Petaka Biohazard: Lorong Kematian

Petaka Biohazard: Lorong Kematian
Save Him


__ADS_3

Dari tempatnya bersembunyi, Ardana bisa menyaksikan dengan jelas kelebatan sesuatu di antara kepulan asap yang perlahan mulai memudar. Bentuknya seperti tubuh ular yang sangat besar. Menggeliat perlahan seakan membentuk gelombang naik dan turun. Tidak lama kemudian muncul beberapa kelebatan lain dengan bentuk yang sama.


KRRRRRRTKTKTKTK! TRRRRKKK!


Kelebatan beberapa objek mirip ular raksasa tersebut seperti sedang mematahkan sesuatu hingga berkali-kali. Mendengarnya saja sudah membuat Ardana dan Paramitha merasa ngilu.


“Itu... itu tadi apa, Dan?” tanya Paramitha setelah menyingkirkan tangan Ardana yang menutupi mulutnya perlahan.


Ardana hanya menggeleng tanpa menoleh. Merasa ada yang tidak beres, dia pun kembali merundukkan badan dan duduk di samping Paramitha. Tatapannya antara seperti kosong dan menerawang ke depannya. Napasnya terpacu menjadi lebih cepat. Tanpa melongok lagi seperti tadi, tangannya sibuk meraih-raih lembaran kertas yang ada di atas meja.


“Dan, apa yang kamu lihat di sana?” tanya Paramitha lagi.


Si pemuda tetap tidak menjawab. Perhatiannya lebih sibuk pada lembaran-lembaran kertas yang berusaha dikumpulkan sambil membelakangi meja. Beberapa saat kemudian usahanya berhasil. Lembaran yang tidak penting dikesampingkannya, hingga tersisa satu kertas dalam genggamannya. Gambar terakhir dari apa yang disebut sebagai Eksperimen Darah Hitam.


“Sepertinya... itu memang makhluknya. Makhluk yang ada di kertas ini,” desisnya.


HUUUUUMMMMMM!!


Suara dengungan besar terdengar hingga bergema ke seluruh ruangan. Ardana dan Paramitha yang sama-sama terperanjat kini terdiam lalu memandang satu sama lain dengan wajah sedikit tegang.


“Tidak apa-apa. Kita akan segera keluar dari sini,” kata Ardana sambil mengusap bahu Paramitha.


Sesosok tubuh manusia tiba-tiba jatuh di dekat meja setelah dilempar dari arah sisi lain ruangan yang dipenuhi kerak hitam. Cipratan lendir merah yang menelimutinya hampir saja mengenai kaki kedua muda-mudi tersebut. Paramitha yang terkejut hanya membelalak dan bungkam menyaksikan kondisi jasad yang sudah sangat mengerikan. Separuh wajah bagian kiri hingga pinggang jasad tersebut sudah membusuk parah dengan bola mata menggantung. Enam jasad lain ikut dilemparkan dan kondisi semuanya tidak jauh berbeda.


Yang lebih mencengangkan keduanya adalah jasad-jasad yang dilemparkan dalam keadaan rusak itu tiba-tiba beregenerasi ulang. Tentakel-tentakel merah bermunculan dari bagian tubuh yang membusuk, menggeliat kesana-kemari begitu liar seperti berusaha menggapai Ardana dan Paramitha.


Jdar! Jdar! Jdar!


Peluru-peluru dari STF/12 dalam genggaman Ardana langsung menyambar bagian kepala keenam mayat hidup setengah mutan sebelum benar-benar bangkit. Pemuda ini baru tahu jika makhluk yang sedang membuat mereka tersudut bisa menginfeksi mayat manusia dan mengubahnya menjadi monster baru. Sebelum jumlah mayat yang dilempar ke arah mereka semakin banyak, dia segera menarik Paramitha keluar dari persembunyian.


“Ayo, Mitha! Kita tinggalkan tempat ini!”


Paramitha masih sempat menoleh ke arah sisi lain ruangan yang dipenuhi kerak hitam. Dari arah sana tampak siluet sesuatu yang sangat besar menyerupai bunga, mengembang perlahan dengan banyak benda panjang yang menggeliat di bagian pangkal. Hanya berselang dua detik setelah kepulan asap dan debu hampir menghilang sempurna, sosok aslinya terlihat jelas. Paramitha akhirnya menyaksikan secara langsung perubahan makhluk eksperimen yang ada dalam lembaran kertas yang ditemukannya.


KRRAAAKK!! KRRAAKK!!

