Petaka Biohazard: Lorong Kematian

Petaka Biohazard: Lorong Kematian
The Legacy of Catranata


__ADS_3

Ardana tidak berani bersikap macam-macam karena dia sudah tahu siapa tuan rumah yang didatanginya. Ilham Jati Rahwana, begitulah namanya lengkapnya yang diketahui olehnya. Sesuai namanya juga, orang ini bertubuh cukup tinggi dan lebih tegap dari yang dilihat di foto. Usia yang sudah mendekati tua tidak bisa dijadikan patokan untuk meremehkannya, dan memang tidak akan pernah bisa dari segi apapun.


Sekitar dua puluh tahun yang lalu Ilham masih seorang anggota Grup 3 Kopassus dengan pangkat Letnan Satu. Meski hanya seorang perwira menengah, sudah banyak peranan penting yang dimainkannya. Melakukan infiltrasi, pertempuran berdarah melawan gerilyawan separatis, penyelamatan darurat dan misi kemanusiaan lainnya adalah masa lalunya yang sampai detik ini masih dibicarakan banyak orang.


Orang besar ini lalu pensiun dengan pangkat mayor di tahun 2008, lalu pindah ke Bandung. Dari sana, dia memutuskan untuk ikut mendirikan perusahaan militer swasta Baihaqi Armed Corps bersama Syamsir Al-Baihaqi dan sejumlah tokoh tua Milisi Keadilan yang berjasa menggulingkan diktator Johan Facturia. Meski dikenal dengan kegarangannya di masa lalu, di hari ini Ardana melihatnya sebagai lelaki tua yang berpenampilan sederhana. Sangat kontras dengan kediamannya yang cenderung menunjukkan kualitas kalangan menengah ke atas dengan penataan rumah yang sangat rapi.


Setelah mandi dan beristirahat selama beberapa menit, pada malam hari Ilham mengajak Ardana untuk membahas tugas yang akan dilakukan di bagian belakang rumah. Di sana terdapat taman kecil dengan luas 4x8 meter yang dibatasi dengan dinding setinggi tiga meter dengan sepertiga bagiannya adalah kolam yang dihuni aneka ikan hias. Asisten rumah tangga sudah menyiapkan dua cangkir kopi ginseng dan makanan kecil yang diletakkan di atas meja. Area belakang rumah tersebut juga menjadi penyimpanan benda-benda antik dari berbagai daerah yang dikumpulkan oleh Ilham ketika masih muda.


“Saya terkejut, mereka mengirim anak baru untuk melakukan tugas yang seharusnya dilakukan tim elit. Tapi karena kamu sudah terlanjur ada di depan saya, rasanya sangat tidak pantas kalau saya mengirim kamu kembali pulang. Sudahlah, diminum saja dulu kopinya.” Ilham menyeruput kopi tanpa mengalihkan pandangan dari Ardana yang duduk di hadapannya.


Ardana masih diam tanpa melakukan apa-apa. Berhadapan dengan orang besar yang berada di balik layar membuatnya menjaga sikap terlalu baik. Bahkan setelah Ilham mengambil sekeping biskuit, dia tetap diam.


Tentu saja si tuan rumah merasa heran melihat sikap tamu mudanya. “Kenapa diam? Nanti kopinya akan dingin. Jangan terlalu tegang, kita tidak sedang bersiap untuk latihan di Batujajar!”


Merasa mendapat lampu hijau, Ardana mengambil kopi ginseng bagiannya. Aroma ginseng dan rempah tambahan pada kopi menyambut indera penciumannya.


“Pertama-tama saya akan memberitahu sesuatu padamu. Sebenarnya saya juga diminta untuk mengawasimu, apakah kamu bekerja dengan baik atau malah sebaliknya. Semua data diri dan transkrip hasil pelatihanmu sudah saya terima sejak hari pertama kamu diterima di Baihaqi Armed Corps. Saya pikir karena pencapaianmu termasuk yang paling bagus dan tidak ada orang lagi, jadi kamu yang dikirim ke sini. Baiklah, langsung saja kalau begitu. Kamu pasti pernah mendengar tentang hutan buatan di selatan Ciamis?” Ilham menatap lurus ke mata tamunya.


