
Ilham terkejut bukan main menerima kabar yang tidak baik dari Nina. Paramitha menghilang dari kediaman wanita paruh baya itu, entah sejak kapan. Lelaki ini kemudian meninggalkan hubungan komunikasi dengan Ardana yang sedang bertugas lalu bergegas menuju rumah sahabatnya tersebut. Sesampainya di sana Ilham akhirnya melihat sendiri kalau Paramitha benar-benar tidak ada di sana. Hadi dan Nina yang menyambut kedatangannya dilanda kebingungan.
“Bagaimana bisa anak itu menghilang?! Apa kalian tidak melihat sesuatu yang mencurigakan dari sikapnya?” Ilham yang mulai pening mencoba mengendalikan diri. Sangat tidak pantas kalau dirinya sampai mengamuk di rumah orang lain.
“Tidak ada yang aneh dari Paramitha, Ham. Benar-benar tampak normal seperti biasa. Tapi... pagi tadi dia sudah tidak ada di kamarnya. Kami pikir dia pergi hanya untuk berjalan-jalan, tapi setelah kujang warisan Catranata tidak ada di tempatnya, kami curiga Paramitha membawanya ke suatu tempat,” jelas Hadi.
“Melaporkannya pada Odang juga sia-sia, Ham. Kalau warga desa tahu, kasihan Paramitha nanti,” timpal Nina.
Ilham membenarkan perkataan Nina. Bagaimanapun juga identitas asli Paramitha harus tetap dirahasiakan sampai waktu yang tepat tiba untuk membukanya pada warga Desa Cikembang. Seisi desa masih dibayang-bayangi kejadian tragis yang menimpa keluarga Catranata dan rentetan kasus orang hilang di Hutan Sirnasurya yang terus terjadi selama bertahun-tahun. Mereka pasti tidak akan membantunya dan malah memburu gadis itu untuk ditangkap. Lebih buruknya lagi adalah terancam dihabisi.
Lelaki paruh baya ini tidak bisa membayangkan jika Paramitha sampai berkeliaran bebas dan tanpa batas di tengah desa. Beberapa orang warga Desa Cikembang yang pernah bekerja atau berurusan pada keluarga Catranata tentu masih bisa mengenali wajah gadis itu yang mirip dengan kedua orangtuanya. Ilham memilih tidak percaya pada mereka karena loyalitas yang diragukan.
Sempat terlintas ide dalam benaknya untuk memberitahukan kehilangan Paramitha pada Ardana. Namun dia khawatir akan merusak konsentrasi pemuda itu dan berdampak pada tugas yang sedang dijalaninya. Dia melirik pada wadah tempat kujang hitam bergagang tanduk putih warisan keluarga Catranata yang ada di dalam lemari berpintu kaca, lalu beralih pada pasutri pemilik rumah yang duduk berhadapan dengannya.
“Kalian sudah periksa kamarnya Paramitha? Mungkin ada sesuatu yang sengaja ditinggalkan untuk kita.”
Hadi dan Nina menggeleng kompak.
“Kami sudah periksa, Ham. Tapi mah teu aya nanaon nu ditinggalkeun ku manehna, kecuali barang-barang pribadinya,” kata Nina.
“Periksa lagi yang teliti. Ayo, kita periksa lagi!” sahut Ilham, bangkit dari duduknya. Dia melangkah tenang menuju kamar Paramitha yang pintunya terbuka.
Tanpa menunggu persetujuan Hadi dan Nina, Ilham melakukan penggeledahan dengan sangat cermat. Setiap sudut sempit di antara lemari dan barang-barang lainnya tidak luput dari pemeriksaannya.
Hadi dan Nina berdiri mematung di dekat pintu sambil memerhatikan Ilham yang harus sampai menubrukkan badan untuk mencari apapun klu yang bisa ditemukan. Dibandingkan kecemasan pasutri itu, Ilham jauh lebih cemas. Kedekatan Hadi dan Nina dengan keluarga Catranata tidak terlalu spesial, berbeda dengannya yang sudah lama mengenal kedua orangtua Paramitha. Purnawirawan Kopassus ini merasa sangat bersalah dan tidak bisa memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi pada anak gadis semata wayang dari Linggasatria dan Erni.
__ADS_1
Secarik kertas bernoda darah tidak sengaja terjatuh dari kantung jaket bomber merah marun milik Paramitha yang digantung di balik pintu.
“Kertas apa ini?” Ilham memungutnya lalu membuka lipatannya dengan hati-hati.
Kedua matanya seketika membelalak membaca isi kertas itu.
