Petaka Biohazard: Lorong Kematian

Petaka Biohazard: Lorong Kematian
Kecemasan Seorang Ilham


__ADS_3

Ilham, Odang dan beberapa warga desa yang lain masih berada di TKP. Jasad lelaki malang yang sudah diturunkan dari pohon dibiarkan tergeletak beralaskan daun pisang dan ditutupi terpal. Mobil jenazah masih dalam perjalanan dan belum muncul. Setelah mengorek keterangan sana-sini, Ilham baru tahu kalau korban adalah seorang pemburu liar dari desa tetangga. Lelaki paruh baya ini menyayangkan keputusannya untuk segera meninggalkan Hutan Sirnasurya semalam, seandainya dia tahu ada orang lain yang berada di sekitar hutan. Sangat kuat kemungkinan bahwa makhluk hitam itu menemukan mangsa baru setelah melarikan diri darinya dan Ardana. Lalu korban yang panik dan ketakutan tidak dapat melawan hingga akhirnya tewas secara mengenaskan.


Beberapa saat kemudian Ardana muncul dengan sedikit terengah-engah. Dia kemudian mendekati Ilham sambil memandang ke arah mayat yang terbujur kaku.


“Pak, tadi saya lihat Paramitha mendadak muram begitu sampai ke sini. Maksud saya, ketika melihat mayat itu,” katanya memberitahu.


“Saya tahu itu akan terjadi,” sahut Ilham, “berarti dugaan saya tentang traumanya tentang hutan ini benar, Dan.”


Ardana mengalihkan tatapannya ke arah Hutan Sirnasurya yang tetap tampak menyeramkan dengan nuansa suram. Seperti halnya Ilham, dia mulai meyakini ada sesuatu yang mengerikan di dalam sana. Makhluk hitam yang mereka hadapi semalam baru satu dari beberapa hal buruk lain yang belum mereka temui.


Dari kejauhan terdengar suara sirine mobil jenazah. Kendaraan berwarna putih itu melaju dengan kecepatan rendah ke arah kerumunan warga yang perlahan membubarkan diri untuk memberi jalan. Setelah berhenti, dua petugas dengan rompi Palang Merah Indonesia turun membawa tandu. Empat orang warga yang melihat itu langsung memindahkan jasad korban yang nyaris tercacah. Darahnya masih sempat menetes ketika jenazah diangkat ke dalam mobil.


Di antara kerumunan warga yang mulai berbisik dan bergunjing, Ardana dan Ilham hanya berdiri mematung melihat proses pemindahan jenazah tersebut. Beberapa saat kemudian mobil jenazah berputar balik dan kembali ke arah ia datang, masih dengan menyalakan sirine yang cukup keras.


Dengan dibantu oleh enam orang polisi yang berjaga, Odang dan perangkat desa lainnya menghalau warga agar menjauh dari TKP. Petugas forensik masih terus bekerja untuk merangkai teka-teki kematian korban melalui temuan barang bukti yang dapat dianalisa.


“Saya berani bertaruh petugas forensik hanya akan mandek sampai pada pembuktian mengenai bagaimana korban bisa tewas dan digantung di dahan pohon,” tebak Ilham. Dengan hati-hati dia memisahkan diri dari kerumunan.


Ardana mengekor di belakang. Semakin lama, penduduk yang berdatangan juga bertambah jumlahnya. Meski jenazah sudah dibawa ke rumah sakit Kota Ciamis, namun mereka tetap berbondong-bondong sekadar ingin melihat lokasi kejadian dan petugas forensik yang masih terus mengumpulkan bukti-bukti.


“Berarti nanti malam kita kembali ke Sirnasurya, Pak?” tanya Ardana setelah mereka menjauh dari kerumunan.


“Iya,” jawab Ilham, “kita akan kembali ke sana nanti malam. Semoga saja tidak bertemu makhluk aneh lagi.”


Ardana menoleh sesaat ke arah Hutan Sirnasurya yang sudah jauh dari jangkauan mata. Melihat reaksi Paramitha tadi membuatnya penasaran. Pemuda ini memang sudah memiliki klu yang didapat dari cerita Ilham, namun tetap saja dia belum bisa menemukan jawaban. Untuk bisa memecahkan teka-teki yang kini dihadapinya, mau tidak mau harus lebih membahayakan diri sendiri. Meskipun masih ada waktu maksimal dua minggu ke depan, Ardana tidak ingin berlama-lama menanganinya atau akan ada korban lagi yang terkena imbasnya.


