
Terminal Cicaheum, Bandung
Dua hari kemudian
“Cicaheum...! Cicaheum...! Pemberhentian terakhir...! Ayo! Ayo!”
Suara lantang konektur membuyarkan lamunan Ardana yang duduk di kursi paling depan bagian sisi kiri. Dengan agak malas dia meraih ransel besarnya lalu beranjak turun. Suasana ramai khas terminal langsung menyambutnya. Para pedagang asongan, pengamen, dan penjual makanan lainnya mulai beraksi. Mereka menawarkan barang dagangan kepada setiap penumpang yang hendak berangkat atau baru datang. Tidak ketinggalan, asap hitam dari knalpot bus dan mobil angkot menyeruak begitu mesin-mesin kendaraan itu menderu. Hanya kendaraan yang tampak baru saja yang tidak sampai membuat polusi berat seperti tadi.
Baru belasan langkah kaki dicapainya, beberapa kondektur mobil angkot menghampiri dan menanyakan ke mana dia akan pergi. Ardana menolak halus sambil merapatkan kedua tangan di depan dada. Sudah menjadi pemandangan yang biasa jika penumpang yang turun dari bus langsung dihampiri supir ataupun kondektur angkot yang siap mengantarkan mereka sesuai tujuan trayek. Lagipula tidak ada satu jurusan pun yang berakhir atau melintasi tempat tujuannya.
Ardana enggan untuk cepat-cepat melanjutkan perjalanan. Rasa lapar menuntunnya untuk mencari tempat makan. Dia menjelajahi bagian dalam area terminal hingga akhirnya menemukan sebuah rumah makan yang cukup besar di mana di sana menyediakan aneka kuliner Sunda.
RUMAH MAKAN ABAH EMAN.
Ardana pun memilih masuk ke dalam sana. Tempatnya tidak begitu ramai karena jam makan siang sudah lewat. Setelah mencuci tangan di wastafel, dia memilih meja yang berada dekat dengan jendela di sebelah sisi kiri pintu rumah makan tersebut.
Tidak lama kemudian seorang pelayan wanita berusia lebih muda menghampirinya. Dia mengenakan kemeja kuning lengan pendek dengan celana panjang hitam. Rambutnya yang sebatas bahu tertutupi bandana hijau tua. Wajah ovalnya tampak segar dan sangat serasi dengan warna merah merona samar di pipinya. Kedua matanya yang tidak begitu lebar menjadi daya tariknya, jika setiap pengunjung rumah makan itu mau mengakui ada pelayan yang berparas indah di sana.
“Selamat datang, Akang mau pesan apa?” tanyanya ramah sambil menyerahkan daftar menu.
Ardana menoleh dan sedikit ternganga. Dia terperanjat begitu menyadari gadis muda di hadapannya tidak memiliki mata berwarna hitam ataupun lainnya seperti manusia pada umumnya. Warna mata merah gelap dan kehitaman itu membuatnya tertegun beberapa saat sebelum akhirnya dia tersadar dengan sendirinya.
“Oh? Eh, i—iya, saya….” Ardana kelabakan lalu buru-buru melihat semua makanan yang ada dalam daftar.
“Saya mau nasi tutug oncom, ayam goreng dan sambal terasi. Minumnya… hmmm enaknya sih yang segar, ya? Es jeruk nipis saja.”
Gadis pelayan yang masih muda itu hanya mencatatkan pesanan Ardana tanpa melepas senyum dan ekspresi ramahnya. Ardana mencoba mencuri pandang kembali ke matanya.
“Matanya… itu merah. Aku salah lihat atau bagaimana ini?” batinnya.
“Ada tambahan lagi? Kalau tidak ada, saya akan segera berikan ke bagian dapur.”
Ardana menggeleng pelan.
“Baiklah, silakan menunggu.”
Selesai mencatat, gadis pelayan dengan bandana hijau tua itu mempersilakannya menunggu. Dia meninggalkan Ardana untuk kembali ke dapur yang terletak di balik bilik kayu jati tempat pembayaran dan pengambilan pesanan.
__ADS_1
Dari posisinya Ardana masih bisa melihat gadis pelayan tersebut berbicara dengan salah satu juru masak sambil memberikan nota pesanan. Setelah beberapa detik berlalu dia memalingkan wajah ke arah jendela lalu memejamkan mata. Pikirannya masih terus berputar, mencari tahu apakah yang dilihatnya tadi memang benar-benar nyata atau hanya ilusi semata. Gadis itu membuatnya tertarik. Setelah lama berdebat dengan hatinya sendiri, Ardana memutuskan untuk menanyakan langsung namanya.
