Petaka Biohazard: Lorong Kematian

Petaka Biohazard: Lorong Kematian
Dokumen Kelam


__ADS_3

JDAR!


JDAR!


KRINTING!


Ardana nyaris berseru kegirangan sebelum akhirnya harus menelan kejengkelannya sendiri. Kunci yang dilengkapi sistem dijital pada bagian luar memang berhasil dijebol dengan sedikit kekerasan. Namun di bagian dalam boks, entah bagaimana bisa, kedua belah pintunya diikat dengan rantai panjang yang saling terhubung dan terkesan acak-acakan. Saking rumitnya, benda besi tersebut tampak seperti gundukan sesuatu yang menggumpal dan melebar.


“Hah? Apa-apaan ini?!” sentaknya. Dia tidak habis pikir dengan cara orang-orang yang penah berada di sana dalam mengamankan benda yang penting. Namun dari situ, pemuda ini tahu apa yang ingin mereka periksa masih ada di dalam boks.


“Kenapa, Dan?” tanya Paramitha yang terkejut mendengar suara Ardana meninggi.


Sambil melirik Paramitha, Ardana menunjuk ke bagian dalam pintu boks. “Entah bagaimana mereka melakukannya, ternyata di dalamnya ditambahkan ikatan rantai yang rumit sampai membentuk gulungan menggumpal... ah, atau apalah itu namanya!” terangnya cepat.


Paramitha terdiam lalu menoleh ke arah bangunan pemantau yang menyatu dengan dinding basement tempat mereka menemukan ruangan rahasia tadi. Tidak ada suara ledakan yang terjadi maupun kemunculan makhluk mutan aneh yang mengerikan. Untuk sementara mereka berdua masih aman meski gangguan baru justru datang dari sesuatu yang kini sedang dikerjakan oleh Ardana.


“Mungkin aku bisa membantumu, Dan? Kita masih ada delapan truk lagi yang harus diperiksa.” Paramitha menghampiri Ardana yang masih berusaha keras merontokkan jalinan rantai di bagian dalam boks yang tersembul keluar.


Ardana menggaruk-garuk kepalanya. Memang masih ada sisa delapan truk lagi yang boksnya masih terkunci. Untuk membuka satu saja sulitnya bukan main.


“Kamu mengawasi saja, Neng. Karena hanya shotgun buatan Italia ini kan hanya ada satu. Hentakannya terlalu kuat bahkan untukku sendiri,” ujar Ardana sambil melirik STF/12 dalam genggaman kedua tangannya.


Si pemuda masih belum mau patah arang. Peluru 12 gauge dari moncong shotgun-nya kembali melncur berkali-kali diselingi kokangan cepat untuk merontokkan gulungan rantai yang terikat dari dalam. Usahanya baru berhasil setelah dia menghamburkan tujuh peluru. Hampir saja tangannya terkena pantulan dari percikan api ketika proyektil senjata itu terus merusak rantai hingga merah padam. Kedua bagian pintu boks baja yang berat itu dibukanya selebar mungkin. Di tengah sana, terdapat satu kotak besi yang juga terkunci rapat.

__ADS_1


Tanpa membuang waktu lagi Ardana langsung melompat ke dalam boks baja besar truk tersebut. Kotak besi setinggi betis dengan ukuran hampir satu meter di setiap sisinya itu dicoba untuk diseretnya turun ke bawah.


“Bagaimana, sulit membukanya?” tanya Paramitha penasaran.


Ardana mendesah, “Aku tidak tahu. Kuncinya juga menggunakan sistem dijital dan sudah lama mati. Jangan-jangan di dalamnya dikunci lagi dengan rantai seperti pintu boks truk ini.”


“Jangan mengada-ada,” tukas Paramitha cepat. “Buka saja dulu, Dan.”


Dengan senang hati si pemuda menuruti perintah Paramitha. Bagian popor shotgun-nya diarahkan tepat ke kunci dijital berbentuk kubus yang masih tampak mengkilap.


DRAKK!


Kunci dijital yang tampak kokoh itu hancur terbelah dua. Dengan perlahan dan penuh rasa penasaran, Ardana membukanya. Napasnya tertahan selama beberapa detik dibarengi peluh yang mulai menetes dari dahi. Sementara Paramitha menatap tajam ke arah kotak yang mulai terbuka.


“Berikan padaku, Dan,” pinta Paramitha.


Ardana menyerahkan amplop cokelat besar tersebut ke tangan Paramitha lalu kembali fokus pada pistol temuannya. Si gadis Catranata dengan cepat berbalik badan membelakangi kekasihnya itu, merogoh isi amplop dengan cepat lalu menarik beberapa lembar kertas putih dari dalamnya. Kedua matanya yang memicing menyapu pelan setiap kata, kalimat hingga paragraf di lembaran pertama. Beberapa detik kemudian dahinya mengernyit saat berhenti di dua paragraf terakhir.


*DENGAN ADANYA PENGESAHAN MELALUI DOKUMEN INI, MAKA KELUARGA ITU BUKAN LAGI HALANGAN BESAR. SECEPATNYA AKAN DILAKUKAN TINDAKAN GUNA MELOLOSKAN PROYEK RAHASIA YANG DIRINTIS SEJAK ERA REFORMASI DIMULAI. SIRNASURYA AKAN MENJADI TEROBOSAN TERBARU SETELAH FASILITAS PERTAMA DI WILAYAH BARAT PULAU JAWA SUKSES. UNTUK ITU, DIPERLUKAN KAMUFLASE HEBAT YANG DAPAT MENYAMARKAN KEGIATAN DI HUTAN BUATAN TERSEBUT.