Ardana tidak menanggapi dengan kata-kata. Dia menyondongkan badan ke depan dan mengangguk.


“Ada sesuatu yang aneh dengan hutan tersebut bahkan setelah diresmikannya oleh pemerintahan Johan Facturia. Dari bagian titik ujung timur ke selatan bagian tengah hutan dilarang untuk dimasuki oleh penduduk lokal maupun dari luar Ciamis. Tetap saja ada yang masuk secara diam-diam dan tidak terdeteksi, karena justru di sana terdapat lebih banyak berbagai flora indah. Sayangnya mereka yang sudah masuk ke tempat-tempat terlarang itu tidak pernah diketahui lagi nasibnya. Setelah kejatuhan Facturia, kepolisian langsung membuka kasus-kasus orang hilang di hutan itu. Sampai kemudian mereka angkat tangan karena hasilnya nihil. Terhitung sejak peresmiannya di tahun 2011 hingga saat ini, sudah ada sekitar 500 lebih laporan orang hilang di sana.


Sejak kasus orang hilang tersebut mulai ramai di awal tahun 2010, tidak ada yang berani melakukan penyelidikan. Akhir tahun kemarin, saya dan kepolisian mencoba menginterogasi para mantan penjaga hutan yang pernah bertugas di sana. Orang-orang in, yang semula mengatakan tidak pernah melihat ada orang yang masuk ke sana akhirnya berterus terang namun tidak berani bersaksi selama pemerintahan Facturia berdiri. Hanya saja tidak pernah diketahui bagaimana para korban menghilang.” Ilham kembali menyeruput kopinya sambil menerangkan semua yang diketahuinya.


Dia lalu mengeluarkan selembar foto ukuran 5R dari saku kemejanya.


“Orang di foto ini adalah salah satu korban selamat yang berhasil saya temukan dalam pencarian data dan sampai sekarang masih dalam pengawasan kami. Dari informasi yang saya dapat, ketika masih kecil dia dibawa ke sebuah tempat rahasia yang diercaya ada di hutan tadi. Ada satu kejanggalan pada kedua matanya yang membuat kami yakin ada sesuatu yang dilakukan oleh para ilmuwan Facturia di sana selama dia berkuasa. Kami sempat mencemaskan kalau itu akan berakibat buruk pada kesehatannya dalam jangka waktu yang panjang, namun sejauh ini dia baik-baik saja. Kami belum bisa menanyakan langsung padanya soal kasus ini, ada trauma psikis yang sangat besar dialaminya dan itu membuatnya enggan bicara,” terangnya.


Ardana memintanya. “Boleh saya lihat, Pak?”


Ilham mengangguk, “Silakan, kamu bisa lihat dengan mendetail.”

__ADS_1


Setelah foto itu berpindah ke tangannya dan tampak jelas, Ardana terperanjat hingga nyaris tersentak mundur.


“Gadis ini…,” desisnya.


“Kenapa, Dan? Kamu mengenalnya?” Ilham mengerutkan kening melihat ekspresi kaget Ardana.


Ardana melirik Ilham dengan serius.


“Tadi siang saya bertemu dengannya, Pak. Dia seorang pelayan di rumah makan di area Terminal Cicaheum,” ungkapnya seraya bersandar.


Ilham mengangguk sambil memejamkan mata sesaat.


“Kamu benar, dia biasa dikenal sebagai Paramitha Mulya. Sama seperti kebanyakan orang, kamu hanya tahu dia bekerja sebagai pelayan dan tinggal di rumah kos sekitar Terminal Cicaheum. Tapi nama belakang aslinya bukan itu. Dia berasal dari keluarga Catranata, jadi nama lengkapnya adalah Paramitha Asmarani Catranata. Anak ini juga salah satu garis penerus keluarga tersebut, yang hampir habis karena disingkirkan para kaki tangan Facturia,” tuturnya pada Ardana.