__ADS_1


Seluruh bagian kelopak hitamnya robek mengikuti garis vertikal secara tiba-tiba, mengucurkan cairan hitam yang begitu kental dari pori-pori di setiap bintik merah darah yang memenuhinya. Gerigi-gerigi tajam berukuran besar yang menghiasi bagian dalam dan luarnya bertumbuh lebih panjang. Dari bagian tengah muncul gumpalan daging merah dipenuhi belasan bola mata kuning yang tajam dan mulut dipenuhi ratusan gigi runcing bermandikan darah.


GRRRAAAAAARRRRRGGHHH!!


Sebelum makhluk itu menyadari keberadaan mereka berdua, Ardana bergegas lebih cepat membawa Paramitha pergi sejauh mungkin. Apalagi setelah melihat beberapa tentakel besar monster bunga tersebut mulai menghancurkan apapun yang disapunya. Beberapa jasad manusia yang dimuntahkan dari mulutnya ikut hancur terkena hantaman tentakelnya sendiri.


BRAKK!


“Aaaaa...!”


Ardana jatuh tersungkur setelah pintu baja ruangan yang baru saja dilewatinya tiba-tiba lepas lalu terpental menghantam punggungnya. Dia membeliak lalu meringis. Tulang punggungnya terasa seperti hampir patah. Salah satu tentakel makhluk mutan raksasa itu menghancurkan sebagian dinding dekat engsel kemudian melibasnya.


Paramitha yang berada tepat di depan segera berbalik untuk membantunya berdiri lagi.


“Ardana...!” serunya khawatir. Gadis itu berusaha mengangkat tubuh Ardana yang sempat kesulitan untuk bangkit kembali. Shotgun milik Ardana yang terlempar juga diambilnya.


Tidak ingin membuat kekasihnya cemas, Ardana memaksakan diri untuk berdiri tegap meski berada dalam papahan Paramitha.


“Ti—tidak apa-apa. Ayo!”


“Tidak usah cemaskan aku. Ayo, lebih cepat!”


Ardana berusaha berlari tanpa bergantung pada Paramitha yang masih memapahnya. Kondisinya yang sekarang sedikit menghambat kecepatannya dan jadi tidak leluasa. Paramitha sendiri mencoba untuk tidak terjebak dalam kepanikan. Berbekal pengalaman masa lalunya memasuki area lorong bawah tanah itu, dia mencari tempat yang aman untuk bersembunyi sementara waktu. Setiap perempatan dan pertigaan jalur yang dia temui selalu dipilihnya di bagian kanan.


Hingga kemudian mereka menemukan sebuah ruangan berukuran 8 x 8 meter yang tampaknya pernah menjadi sebuah klinik kecil. Itu ditandai dengan beberapa peralatan medis yang dibiarkan terbengkalai di dalamnya.


Setelah mendudukkan Ardana di salah satu kursi dekat pintu baja serta melucuti ransel dan semua perlengkapan tempurnya, Paramitha berusaha menepikan ranjang beroda yang melintang di tengah ruangan ke sisi kanan. Pecahan-pecahan botol obat kaca yang bertebaran dipunguti dan disingkirkan dengan hati-hati.


“Dan, berbaringlah dulu,” pintanya sambil menuntun Ardana ke salah satu ranjang di sisi kanan.


“Aku bisa berjalan sendiri,” balas Ardana. Pemuda ini benar-benar berjalan sendiri ke ranjang yang diinginkan lalu berbaring di atasnya. Untuk sementara tubuhnya bisa diistirahatkan meski kondisi tempat mereka berlindung masih jauh dari kata layak. Helm kevlarnya dilepas untuk dijadikan bantal sandaran.


Setelah menutup pintu baja ruangan klinik, Paramitha memeriksa dua lemari besi besar berkaca yang ada di sudut ruangan. Beberapa barang serbaguna seperti lampu darurat yang masih dalam kondisi baik dan terisi penuh tersimpan rapi. Dia mengambil salah satunya untuk dinyalakan lalu diletakkan di atas meja besi.


Ruangan itu kini cukup terang untuk membuat Paramitha bisa melihat betapa kacaunya keadaan dirinya dan Ardana. Seragam taktis hijau tua si pemuda tampak kotor oleh noda darah maupun debu di beberapa bagian terutama celana. Wajahnya tampak sedikit kusam terkena asap bercampur partikel kotor. Sementara dirinya sendiri juga tidak berbeda jauh dari Ardana. Hanya saja wajahnya masih tampak lebih bersih.

