
Paramitha menggeleng tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Gadis itu menatap tajam namun lemah pada Ardana yang tetap menunduk. Begitu juga dengan Marni. Dua perempuan yang selama bertahun-tahun dibayang-bayangi rasa penasaran yang terlampau besar atas kejadian yang menimpa orang-orang yang mereka sayangi. Terutama Paramitha yang hingga usianya yang melewati angka dua puluh terus mencari penyebab kematian ayah dan ibunya.
Untuk membuat mereka percaya, Ardana mengeluarkan lipatan kertas dengan noda darah pekat yang disimpannya.
“Ini adalah memo yang saya temukan di tempat itu. Ada pada salah satu mayat tentara tanpa lambang kesatuan maupun identitas diri di salah satu ruangan yang saya periksa.”
Ardana memberikan kertas yang sudah dibuka lipatannya tersebut pada Paramitha. Setelah tangan di gadis menerimanya, rasa sesak di dada pemuda ini justru semakin bertambah. Dia tidak tahu apakah Paramitha sanggup untuk membaca isi memo lama yang tulisannya hampir menyatu dengan noda darah. Apalagi ketika di tengah perjalanan dari Bandung menuju Ciamis, Ilham sempat mengingatkan untuk tidak menyinggung hal yang sensitif pada Paramitha. Namun, demi memberitahukan kenyataan hal itu justru harus dilanggarnya juga.
Jantung Paramitha berdegup kencang saat tangannya membuka lipatan demi lipatan kertas yang masih terasa lembap. Beberapa bagian bahkan robek kecil meski dia sudah melakukannya dengan hati-hati. Kebenaran ucapan Ardana ada di dalamnya, dan sebentar lagi baik dirinya ataupun Marni akan mengetahuinya.
Kedua matanya seketika menggenang setelah membaca kalimat pertama isi memo. Napasnya berubah menjadi lebih cepat dari sebelumnya hingga perlahan mulai terdengar berat. Rasanya begitu pedih sampai kedua tangannya bergetar hebat. Marni berdiri dengan wajah terkejut melihat reaksi keponakannya. Jantungnya ikut berdegup kencang. Entah kenapa dia merasakan adanya hawa kedukaan yang tidak siap diterima oleh mereka berdua. Wanita paruh baya ini pun memutuskan untuk mendekati Paramitha, lalu membaca sendiri memo yang sedang dipegang oleh gadis itu.
“Ayah, Ibu....” Paramitha langsung terduduk lemas dengan air mata mengalir deras. Gadis itu tidak bisa membendung tangisnya dan sesenggukan pilu.
Gadis itu tidak meyangka akan mengetahui kebenaran yang selama ini tertutupi dari orang lain seperti Ardana. Selama ini Ilham hanya menceritakan kalau ayah dan ibunya meninggal karena sebuah kecelakaan di Hutan Sirnasurya. Begitu pula yang selalu dikatakan Nina ketika dirinya masih kecil dan berada di bawah asuhan ibu sahabatnya tersebut.
Marni yang baru selesai membaca isi memo tampak bisa menguasai diri. Tidak ada air mata. Hanya kedua matanya saja yang terpejam lemah. Namun, Ardana tahu kalau hati wanita paruh baya itu ikut hancur mengetahui akhir hayat saudari kandungnya yang tragis karena perbuatan orang lain yang memiliki kekuasaan.
Ardana merangkul bahu Paramitha yang masih menangis tersedu-sedu. Niatnya untuk mengantarkan Paramitha ke Desa Karanghawur demi membersihkan nama kedua orangtuanya yang diisukan mati karena ilmu hitam justru terkuak karena perbuatannya sendiri. Namun selembar memo belumlah cukup untuk meyakinkan orang-orang di luar sana. Dia yang memulai, dia juga yang harus mencari bukti-bukti lain. Setelah melihat sendiri bagaimana reaksi Paramitha begitu membuat hatinya pilu, tidak ada pilihan lain selain kembali ke bawah sana. Menembus kegelapan yang dia sendiri tidak pernah tahu ada apa di dalamnya.
