Petaka Biohazard: Lorong Kematian

Petaka Biohazard: Lorong Kematian
Magasin Kosong


__ADS_3

Ardana mengusap dahinya dengan napas terengah-engah. Sudah ada tujuh truk yang dia periksa dengan sangat teliti. Hanya ada dua kotak besi serupa dengan yang dia temukan pertama kali sebelumnya. Merasa mulai kesulitan membongkar langsung saat masih di dalam boks, Ardana memilih untuk menurunkan tiap kotak ke bawah truk lalu diletakkan begitu saja. Semua isi di dalam kedua kotak besi tersebut belum diperiksanya.


“Tinggal satu truk lagi,” ucapnya dengan optimis.


Paramitha hanya berdiri mematung di dekatnya. Gadis ini masih mendekap dokumen dalam amplop besar berwarna cokelat dari truk pertama. Sementara Ardana sibuk membongkar boks di truk terakhir, dia mengalihkan pandangan ke langit-langit basement yang tingginya mencapai hampir empat puluh meter.


Upaya Ardana membongkar boks kedelapan mengalami kesulitan. Ternyata tidak hanya kunci dijital dan gulungan rantai besi di bagian dalamnya namun juga ada penopang khusus dengan sistem pegas yang cukup merepotkan di setiap sudutnya.


“Aku butuh ledakan,” desisnya. Dia pun teringat dengan beberapa granat yang dikumpulkannnya dari gudang senjata di atas sana. Ransel miliknya yang diletakkan di dekat roda belakang truk disambarnya dengan cepat.


Dua buah granat dan empat kantung kain bahan peledak yang masih aktif diikatkan pada gulungan kawat yang cukup panjang. Setelah dipastikan terikat kuat, Ardana membawanya kembali lalu mencari beberapa celah kait di setiap sudut antara besi penyangga boks. Masing-masing ujung kawat yang menggular ke empat arah berbeda diikatkan di sana dengan hati-hati dan kokoh. Granat dan bahan peledak pun terikat dengan bagian tengah yang hampir menempel di pintu boks baja. Dengan perlahan, kunci granat ditariknya lalu dibuang ke sembarang arah. Sekarang dia hanya punya waktu lima detik saja untuk menghindari ledakan yang akan terjadi.


“Mitha, ayo menyingkir!” seru Ardana sambil melompat. Dia menggandeng Paramitha dan mengajaknya berlari menjauh. Mereka menemukan sebuah tempat berlindung di sisi kiri sebuah panser yang berada tidak jauh dari kedelapan truk militer itu.


BLEGGAAARRRR!


Secara bersamaan Ardana dan Paramitha merunduk dengan kedua tangan menutup rapat telinga masing-masing. Si pemuda bahkan menggunakan tubuhnya sebagai pelapis untuk melindungi gadis pujaan hatinya itu. Di luar dugaanya, suara ledakan yang dihasilkan ternyata jauh lebih besar hingga nyaris menembus ke dalam indera pendengaran. Untuk beberapa detik keduanya mengalami sensasi berdengung di telinga yang cukup kuat. Jilatan lidah api bahkan menyebar hingga ke bagian atas panser tempat mereka berlindung.


Ardana membelalak dan mengerjap silih berganti. Masih dengan telinga yang berdengung hebat dia berusaha bangkit kembali dengan bertopangkan shotgun di tangan kiri. Tangan kanannya berusaha meraih Paramitha dan membantu gadis itu berdiri. Paramitha merespon dengan balik memegangi tangannya.


“Dan, telingamu... berdarah!”


Ardana terperanjat mendengar Paramitha mengatakan telinganya berdarah. Di saat yang bersamaan dia merasakan cairan hangat yang mengalir dari dalam lubang telinga kanan. Pemuda ini mengusapnya lalu dilihatnya dengan saksama. Jari-jarinya kini tampak basah oleh sesuatu berwarna merah yang memang tidak lain adalah darahnya sendiri. Ternyata tidak hanya dari lubangnya saja. Seluruh telinga kanannya tampak rusak penuh luka akibat tergores serpihan granat dalam jumlah besar.


