Petaka Biohazard: Lorong Kematian

Petaka Biohazard: Lorong Kematian
Jeratan Tentakel Merah


__ADS_3

Daun yang berguguran kini bukan hanya belasan saja, jumlahnya terus bertambah. Beberapa helai bahkan sudah mulai tersebar di sekitar Ilham dan hanya di sekitar mereka saja. Ardana mengerutkan dahi dan mulai berpikir ada yang aneh. Apalagi sekarang terdengar suara gemerisik dari atas meski samar-samar. Ilham yang masih memerhatikan bangkai kambing di depan mereka mulai merasa terganggu. Dia berdiri lalu menghampiri Ardana sambil sesekali mendongakkan wajah ke arah dahan pohon.


“Daun-daun ini... kenapa hanya berguguran di sekitar kita saja?” gumam Ardana.


Ilham menggeleng, “Entah, tapi yang jelas bukan karena diterpa angin. Kalaupun iya, seharusnya tidak hanya di sekitar kita saja.”


Tidak lama kemudian, daun-daun berhenti berguguran dari atas mereka. Sekali lagi Ardana dan Ilham sama-sama mendongak.


“Sekarang berhenti. Sebaiknya kita teruskan perjalanan, kita susuri bagian selatan,” kata Ilham yang sudah lebih dulu bergerak.


Kedua lelaki berseragam ini meneruskan perjalanan. Dari bagian timur ke selatan, medan di Hutan Sirnasurya memiliki tingkat kesulitan yang cukup merepotkan. Selain akar pohon, tanah yang lebih basah dan lembek di sana juga cenderung licin. Ardana dan Ilham terpaksa berjalan lebih rapat agar bisa bertindak cepat ketika membela diri dari serangan tidak terduga atau salah satu dari mereka tidak sengaja terjatuh. Namun sebisa mungkin untuk tidak mengalami luka yang akan menghambat.


Baik Ardana dan Ilham, keduanya sama-sama tidak ingin saling merepotkan. Keduanya juga harus beradaptasi dengan cepat menghadapi hawa dingin yang lebih kuat di sisi selatan hutan. Ardana benar-benar bersyukur karena syal merah marun pemberian Paramitha sangat berguna untuk kondisi demikian. Sambil kedua matanya menyapu situasi sekitar, pemuda ini tersenyum membayangkan bagaimana gadis itu memberikan benda tersebut padanya. Duduk berdua memisahkan diri di beranda dari Ilham dan Nina, tangan kanan Paramitha menggenggam kotak kayu kecil berukiran indah. Di dalamnya terdapat sebuah gulungan kain syal. Ardana tidak mengambilnya sendiri, namun si pemiliknya yang mengambilkan.


Yang jelas, Paramitha sangat senang melihat Ardana mau menerima syal merah marun pemberiannya. Meski kemudian terjadi momen yang membuat keduanya saling membuang muka dengan salah tingkah. Ardana tahu-tahu dan tanpa sadar menggenggam tangan Paramitha saking senangnya. Si pemuda baru menyadari setelah melihat wajah gadis itu tersipu kemerahan.


“Tidak kusangka. Gadis itu pemberani dan galak, tapi sekaligus pemalu,” desisnya. Setidaknya dengan membayangkan kembali hal yang terjadi tadi pagi lebih baik daripada mengikuti ketegangan yang sudah mulai menghinggapi pikirannya.


Dets!


Pemandangan Ardana tiba-tiba gelap gulita. Semua benda yang ada di sekitarnya hanya terlihat siluet samar saja.


“Apa? Lampu bobrok sampah!” umpatnya kemudian.


Cahaya senter LED di bagian depan helm kevlarnya tiba-tiba mati. Sedetik kemudian dia sadar benda itu lupa diisi ulang setelah penggunaan sebelumnya. Ardana merasa seperti orang bodoh sudah mengumpat sesuatu yang disebabkan kelalaiannya sendiri. Sialnya, dia tidak mendengar suara Ilham. Lelaki itu sudah tidak ada di depannya.


“Pak Ilham? Pak...!” panggilnya berulang-ulang.


“Pak Ilham...! Bapak di manaaa...?!”

__ADS_1


Tidak ada sahutan dari orang yang dituju.


“Aduh, bisa kacau urusannya,” keluhnya, “kalau Pak Ilham tahu aku sudah tidak berada di belakangnya bisa gawat ini.”


Sambil merogoh-rogoh pouch peralatan yang ada di bagian pinggang belakang, Ardana berharap semoga dia menemukan batere cadangan untuk senter LED-nya. Atau benda apapun yang bisa menyala dalam kegelapan. Tidak mungkin juga baginya untuk kembali. Karena akan sangat sulit apalagi dia yakin sudah berada jauh ke tengah hutan. Cerita-cerita seram di Hutan Sirnasurya yang dulu biasa dibacanya di internet mulai meracuni pikirannya. Rasa takutnya mulai bangkit.


“Bodoh! Mana, sih? Batere atau senter kecil cadangan kalau lupa bawa bisa kena semprot nanti di markas pusat!” Ardana mulai kesal sendiri sambil terus merogoh-rogoh.


Pemuda ini bisa bernapas lega setelah menemukan sebuah senter kecil seukuran whiteboard marker yang tertimbun peralatan lain di dalam pouch. Benda kecil itu dinyalakannya dengan cepat. Meski ukurannya tidak besar, namun dengan teknologi canggih terkini daya listrik yang ditampungnya cukup besar sehingga ketika dinyalakan mampu menghasilkan cahaya putih yang lebih terang dari senter LED biasa.