“Tabahkan dirimu, Mitha,” katanya sambil membelai rambut Paramitha.
Lalu tanpa sadar, dirinya juga mengalirkan air mata. Ardana baru menyadari setelah dia merasakan tetesannya yang jatuh ke tangan kanan. Kepedihan yang dirasakan Paramitha ternyata ikut terhubung dengan dirinya.
“Maafkan aku karena seharusnya tidak memberitahukan hal itu terlalu dini,” sesalnya dalam hati.
* * * * *
Sambil mengemudikan mobil, Ardana terus menatap lurus ke depan. Hari yang beranjak gelap membuatnya ingin segera pulang ke Desa Cikembang, apalagi dia belum memberi kabar pada Ilham. Meski dibayang-bayangi hukuman dari purnawirawan Kopassus itu karena pergi membawa anak gadis orang dalam waktu yang agak lama tanpa memberi kabar, menyampaikan alasan kuat secara langsung dipikirkannya secara langsung adalah pilihan tepat.
__ADS_1
Sepintas sorot matanya mengesankan kehampaan. Berkali-kali pemuda ini menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan berat. Sejak mengikuti keputusannya untuk terbuka mengenai apa yang terjadi pada kedua orangtua Paramitha, dia terus memikirkan apa yang akan terjadi waktu yang akan datang.
Diliriknya Paramitha yang terlelap di kursi sebelah. Sejak belasan menit yang lalu dia sudah tertidur karena kelelahan dan dilanda kesedihan. Gadis itu bahkan sempat tertidur di sana dan mau tidak mau Ardana harus menunggui. Marni menginginkan agar Paramitha menginap namun ditolak halus karena memang keduanya tidak bilang akan menginap baik pada Ilham maupun Nina.
Wajah kelelahan si gadis yang kini tampak agak pucat itu membuatnya terenyuh. Ardana kini merasa bersalah besar sudah menyinggung sesuatu yang memicu kembalinya kedukaan belum pada saatnya. Meski tampak sebagai sosok yang tegar dan kuat, tetap saja Paramitha adalah manusia biasa yang bisa merasakan kepedihan kehilangan ayah dan ibunya sejak masih kecil.
"Benar-benar menyesakkan," desisnya tertahan.
Diliriknya waktu yang terus berjalan bersama gerak jarum penunjuk di jam tangannya. Masih belum telat untuk pulang kalau tidak ingin disebut pulang terlalu malam.
"Semoga saja Bu Nina tidak mengamuk karena anak gadis asuhnya kuajak pergi sampai selama ini."
* * * * *
Nina yang sedang menunggu Paramitha pulang sesekali berdiri dari tempatnya duduk di beranda.Sementara itu lampu dari beberapa rumah di sekitar satu demi satu mulai menyala. Sempat merasa khawatir, perasaannya menjadi lega ketika melihat mobil Ford Ranger yang tampak familier mendekati pekarangan rumahnya beberapa saat kemudian lalu berhenti.
Ardana turun dari mobil lalu berlari kecil ke bagian kiri untuk membukakan pintu. Sedetik kemudian Paramitha keluar dengan wajah yang tampak sendu. Ardana mencoba membantunya untuk turun karena belum ada satu menit gadis itu terbangun. Keduanya sempat saling bertatapan sebelum akhirnya sama-sama memalingkan wajah. Meski dari jauh, Nina bisa melihat betapa pucatnya wajah Paramitha. Dengan langkah kaki yang sedikit gagah untuk ukuran ibu-ibu, dia turun mencegat kedua muda-mudi itu dengan berbagai prasangka di hati.
“Eta si Neng jigana teu damang kitu atawa pasea? Bet cicing bari manyun kitu duanana,” gumamnya.
Ardana dan Paramitha yang berjalan beriringan tertahan melihat Nani yang sudah mendekat.
“Maaf, Bu. Mitha hampir membuat Ibu cemas,” ucap Paramitha sambil memaksakan senyumnya.
Nina yang bisa merasakan perubahan sikap gadis cantik itu tidak membalas. Tatapan curiganya justru diarahkan pada Ardana. Seketika itu juga si pemuda kelabakan.
