Petaka Biohazard: Lorong Kematian

Petaka Biohazard: Lorong Kematian
Ibu Itu Masih Mengenalinya


__ADS_3

Keesokan paginya


Ternyata tidak sulit untuk mendapatkan ijin dari Ilham. Lelaki paruh baya itu memaklumi keinginan Ardana untuk menemani Paramitha mencari keluarga ibu kandungnya di Desa Karanghawur. Dia juga meminjamkan mobil Ford Ranger miliknya. Setelah mendapatkan transportasi yang dibutuhkan, Ardana langsung menjemput Paramitha yang sudah menunggu di beranda rumah Nina. Tidak ada sarapan pagi sebelum berangkat karena keduanya sepakat akan menikmatinya setelah sampai di sana.


Tidak ada Hadi atau Nina yang ikut menunggu karena pasutri itu sedang belanja ke pasar. Melihat ada mobil yang mendekat dan berhenti di depan pekarangan, Paramitha melongok penasaran. Begitu Ardana muncul dari dalam sana, dia merapikan rambutnya lalu turun menghampiri si pemuda.


“Kukira kita akan ke sana dengan berjalan kaki. Kamu pinjam mobil ini dari siapa?” tanyanya sambil berbasa-basi.


“Pak Ilham. Aku jujur saja kalau pagi ini akan mengantarmu ke Desa Karanghawur.” Ardana menepuk pelindung mesin mobil sambil tersenyum bangga.


Paramitha memicingkan mata. “Beliau... tahu kamu akan mengantarku pergi ke Karanghawur?” tanyanya menyelidik.


“Iya,” jawab Ardana santai, “beliau mengijinkanku.”


“Baiklah, kita berangkat sekarang,” tegas Paramitha.


“Baik, Tuan Putri Catranata,” sahut Ardana.


Dia membungkuk sedikit sambil membentangkan tangan kanannya. Melihat tingkahnya, Paramitha menggeleng sambil tersenyum geli. Dengan senang hati, pemuda itu membukakan pintu penumpang untuk Paramitha. Setelah yang dipersilakan sudah naik, dia langsung kembali ke kursi pengemudi. Meski sebenarnya baru lulus tes mengemudi, Ardana merasa sangat bangga menerapkannya langsung untuk sesuatu yang penting dalam pandangannya. Apalagi yang dikemudikannya sekarang adalah salah satu mobil favoritnya sejak masih SMA.


Butuh waktu satu jam lebih dari empat puluh tiga menit untuk bisa menuju ke Desa Karanghawur. Kondisi jalan raya yang menghubungkan kedua desa tidak semulus yang dibayangkan Ardana. Jalanan yang sudah mulai rusak dan berlubang memaksanya berhati-hati namun lama kelamaan dia jadi tidak sabar. Paramitha ternyata tidak segan untuk menegurnya setiap kali tergoda untuk mengebut. Kedua matanya selalu melotot setiap kali Ardana tergoda melakukannya. Si pemuda tidak ambil pusing untuk menuruti keinginan gadis itu. Kalau saja dilakukan di Jakarta, pengemudi lain pun bahkan tidak peduli dia tancap gas melewati semaunya.


Beberapa belas meter di depan mereka melintas enam ekor domba yang digembalakan oleh seorang kakek berkaus oblong putih dan bercelana pendek. Wajahnya tidak tampak jelas karena tertutupi topi caping lebar. Dia hanya menoleh sesaat pada mobil Ford Ranger yang berhenti agak jauh darinya, lalu menggeleng-geleng sambil mulutnya tampak berkomat-kamit menggerutu. Hampir saja Ardana menyeruduknya kalau tidak sigap menginjak pedal rem.


“Hati-hati mengemudikannya! Kamu tidak lihat di depan sana ada bapak tua dan banyak domba sedang menyeberang?” tegur Paramitha dengan tegas.