“Aaakh! Payah sekali!” erang Ardana sambil memegangi telinga kanannya. Rasa sakit seperti ditusuk-tusuk benda tajam yang panas tiba-tiba muncul di bagian itu.


“Jangan bergerak, Dan. Duduk dulu!” perintah Paramitha sambil membawanya menepi kembali di sisi kiri panser.


Dengan rasa sakit di telinga kanan yang mulai terasa menyiksa, Ardana tidak memiliki pilihan lain selain menuruti Paramitha. Gadis itu membuka kotak P3K yang diambilnya dari dalam ransel milik Ardana. Sepotong kapas yang sudah dibubuhi cairan antiseptik diusap perlahan ke bagian yang luka.

__ADS_1


Ardana meringis setiap kali luka di telinga kanannya bersentuhan langsung dengan permukaan kapas. Menyadari luka yang diderita pemuda ini cukup parah, Paramitha berusaha membersihkannya dengan hati-hati sebelum menutupinya dengan perban.


“Aku harus mengambil dua kotak itu, mungkin tiga, kalau boks baja kedelapan ada isinya.” Pemuda ini mencoba menepis tangan si gadis sambil berusaha berdiri.


Paramitha bereaksi cepat dengan menangkap tangan Ardana. “Jangan dulu. Biar aku saja yang ambilkan,” larangnya.


Ardana memejamkan mata sambil menarik napas dalam-dalam, membuangnya dengan sekali hembusan lambat dan berat. Ada rasa kesal bercampur penyesalan yang sebenarnya bukan masalah besar bagi Paramitha.


“Padahal aku ingin menyelesaikannya dengan cepat agar kita bisa segera keluar. Tapi malah begini jadinya. Aku takut... keadaanku saat ini malah hanya akan menghambat upayaku untuk membawamu keluar dari tempat ini,” ujarnya dengan indonasi yang melemah, tanpa menatap langsung pada Paramitha.


Mendengar Ardana meratap seperti itu membuat Paramitha sedikit jengah. Tangannya menyambar pipi si pemuda dengan cepat dan menepuk pelan. Wajah Ardana dihadapkan langsung padanya. “Kamu sudah berusaha. Jangan menyalahkan diri sendiri begitu,” tukasnya.


Ardana menelan salivanya. Tatapan Paramitha yang sedikit tajam namun penuh makna malah membuatnya semakin tenggelam dalam suasana yang melankolis. Tangannya terulur membelai pipi si gadis.


“Kalau aku sampai gagal membawamu keluar, bukan hanya Pak Ilham, Bibi Marni, Bu Nina maupun diriku saja yang bersedih. Seluruh anggota keluargamu, baik yang masih hidup dan yang sudah meninggal akan sangat kecewa putri penerus mereka bernasib malang. Terutama sekali pada ayah dan ibumu.”


Paramitha menggeleng lemah. Sorot mata merah kehitamannya kini menjadi lebih tajam dari sebelumnya. Ardana yang tersentak tidak bisa berkata apa-apa.


Kalau kita berhenti sampai di sini, itu bukan hal yang baik. Aku berhasil merengkuh semangatku kembali untuk membuktikan keluarga besarku tidak bersalah juga karenamu. Kalau saja ayah dan ibuku masih hidup dan tahu siapa kamu, mereka pasti akan sangat senang anak gadisnya berada di tangan orang yang mampu membawa perubahan besar.”


Ardana yang sempat merasa pesimis kini berusaha tersenyum mendengar pengakuan Paramitha yang secara tersirat masih percaya dan tetap ingin bersamanya. Ingin sekali rasanya memeluk gadis itu kalau bukan karena masih ingat mereka belum aman dan bukan saatnya untuk mengekspresikan rasa senang.


Paramitha menggenggam erat tangan Ardana lalu meletakkannya di dada si pemuda.


“Kutitipkan kepercayaanku di sini,” ucapnya tulus.


* * * * *


RATATATATATATAT! RATATATATATATAT!

__ADS_1


BLEGGAAARRRR!