Cahaya senter mula-mula disorotnya ke bagian tanah di sekitarnya. Dia terkejut karena tidak menemukan jejak sepatu Ilham dimanapun. Kondisi tanah yang basah masih tampak alami tanpa ada sentuhan jejak manusia yang tertinggal. Yang ada di hadapannya hanya akar yang menyembul dari dalam tanah dan dedaunan yang sudah gugur.


Ardana menghela napas dan mencoba tenang. “Sepertinya aku tersesat jauh ke tengah. Bagaimana ini?”


Di tengah kebingungannya, Ardana mencoba terus berjalan. Berbekal kompas baja miliknya, dia mencoba menemukan jalan sendiri ke tengah hutan untuk mengambil jalan pintas ke arah utara, tepatnya ke Desa Cikembang. Nasibnya jadi lebih sial manakala alat komunikasi mirip Bluetooth headset di telinga kirinya mengalami kerusakan mendadak.


“Nasib, nasib... rasanya seperti dikerjai senior Pramuka ketika masih bersekolah di SMP!” gerutunya.


Dalam jarak enam belas meter di depan, Ardana melihat sesuatu. Dia mencoba menegaskan kedua matanya untuk mengenali lebih jelas. Tampak seseorang duduk bersandar degan wajah menunduk di bawah salah satu pohon besar. Di sebelahnya ada benda hitam besar yang menurut tebakan Ardana adalah sebuah ransel gunung. Penampilan orang tersebut seperti petualang pada umumnya, bercelana panjang, bersepatu, mengenakan jaket berbahan parasut yang tampak tebal dan tidak ketinggalan topi kupluk bulu di kepala. Hanya bagian kiri tubuhnya yang bisa terlihat oleh Ardana.


“Hm? Jangan-jangan ada orang hilang baru lagi,” gumamnya.


Ardana memutuskan untuk mendekat. Orang itu tampaknya tidak begitu peduli dengan kehadiran Ardana.


“Maaf... euh, kamu tersesat juga, ya? Mari, kita sama-sama keluar dari ini!” ajak Ardana.


Tidak ada respon dari orang yang diajak. Ardana terkejut dan heran. Dia menahan langkah sejenak untuk mengokang senjatanya. Siapa tahu kalau petualang yang ada di depannya enggan ikut karena merasa terancam atau ada bahaya lain di dekat mereka yang mengincar keselamatannya?


“Saya tentara dari Baihaqi Armed Corps. Tidak apa-apa, saya bawa senjata untuk berjaga,” kata Ardana sambil terus mendekat dengan perlahan. Senjatanya teracung ke sekelilingnya.

__ADS_1


Orang itu masih tetap diam seperti tidak mendengar. Terpaksa, Ardana menyorotkan cahaya senternya langsung ke bagian wajah. Tidak ada yang aneh. Petualang yang tidak diketahui identitasnya tersebut seperti tertidur.


Mengetahui orang yang didekatinya sedang tidur, Ardana memilih berada lebih dekat dari sebelumnya.


Tangan kirinya menepuk-nepuk paha si petualang beberapa kali. Masih tidak ada respons.


“Jangan-jangan....” Ardana segera mendekatkan jari telunjuknya ke hidung petualang di depannya. Kedua mata si pemuda mendelik. Tidak ada hembusan napas sama sekali.


Masih tidak percaya, dia mencoba memeriksa denyut nadi di bagian pergelangan tangan. Tidak ada detak jantung yang bisa dirasakannya.


Ardana mendesah karena tidak tahu kalau si petualang sudah meninggal. Dengan sedikit berat hati dia berdiri lagi sambil menggantungkan senjatanya di balik punggung lalu memeriksa ransel gunung di samping jasad yang tidak bernyawa itu. Namun betapa terkejutnya dia ketika tidak sengaja melihat bagian kanan tubuh si korban. Bagian wajah kanan hingga dada ke bawah menganga dan terkoyak parah. Tangan kanannya tidak ada. Darah yang berhamburan pun sudah mengental. Insting Ardana langsung bekerja cepat untuk menyadari korban mati karena dibunuh oleh sesuatu yang sangat tajam.


Sambil terburu-buru, Ardana berusaha mengabadikan penemuan mayat dengan kamera smartphone miliknya.


“KHAMMU... MAU AJJAK SSAYYA PULLAAANG?! INI... THEMPHAAAT SHAYYAAAKKHH...!!!”


Ardana refleks menoleh dan langsung mundur karena kembali terkejut. Jasad si petualang tiba-tiba berdiri seperti manusia yang masih hidup. Tanpa sempat menghindar, leher si pemuda terjerat sesuatu yang lunak namun menyakitkan. Ardana sempat melirik sambil membelalak kesakitan. Dari bagian kanan tubuh mayat petualang itu muncul empat tentakel merah gelap berselimut lendir kuning transparan.


Makhluk yang baru bangkit itu menyeringai. Gigi-giginya tidak lagi mirip manusia namun sudah berubah menjadi barisan taring runcing yang berlumuran darah. Matanya yang merah menyala sekarang mendelik kegirangan.


“Aaaaakkhhh...! Lepaskan...!” Ardana meronta-ronta namun gagal melepaskan jeratan tentakel di lehernya. Dia mulai kesulitan bernapas.


“KHAMU AKAN JHADHI MAKHHANAN SAYAAAKHH... HRRRRRRRGGGRRRR...!!!”


Clap! Clap! Clap!


Sementara makhluk itu meracau akan memakannya, Ardana teringat dia masih menyimpan pisau survival. Tanpa menunggu lagi dia bergerak cepat. Mencabut benda tajam itu lalu menghujamkannya berkali-kali pada lilitan tentakel di lehernya. Makhluk mutan di depannya meraung kesakitan penuh kegeraman. Dengan tentakelnya, Ardana dibanting ke arah kiri dengan sangat keras.


Bugh!

__ADS_1


“Aaaaakh!”


* * * * *


__ADS_2