“Iya, iya. Aku tidak jadi mengebut,” sahut Ardana.


Si pemuda memilih menyerah daripada harus melihat mata menyeramkan kekasihnya dan kembali melanjutkan perjalanan. Paramitha mulai menyilangkan tangan di depan dada dengan ekspresi cemberut. Melihatnya seperti itu saja sudah membuat Ardana ketar-ketir, namun tidak berani memulai obrolan lebih dulu.


Tidak seperti di Desa Cikembang yang lebih ramai, Desa Karanghawur sedikit sepi. Namun kondisi alamnya yang juga masih hijau dan lestari benar-benar memikat mata. Di sepanjang jalan yang mereka lintasi, rumah milik para penduduk setempat yang ada di kiri dan kanan jaraknya tidak terlalu berdekatan dengan jeda kebun kecil yang subur. Belasan rumah di antaranya bahkan memiliki kolam ikan yang airnya dialiri dari sumber mata air di sebelah timur desa. Beberapa kendaraan pribadi dan umum dari arah yang sama maupun berlawanan sesekali melintas. Yang memberi kesan lestari adalah keberadaan beberapa pohon besar dan tua di berbagai titik yang masih bisa dijangkau pandangan mata. Kondis demikian membuat Ardana tidak menyalakan sistem pendingin udara buatan di dasbor. Kaca jendela diturunkannya setengah agar udara pagi yang segar bisa menyelusup ke dalam mobil.


Paramitha memandangi kondisi desa sambil mengingat-ingat masa kecilnya. Dia tidak begitu ingat sudah berapa kali datang ke sini karena sudah sangat lama berlalu. Rumah neneknya dari pihak ibu memang tidak sebagus milik keluarga ayahnya di Desa Cikembang, namun letaknya yang berada di sekitar kebun rakyat membuat suasananya tidak kalah nyaman. Setidaknya dalam satu bulan, dia sering menginap di sana sebanyak tiga atau empat kali. Berkumpul bersama para sepupunya, melakukan petak umpet, memancing ikan di kolam dan bermacam-macam permainan masa kecil sudah dilakukannya. Seperti halnya Desa Cikembang, Paramitha tidak pernah mendatangi desa tempat ibunya lahir semenjak peristiwa kelam yang menimpa keluarga Catranata terjadi.


Ardana berdecak kagum melihat kesahajaan desa yang baru pertama kali didatanginya itu.

__ADS_1


“Wah… aku baru tahu kondisi alam di sini masih lestari,” komentarnya sambil melirik sedikit takut ke arah Paramitha.


Paramitha balas melirik. Nasib baik masih berpihak pada Ardana karena wajah gadis itu kembali datar seperti semula. Dia tidak menanggapi, hanya tetap melihat-lihat pemandangan alam Desa Karanghawur dari posisinya. Bagaimanapun keadaannya harus ada obrolan yang dimulai untuk mencairkan suasana, kan?


“Takut nanti terlewatkan,” kata Ardana memulai, “kamu mau sarapan apa sekarang?”


“Mungkin nasi uduk bisa. Atau terserah kamu saja, aku ikut makan yang sama denganmu,” jawab Paramitha.


“Baiklah, kita cari dulu sebentar.” Ardana mulai mencari keberadaan tempat makan yang dinilainya murah meriah di pinggir jalan desa. Biasanya di pagi hari seperti sekarang, penjual makanan seperti itu masih banyak yang menggelar lapak, meskipun sejak tadi dia belum menemukannya.


Tepat di sebuah tikungan, Ardana menemukan lapak penjual aneka nasi untuk sarapan pagi. Tempat sederhana berupa tenda angkringan dengan meja dan kursi panjang di dalamnya itu ternyata tidak begitu ramai. Hanya ada empat orang warga setempat yang sedang sarapan dengan lahap. Di saat yang sama perutnya sudah minta diisi. Ardana menepikan mobil di tiga meter dekat tenda lalu turun dan membukakan pintu untuk Paramitha.


