Petaka Biohazard: Lorong Kematian

Petaka Biohazard: Lorong Kematian
Tabu dan Kasus Orang Hilang


__ADS_3

Di saat yang sama dengan kedatangan Paramitha


Warung kopi di dekat gapura Desa Cikembang sedang tidak terlalu ramai. Latar belakangnya yang berupa lahan kebun kopi yang cukup luas membuat mata siapapun akan merasa segar dengan pemandangan hijaunya. Di depannya, sebuah mobil Ford Ranger terparkir. Siapa lagi pemiliknya kalau bukan Ardana Putra dan Ilham Jati Rahwana? Kedua orang ini sengaja mampir ke sana setelah Ardana memilih untuk minum kopi di sana. Ilham yang mula mengantuk akhirnya setuju. Melihat penampilan mereka berseragam taktis dengan perlengkapan tempur lengkap, enam orang warga yang juga sedang menikmati secangkir kopi dan pisang goreng langsung menyingkir. Ada kepanikan di wajah mereka.


“Santai atuh, ulah ngajauhan. Kadieu, kadarieu kabeh! Kang... kopi susu satu untuk anak muda ini, kopi hitamnya juga satu untuk saya.” Ilham melirik Ardana lalu menatap warga yang keheranan sambil menduduki tempat yang diinginkan.


“Urang kadieu mah hayang ngopi, lain rek newak maraneh,” tambahnya lagi.


Mereka yang tadinya menyingkir segera kembali ke tempat mereka semula.


“Maaf ini téh sebelumnya. Kami mah lain sieun ditéwak, tapi... takut diinterogasi tentang orang-orang hilang di Sirnasurya,” kata salah satu dari mereka.


Ardana langsung melirik. Orang-orang itu tampaknya tahu beberapa hal terkait hilangnya orang-orang di hutan buatan itu, pikirnya.


“Oh... hanya itu? Tenang saja, nanti juga kalian akan kena giliran diinterogasi. Kebetulan kami dari Baihaqi Armed Corps datang ke sini memang untuk itu. Tapi itu nanti, lho, nanti. Sekarang kami mau minum kopi sambil bersantai dulu,” balas Ilham dengan nada santai namun sedikit meledek.


Pesanan untuk kedua lelaki berseragam ini beberapa saat kemudian tersaji di atas meja di hadapan keduanya. Bapak pemilik warung kopi yang berpenampilan sederhana dengan kaus oblong putih dan celana pangsi hitam berselandangkan sarung di badan mengantarkannya langsung pada mereka. Usianya kira-kira di atas 45, begitu pengamatan Ardana. Tampak kumis dan janggut tipis yang menghasi wajah kurusnya. Meski begitu dia tampak segar dan sehat.


“Kalau mau pesan makanan... ada roti bakar, gorengan, mi goreng, mi rebus dan banyak lagi. Soal rasa dijamin mantap!” katanya pada Ilham dan Ardana.


Ardana mengaduk-aduk cangkir kopi di depannya. Perhatiannya tertuju pada ampas bubuk kopi yang sudah menggumpal. Bau khas kopi murni langsung tercium dengan jelas.


“Kang, sepertinya ini semua diolah secara manual, ya?” tanyanya sambil menunjuk ke gumpalan ampas kopi di cangkirnya.


“Muhun, eta teh... semua biji kopi di warung saya digiling secara tradisional. Biar rasa dan mutunya terjamin. Tidak perlu membeli mahal ke luar, karena desa ini sudah memiliki lahan budidaya kopi sendiri,” jawab pemilik warung kopi dengan bangga, menunjuk ke arah belakang warung kopi yang setengah terbuka.


Ardana menoleh ke belakang. Pemandangan lahan pohon kopi yang cukup luas dapat dilihat lebih jelas dari tempatnya duduk. Semua buahnya yang didominasi warna merah memberi sinyal bahwa semua siap dipetik. Pemburu alami seperti musang atau luwak sangat menunggu waktu panen seperti sekarang. Petani maupun pemilik lahan mau tidak mau harus melakukan perawatan dan pengawasan ketat, memastikan hewan-hewan omnivora itu tidak mencuri kopi yang akan dipilih untuk diolah. Namun jika sudah terlanjur, biasanya mereka menangkap luwak yang dicurigai sudah memakan buah kopi agar biji yang terbuang bersama kotorannya bisa diolah menjadi kopi luwak.


