bungkusan mayat hidup tersebut.
“Ah, sial sekali!” makinya saat menyadari hal itu.
Ardana segera menghindar dari jangkauan serangan. Salah satu tentakel makhluk itu langsung menghantam kakinya hingga membuatnya terjatuh. Tentakel yang lain kemudian membelit kaki kiri si pemuda dan menariknya.
“Tahan! Tahan tembakan kalian!” teriak Marzuqi. Dia khawatir serangan mereka malah menyasar Ardana.
__ADS_1
Para prajurit TNI itu tampak kebingungan. Mereka melirik pada Marzuqi dan Ilham yang sebenarnya masih ingin menembak.
Dor! Dor! Dor!
Ardana masih terus melepaskan tembakan ke arah dada dan kepala makhluk mutan mayat hidup yang menyeretnya. Kengeriannya kembali muncul saat melihat predator itu membuka mulut dan melonggarkan rahang bawahnya yang kemudian terpecah menjadi dua bagian ke kiri dan kanan. Jalinan kulit berlendir penghubung rahang yang terbuka lebar mencapai bentangan tangan orang dewasa kini tampak jelas di depan mata Ardana. Sudah pasti, dia akan dilahap hidup-hidup.
“Dan...!”
Ilham menerjang maju meski Marzuqi mencegahnya. Beberapa meter kemudian langkahnya tertahan saat melihat sesuatu tergeletak di lantai.
Makhluk aneh itu terlalu fokus pada Ardana yang menjadi calon mangsa hingga tidak menyadari adanya serangan lain. Sebuah kursi lipat melayang lalu menghantam rahangnya hingga goyah dan hancur. Ilham yang melakukannya dengan naik pitam. Sayangnya, benda keras itu juga sempat mengenai wajah Ardana yang langsung ambruk ke lantai sambil mengaduh.
GRRROOAAAAAAOOORRRR!!
Ilham segera menarik Ardana menjauh, atau lebih tepatnya menyeret karena si pemuda belum sempat bangkit.
Jdar! Dor! Dor! Jdar!
GRRRRAAAAAARRRRKKKKHHHH!!
BRUGG!
Satu raungan terakhir menyudahi denyut nadi kehidupan makhuk dalam cangkang mayat hidup tersebut. Tubuhnya yang dipenuhi luka tembak perlahan rengkah dan mengelupas. Lantai tempatnya ambruk dibanjiri darah yang seolah terus keluar dan berbau aneh.
“Buka! Baunya menyengat sekali!” Marzuqi mendelik sambil menutup mulut dan hidungnya. Meski sudah memakai masker, bau darah dari jasad makhluk di depan mereka seolah bisa menembusnya.
Lempengan baja yang menutupi bagian atas tangga kembali terbuka. Tanpa menunggu lagi semua orang di dalamnya berhamburan naik untuk mendapatkan asupan oksigen lebih banyak. Para prajurit TNI di sekiitar Ardana dan Ilham terengah-engah menghirup udara segar setelah sempat mencium bau busuk aneh yang tidak tertahankan. Satu hingga dua dari mereka terkulai di lantai sambil menggerutu tidak karuan.
Para petugas forensik yang sedang bekerja di aula terkejut melihat keadaan mereka. Semuanya bergegas menghampiri sambil melepas jas putih yang semula mereka kenakan. Tiga orang dari mereka turun ke ruang bawah tanah untuk melihat apa yang sebenarnya telah terjadi. Tidak sampai enam detik, ketiganya keluar lagi dengan ekspresi menahan mual luar biasa.
Ardana sendiri harus rela isi perutnya kembali dikeluarkan ke lantai, setelah sebelumnya Ilham memukul-mukul kecil tengkuknya.
__ADS_1
* * * * *
Marzuqi memutuskan untuk membakar jasad makhluk mutan di ruang bawah tanah penyimpanan jenazah untuk menghindari kegemparan warga sipil yang ada di RS Dustira. Tindakan tersebut diserahkan pada satu personil infantri yang ditemani empat petugas NUBIKA Zeni TNI AD. Butuh waktu hingga hampir dua jam untuk memastikan upaya pembersihan berjalan lancar. Marzuqi juga memerintahkan sampel tubuh dari jasad makhluk itu diambil untuk dikirimkan ke LIPI Bogor untuk diteliti secara rahasia.
Ardana yang masih belum bisa menghilangkan rasa mual terduduk lemas, bersandar di salah satu tiang beton penyangga aula dekat tangga ruang bawah tanah. Salah seorang prajurit dari bagian dapur rumah sakit sudah memberikan minuman jahe instan seduh untuk meredakannya.
Pemuda ini melirik ke arah tangga ketika kelima serdadu TNI yang ditugasi membakar hangus jasad makhluk mutan yang tadi mengamuk muncul. Ada dua kantung jenazah yang mereka angkut bersama-sama dengan isian yang sangat padat. Bisa dipastikan sebelum dimasukkan, kelimanya memotong-motong jasad agar bisa di bawa. Di depan pintu masuk aula sudah menunggu satu mobil truk TNI yang akan digunakan untuk membawa sampel ke Bogor hari itu juga.
“Maafkan saya,” ucap Marzuqi. “Saya tidak menyangka malah jadi kacau begini.”
Ilham mengibaskan tangannya.
“Sudah biasa. Di Sirnasurya masih ada makhluk yang seperti itu, Zuq,” balasnya.
Marzuqi mengerutkan keningnya. Dia mendekati Ilham yang sedang mengusap-usap pistolnya.
“Apa maksud kamu, Ham? Saya tidak salah dengar, nih?”
Ilham menggeleng. Dia membisikkan sesuatu ke telinga Ilham.
“Ceritanya agak panjang. Tapi pada intinya, ada sesuatu di bawah sana yang tidak nampak oleh warga sekitar karena mereka terlanjur takut. Saya dan anak itu sudah melihatnya langsung. Di sana ada tempat tersembunyi yang entah dibangun sejak kapan. Ada banyak mayat tentara yang ketakutan dan menghindari sesuatu sebelum mereka mati. Saya sendiri juga belum tahu apakah mereka bagian dari TNI atau bukan. Dugaan kuat saya mengarah pada kegiatan rahasia yang dicurigai dilakukan pemerintahan Facturia sejak bertahun-tahun yang lalu,” jelasnya.
Marzuqi terkejut mendengar penjelasan Ilham. Kasus orang hilang di Hutan Sirnasurya yang selama beberapa tahun terakhir menjadi viral di berbagai media mulai menunjukkan satu titik terang yang disampaikan langsung oleh sahabatnya sendiri.
“Kenapa kamu tidak menghubungiku untuk minta bantuan?” tanyanya penasaran.
“Karena itu belum menjadi kewenangan TNI. Penyelidikannya dilimpahkan pada Baihaqi Armed Corps. Dan anak muda itu, Ardana Putra, adalah orang yang dipilih meski statusnya masih baru,” jawab Ilham santai.
Kasak-kusuk kedua lelaki paruh baya itu tidak terdengar oleh Ardana yang lebih fokus pada minuman jahenya. Rasa mual yang dirasakannya mulai berkurang. Meski ketegangan yang terjadi sudah dilewati, pikirannya tetap belum tenang. Dia masih sedikit kerepotan menghadapi makhluk semacam tadi dan belum ada peningkatan kemampuannya meski dia sudah memahami pola pergerakan untuk menghadapinya. Sementara waktu terus berjalan dan apa yang ada di bawah Hutan Sirnasurya belum semuanya terjamah penyelidikan.
* * * * *
__ADS_1