__ADS_1


“Kalau kamu mau, aku bisa periksa kondisi punggungmu,” kata Paramitha.


Ardana tersenyum. “Tidak apa-apa, hanya butuh diistirahatkan sejenak.”


“Kamu yakin? Padahal yang tadi itu sangat keras, kan?” Paramitha tidak langsung memercayai Ardana yang terkesan memaksakan untuk senyum.


“Aku serius. Memang sangat nyeri tapi tidak sampai membuat tulang punggungku rusak apalagi patah,” balas Ardana meyakinkan.


Pemuda ini kemudian memiringkan badan ke kanan, tepat menghadap ke arah Paramitha yang duduk di sebelah ranjangnya. Guratan lelah tampak dari wajah gadis Catranata itu meski sedikit tersamarkan melalui senyum manis di bibir tipisnya setiap kali dia memandanginya. Ketika berada dalam kondisi sulit seperti saat ini, Paramitha berubah menjadi sosok yang sangat perhatian dan tidak mudah marah seperti di pertemuan kedua mereka di desa.


Selama Ardana masih berbaring, Paramitha menjaga keamanan mereka. Pistol G2 buatan Pindad yang ditemukan Ardana dan dipinjamkan padanya tampak sedikit berguna. Caranya menggenggam senjata itu dengan jari telunjuk yang tidak selalu menempel di pelatuk membuat Ardana semakin percaya pada kemampuannya. Terlebih Paramitha berada dalam asuhan Ilham hingga lulus dari SMA. Kenekatannya masuk ke area lorong bawah tanah Hutan Sirnasurya dan bisa bertahan hidup dalam situasi berbahaya sejauh ini membuktikan kemampuannya dalam bela diri.


Paramitha baru menyadari Ardana sudah terlelap begitu saja ketika dia menolah dan ingin mengajak berbicara. Gadis ini menggelengkan kepala sambil bangkit dari tempat duduknya. Jaket woll merah marun yang melindungi tubuh bagian atasnya dilepas dan diselimutkan pada si pemuda dengan hati-hati. Kini dia hanya mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru muda yang lengannya disingsingkan dan celana chino krem yang pas dengan ukuran kaki jenjangnya.


“Dia pasti kelelahan,” gumamnya. Diusapnya kening Ardana dengan perlahan.


Diliriknya alat komunikasi yang masih tersemat di telinga kiri Ardana. Benda tersebut dilepaskannya dengan hati-hati. Penasaran, dia menyalakannya dan ternyata berhasil. Alat itu kini dikenakan di telinga kirinya sendiri.


[Ardana? Kamu baik-baik saja di sana, kan? Tolong jawab saya dan katakan kamu baik-baik saja!]


Suara seseorang yang tegas terdengar jelas dan cukup jernih meski posisi mereka berada jauh di bawah tanah. Paramitha mengenalinya sebagai suara Ilham. Dari intonasinya terdengar lelaki tersebut agak panik. Ardana sejak beberapa saat lalu memang menunda konfirmasi


“Bapak? Ini Mitha, Pak. Ardana sedang kurang baik. Sekarang kami bersembunyi sementara sambil menunggu dia pulih,” balas Paramitha dengan suara rendah.


[Mitha? Syukurlah, kamu selamat. Kurang baik... apa yang terjadi pada Ardana?] Dari seberang sana Ilham terdengar sangat senang. Suaranya yang semula tampak seperti orang panik kini berubah sedikit tinggi dan stabil.


“Ardana menderita luka memar di punggung, Pak. Kena lemparan pintu baja saat menghindari amukan makhluk aneh yang sangat besar di sini. Tidak parah, hanya butuh istirahat beberapa saat. Sekarang dia tertidur di sini,” balas Paramitha.


[Beritahu Ardana untuk tetap terhubung dengan Bapak. Dan jangan jauh-jauh darinya, Mitha.]


“Mitha mengerti, Pak. Kami tetap berusaha untuk bisa keluar dari sini.”


Klik!


Percakapan berakhir dengan perasaan lega yang menghampiri hati Paramitha. Setidaknya dia bisa menghapuskan kekhawatiran Ilham yang ternyata sejak tadi menunggu kabar dari Ardana tentang dirinya. Meski tidak menanyakan kenapa dia sampai nekat masuk ke sana, kemungkinan lelaki paruh baya itu akan menghujaninya dengan banyak pertanyaan.

__ADS_1


* * * * *


__ADS_2