Beberapa menit kemudian makanan yang dipesannya datang. Dan yang membawanya adalah orang yang sama. Ardana masih tetap memerhatikan mata si gadis pelayan dengan saksama. Ternyata benar-benar merah kehitaman. Hanya saja jika dilihat dari kejauhan warnanya seolah hitam normal. Entah apakah pengunjung lain juga pernah melihatnya atau hanya dirinya saja.
Pesanan yang terdiri dari nasi timbel lauk ayam goreng dan sambal terasi diletakkan di atas meja. Menyusul segelas es jeruk nipis yang tampak menggiurkan.
“Euh... tunggu dulu!” Ardana memberanikan diri seraya mengangkat tangan kanan.
Gadis pelayan yang sudah membalikkan badan itu urung beranjak kembali ke bilik pemesanan. Suara Ardana yang tiba-tiba sedikit meninggi membuatnya memandang dengan penuh rasa penasaran. Dari sorot mata itu dia tampak seperti orang yang cenderung cemas jika ada pengunjung yang melakukan komplain untuk rasa masakan atau kebersihan tempat.
Ardana yang menyadari tindakannya buru-buru mengendalikan intonasi suara. “Maaf kalau terkesan kurang sopan. Tapi boleh saya tahu nama kamu siapa?”
“Nama saya Paramitha, Kang. Saya pelayan di rumah makan ini,” jawab si gadis pelayan. “Maaf, memangnya ada apa, ya?” tanyanya.
“Tidak, hanya ingin tahu saja. Karena kebetulan saya agak lama berada di Bandung, jadi siapa tahu saya bisa mampir makan ke sini lagi? Saya dengar rumah makan ini jadi favorit para penumpang yang akan berangkat atau baru tiba.” Ardana sengaja berbohong untuk mengetahui reaksi Paramitha.
Paramitha tersenyum tipis, “O, begitu? Iya, orang-orang yang datang ke sini pastinya akan suka kembali lagi. Di sini, semua makanan dan minuman diolah secara higienis. Juru masak di rumah makan ini juga terampil dan hebat.”
“Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu sebentar,” sambungnya sambil sedikit membungkuk dan berlalu dari Ardana.
Ardana tidak menyahut. Pemuda ini mengangguk tanpa dilihat oleh Paramitha. Meski begitu dia masih tetap penasaran dengan mata merah kehitaman yang dimilki oleh pelayan muda tadi. Untuk saat ini dia memilih untuk tidak terlalu memusingkannya. Di depannya ada makanan yang harus segera dihabiskan sebelum meneruskan perjalanan. Lagipula perutnya tidak bisa diajak berkompromi untuk menahan lapar lebih lama lagi. Alhasil, nasi timbel lauk ayam goreng dan sambal terasi merah itu dimakannya dengan lahap.
Dia menghela napas. Mungkin hanya perasaannya saja, pikirnya. Namun tatapan pemuda itu sangat jelas tertuju pada kedua matanya. Dan dia bisa merasakannya.
“Kirain téh kamu akan dimarahi dia. Tidak tahunya menanyakan nama. Tapi, orangnya téh tampan geuning?”
Paramitha refleks menoleh ke belakang. Seorang gadis berambut panjang yang sebaya dengannya sudah berada begitu dekat dengannya sambil menunjukkan ekspresi meledek.
“Ih, aku juga mana tahu? Dia memanggil dengan suara tinggi seperti mau marah,” bisiknya sambil memejamkan mata lalu tersenyum geli.
Sumita ikut memerhatikan Ardana yang tengah makan. Tidak sampai satu menit dia pun kembali mengalihkan pandangan pada Paramitha.
“Ngomong-ngomong besok kamu akan pulang ke Ciamis, kan? Nanti titip kiriman untuk orangtuaku, ya?” pintanya.
Paramitha mengangguk. “Pasti, kamu mah tidak perlu cemas atuh, Sumit,” ucapnya penuh percaya diri.
“Aku mau ke belakang. Cuci wajah dulu.” Meninggalkan Sumita yang masih memerhatikan Ardana.
__ADS_1
Sesampainya di toilet, Paramitha tidak melakukan apapun. Dia mengunci pintu lalu berdiri dengan bertopangkan pada kedua tangannya di depan cermin wastafel, mmenatap kedua matanya dari pantulan di cermin yang sangat bening. Kedua mata merah kehitaman yang membuat hidupnya berubah sejak masih kecil. Mata yang tidak pernah diharapkannya karena mengundang bala dan masalah ke dalam hidupnya. Di masa lalu, nasibnya kurang beruntung. Orang-orang menjauhi dirinya, menganggap dirinya sebagai petaka. Sebagai gadis kecil sebatang kara dia sudah kenyang dengan asam garam kehidupan yang menyedihkan.