Mendadak lelaki paruh baya ini mendesah berat. Kedua matanya menyiratkan sesuatu yang sangat tidak disukainya tentang obrolan mereka. Ardana enggan menyinggungnya lebih jauh karena tampaknya akan sangat tidak baik untuk relasi mereka berdua nantinya. Dengan tenang dia menuggu Ilham melanjutkan kembali penuturannya.


“Yang membuat saya sedih sekaligus marah adalah saya baru tahu kalau Paramitha adalah putri semata wayang dari Linggasatria Catranata dan istrinya, Erni Suherni. Mereka berdua adalah teman saya sejak kami masih sama-sama tinggal di lingkungan yang sama. Saat itu saya belum mengetahuinya, dan ketika menemukan bukti-bukti yang mengarah ke sana, rasanya sesak sekali. Sampai akhir hayat keduanya tidak pernah bercerita pada saya kalau mereka sudah memiliki satu-satunya anak perempuan.”


Ardana menghela napas, pelan. Entah mengapa dia juga merasakan sesak ketika mendengarkan penuturan Ilham mengenai gadis pelayan yang tadi siang ditemuinya. Secara tidak langsung ternyata berhubungan dengan tugas yang akan dilakukannya.


“Iya, dia sesekali datang ke sini membawakan makanan. Anak itu sudah seperti anakku sendiri. Meski nasibnya tidak beruntung tetapi dia tampak tidak memiliki beban. Selalu tersenyum ramah pada orang yang mengenalnya. Terakhir kali berkunjung ke sini tiga hari yang lalu. Ketika itu dia mengatakan ingin pulang ke Ciamis,” jawab Ilham sambil mengusap wajahnya.


“Tapi saya sempat melarangnya. Respon orang-orang di kampung halaman terhadapnya sangat negatif. Dia dianggap sebagai petaka penyebab kematian kedua orangtuanya sendiri dan hilangnya orang-orang di hutan buatan Ciamis itu. Orang-orang kampung yang terlanjur percaya takhayul itu sampai sekarang belum tahu apa yang sebenarnya terjadi karena propaganda kaki tangan Facturia di masa lalu. Padahal keluarga Catranata sampai nyaris habis demi membela hak-hak mereka, sampai akhirnya pusaka penerus keluarga itu harus mengarungi jalan hidup yang tidak seharusnya,” sambungnya lagi.


Tidak ingin ikut larut dalam obrolan masa lalu yang menguras emosi, Ardana segera mengalihkan pembicaraan dan mencoba mencari bahan pembicaraan lain. Tiba-tiba kedua matanya membelalak sedikit, teringat akan sesuatu yang membuatnya panik.


“Oh! saya hampir lupa sesuatu. Sebenarnya saya sudah mendapat jatah senjata, Pak. Tapi... saya lupa membawanya.” Ardana menelan ludahnya sendiri.


Ilham melotot tepat ke arah Ardana. “Apa? Jadi kamu ke sini tidak bawa perlengkapan senjata?!”


Ardana merasa seperti ingin menjungkalkan diri ke belakang dari kursi yang sekarang didudukinya.

__ADS_1


* * * * *


Dari kamarnya yang berada tepat di bagian depan dan menghadap ke luar, Paramitha memandangi lanskap kota Bandung yang dapat dijangkau dengan kedua matanya. Kehidupan malam hari di kota itu nyaris seperti Jakarta. Seolah tidak berhenti, terus menyambung dengan aneka ragam kegiatan. Lampu-lampu yang menyala dari rumah maupun pusat keramaian di kejauhan seolah mampu menghiburnya dari sesuatu yang selalu membuatnya tidak bersemangat menjalani hidup.


