
Ardana mengernyitkan dahi. Enam meter di depannya ada pintu baja yang mendurut dugaannya menutupi jalur lorong dan tampak tertutup rapat. Dia mendekat lalu memeriksa kondisinya. Tampilan karat berat yang melapisi hampir sebagian besar pintu itu menandakan siapapun yang pernah berada di sana terkesan tidak pernah membukanya. Benar saja, ketika Ardana mencoba melakukannya dia kesulitan. Seperti dikunci dari bagian lain jalur lorong di baliknya.
Pemuda ini mengacak-acak rambutnya sambil berpikir keras. Di sekitarnya tidak ada benda keras yang dapat digunakan untuk mencungkil paksa pintu baja tersebut.
“Seandainya aku membawa cairan korosin. Tapi, mana tahu kalau akan menemukan yang seperti ini?” gumamnya sambil celingukan.
Tiba-tiba dia berhenti bergerak lalu menoleh ke arah belakang. Entah merasa yakin atau tidak, sebelum sampai ke tempatnya berada sekarang dia sempat melewati beberapa ruangan di sisi kiri dan kanan lorong yang dalam keadaan terbuka. Namun karena merasa tidak perlu memeriksanya jadi dilewati begitu saja.
“Siapa yang tahu?” Ardana bergegas kembali ke bagian jalur lorong yang dimaksud, sambil berharap bisa menemukan berbagai benda yang sangat berguna untuk membuka pintu baja tadi.
Tiga menit kemudian dia sampai di sana. Ardana mulai memasuki ruangan pertama di sisi kanan. Tidak banyak yang ditemukannya selain bubuk bahan peledak yang entah sudah berapa lama disimpan dalam sebuah kotak besi yang engsel penutupnya sudah rusak. Jumlahnya tidak lebih dari satu kepalan tangan orang dewasa dan terbungkus dalam kain putih yang diikat menyerupai pocong. Melihat bentuknya, pemuda ini sempat bergidik ngeri namun geli. Selanjutnya, dari sembilan ruangan berikutnya dia mendapatkan seutas tali sumbu sepanjang dua meter, gunting serbaguna dan kawat berkarat dalam keadaan tergulung.
Butuh waktu agak lama mengumpulkan semuanya karena dia juga tertarik memeriksa setiap lemari besi di setiap ruangan. Alih-alih menemukan dokumen penting atau lambang misterius yang diceritakan Paramitha, hanya ada surat perintah maupun teknis perawatan tempat yang tidak begitu penting baginya.
Sebuah ide dadakan muncul di kepalanya setelah benda-benda tersebut dikumpulkan. Teringat pada bom yang pernah digunakan Ilham saat menjebol lapisan beton di atas sana, Ardana ingin mencoba membuat senjata serupa meskipun sebenarnya terkesan primitif.
“Sepertinya lorong ini akan bergetar hebat. Semoga saja tidak runtuh,” katanya.
Setelah kembali ke depan pintu baja tadi, semua bahan yang ada diletakkan di lantai. Mula-mula dia membentangkan gulungan kawat lalu menggunting bagian yang diperlukan. Salah satu bagian wadah pocongan bubuk bahan peledak dibukanya untuk memasukkan tali sumbu dan diikat kembali secara longgar. Potongan-potongan kawat dililitkan ke sisi kiri dan kanan wadah lalu ditempelkan pada pintu baja dalam posisi horizontal dengan bagian bersumbu menghadap ke atas. Agar bisa menahannya, masing-masing kawat ditautkan pada bagian celah engsel yang ada di setiap sudut atas dan bawah pintu baja. Bom sederhana tersebut berhasil rampung meskipun pembuatannya hanya dibantu dengan penerangan cahaya senter.
Ardana merasa bangga dengan karya primitifnya. Dia pun mengambil langkah mundur cukup jauh dari pintu baja untuk menembakkan pistol suar. Meski tidak yakin akan tepat sasaran, rasa penasaran untuk mencobanya lebih besar. Senjata tersebut memang tidak digunakan untuk menyerang selain untuk menembakkan suar ke udara sebagai sinyal minta tolong atau sebagainya. Tetapi hanya itu yang bisa menimbulkan percikan api jika menyentuh apapun yang mudah terbakar.
__ADS_1
Pistol suar itu diposisikan agak dekat dengan lantai namun tidak sampai menyentuh. Larasnya yang besar dan pendek diarahkan hingga tiga puluh lima derajat ke atas. Ardana mengambil napas dalam-dalam sambil duduk nyaris berjongkok. Jari telunjuknya menarik pelatuk dengan sangat lembut dan penuh kehati-hatian.
Bump!
Zssssssss!
Benda bulat berwarna kuning terang melesat cepat ke arah pintu baja dengan gerakan melengkung dari bawah ke atas. Suar yang ditembakkan membuat lorong terang benderang selama beberapa detik sebelum menghantam pintu dan menyerempet sedikit ke bagian wadah kain yang kemudian terbakar kecil.
BLEGGAAAARRR!!
Ledakan pun terjadi. Selama beberapa saat dinding lorong bergetar hebat hingga membuat langit-langitnya retak bersamaan dengan terpentalnya beberapa serpihan pintu baja yang hancur berkeping-keping. Gulungan asap tebal menyebar dengan cepat di jalur lorong hingga jarak puluhan meter ke belakangnya. Disusul suara benda berat yang jatuh berdebum cukup keras.