Pemuda ini bergidik membayangkan kopi luwak yang selama ini menjadi minuman kesukaannya melalui proses demikian. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya lidahnya selama ini mencicipi minuman yang bersentuhan langsung dengan kotoran hewan pemakan segala.


Tidak berselang lama, orang-orang yang tadi sempat menghindar ternyata sudah selesai minum kopi dan meninggalkan tempat setelah membayar. Mereka tidak menoleh lagi ke belakang, terutama pada Ilham dan Ardana. Ardana berusaha menahan tawa melihat wajah-wajah panik tadi. Hanya berselang dua detik setelah orang-orang itu tidak tampak lagi dari pandangan mereka, tawa si pemuda langsung meledak namun tidak sampai terbahak-bahak. Ilham yang ada di sebelahnya masih berusaha menahan tawa agar tidak seperti si pemuda, lalu hanya menggeleng-geleng pelan.


“Mereka kenapa? Kita bahkan belum menanyai mereka sama sekali.” Ardana meletakkan cangkir kopi yang baru saja diseruput.

__ADS_1


“Yah... memang tidak semua orang mau ditanya-tanya, apalagi kasusnya berat,” balas Ilham seraya bersandar di pembatas warung dari pagar bambu.


Kini hanya mereka berdua yang ada di warung kopi bersama pemiliknya. Sementara si pemilik sedang sibuk membersihkan peralatan makan dan minum, Ardana bangkit dari duduknya. Melongokkan kepala ke luar warung. Di seberang mereka adalah bagian awal pemukiman bagian depan desa. Keadaan di sekitarnya pagi itu agak sedikit ramai oleh aktivitas warga setempat. Beberapa dari mereka memanggul cangkul dan mengenakan caping bambu di kepala. Ada lagi yang berpakaian rapi mengendarai sepeda motor menuju ke luar desa untuk bekerja.


“Kang, ngomong-ngomong apa Akang tahu tentang orang hilang di Sirnasurya?” tanyanya tiba-tiba sambil berbalik pada pemilik warung kopi.


Yang ditanya menoleh lalu mengangguk. Dia meletakkan kembali kain lap yang digunakannya untuk mengeringkan peralatan makan dan minum yang sudah dicuci.


“Sudah sering terjadi orang yang hilang karena masuk ke dalam hutan itu,” jawabnya, sedikit menurunkan intonasi. “Dan hanya warga desa ini saja yang tidak pernah berani menginjakkan kaki di sana.”


Ardana mulai tertarik. Dia kembali ke tempat duduknya semula tanpa melepaskan pandangannya dari si pemilik warung kopi yang juga ikut duduk di dekat mereka.


Lelaki kurus bersarung itu melanjutkan ceritanya, “Sejak tahun 2008 hingga sekarang mah sudah ada 576 orang yang hilang, baik itu ketika datang sendiri atau berkelompok. Sebenarnya hutan buatan itu punya pemandangan yang sangat indah, makanya banyak orang dari luar tertarik untuk datang. Tapi... entah apa yang ada di balik itu semua. Yang jelas setiap orang yang berani memasuki Hutan Sirnasurya dipastikan akan menghilang secara misterius. Bahkan dari desa lain juga ada yang jadi korban.”


Ardana mengerutkan kening. Ada hal janggal yang membuatnya penasaran, tepatnya pada bagian di mana si pemilik warung kopi mengatakan tidak ada warga Desa Cikembang yang berani masuk ke hutan buatan tersebut.


“Tadi Akang bilang tidak ada warga sini yang berani masuk ke Sirnasurya? Ada apa?” tanyanya.


Si pemilik warung kopi tidak langsung menjawab. Dia menyulut sebatang rokok lalu mengembuskan asapnya ke arah luar. Sorot matanya menyiratkan sesuatu yang sedang berusaha diingatnya kembali.