Semua barang dan pakaian yang diperlukan sudah disiapkan bersama backpack besar yang akan dibawa. Kamar kosan berukuran 8x4 itu sedikit demi sedikit kembali tertata rapi. Selimut, sprei dan bantal sudah menjadi sasaran pertama untuk dirapikan. Menyusul isi lemari pakaian dan kamar mandi yang juga dibersihkan. Lantai kamar pun masih sedikit basah setelah dipel sekitar dua menit yang lalu.


Pulang agak malam tidak lantas membuat Paramitha memasrahkan diri untuk jatuh ke pelukan kenikmatan dari kasur yang empuk. Sebisa mungkin kamar tempatnya bernaung harus rapi dan bersih. Begitu pula dengan tubuhnya. Beruntung uang kos bulanan sudah dibayarkannya begitu menginjakkan kaki di beranda, sehingga dia tidak perlu pusing memikirkan tagihan dari ibu pemilik kos yang cerewet. Apalagi wanita paruh baya itu didapatinya sedang duduk sambil minum teh dan menikmati camilan. Seolah sedang menanti kepulangannya karena tahu tanggal ini adalah tanggal kedatangannya di rumah kosan ini dahulunya.


“Tah, nu kieu anu alus mah! Bayar uang kos bulanan tepat setiap tanggal kedatangan tiba. Seharusnya penghuni lain téh meniru kamu, Mitha.”


Paramitha hanya bisa menyunggingkan senyum sambil mengangguk pamit ke dalam.


Meski cerewet dalam soal menagih uang bulanan, ibu pemilik kos yang dikenalnya dengan panggilan Ibu Sugama sebenarnya adalah sosok pengayom yang penuh kasih sayang dan loyal dengan urusan uang. Diam-diam, Paramitha merasa sangat senang dan menyayangi ibu pemilik kosnya tersebut. Wanita itu seolah menjadi pengganti kedua orangtuanya. Ketika dirinya pertama kalinya menjadi penghuni rumah kosnya, wanita itu yang selalu menjadi walinya ketika ada rapat, pembagian rapot bahkan kelulusannya.


Perlakuan wanita tersebut terhadap penghuni rumah kosnya lain yang notabene masih remaja pun sama. Ketika ada salah satu dari mereka yang sakit, dengan sigap dia membawa pesakitan ke puskesmas atau rumah sakit. Menurut kabar yang tersebar wanita bernama asli Heni Sugama itu memiliki kekayaan yang banyak, sangat kontras dengan penampilan sehari-harinya yang biasa saja. Rumah kos yang dihuni Paramitha dan teman-temannya disebut-sebut baru seujung kuku dari sekian banyak asetnya.


“Besok kamu téh jadi pulang ke Ciamis?”


Paramitha menoleh dan tersenyum tipis. Heni sudah berada di depan pintu kamarnya yang terbuka.


“Muhun, Bu. Sudah lama tidak pulang ke sana. Mungkin satu minggu lebih akan berada di sana.” Gadis ini menghampiri ibu rumah kosnya dengan santai.


“Padahal jarak dari Bandung ke Ciamis teh henteu jauh, henteu nepika meuntas laut. Maneh mah sok aya-aya wae! Kabur dari kampung halaman meureun, nya?” tukas Heni sambil berkacak pinggang yang menjadi gaya khasnya.


Paramitha nyaris tidak mampu menahan tawa. “Karena saya terlalu konsentrasi pada sekolah dan sekarang pekerjaan, rasanya seperti tidak punya kampung halaman tempat pulang, Bu.”


Heni melangkah masuk ke kamar putri kosnya. Lalu dengan tenang duduk di samping Paramitha dan mengacak-acak sedikit rambut si gadis.


“Mana ada orang tidak punya kampung halaman? Pasti punya atuh, tinggal kitanya yang ingin pulang atau hanya menonton dari jauh saja,” katanya dengan gemas.


Hanya senyuman simpul yang kembali dimunculkan oleh Paramitha.

__ADS_1


“Baiklah. Nanti pulang dari sana Mitha bawakan sesuatu, Bu.”


* * * * *


__ADS_2