
Rumah Sakit Dustira
Cimahi, Jawa Barat
Keesokan harinya
Ardana tidak tahu apakah Ilham lupa dengan kelalaiannya membaca pesan penting. Sejak semalam lelaki paruh baya itu tidak menyinggung hal tersebut. Malah yang diberitahukan padanya adalah panggilan mendadak di pagi buta untuk mereka berdua dari Rumah Sakit Dustira di Cimahi. Jasad korban tewas yang ditemukan menggantung di atas pohon beberapa hari lalu dialihkan dari Rumah Sakit Kota Ciamis ke sana sejak kemarin. Beberapa jam lalu jasadnya diotopsi. Dan itu dilakukan atas persetujuan Odang selaku kepala desa.
Menjelang siang, Ardana dan Ilham sudah sampai di RS Dustira. Area rumah sakit yang berdiri sejak tahun 1887 itu masih tampak megah sekaligus antik. Meski ada beberapa modernisasi dan penambahan gedung baru, suasana khas kolonial masih terasa kental. Cimahi pada masa lalu memang merupakan zona militer yang ditetapkan pemerintah kolonial Belanda. Wilayah ini menjadi pusat latihan dan kegiatan kemiliteran karena strategis dan dekat dengan Kota Bandung. Banyak fasilitas penunjang yang dibangun, salah satunya adalah RS Dustira yang dahulunya bernama Militaire Hospital. Pengelolaannya kini dipegang oleh Kodam Siliwangi TNI (Tentara Nasional Indonesia).
Sosok Ilham ternyata sudah begitu familier bagi banyak tentara yang sedang bertugas di sana. Banyak para perwira menengah yang junior maupun senior yang mengenalnya langsung menghampiri seraya memberi hormat. Ardana takjub melihat tradisi tidak tertulis yang masih dilestarikan oleh para serdadu itu. Jiwa korsa memang tidak akan pernah mati sekalipun karena status purnawirawan. Pun begitu dengan para polisi yang diperbantukan di sana, mereka ikut menyapa Ilham yang juga sudah mereka kenal beberapa tahun sebelumnya. Salah seorang perwira berpangkat kapten dari departemen kesehatan Kodam Siliwangi dengan senang hati mengantar keduanya menuju kamar jenazah.
“Kenapa mereka tidak memberitahu rinciannya dan malah meminta kita melihat langsung? Yang di lubang itu saja sudah membuat saya mual,” bisik Ardana. Dia memiliki trauma masa kecil dengan jasad korban pembunuhan yang sudah diotopsi dan tiba-tiba jatuh di hadapannya di sebuah rumah sakit ketika sedang dipindahkan.
“Saya pikir kamu tahan kalau melihat jenazah yang rusak,” tukas Ilham.
“Justru karena tidak tahan... saya menjauh dari kerumunan warga ketika jasad korban ditemukan di pinggir Hutan Sirnasurya, Pak,” balas Ardana sambil memalingkan wajah. Setiap kali mengingat hari itu dia selalu merasakan mual yang tidak jelas.
“Lalu kamu mau apa, muntah di sini? Tidak tahu malu kamu ini.”
“Eh? Tidak lah, Pak. Yang benar saja.”
Ardana terus menggerutu kesal dengan respon Ilham tadi, yang justru membuat lelaki paruh baya itu mengulum senyum karena berusaha menahan tawa. Dia menggeleng-geleng sambil sesekali melirik anak muda di sebelahnya yang memencongkan bibir ke arah berlawanan.
Ruang jenazah ternyata sudah dipindah ke area paling belakang rumah sakit tua itu. Setelah melewati lorong demi lorong dan taman di ruangan terbuka di bagian tengah, mereka berdua mendapati sebuah bangunan baru dengan ukuran cukup besar yang berdiri sendiri dan terpisah dari komplek bangunan lainnya. Tulisan ‘kamar jenazah’ pada sebuah papan kayu panjang terpampang jelas di atas pintu yang tertutup. Jika saja tulisan itu tidak dipasang, tidak ada orang yang tahu bangunan baru dengan cat putih yang mendominasi di bagian belakang RS Dustira tersebut adalah tempat penampungan sementara jenazah.