Hingga hari ini tidak ada lagi jejak dari keluarga Catranata. Tidak ada yang tersisa selain rumah besar mereka yang ada di pinggiran selatan desa, itu juga tinggal puing bekas dibakar. Terakhir yang masih diingat oleh kami adalah… putri semata wayangnya Kang Linggasatria dan Téh Erni yang bernama Paramitha masih sempat ada di desa ini, beberapa minggu setelah tragedi tadi. Ada keanehan pada matanya yang berubah menjadi merah kehitaman. Orang-orang percaya entah dari siapa dan dari mana, kalau dia tumbal hidup yang akan mencelakakakan desa. Dia dijauhi, diperlakukan semena-mena oleh warga yang tidak meyukai kehadirannya. Lalu... anak kecil itu menghilang. Tidak pernah diketahui lagi keberadaannya.”


Ardana menoleh pada Ilham. Lelaki paruh baya itu tidak melirik padanya dan tetap menatap si pemilik warung kopi. Mereka berdua sama-sama tahu siapa anak kecil Catranata yang diceritakan dalam kisah kelam yang baru saja mereka dengar. Berbeda dengan Ardana, dia meyakini kalau yang membawa Paramitha dari Desa Cikembang ketika itu adalah Ilham sendiri. Mengingat lelaki tersebut pernah menceritakan kedekatannya dengan Linggasatria dan Erni.


“Sampai sekarang, warga desa ini tetap percaya hilangnya orang-orang di Hutan Sirnasurya adalah pembalasan dari arwah Linggasatria dan Erni beserta anggota keluarga Catranata lainnya yang terbunuh secara tragis. Ya, warga sini memercayainya,” ujar si pemilik warung kopi. Dia kembali melanjutkan pekerjaannya, membersihkan cangkir kopi dan menggoreng beberapa potong pisang dan tempe yang sidah dibalut adonan tepung.


“Lalu di mana Linggasatria dan Erni dimakamkan setelah kematian mereka?” tanya Ilham.


“Di dekat rumah keluarga besar Catranata yang sudah terbakar itu, Pak. Dua makam itu masih terawat sampai sekarang, hanya saja agak terganggu dengan sesajen,” jawab pemilik warung kopi tanpa menoleh.


* * * * *


Malam harinya

__ADS_1


Bekas rumah keluarga Catranata


Ardana berdiri termenung di hadapan dua cungkup makam yang berdekatan, beberapa meter dari puing-puing rumah keluarga Catranata. Sebelum melakukan observasi pertama, Ilham mengajaknya untuk melihat langsung keadaan tempat tersebut. Untuk bisa ke sana harus melintasi jalan raya sepi yang tidak begitu ramai oleh rumah penduduk. Ketika menanyakan lokasi rumah Catranata pada beberapa orang warga yang kebetulan melintas, mereka tampak takut dan menjawab agak terbata. Malah ada yang melarikan diri sebelum sempat mendekat. Benar kata pemilik warung kopi tadi pagi, orang-orang Desa Cikembang memiliki ketakutan ketika menyinggung tentang Catranata.


Pemuda ini mengamati posisi rumah dan lahan kecil yang berada tepat di atas sebuah bukit landai yang diperkirakan lebih tinggi tujuh belas meter dari tanah Desa Cikembang yang diamatinya. Dengan dikelilingi oleh medan terbuka seharusnya mereka dapat meloloskan diri, pikirnya membayangkan bagaimana pembantaian tersebut terjadi. Sebuah nampan dari anyaman bambu berisi sesajen diletakkan di bagian kepala masing-masing cungkup makam dan tampaknya baru diletakkan oleh seseorang.


“Apa-apaan ini? Sebegitu besar ketakutan mereka sampai harus gelar sesajen segala?” Ardana menggeleng heran lalu tanpa merasa bersalah mengambil salah satu jajanan pasar yang menjadi isi sesajen.


“Mmmhhh... mhasih enhakh. Yhang mkhakhan shemhua sheshajhen inhi thoh mhanusiah jugha,” katanya sambil mengunyah.


Satu jajanan pasar sudah ludes dimakan. Ketika akan mengambil satu jenis jajanan lagi Ilham sudah mendekatinya, membuat pemuda ini mengurungkan diri untuk makan sesajen selanjutnya. Di sebelah Ardana, lelaki paruh baya itu melepas helm kevlarnya lalu memandangi sisa-sisa rumah Catranata. Suasana sunyi membuatnya bisa merasakan sisa-sisa kekejaman tanpa sebab jelas yang berawal dari ketakutan warga desa. Orang yang tidak biasa dipastikan akan lari tunggang-langgang karena tidak kuat menghadapi suasana seramnya. Setelah berdiri mematung selama hampir satu menit, dia pergi ke sisi kiri rumah. Di depan makam kedua orang yang sudah lama dikenalnya, Ilham duduk bersimpuh. Meski tidak menangis, rasa sesak yang besar membuat lelaki paruh baya itu mendesah berat.