“Aku bisa buka pintu sendiri, Dan,” kata si gadis dengan nada malas.


Ardana tidak menjawab dan hanya tersenyum simpul. Mereka berdua masuk dan duduk di tempat yang kosong di pojok kiri. Menuruti keinginan Paramitha tadi, Ardana menyamakan pesanannya yakni nasi uduk yang diberi tambahan telur balado dan saus kacang pedas. Salah seorang remaja lelaki berusia belasan tahun yang tampaknya anak pemilik lapak bertugas melayani pesanan dan mengambilkannya untuk mereka berdua.


“Nah, kusamakan pesanannya, Neng. Karena kamu suka pedas, ya menunya tidak jauh dari balado dan sambal kacang. Cocok, kan?” Si pemuda membantu memberikan piring kedua berisi menu yang disebutkannya tadi pada Paramitha.


“Sejak tadi kamu memanggilku begitu. Ada apa, sih?” Paramitha mengulum senyum dengan ekspresi geli setiap kali Ardana memanggilnya ‘Neng’.


“Hei, aku dan kamu kan sama-sama orang Sunda? Justru bagus, karena... hmmm, kamu spesial untukku,” kata Ardana yang kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Paramitha untuk membisikkan kalimat di bagian akhir.


Sementara Ardana dan Paramitha mengobrol, ibu paruh baya bertubuh tambun pemilik lapak nasi angkringan itu tertegun melihat wajah si gadis. Dia mengerutkan kening sambil memicingkan mata, seolah-olah sedang mengenali sesuatu dari diri Paramitha.


Menyadari dirinya sedang diperhatikan, Paramitha mengalihkan pandangannya dari Ardana. Tatapannya kini tertuju langsung pada si ibu yang seketika membuang muka seraya melayani pengunjung lain yang baru datang. Tentu saja gadis itu merasa sedikit heran melihat tingkah pemilik tenda angkringan nasi tempatnya sarapan. Ardana yang juga melihat tidak bereaksi apa-apa meski sesekali bergantian melirik Paramitha dan ibu pemilik lapak.


Dia mengangkat alis pada Paramitha sebagai kode untuk menanyakan ada apa. Paramitha menggeleng cepat lalu melanjutkan sarapannya.


Satu demi satu pengunjung lapak nasi angkringan itu pergi hingga hanya tersisa Ardana dan Paramitha. Kesempatan bagi si gadis untuk menanyakan tentang tingkah mencurigakan pemiliknya dengan tatapan tadi. Namun jika melakukannya seperti sedang menginterogasi, yang ada membuat dirinya tampak seperti mengancam. Selesai menghabiskan sarapannya bersama Ardana, Paramitha mengambil alih giliran membayar. Dia mendekati ibu tersebut sambil tersenyum sopan.


“Jadi berapa semuanya, Bu?” tanyanya.


Ibu tambun berdaster kuning dengan rambut ikal panjang melewati bahu di hadapannya itu sempat gelagapan sesaat namun kembali normal, namun sorot matanya yang menyiratkan rasa kaget tetap bisa terbaca oleh Paramitha.


“Jadi dua belas ribu rupiah, Neng. Kalau teh manisnya mah gratis,” jawabnya.

__ADS_1


Paramitha menyerahkan selembar uang dengan nominal lima puluh ribu rupiah.


“Ini, Bu. Hmmm... punten, apa kita pernah bertemu sebelumnya, Bu? Wajah Ibu tampak tidak asing lagi. Mungkin pernah bertemu tapi lupa lagi,” ujarnya berbasa-basi. Sepertinya cukup baik baginya kalau memulai dengan cara seperti ini.


Si ibu sempat terperanjat namun mencoba untuk tampil biasa saja. Dia menyerahkan uang kembalian pada Paramitha.


“Jangan, Bu,” tolak Paramitha halus, “uangnya disimpan saja untuk Ibu.”