“Ini sih namanya rumah mewah jenazah,” gumam Ardana. Kedua matanya tidak berkedip melihat betapa terlalu bagus bangunan di hadapannya. Membuatnya teringat pada rumah keluarga mendiang Stella, mantan kekasihnya di Kota Bogor. Yang satu ini ukurannya lebih luas dengan kapasitas yang jika dilihat dari luar mampu menampung hingga seratus lebih jenazah.
“Kapten,” panggil Ilham pada perwira yang mengantar mereka. “Siapa yang punya ide membangun tempat ini?”
“Kolonel Marzuqi, kepala rumah sakit kami yang baru,” jawab si kapten dengan tenang.
Ilham mengernyitkan dahi mendengar nama tadi.
“Marzuqi... maksud kamu Kolonel Marzuqi Jamaluddin?”
“Benar, Pak. Bapak kenal Kolonel Marzuqi?”
“Ya, tentu saja. Dia junior satu tingkat di bawah saya saat masih aktif di TNI.”
Klep!
Tidak berapa lama kemudian pintu bangunan penyimpanan jenazah dibuka dari dalam. Seorang lelaki yang sebaya dengan Ilham dengan separuh wajahnya ditutup masker muncul. Dia mengenakan seragam dinas harian TNI AD berbalut jas putih dokter. Tepat di belakangnya, ada dua prajurit muda yang berseragam kamuflase dengan topi baret hijau infantri di kepala. Meski minim perlengkapan, kedua pengawalnya dilengkapi pistol Glock 19 di pinggang kanan. Mereka sempat tertahan saat bertatapan mata langsung dengan Ardana dan Ilham.
__ADS_1
Kapten yang mengantar keduanya langsung memberi hormat dengan postur tubuh tegap.
“Pak Marzuqi, dua orang yang disebutkan Pak Odang sudah berada bersama kita,” tegasnya lantang.
Lelaki yang ternyata adalah Kolonel Marzuqi itu hanya mengangguk. Mengetahui lelaki yang berdiri di depannya adalah Ilham, dia menghampirinya seraya membentangkan tangan.
“Zuqi... luar biasa! Sudah lama sekali kita tidak bertemu sejak tugas pertama kita di Balkan tahun 1995, ya?” Ilham menyambut bentangan tangan Marzuqi dengan perasaan bahagia.
“Kamu sendiri apa kabar, Ham? Padahal dari Bandung ke Cimahi dekat. Sayang sekali, kamu malah memilih pensiun dengan pangkat mayor. Padahal saya berharap kamu bisa menjadi kolonel juga,” balas Marzuqi sambil berjabat tangan dengan Ilham.
“Pilihan hidup,” tukas Ilham. “Sekarang saya lebih banyak hobi baru untuk dilakukan di rumah. Budidaya tanaman unggulan dan langka.”
“Dan juga kolektor senjata dari berbagai negara,” bisiknya lagi.
Marzuqi mengangguk-angguk sambil menepuk bahu Ilham. Perhatiannya lalu tertuju pada Ardana yang berdiri tepat di belakang sahabat lamanya itu.
“Anak muda ini siapa, Ham?” tanyanya penasaran.
Ilham menoleh pada Ardana yang mengangguk tegas pada dirinya dan Marzuqi.
“Dari markas pusat Baihaqi Armed Corps. Namanya Ardana Putra. Anak baru yang dikirim Syamsir pada saya untuk menyelidiki kasus orang hilang di Hutan Sirnasurya.”
Marzuqi menyisir Ardana dari ujung kaki ke kepala. Meski tatapannya tampak kurang yakin melihat fisik si pemuda yang di matanya kurang gagah namun dia yakin kemampuannya. Apalagi dia juga mengenal Syamsir yang juga salah satu sahabatnya selain Ilham. Jika saja dia tahu kekurangan Ardana yang cukup banyak dan lebih-lebih diperbantukan langsung padanya, mungkin perwira senior TNI ini akan menceramahi tanpa putus lalu memberinya sedikit tekanan.