Ardana spontan menjatuhkan diri ke lantai sambil memegang erat helm kevlar di kepala. Dengan terpaksa dia menutup mata dan menahan napas, menunggu asap tebal yang menyelimutinya berangsur-angsur menghilang. Beberapa serpihan kecil dinding lorong yang retak juga beterbangan ke arah wajahnya.
Wajahnya menunduk sambil memerhatikan pintu baja yang ringsek nyaris tidak berbentuk lagi di lantai. Bagian pinggirnya tampak sedikit meleleh. Pemuda ini terkejut sekaligus kagum. Bahan peledak yang ditemukannya tadi ternyata memiliki daya ledak cukup hebat meski belum diberi campuran dari racikan bahan kimia khusus.
Ardana mengangkat kembali wajahnya ke depan lalu melangkahi rongsokan pintu baja di bawah kakinya. Di baliknya yang semula dikira sebagai terusan lorong ternyata ada ruangan lain yang luasnya hampir sama dengan area sel tahanan yang dia lewati sebelumnya.
“Ruangan lagi?” Dia masuk sambil mengedarkan cahaya senternya untuk mencari tahu.
Lagi-lagi Ardana harus menghemat napas. Bau busuk samar-samar tercium. Asalnya dari puluhan bungkusan kain yang membentuk jasad manusia terikat. Semuanya digantung dengan rantai besi yang menjulur dari atas hingga mencapai dua belas meter. Rantai yang ada saling berhubungan dan berpusat pada satu celah di bagian tengah langit-langit ruangan yang membentuk kubah. Ardana sempat tidak percaya dengan apa yang dia temukan saat ini. Tidak hanya itu saja, di bagian sudut terdapat empat tabung besi tanpa kaca setinggi empat meter yang tampaknya digunakan untuk menyimpan sesuatu. Kondisinya tampak sedikit rusak bekas dipukuli sesuatu dari luar dan dalam.
__ADS_1
“Pak Ilham? Masuk! Saya menemukan ruangan baru. Sepertinya tempat penyimpanan jasad manusia tapi saya tidak tahu untuk apa fungsinya. Ada puluhan bungkusan menyeruai pocong terikat menggantung terbalik,” katanya melapor melalui alat komunikasi.
[Ya? Coba perhatikan sekelilingmu, siapa tahu ada temuan lain?] Ilham membalas dengan cepat. Tampaknya lelaki paruh baya itu tidak menonaktifkan sistem komunikasi.
Ardana bergegas menjelajahi seisi ruangan. Di bagian kanan dia menemukan pintu besi yang dalam keadaan terkunci oleh gembok kombinasi angka yang masih sederhana. Sesosok jasad tentara terjembab di depannya dengan kedua tangan terulur ke arah sana. Dari wajahnya yang mulai rusak tampak jelas ada ketakutan luar biasa yang dialaminya sebelum meregang nyawa. Ketika diperiksa, Ardana menemukan sebuah lubang pipih memanjang di bagian belakang kepalanya.
Pemuda ini seketika teringat pada jasad seorang penduduk tidak dikenal yang ditemukan di atas sana beberapa hari lalu, ketika melakukan penyelidikan bersama Ilham. Lubang yang sama juga terdapat pada jasad tersebut, masih di bagian belakang kepala.
Zriiiiit! Zriiiiit!
Suara benda tajam yang diseret kasar membuat Ardana membalikkan badan dengan cepat. Refleks, dia mematikan semua cahaya senter. Kedua matanya memicing penuh curiga sambil melirik ke kiri dan kanan. Untuk meyakinkan kalau dirinya tidak salah dengar, Ardana menahan semua gerakan dan kembali menajamkan indera pendengarannya.
“Duh, itu apalagi? Sepertinya makhluk-makhluk itu bisa mencium keberadaan manusia dengan cara yang tidak terduga,” gumamnya.
Suara yang sama kembali terdengar. Lebih cepat dan dekat dari sebelumnya, seolah sesuatu yang menimbulkannya ada di dalam ruangan yang sama. Ardana segera mengaktifkan kemampuan kacamata canggihnya untuk memastikan.
“Oh, itu dia!” serunya tertahan, nyaris tidak terdengar.
Sesosok makhluk dengan tubuh terbalut sisa kain kafan yang rusak terkoyak baru saja masuk melalui pintu yang tadi dihancurkan oleh Ardana. Kulitnya yang abu-abu kehitaman tampak membusuk dengan banyak luka sayatan yang masih mengalirkan darah. Daging pipinya yang rusak penuh lubang membuat rahang bawahnya menggantung sehingga mulutnya menganga. Matanya yang merah tajam menyalak liar ke berbagai arah, seperti sedang berusaha menemukan sesuatu.
Ardana hanya bisa bergerak senyap dan menyelinap sambil menyaksikan makhluk dengan tinggi empat meter itu mengayunkan sabit bertongkat di tangannya. Membabat semua bungkusan berisi jasad manusia yang menghalanginya. Sosok mengerikan yang baru dilihat Ardana itu kemudian mencabik salah satu jasad dalam bungkusan kemudian menyantapnya dengan rakus.
__ADS_1
* * * * *