“Kita pergi ke rumah di mana Paramitha menumpang, ayo!” ajak Ilham tiba-tiba.


“Eh? I—iya, Pak,” sahut Ardana.


“Kamu tahu tempatnya, kan? Tunjukkan pada saya.”


Ardana menghela napas pelan agar tidak terdengar oleh Ilham. Dia baru saja tiba dari sana, dan sekarang harus kembali ke tempat yang sama. Namun, seperti biasa dia tidak menunjukkan bantahan. Dengan dipandu olehnya, mereka tetap berjalan kaki menuju bagian pemukiman tengah desa. Setelah memakan waktu hampir tiga puluh menit, keduanya sudah sampai di dekat pekarangan rumah Nina. Dari luar rumah itu tampak sepi. Ardana nyaris mengira yang empunya rumah sedang pergi kalau matanya tidak jeli melihat Nina yang sedang duduk sambil memotong sayuran di beranda.

__ADS_1


“Kita sudah sampai, Pak,” kata Ardana. Dia mendahului masuk sambil menatap lurus ke arah beranda rumah.


Kedatangan Ardana dan Ilham rupanya disadari oleh Nina dan juga Paramitha. Jika Nina menghentikan kegiatannya sementara lalu berdiri menyambut tamu, si gadis malah mundur sedikit untuk mengintip sekaligus mendengarkan apa yang ketiga orang tersebut bicarakan.


“Euleuh, si A’a yang mengantar Mitha tadi, ya? Sok, duduk dulu di ruang tamu. Paramitha ada di kamarnya,” sambut Nina sambil merapikan peralatannya.


“Terima kasih Bu. Sebenarnya nama saya Ardana. Dan... ini Pak Ilham, ayah angkatnya Paramitha dari Bandung,” balas Ardana sambil sedikit menunduk dan ramah.


Anehnya, Nina menampakkan sikap lebih ramah pada Ilham. Wanita paruh baya ini mengulurkan tangannya sambil terkekeh.


“Duh, Ilham. Kenapa tidak bilang kamu datang ke sini juga? Kalau suami saya juga tahu, dia pasti sangat senang.” Nina dan Ilham berjabat tangan tanpa canggung. Ternyata mereka sudah saling kenal.


“Yah... begitulah. Selagi di Bandung tidak ada urusan ya saya ikut anak muda ini saja.” Ilham menoleh pada Ardana yang berdiri di dekat pembatas beranda.


Nina kembali terkekeh. “Tanaman hias yang kamu rawat bagaimana, hidup semua atau mati lagi?” tanyanya dengan nada meledek.


Ilham tersenyum kecut sambil menggeleng-geleng. “Ya... hidup, hidup. Hanya tiga yang gagal. Tanya sendiri ke Ardana, dia sudah melihat langsung,” jawabnya senang.


“Bagus kalau ada kemajuan seperti itu. Kalau masih banyak yang gagal mah keterlaluan. Ah, saya buatkan kopi rempah dulu untuk kalian berdua sekaligus memanggil Paramitha, ya?”


Ardana yang sejak tadi mengerut keheranan menyaksikan keakraban Ilham dan Nina tetap diam. Ketika pandangannya teralihkan ke kiri, tepatnya kamar Paramitha, sesuatu menarik perhatiannya. Kelebatan oang menghindar sempat tertangkap ujung kanan matanya. Membuat dirinya tahu gadis Catranata itu ada di dalam sana.


Dua menit kemudian Nina datang membawakan nampan dengan dua cangkir kopi hitam dan susu beraroma rempah di atasnya. Tidak ketinggalan camilan ringan tradisional kesukaan Ilham, pisang rebus dan kue cincin buatannya sendiri. Paramitha keluar dari kamar hanya berselang empat detik setelahnya. Tanpa berkata apa-apa, dia memisahkan diri lalu duduk di hadapan Ardana dan Ilham.


“Bapak,” ucap Paramitha.


Ilham tidak membalas. Lelaki paruh baya ini memejamkan mata sejenak sambil menarik napas.


“Jadi... kamu memilih untuk tetap pulang ke sini, Mitha?” tanyanya tanpa berbasa-basi.


Paramitha menatap Ilham dan mengangguk. Ardana tidak ikut bersuara. Kedua matanya bergantian melirik Ilham dan Paramitha.


“Mitha memang ingin pulang sebentar, Pak. Bapak tidak perlu cemas, kan ada Bu Nina,” kata Paramitha.

__ADS_1


“Pulang tanpa memberitahu itu sama dengan pelanggaran. Dan itu penting karena keamanan dirimu.” Ilham tidak berkedip. Tatapannya dipertegas untuk memberikan tanda bahwa dia cemas.