“Selamat datang di rumah sakit kebanggaan Siliwangi ini. Ah, begitu saya menyebutnya,” sambut Marzuqi sambil mengulurkan tangan pada Ardana untuk berjabat. “Boleh kita langsung ke dalam saja? Biar lebih enak mengobrolnya.”
Marzuqi menoleh pada kapten TNI yang mengantarkan Ardana dan Ilham. “Kapten, kamu boleh kembali ke tempatmu sekarang,” perintahnya.
“Siap, Pak!” Kapten itu memberi hormat lalu berbalik badan meninggalkan mereka.
Ardana mendesah. Ini saat yang paling tidak disukainya. Mengikuti dua orang lelaki paruh baya yang bernostalgia sambil melangkah masuk ke dalam bangunan penyimpanan jenazah. Begitu pintu dibuka lebar, mereka langsung bertatap muka dengan aula yang dipenuhi deretan jenazah manusia di kiri dan kanan. Semuanya ditutupi dengan kain putih. Beberapa petugas forensik dari TNI dan POLRI tampak serius bekerja sesuai bagian masing-masing tanpa menghiraukan kehadiran Ardana dan yang lain.
Ternyata bangunan itu juga memiliki ruang bawah tanah. Di ujung kiri, setelah melewati deretan jenazah tadi terdapat tangga menurun ke bawah yang menjadi satu-satunya akses keluar dan masuk. Baru saja menginjakkan kaki di depannya, Ardana sudah merasakan hal yang tidak membuatnya nyaman.
Tampilan ruang bawah tanah yang difungsikan sebagai penyimpanan jenazah dengan pengkhususan itu tidak terlalu menyeramkan, hanya saja didesain kedap suara. Dinding putih dan lantai keramiknya yang berwarna senada membuat Ardana teringat dengan tampilan rumah jagal di salah satu gim horor yang pernah dimainkannya. Seorang dokter bedah gila bersenjata gergaji mesin memburu si karakter protagonist utama dan harus sesekali bersembunyi di loker-loker tertentu.
Dari ukurannya, ternyata lebih kecil dari aula di atas. Hanya bentuknya menyerupai koridor yang memanjang jauh ke depan. Jenazah yang dimasukkan ke sini hanya yang dipilih berdasarkan kejanggalan selama proses otopsi untuk dilakukan penyelidikan lanjutan. Tidak seperti yang dilihat Ardana tadi, di sini semua jenazah disimpan dalam lemari pembeku berkaca anti peluru yang transparan dalam posisi berdiri. Menyatu dengan dinding sehingga menyerupai bagian tembok yang menyembul.
Hanya ada enam prajurit TNI yang bertugas di ruang bawah tanah itu. Semuanya mengenakan masker dan jas putih yang menjuntai hingga betis. Mereka langsung berbaris di sisi kanan begitu menyadari kehadiran Marzuqi dan para tamunya.
“Jenazahnya ada di sana,” tunjuk Marzuqi ke salah satu lemari pembeku jenazah di sudut kanan.
Mereka bersama-sama menghampiri lemari yang ditunjuk dan melihat langsung isinya. Ardana menegangkan rahang bawah dengan ekspresi ngeri. Kali ini dengan terpaksa dia turut menyaksikan kondisi jasad yang sangat mengerikan secara langsung. Korban tewas yang ditemukan menggantung di pohon dengan kulitnya sendiri di pinggir Hutan Sirnasurya dan sempat membuat heboh masyarakat Desa Cikembang.
__ADS_1
Ilham mendekatkan wajahnya ke kaca lemari. Dia menemukan kejanggalan pada jasad tidak bernyawa di dalamnya. Bagian pinggang ke bawah yang sebelumnya hilang kini tumbuh bagian tubuh baru berwujud daging. Bahkan bergerak-gerak pelan membentuk gembungan-gembungan tertahan.