* * * * *
Pagi tadi sebelumnya
Sesosok gadis berambut lurus sebahu melintasi jalan setapak rusak di tengah Hutan Sirnasurya. Seolah tidak merasa takut dengan cerita yang beredar tentang tempat itu, dia berjalan dengan wajah tenang. Namun langkah kakinya cepat, mengesankan dirinya sedang terburu-buru. Sesekali gadis ini menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada yang membuntutinya. Tangan kirinya dimasukkan ke depan dadanya yang ditutupi jaket woll merah marun.
Si gadis yang tidak lain adalah Paramitha Asmarani Catranata ini kemudian berhenti di sebuah tanah lapang dengan sisa beton yang hancur berserakan. Matanya menatap penuh penasaran pada sebuah lubang yang ada di depannya.
“Tidak salah lagi, pasti jalannya lewat sini,” gumamnya.
Jasad seorang tentara yang dapat dikatakan antara membusuk dan tidak adalah hal mengerikan pertama yang dilihatnya saat menginjakkan kaki di dasar lubang. Gadis ini sempat terperanjat sebelum akhirnya mencoba untuk bersikap biasa saja. Jasad tanpa nyawa tersebut dilewatinya begitu saja, menuju sebuah lorong yang di ujungnya memiliki celah kecil.
Nuansa suram yang dirasakannya semakin menguat begitu dia berhasil keluar dari celah tadi. Kini dia berada di sebuah jalur lorong lain yang lebih besar, di mana ada banyak jasad tentara lain yang mati dalam beragam kondisi. Paramitha menahan napas dengan wajah menegang. Matanya menatap nanar sambil terus berjalan melewati semua jasad yang seakan menghindari sesuatu.
“Aaakh!”
Paramitha tiba-tiba memegangi kepalanya sambil meringis. Ingatannya seolah dipaksa untuk memutar kembali sesuatu yang pernah dialaminya. Sebuah tempat yang sama, hanya sedikit berbeda di mana ada banyak tentara tanpa identitas dan lambang kesatuan berjaga ketat. Wajah mereka kurang nyaman untuk dilihat terlalu lama karena tidak ada kesan ramah. Dirinya dibawa oleh seorang serdadu yang wajahnya tidak terlalu jelas. Semua mata manusia berseragam kamuflase yang ada di sana tertuju hanya padanya. Ada suara isak tangis gadis kecil yang datang dari dirinya sendiri.
“Bayangan kejadian itu lagi,” desisnya.
__ADS_1
Samar-samar visualisasi tadi dikaburkan oleh warna hitam yang semakin kuat. Paramitha mendesah sedikit kecewa karena adegan demi adegan yang baru saja melintas di pikirannya lenyap begitu saja.
Perjalanan kembali dilanjutkan. Di depannya ada sebuah pintu baja yang terbuka setengah. Tampak dari baliknya, jasad seorang tentara lain yang berusaha keluar dengan tangan terulur ke arahnya. Paramitha yang tidak tertarik untuk memeriksa memilih untuk melewatinya. Dari balik pintu tersebut masih ada banyak mayat tentara yang kondisinya sama seperti yang ada di depan.
Salah satu dari jasad itu tiba-tiba bergerak.
GRRRRRRKKHHH! GRRRRRRRRKHHHH!
Sesosok mayat hidup menggerakkan seluruh anggota tubuhnya yang kaku lalu bergetar hebat. Kepalanya seperti mau meledak ditandai denyutan cepat beberapa kali. Tatapannya langsung tertuju pada Paramitha yang berdiri tertahan di tempatnya.
BRRRUUUCCHHH!
Kepala mayat hidup itu akhirnya meledak. Darah segar memuncrat bebas ke segala arah. Dari pangkal lehernya muncul belasan tentakel merah yang ujungnya memiliki kepala. Dari jauh tampak seperti ular yang menggeliat cepat dan bebas. Setiap kepala memilik mulut lebar dengan ratusan gigi tajam yang mampu mengoyak daging sekeras apapun.
Di saat yang sama, Paramitha sudah menggenggam sesuatu di tangan kanannya. Sebilah kujang hitam bergagang tanduk putih yang dibawa serta bersamanya dari rumah Nina. Kedua kakinya yang semula tampak kaku kini sedikit direnggangkan menjauh. Tatapan mata merah kehitamannya berubah menjadi lebih tajam. Senjata tradisional di tangannya kini dihunuskan ke arah mayat hidup berkepala belasan tentakel yang berlari ke arahnya.
Zrraat!
Zrraat!
Bilah kujang yang sangat tajam diayunkan dengan cepat. Gadis ini bahkan tidak banyak melakukan gerakan menghindar kecuali berkelit ke kiri. Tangan kanannya bergerak cepat membabat satu persatu tentakel yang mencoba menyambar lehernya.
Brugh!
Mayat hidup itu kehilangan kepala barunya hanya dalam hitungan detik. Jasadnya kembali ambruk tepat di bawah kaki Paramitha.
__ADS_1
* * * * *