PIMPINAN TIDAK PEDULI LAGI DENGAN METODE YANG AKAN DILAKUKAN. AGITASI DAN PROPAGANDA ADALAH PILIHAN YANG PALING TEPAT MENGINGAT BETAPA BESAR PENGARUH KELUARGA TERSEBUT DI JAWA BARAT. JIKA MEREKA BISA DISINGKIRKAN, MAKA AKAN SANGAT MENGUNTUNGKAN DAN SEMAKIN SEMPURNA KAMUFLASE YANG KITA CIPTAKAN. LIMA LEMBAR BERIKUTNYA ADALAH DATA BERISI NAMA DARI SEMUA TARGET YANG AKAN DIBUTUHKAN PELAKSANA OPERASI SENYAP YANG NANTINYA AKAN DISERAHKAN KEPADA MAYOR TOGAR*.


Paramitha mendesah pelan lalu menarik napas dengan sangat dalam. Emosinya mulai bergejolak. Kedua paragraf dalam lembaran pertama itu sangat jelas menyinggung tentang keluarganya meski tidak disebutkan secara langsung. Dicantumkannya sosok Mayor Togar yang notabene bertanggungjawab secara langsung atas kejadian tragis yang menimpa keluarganya semakin menambah kebencian dan membangkitkan trauma yang lama terpendam.

__ADS_1


Sebelum beralih pada lembar berikutnya, Paramitha berusaha menenangkan diri dan menstabilkan emosinya. Semakin dekat dirinya dengan kenyataan yang ingin dikuak, semakin berdegup kencang jantungnya. Satu helaan napas lagi mengawali pembukaan lembar kedua. Apapun yang akan dilbacanya nanti, dia harus siap menerimanya.


Rahang gadis itu menegang begitu lembar kedua dibuka. Kedua matanya terasa panas dan pedih setelah mengetahui isinya. Di dalamnya tertulis semua nama lengkap dan data pribadi ayah dan ibunya, disusul kakek dan nenek beserta seluruh anggota keluarga besar Catranata. Semuanya terisi penuh hingga ke lembar terakhir. Sebagian dari saudara sepupu maupun para paman dan bibinya yang namanya ikut dicantumkan diingatnya sudah terbunuh di depan matanya saat tragedi malam itu terjadi.


Tiba-tiba pikirannya kembali terbawa pada kejadian itu. Api melahap setiap sisi bangunan dan benda yang ada, suara letusan senjata api saling bersahutan, teriakan kemarahan dan kematian dari sebagian anggota keluarga yang pergi mendahuluinya menghadap Sang Pencipta. Tubuh-tubuh yang rebah itu dihinakan, diinjak dan ditendang. Seolah belum puas, para penyerang berseragam serba hitam yang dilihatnya bahkan menggores-gores wajah para korban dengan pisau komando. Dirinya yang masih kecil hanya bisa menangis tertahan di bawah sebuah meja.


Malam itu, seharusnya keluarga besar Catranata masih melangsungkan suasana berkabung atas wafatnya Linggasatria dan Erni secara misterius. Namun di tengah desas-desus miring yang menimpa mereka, para tetua keluarga Catranata memilih menghadapi dengan konfrontasi. Namun bukan warga Desa Cikembang yang berdatangan, melainkan para sosok tak dikenal yang brutal bersenjata lengkap. Selepas tragedi itulah, nasib Paramitha kecil berubah. Menuju kegelapan dan kemalangan hidup yang tidak seharusnya dialami olehnya.


“Mitha,” tegur Ardana.


Paramitha tersentak lalu mengusap kedua matanya yang terasa berat dan sembap. Dia menoleh pada si pemuda sambil menatap datar.


“Kita periksa boks di truk sebelah. Sebaiknya kita cepat sedikit selagi perangkapnya belum meledak,” tegas Ardana. Berselang dua detik kemudian dia baru tersadar ada yang berbeda dari mata gadis itu.


“Matamu... kenapa?” tanyanya sambil membelai tengkuk Paramitha dan menatapnya lekat.


Paramitha menggeleng pelan dengan senyum yang terulas, terkesan agak dipaksakan. “Tidak apa-apa. Mungkin kamu saja yang baru menyadari, padahal sudah seperti ini sejak tadi,” kilahnya.


Jawaban itu memang tampak jelas menunjukkan ketidakjujuran bagi Ardana. Namun dia tidak ada waktu untuk terus mengoreknya sampai Paramitha berterus terang. Delapan truk dengan corak campuran hijau tua dan kamuflase bernuansa asap berwarna senada lainnya harus segera diperiksa. Cara yang sama saat membuka boks di truk pertama kembali diulang namun dalam tempo yang lebih cepat.


Di saat yang sama, Paramitha berdiri sambil bersandar di sisi kiri truk tidak jauh dari pintu boks. Wajahnya tertunduk dalam dengan mata terpejam erat, seperti ingin sekali menumpahkan emosi yang kembali diredam paksa. Dokumen kelam yang baru diketahuinya itu kini berada dalam dekapannya. Sebuah titik terang yang penting namun cukup berat untuk diterima.


* * * *

__ADS_1


__ADS_2