“Zuq, apa ini regenerasi? Kalau iya, seharusnya tidak disimpan di sini,” cetusnya khawatir.
Marzuqi sendiri tampak terkejut melihat proses tidak wajar yang menurut Ilham tampak seperti regenerasi. Seolah jenazah itu memang tetap hidup meski tampaknya sudah mati.
“Justru itu. Pihak RS Kota Ciamis menolak menyimpannya dan mengalihkan penanganan pada kami,” terangnya sambil menggelengkan kepala.
“Apa tidak sebaiknya dipindahkan dari sini juga? Di sini banyak penduduk sipil dan berbahaya kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.” Ilham mengerutkan dahi dengan mata agak melotot.
Marzuqi menghela napas. Dia kembali mundur sambil menyilangkan tangan di depan dada.
“Tapi, pada kenyataannya tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali, Ham. Kamu lihat sendiri, kan? Dadanya saja koyak, sampai jantung dan paru-parunya yang hampir mencuat itu tampak jelas. Tidak ada tanda-tanda kehidupan dari kedua organ dalam tubuhnya.”
Ilham tidak membantah sanggahan Marzuqi. Secara kasat mata baik jantung jasad itu tidak berdenyut sekalipun lemah. Paru-parunya tidak menunjukkan gerakan mengembang dan mengempis. Meski begitu, proses yang menurutnya mirip regenerasi pada bagian bawah jenazah tampak menggangunya.
“Ada yang lain lagi, Zuq? Maksudku, masih soal jenazah ini.” Lelaki paruh baya ini berpaling pada Marzuqi.
Marzuqi terdiam sambil berpikir beberapa saat.
“Ketika proses otopsi ulang dilakukan... euh, kami menemukan sesuatu yang menggumpal di bagian rongga tenggorokan. Bentuknya mirip kelopak bunga berwarna hitam dengan banyak bintik merah darah. Saya tidak tahu jenisnya, tampaknya termasuk kelompok bunga mawar. Rencananya, nanti malam saya akan mengirimnya sebagai sampel ke LIPI Bogor melewati jalur Puncak,” jelasnya kemudian.
Ilham mengangguk dan tampak puas dengan penjelasan sahabatnya itu. Sementara Ardana yang berdiri di sebelah kirinya masih tetap diam. Sama seperti Ilham, perhatiannya tertuju pada bagian bawah tubuh jasad yang seolah meregenerasi diri sendiri.
Keningnya mengerut tajam saat menyadari bagian kepala jenazah itu juga mengalami proses yang sama hingga ke bagian mata yang rusak. Warna putih kusam pada bola matanya berubah menjadi merah darah dan tampak segar.
Bola mata yang baru terbentuk itu tiba-tiba melirik ke arahnya.
“Ia hidup...! Makhluk ini masih hidup...!” teriaknya sekeras mungkin.
DUAKK! DUAKK!
Jeda antara teriakan Ardana dan benturan pada bagian kaca lemari pembeku nyaris tidak sampai satu detik. Ilham dan Marzuqi yang terkejut refleks menghindar meski belum sepenuhnya menyadari apa yang terjadi.
GRRROAAARR! GRRROAAAARR!
Makhluk dalam lemari pembeku di depan mereka mengamuk sambil menghantamkan enam tentakel merahnya yang baru muncul dengan keras. Kedua prajurit TNI yang mengawal langsung bertindak mengamankan Ilham dan Marzuqi. Ardana yang kebetulan membawa pistol langsung mencabutnya dan menodong ke arah lemari pembeku. Enam petugas forensik dari TNI yang berada tidak jauh dari mereka juga mengeluarkan senjata yang sama.
DUAKK!
KRETAKK! KRETAKK!
Kaca pelindung yang menutupi lemari pembeku itu perlahan mulai retak dari tengah ke seluruh bagian lainnya.
__ADS_1
“Tutup pintu masuknya!” Marzuqi menoleh pada kedua pengawalnya yang sudah siap menembak.
* * * * *