Hanya Sumita dan kedua orangtuanya yang tetap membelanya. Ketika lulus dari SMP, mereka sepakat untuk mengungsikan Paramitha ke Bandung dan tidak lagi tinggal di Ciamis. Di kota kembang itulah dia bekerja paruh waktu pada salah satu kerabat orangtua Sumita, kemudian nasib membawanya ke pekerjaan lain sebagai pelayan di rumah makan terkenal yang ada di tengah area Terminal Cicaheum. Urusan memilih tempat tinggal, Paramitha mengisi salah satu rumah kosan di Antapani dan berbagi tempat bersama penghuni lainnya termasuk Sumita. Untuk sementara dia bisa melupakan semua pengalaman buruk yang pernah dialaminya.
Namun, ada satu kejadian yang tidak pernah bisa dilupakannya. Pengalaman yang membuatnya sering mengalami mimpi buruk.
* * * * *
Belasan tahun lalu
Gadis kecil itu menangis ketakutan ketika seorang prajurit TNI dengan emblem khusus bergambar ular dan pisau komando di lengan kanan menariknya dengan paksa. Tidak hanya di situ, dia juga dipaksa untuk jangan menoleh ke kiri dan kanan. Entah apa yang ada di pikirannya. Suara jerit ketakutan dan raungan kematian yang jelas bukan sesuatu yang bagus untuk perkembangan dirinya. Namun apa daya, takdir membuatnya mengalami nasib yang tidak pernah dialami anak-anak lain yang seusia dengannya. Meski tidak boleh melihat, gadis ini mendengar semuanya dengan jelas. Dia pun sempat meraung karena tidak sanggup lagi.
“Ibuuu…! Mitha takut, bu…!” Tangisan gadis kecil ini semakin keras.
“Diam! Jangan menangis, abaikan saja! Dan berhentilah memanggil-manggil ibumu yang sudah mati!” hardik si prajurit.
Bukannya berhenti, tangisannya menjadi lebih keras. Si prajurit yang tidak peduli tetap membawanya melewati lorong berdiameter enam meter. Meski terlalu banyak jalur di sekelilingnya, dia tahu harus menuju ke mana. Lampu yang menyala temaram bahkan tidak menyulitkan atau mengganggunya, selain suara-suara tadi. Dalam hatinya dia merasa jujur dan mengakui dirinya menjadi gentar setiap kali masuk ke dalam tempat yang berada di kedalaman sepuluh meter dari bawah permukaan tanah itu. Padahal sebagian besar jamnya dihabiskan di sana. Berjaga dan berpatroli selalu dilakukannya di tempat tersebut.
Jdug!
Suara benturan di sisi kiri membuatnya sempat terkejut. Nyaris saja anak kecil dalam genggamannya terlepas. Begitu menoleh ke sumber suara, kedua matanya membelalak. Wajahnya yang semula garang berubah menjadi ekspresi ketakutan dan ngeri yang tidak tertahankan.
Seorang lelaki berambut kumal dengan leher terlilit tentakel merah berlendir meronta-ronta. Tangannya terus memukul-mukul kaca anti peluru yang juga kedap suara. Mulutnya membentuk huruf ‘O’, yang diartikan sebagai permintaan agar dia ditolong. Sia-sia saja usahanya. Dari kiri dan kanannya muncul belasan tentakel lain yang langsung menusuk kedua telinganya hingga tembus ke bagian belakang kepala. Tubuhnya bergetar hebat beberaa detik sebelum akhirnya mengejang dan tidak lagi bergerak. Kedua matanya yang mendelik tajam seakan membeku dan perlahan menjadi lebih dingin.
“Ah, gila! Kenapa aku harus menonton kengerian itu?!” makinya sambil bergegas.
Setelah menyusuri lorong dengan mengambil jalur lurus, mereka tiba di sebuah ruangan yang ditutup dengan pintu baja solid. Kedua prajurit TNI dengan emblem yang sama membiarkannya masuk. Di dalam sana sudah menunggu tiga orang pria paruh baya dengan mengenakan jas putih yang menjuntai sampai ke lutut. Tidak ada kesan ramah yang muncul. Semuanya menatap dengan sinis ke arah si prajurit pembawa gadis kecil yang ada di hadapan mereka sekarang.
“Oh, jadi ini anaknya? Rewel sekali tampaknya.” Salah satu dari mereka yang merasa risih langsung mendekat.
“Suara tangisnya saja bisa didengar dari jauh,” sahut yang lain.
Si prajurit hanya diam. Gadis kecil itu masih terus menangis ketika tiga lelaki berjas putih tadi menyeretnya ke ruangan lain yang lebih gelap. Dia meronta-ronta namun tenaganya jelas kalah jauh dibandingkan dengan ketiga orang dewasa yang kini membelenggu gerakannya.
“Tenang saja, Nak. Matamu yang sekarang akan diganti dengan mata yang lebih indah!” seru mereka.
“Ibuuuuu…! IBUUUUU….!”
__ADS_1
* * * * *