“Terakhir kali saya bertemu dengan pasangan suami-istri ini ketika mereka baru menikah di Bandung. Mereka berdua tampak bahagia. Linggasatria sangat mencintai Erni, begitu pula sebaliknya. Saya juga senang melihat kedua sahabat saya itu menempuh hidup baru. Tapi… saya tidak pernah membayangkan kalau mereka berdua akan menutup usia dengan cara yang tragis seperti sanak saudara mereka yang kemudian menyusul bernasib serupa,” sesalnya.


Ardana mendekati Ilham. “Pak, saya mau bertanya sesuatu?” tanyanya.


“Ya? Apa yang ingin kamu tanyakan?” Ilham mengangkat wajahnya lalu mengatupkan mulutnya.


“Yang membawa Paramitha keluar dari desa ini… Bapak sendiri, kan? Dan jangan-jangan… Bapak juga yang membiayai pendidikannya sampai dia punya pekerjaan seperti sekarang, bukan begitu?” tanya Ardana lagi.


Ilham menoleh sesaat, lalu mengalihkan wajahnya lagi pada makam Linggasatria dan Erni di depan mereka.


“Itu benar. Ketika saya membaca adanya dugaan proyek rahasia pemerintahan Facturia di kawasan Hutan Sirnasurya, saya menemukan data rahasia milik atasan saya yang isinya menarik. Seorang gadis kecil berumur tujuh tahun dengan mata berwarna merah kehitaman. Yang membuat saya tertarik adalah wajahnya mirip dengan Linggasatria. Saya mencari tahu ke berbagai koneksi dan dalam waktu satu minggu menemukan informasi bahwa anak itu masih ada di desa ini. Saya segera membawanya keluar begitu tahu hidupnya benar-benar nelangsa. Sampai kemudian saya menemukan kenyataan kalau dia benar-benar anak kandung dari Linggasatria, ketika dia baru saja lulus dari SMA. Sebisa mungkin saya mencoba membenamkan kenangan buruk yang ada di kepalanya, mengajarkannya bahwa untuk menikmati hidup hanya perlu berjuang dan bahagia. Kemungkinan besar dia masih tetap mengingat kejadian brutal dan perlakuan warga desa yang tidak pantas dia terima,” jawabnya.


“Setelah misimu selesai, kita akan bertemu dengannya. Akan saya usahakan agar janji Presiden Mahmud Arianagara untuk memulihkan nama baik Catranata secepatnya terealisasi,” lanjutnya sambil berdiri.


Ardana mundur selangkah. Tugas pertamanya baru saja akan dimulai. Setelah memahami apa yang dihadapinya bukan sesuatu yang biasa, pemuda ini merogoh sakunya untuk mengambil satu buah permen karet. Dikunyahnya makanan itu dengan pelan untuk membantu menurunkan adrenalin yang mulai naik. Tangan kanannya sedikit gemetar meraih Sako Rk.95 yang sejak tadi menggantung di bahu kiri.


“Bagaimana menurutmu tentang putri semata wayang Linggasatria itu? Anak itu sudah tumbuh menjadi gadis cantik yang baik hati. Saya yakin suatu saat kamu akan tertarik padanya,” kata Ilham sambil berlalu.


Ardana tidak menyahut. Dia masih diam di tempatnya setelah Ilham meninggalkannya beberapa langkah untuk kembali ke mobil Ford Ranger. Setelah agak jauh, tanpa pikir panjang akhirnya pemuda ini meloloskan niatnya – mengambil jajanan pasar di nampan sesajen lagi. Kali ini bukan hanya satu.


“Sayang nih sesajen dibiarkan begini. Lebih baik kubawa untuk bekal di jalan!”

__ADS_1


Tiga buah kue apem aneka warna langsung diraupnya.


* * * * *


__ADS_2