Petaka Biohazard: Lorong Kematian

Petaka Biohazard: Lorong Kematian
Bertemunya Bibi dan Keponakan


__ADS_3

“Punten...!”


Dengan suara rendah dan terkesan sopan, Ardana memanggil penghuni rumah. Dia berdiri mematung di depan beranda sambil melongok. Pintu dan jendelanya yang tertutup seolah menandakan pemiliknya sedang tidak ada di tempat. Yang tampak di beranda hanya sebuah lampu gantung klasik dan meja kayu bundar yang dikelilingi empat kursi di sebelah kiri. Di bagian kanan beranda terdapat kursi-kursi yang ditata rapi dengan menghadap serempak ke arah kiri.


Si pemuda mengulangi ucapannya tadi sebanyak tiga kali. Setelah tidak mendapat jawaban, dia melirik Paramitha.


“Sepertinya tidak ada orang. Dan lihat saja, rumah-rumah di sekitar sini juga tampaknya sepi juga,” katanya.


Paramitha beranjak ke beranda, mengabaikan perkataan Ardana. Sneakers hitam putih yang melindungi kedua kakinya menjejak agak keras di lantai marmer putih. Lalu dengan hati-hati pintu rumah diketuknya.


“Punten...! Siapapun yang ada di dalam, kami ada keperluan dengan kalian!” serunya sedikit lantang.


Ardana terkejut dengan yang dilakukan Paramitha. Lelaki ini buru-buru menghampiri dan memegang bahu si gadis.


“Duh, jangan teriak-teriak begitu,” tegurnya tertahan.


Paramitha menyilangkan tangan di depan dada seraya membalikkan badan. “Kamu mau berdiri di luar seperti tadi lalu memanggil-manggil, begitu? Sampai kelinci bisa bermain voli juga tidak akan dibuka, Ardana!”


“Eh.” Ardana terperangah, tidak menduga kalimat tadi meluncur dari bibir tipis Paramitha.


Tok! Tok! Tok!


Kali ini ketukan pintu dibuat lebih keras dari sebelumnya. Tangan Paramitha tampak seperti palu yang menghujam paku berkali-kali di mata Ardana. Pemuda ini menoleh ke kiri dan kanan dengan ekspresi cemas. Takut jika ada warga lain yang menegurnya atau lebih buruknya menuduh mereka mencoba melakukan pencurian.


Ketika Ardana membalikkan badan untuk turun kembali ke pekarangan, langkahnya langsung tertahan begitu melihat ada orang lain yang sudah berdiri di sana.


“Kalian mencari siapa?”


Seorang wanita paruh baya dengan mengenakan kemeja biru tua dengan celana panjang menatap penuh selidik ke arah mereka. Di tangan kirinya tergenggam kantung belanjaan yang berisi penuh dengan bahan makanan berupa sayur-mayur dan bumbu masak.


Ardana terkesiap sambil bergantian menatap Paramitha dan wanita tersebut. Wajah keduanya ternyata ada kemiripan. Meski usianya tidak muda, orang yang berdiri di pekarangan itu sama sekali tidak hilang aura kecantikannya.


“Tu—tunggu dulu, kenapa bisa mirip begini? Tidak mungkin... pasti aku salah lihat, nih,” desis Ardana.

__ADS_1


Paramitha terdiam mendengar teguran tadi. Perlahan, dia berbalik tanpa menurunkan tangannya dari pintu yang tadi diketuk. Yang menegur malah kaget bukan kepalang, berbanding terbalik dengan Paramitha yang justru tampak tenang melihatnya.


“Ibu pasti yang bernama Marni Suheni?” Paramitha langsung melontarkan pertanyaan yang tidak terduga oleh si wanita berkemeja biru. Bagaimana tidak, karena nama yang ditanyakan adalah namanya sendiri.


“Benar, saya Marni Suheni. Kalian berdua ini siapa dan dari mana?” Marni bergantian memandang Ardana dan Paramitha. Tatapan lebih lama ditujukan pada gadis muda di hadapannya itu, saat mengetahui wajah mereka mirip.