Kejutan yang meriah namun tidak menyenangkan membuat Ilham dan keempat serdadu Kopassus yang ikut bersamanya terpaksa bertempur dengan kekuatan penuh. Meski lawan yang dihadapi bukanlah gerombolan bersenjata, namun keganasan makhluk mutan dan mayat hidup di area eksperimen bawah tanah itu ternyata cukup merepotkan. Beberapa dari mereka yang tubuhnya tinggal separuh dan bertopang pada belasan tentakel menggelikan merayap cepat melakukan pengepungan.


Lelaki paruh baya ini mengawali serangan dengan melemparkan pisau komandonya ke arah salah satu dari mereka. Senjata tajam itu menancap tepat di kepala sasarannya. Makhluk itu langsung ambruk dengan menggelepar singkat lalu tidak lagi bergerak. Berikutnya yang terdengar adalah suara rentetan senjata api diselingi beberapa kali ledakan.


Keempat serdadu Kopassus yang datang bersama Ilham kini menunjukkan kemampuan masing-masing. Meski dengan tubuh yang ditutupi oleh ransel dan aneka perlengkapan yang cenderung berat, gerakan mereka sama sekali tidak terhambat. Sambil mengkombinasikan serangan menggunakan senjata api, para anggota pasukan elit itu juga lihai memainkan pertarungan dengan senjata tajam. Mata mereka sangat terlatih untuk mampu mengantisipasi serangan yang datang dari berbagai arah dan tidak terduga.


“Jangan sisakan satupun dari mereka!” seru Ilham tegas sambil menggorok salah satu mayat hidup kemudian menendangnya hingga tersungkur.


Keempat serdadu itu tidak menyahut dan terus memainkan kemampuan mereka dalam menghabisi lawan yang sudah bukan lagi sesama manusia. Raungan kematian yang menggema tidak membuat mereka mengendurkan serangan. Hanya dalam waktu belasan menit saja, puluhan makhluk aneh dalam beragam bentuk mengerikan itu bertumbangan.


Ilham menatap nanar sekaligus tegar ke arah puluhan jasad tersebut dengan senapan FN SCAR L yang dipanggul di bahu kanan. Keempat personil Kopassus di sekitarnya mengecek ulang apakah semua sudah dihabisi.


Setelah beberapa langkah ke depan, Ilham mendapatkan sesuatu yang menarik. Sebuah magasin pisang yang kosong tergeletak di dekat area penjagalan yang mereka lakukan. Lelaki paruh baya ini memungutnya untuk memeriksa. Tiba-tiba dirinya merasa sangat familier dengan bentuknya berikut sisa selongsong yang berserakan di dekat magasin tersebut tergeletak.


“Magasin ini masih baru. Jangan-jangan ini dari senjata yang kuberikan pada Ardana,” gumamnya menduga-duga.


“Pak, ada sesuatu di sini!” seru salah seorang personil Kopassus yang memisahkan diri agak jauh dari mereka. Di hadapannya ada sebuah dinding yang jebol cukup besar dan lebar hingga mencapai tinggi empat puluh meter lebih.


Ilham dan yang lain bergegas menghampiri. Di balik dinding itu ada sebuah ruangan lain yang memiliki ukuran luas dan besar. Ada banyak sesuatu berwarna hitam seperti kerak yang mengeras namun lunak ketika disentuh.


“Ruangan apa ini?” desisnya penasaran.


Sejauh mata memandang hanya ada kerak tebal berwarna hitam pekat dengan banyak jasad manusia yang sudah rusak menempel di sela-selanya. Ilham menegangkan rahangnya menyaksikan pemandangan yang tidak pernah dia berharap untuk melihatnya. Sambil berjalan memasuki ruangan itu, dia menoleh-noleh ke semua arah sambil menodongkan senjatanya. Sekat kaca anti peluru yang tebal beserta beberapa pintu tampak hancur berantakan.


“Mereka berdua pasti berada di sini beberapa waktu yang lalu,” imbuhnya.


Ilham berbalik badan menghadap ke arah keempat serdadu Kopassus yang sedari tadi menunggu perintah selanjutnya. Dia memamerkan magasin kosong yang dipungutnya.

__ADS_1


“Kita sudah dekat. Temukan petunjuk lain yang tampak masih baru seperti benda ini.”


* * * * *


__ADS_2