“Semua warga desa ini akan ketakutan kalau tahu kamu kembali ke sini. Kamu tidak ingat, yang kamu alami dulu seperti apa, Nak? Soal di mana kamu menginap, Bapak tidak masalah. Yang jadi masalah adalah Bapak belum tahu apa yang sebenarnya akan kamu lakukan di sini,” sambungnya.


Sementara Paramitha diam dan tidak membalas, Ardana memerhatikan wajah gadis itu lekat. Tidak ada kekesalan atau tidak suka diceramahi yang tersirat dari ekspresi tenangnya. Perkataan Ilham sama sekali tidak disanggah apalagi diacuhkan. Gadis tersebut berbeda dengan sebelumnya yang bisa kalap ketika merasa terganggu. Sikapnya anggun dan membuat Ardana tertarik.


“Pak, Paramitha bukan ber—.“ Ardana mencoba menyela namun terpotong oleh gerakan Ilham yang mengangkat tangan.


“Diam, Ardana! Kamu tidak perlu ikut campur, lagipula kamu belum tahu banyak.” Ilham melirik padanya dengan tatapan tajam.


Ardana mengangguk pelan. Tatapannya kembali tertuju pada Paramitha yang di saat bersamaan juga menatap ke arahnya. Gadis ini tahu Ardana mencoba membela, atau setidaknya bisa menengahi. Karena ekspresi Ilham kali ini mulai berganti dengan wajah orang yang tidak suka dengan adanya pelanggaran.


Ilham melanjutkan kembali ceramahnya. “Bapak bertanggungjawab sebagai pengganti kedua orangtuamu, begitu pula dengan keluarga Sumita. Pahamilah, ada sesuatu yang tidak beres terjadi dan itu berkaitan dengan dirimu. Terus terang, Bapak belum tahu bagaimana kamu bisa memiliki mata merah kehitaman itu. Nanti bisa kamu ceritakan di waktu yang tepat. Ardana sebenarnya yang diserahi tugas itu namun Bapak ikut untuk mengawasi.


Karena sudah terlanjur, sebaiknya kamu pandai-pandai merahasiakan jatidirimu yang sebenarnya. Kamu boleh keluar rumah selama itu ada urusan yang penting. Jaga baik-baik matamu agar tidak diketahui oleh warga desa. Jangan membuat Ibu Nina kerepotan dengan sikap kerasmu itu.”


Paramitha tetap diam dan tidak menyahut. Gadis berambut lurus sebahu ini benar-benar mirip seperti calon pengantin pingitan di masa lalu. Melihatnya saja membuat Ardana ingin tertawa geli. Beruntung dia bisa tahan dengan mengatupkan mulut rapat-rapat.


“Euh, jangan terlalu keras padanya, Ham,” kata Nina menengahi.


“Nin, kamu kan tahu dia satu-satunya anggota keluarga Catranata yang masih berani kembali ke sini?” Ilham tampak kurang menerima ucapan Nina dan tetap bertahan dengan perkataannya sendiri.


“Saya téh tahu, sangat tahu. Tapi kan saya yang merawatnya sebelum kamu mengungsikannya ke Bandung. Sebagai sesama perempuan, saya bisa memahami keinginannya untuk pulang. Berbeda dengan kamu yang sudah ditempa sebagai seorang tentara,” balas Nina dengan tenang.


“Lagipula kalau Lingga dan Erni ada di tengah-tengah kita, mereka pasti tidak suka kita meributkan bagaimana kita bisa menjaga Paramitha,” sambungnya.


Tiba-tiba Ardana berdiri namun begitu tenang. Ilham dan Nina terkejut melihat sikap refleks si pemuda. Di tengah kebingungan, mereka hanya saling berpandangan satu sama lain. Ardana bergantian menatap Ilham lalu pada Nina. Terakhir, dia beralih pada Paramitha yang kini ikut memandanginya.


“Pak Ilham, Ibu Nina... saya memang tidak tahu banyak tentang apa saja yang sudah terjadi. Tapi, ijinkan saya agar mengajukan diri untuk tugas tambahan dari Pak Ilham,” tegasnya sambil bergantian menatap mereka bertiga.


“Tunggu, tunggu. Apa maksud kamu, Dan?” tanya Ilham.


Ardana menarik napas dalam-dalam.

__ADS_1


“Saya akan menjaga Paramitha selama dia masih berada di desa ini.”


* * * * *


__ADS_2