Paramitha hanya diam sambil menunjukkan kalung bermata berlian yang dikenakannya. Selama beberapa saat memerhatikan benda yang semuanya terdiri dari perak antik itu tidak terjadi reaksi apapun dari Marni. Namun setelah dia mengenali bentuk berlian dalam bandulan kalung, kedua matanya membesar dibarengi perubahan ekspresi di wajahnya. Wanita ini nyaris tidak bisa berkata apa-apa karena terkejut yang luar biasa.


“Tidak mungkin! Bagaimana bisa? Kamu sudah....”


Satu detik setelahnya Marni memegangi kepala hingga nyaris tumbang ke belakang, seraya merasakan pandangannya berkunang-kunang dan kepalanya berat. Ardana dan Paramitha bergerak cepat menangkapnya agar tidak jatuh.


“Bibi! Kita ke dalam dulu, ayo!” seru Paramitha. Gadis cantik ini khawatir dengan kondisi kesehatan Marni yang mendadak menurun.


“Tidak, tidak apa-apa. Ini akan baik-baik saja,” katanya sambil masih memegangi kepala. Perlahan, Marni menyeimbangkan posisinya untuk bisa berdiri lagi.


Meski begitu, Marni tampak belum stabil. Paramitha menuntunnya dengan sangat hati-hati ke beranda untuk duduk di kursi tamu, sementara Ardana membawakan kantung belanjaan sarat isi yang berat lalu meletakkannya di atas meja kayu bundar di hadapan mereka.


Selama beberapa saat tidak terjadi pembicaraan. Ardana tidak berani untuk memulai obrolan setelah melihat Marni masih tampak berkunang-kunang. Wajah si wanita yang ternyata bibi dari Paramitha ini sedikit lebih pucat dari sebelumnya.


“Sulit dipercaya, sangat sulit. Neng... bibi sangat senang hari ini bisa bertemu kembali denganmu,” lirihnya haru, “tidak disangka, setelah bertahun-tahun akibat kejadian itu sebelumnya kamu diberitakan menghilang.”


“Bagaimana Bibi bisa yakin ini memang aku? Padahal saat itu aku masih kecil,” sanggah Paramitha untuk mengetahui reaksi bibinya.


Marni menggeleng, “Kalung itu... kalung yang sama yang diberikan kakekmu pada bibi dan ibumu.”


Seutas kalung yang sama juga dikeluarkannya dari balik leher.


Paramitha menggenggam tangan Marni begitu erat. Wajah bibinya yang juga memiliki kemiripan identik dengan ibunya membuat gadis berambut lurus sebahu ini berkaca-kaca. Ada sejuta perasaan bahagia yang membuncah hingga kemudian membuatnya memeluk Marni sambil menitikkan air mata. Samar-samar terdengar Paramitha terisak.


Meski bukan bagian dari keluarga mereka, Ardana terenyuh. Dia pun mengusap-usap punggung gadis pujaan hatinya. Tidak ada adegan menyerupai tayangan sinetron yang dibumbui dramatis tentang pertemuan dua orang yang sudah lama tidak berjumpa karena terpisah. Pertemuan kembali Paramitha dengan bibinya tampak lebih mengharukan bagi Ardana karena jelas tidak dibuat-buat. Ardana bisa merasakan kebahagiaan dalam ikatan bibi dan keponakan yang sedang dilihatnya. Pemuda ini tersenyum simpul dan membiarkan keduanya menumpahkan perasaan masing-masing.


Rrrrrrt! Rrrt!

__ADS_1


Berselang dua detik kemudian smartphone miliknya yang tersimpan di saku jaket HBT bergetar. Ketika diperiksa, ternyata ada pesan dari Ilham melalui Whatsapp. Merasa bukan waktunya, Ardana sengaja mengabaikannya. Dia tidak ingin merusak suasana haru dan bahagia yang ada di depan mata.


“Ada apa lagi, ya? Nanti saja kubaca pesannya,” desisnya.


Paramitha berbalik badan sambil menyerahkan kunci pada Ardana.


“Dan, aku minta tolong. Buka pintunya, kita bawa bibi ke dalam saja,” katanya sambil mengusap sisa air mata dari kelopak mata.


“Tentu, tidak apa-apa.” Ardana mengambil kunci yang ternyata kunci rumah itu lalu beranjak menuju pintu.