“Mitha baik-baik saja, Bu. Hanya saja sedikit kelelahan,” kilahnya cepat.
Nina berkacak pinggang. Tatapannya yang semula tajam kini menjadi sengit.
__ADS_1
“Kalau begitu, kenapa pulang jam segini atuh? Kalau ada apa-apa di jalan bagaimana dengan si Neng?” Liriknya pada Paramitha yang memerhatikan dirinya dan Ardana.
Paramitha berusaha melerai dengan membentangkan sedikit kedua tangannya ke arah mereka berdua. “Sudah, Bu. Ardana tidak salah. Mitha memang sengaja sedikit lebih lama di Karanghawur."
Ardana mengangguk, mendukung perkataan si gadis yang dianggapnya sebagai pembelaan atau mungkin tidak ingin ada keributan sekecil apapun. Nina mengangguk-angguk tanpa melepas tatapannya dari si pemuda. Tentu saja yang ditatap menjadi kikuk dan kebingungan. Paramitha yang semula tampak sedikit muram perlahan tersenyum simpul melihat perlakuan ibu sahabatnya itu pada kekasihnya.
“Ibu terlanjur percaya pada kamu. Jangan ulangi lagi, kalau ada apa-apa dengan Paramitha jangan berani ke sini lagi. Malu atuh dengan kesanggupan yang kamu tetapkan sendiri!”
Entah Ardana harus cemas atau bagaimana, yang jelas Nina mengatakan kalimat tadi tidak terdengar seperti sebuah ancaman. Wanita paruh baya itu menepuk kecil bahu Paramitha untuk mengajaknya masuk ke dalam rumahnya. Sebelum berpisah, si gadis menggenggam tangan Ardana dengan erat. Seolah tidak ingin melihatnya berbalik cepat meninggalkannya.
“Eh.” Ardana terperanjat.
Paramitha yang masih tampak muram mencoba tersenyum tulus dan manis untuknya. Mengembang meski tidak terlalu lebar namun begitu indah di matanya. Ardana bisa merasakan detak jantungnya berpacu lebih cepat. Bukan kecantikan gadis itu yang menjadi pemicunya, melainkan karena ikatan batin yang mulai kuat antara mereka berdua.
“Kamu hati-hati di jalan. Terima kasih sudah mau menemaniku seharian ini,” katanya tulus.
“Kamu ini, padahal aku tinggal menumpang di rumah kepala desa dan tidak terlalu jauh juga. Aku masih bisa menjumpaimu setiap hari. Dan satu lagi, berhentilah memamerkan wajah muram itu,” balas Ardana sedikit geli. Di dalam hatinya, dia justru ingin dipedulikan dengan cara sederhana seperti itu.
Paramitha menggeleng sambil tetap tersenyum. “Keras kepala. Kamu keras kepala di balik sifatmu yang tampak lunak.”
“Biar keras kepala, tapi kamu suka,” sahut Ardana tidak mau kalah. Melihat perubahan si gadis, dirinya merasa bangga bisa mencairkan suasana.
“Terserah kamu,” desah Paramitha, “yang penting kamu segeralah pulang ke rumah Pak Odang. Kamu sudah membalas pesan dari beliau?”
Ardana merasa seperti tersengat listrik tegangan tinggi. Dia segera tersadarkan kalau pesan dari Ilham sejak tadi pagi belum dibacanya. Dengan kelabakan dan tanpa sempat pamit dia merogoh saku jaket untuk membuka pesan dari si pengawas yang ternyata sudah bertumpuk hingga belasan. Larinya cukup cepat seperti anak kecil yang mengejar layang-layang putus. Dengan gerakan kilat Ardana masuk kembali ke mobil Ford Ranger yang dia putar balikkan dari pekarangan lalu tancap gas sedikit menuju wilayah pemukiman di dekat alun-alun desa.
Melihat tingkah lelaki itu, Paramitha ingin sekali tertawa. Kesedihan terdalamnya yang terjadi tadi pagi seolah sirna begitu saja dengan pelipur lara sederhana tidak langsung dari sang kekasih.
* * * * *
__ADS_1