“Eh, i—iya. Hatur nuhun, Neng,” balas si ibu.


Paramitha tidak berpindah sambil menegaskan tatapannya. Mengetahui dirinya tidak bisa menghindar lagi, si sibu pemilik lapak nasi angkringan tersebut menyerah. Perlahan dia balik menatap dengan sedikit cemas.


“Tadi Ibu memang sempat memerhatikan kamu. Seperti pernah melihat kamu di sini, dan kebetulan wajahmu mirip dengan anak yang dulu pernah Ibu kenal,” ujar si ibu dengan jujur.


Paramitha terdiam. Hatinya menebak-nebak maksud di balik pengakuan ibu pemilik lapak nasi angkringan yang sedang diajaknya berbicara. Ardana yang semula hanya duduk memerhatikan kini berdiri namun belum beranjak.


“Mungkin kalau Ibu sebut siapa orangnya, barangkali saya juga mengenalnya?” Paramitha mencoba mengorek keterangan lain yang membuatnya penasaran.


Ibu pemilik lapak itu menarik napas dalam-dalam lalu melepas celemeknya yang sejak tadi dikenakannya.


“Orangnya mah dulu masih anak kecil. Kalau sudah besar, mungkin sebesar Neng sekarang. Namanya Paramitha Asmarani, anaknya Linggasatria dari keluarga Catranata dan Erni Suherni. Ibu juga sangat kenal dengan mamanya anak itu, karena di masa mudanya dikenal sebagai gadis cantik yang sangat baik di desa ini. Makanya begitu melihat kamu, Ibu seperti melihat wajah Erni. Ibu malah sempat mengasuh Paramitha ketika dia berusia dua tahun.”


Mendengar jawaban si ibu pemilik lapak nasi, jantung Paramitha mendadak berdegup kencang. Gadis ini tidak menduga kalau orang yang ada di hadapannya itu mengenal dirinya di masa lalu. Kedua matanya sedikit berkaca-kaca dan hampir saja akan menitikkan air mata. Namun Paramitha tetaplah gadis kuat dan tegar, dalam suasana bersedih paling berat sekalipun dia masih bisa menguasai diri.


Si ibu rupanya bisa merasakan adanya sesuatu yang janggal. Namun belum sampai pada kesadaran bahwa gadis cantik yang berdiri di depannya tidak lain adalah si gadis kecil yang dulu diasuhnya, Paramitha Asmarani Catranata.


“Maaf sebelumnya, Bu,” kata Ardana, “jangan terkejut, yang di depan Ibu memang Paramitha Asmarani.”


Seperti mendengar suara petir di siang terik, wajah si ibu mendadak pucat pasi. Betapa terkejutnya dia ketika Ardana memberitahu gadis yang sedang berinteraksi dengannya adalah Paramitha. Namun dirinya masih belum percaya. Paramitha ditatapnya dengan sangat lekat. Kedua matanya sama sekali tidak berkedip memandangi wajah gadis itu.


“Gusti Nu Ageung... jadi kamu benar-benar Paramitha anaknya Erni?!”


Paramitha mengangguk pelan, “Benar, Bu. Saya Paramitha putrinya Linggasatria dan Erni.”


Suasana yang semula biasa saja berubah drastis menjadi keharuan di mana si ibu pemilik lapak nasi langsung memeluk Paramitha sambil menangis. Bibirnya lirih mengucapkan berbagai kalimat syukur. Paramitha yang masih bisa menguasai diri hanya memejamkan mata sambil tersenyum getir. Tangannya mengusap-usap punggung ibu itu dengan lembut.

__ADS_1


Ardana dan remaja anak ibu tersebut hanya diam, saling berpandangan tanpa bisa mengerti. Tidak ada yang mereka lakukan selain membiarkan si ibu menumpahkan rasa syukurnya di pelukan Paramitha.


* * * * *


__ADS_2