Setelah pintu berhasil dibuka, Paramitha memapah Marni untuk masuk lalu berpindah ke ruang depan. Ardana mengambil inisiatif menuju dapur untuk membuatkan minuman hangat untuk mereka bertiga. Sementara Marni duduk bersandar dengan kedua kaki yang diluruskan, Paramitha mencari-cari kotak obat atau minyak angin di ruang depan hingga ke tengah. Di ruang tengah, dia menemukan sesuatu yang dicarinya. Sebotol kecil minyak angin seukuran jari telunjuk dengan merek lokal.


Minyak angin tersebut kemudian didekatkan pada hidung Marni, untuk menjaga kesadarannya tetap stabil.


“Sayang, kamu minum dulu tehnya,” pinta Ardana sambil meletakkan tiga cangkir teh di atas meja. Dia kembali ke dapur sambil membawa kantung belanjaan.


Paramitha memandangi si pemuda dengan terheran-heran. “Sepertinya lebih baik kamu memanggilku Neng saja, deh. Dipanggil seperti tadi malah aneh bagiku.”


Marni yang mendengarkan mereka ikut mengerutkan dahi. Wanita ini berusaha bangkit dari sandaran lalu menatap Paramitha serius.


“Kamu téh punya pacar, Mitha?” tanyanya penasaran.


Paramitha hanya tersenyum simpul malu-malu. Bagi Marni, sikap keponakannya itu sudah mewakili jawaban yang diberikan padanya. Dia mengangguk sambil mengulum senyum meski sedikit lemah.


“Bibi istirahat saja dulu. Mengobrolnya nanti saja,” kata Paramitha sambil memindahkan kotak obat dari pangkuannya.


Di saat yang sama, Ardana yang masih berada di dapur merapikan kantung belanjaan. Mulai dari sayuran hingga bumbu dapur yang ada di dalamnya dikeluarkan dan ditata rapi di atas meja makan. Tampilan ruang makan yang menyatu dengan dapur sedikit mirip dengan yang dilihatnya di rumah Nina. Hanya saja tampak jauh lebih antik. Warna cat putih sedikit kusam yang juga menutupi dinding dapur semakin mepertegas usia bangunan yang sudah cukup lama. Beberapa perkakas bahkan ada yang berasal dari masa puluhan tahun sebelum Indonesia berdiri sebagai negara mereka. Cukup lama pemuda ini mondar-mandir, melihat satu persatu barang yang menurutnya menarik. Sampai centong sayur bertuliskan angka tahun 1869 di bagian tangkainya diamati dengan saksama dan sesekali dimainkannya, seolah benda tersebut adalah pedang.


Setelah puas menjelajahi seisi dapur, Ardana berpindah ke ruang tengah. Terdapat empat kamar yang semua pintunya dalam keadaan tertutup. Di sana juga ada banyak foto hitam putih yang dipajang di dinding. Para anggota keluarga generasi terdahulu sebelum orangtua Paramitha yang berbaris bersama beberapa orang Belanda dan pribumi lainnya salam balutan seragam militer donkerblauw KNIL. Berlanjut ke foto lain yang menampilkan para pemuda lokal yang menjadi tentara PETA hingga orang-orang yang sama bersama para gadis Palang Merah yang mengenakan seragam TNI generasi awal di Ciamis.


Perhatian Ardana kemudian teralihkan pada salah satu foto yang bagian bawahnya bertuliskan ‘Lombok-expeditie 1894’. Terkurung dalam bingkai kayu dan berada terpisah sendiri di atas meja baca di dekatnya. Ketika dilihat ternyata ada satu peleton serdadu KNIL berisi campuran dari orang Eropa, Indo-Belanda dan Bumiputera dengan latar belakang istana Raja Lombok yang baru selesai ditaklukkan. Semula tidak ada yang tampak menarik sampai matanya tertuju pada satu orang di tengah. Sosok lelaki tampan dari kalangan Indo-Belanda dengan bamboehoed di kepala yang mengacungkan pedang hartvanger ke atas. Tidak seperti rekan-rekannya yang menyeringai gembira, ekspresi lelaki itu tampak getir dengan mulut tertutup rapat.


Pada bagian dadanya tersebut tertulis huruf latin sambung dengan tinta hitam yang membentuk kata ‘Tjatranata’. Wajahnya sangat mirip dengan Paramitha.

__ADS_1


* * * * *


__ADS_2