
Bibir Ardana yang semula datar perlahan melebar, membentuk sebuah senyiman tipis penuh percaya diri. Kedua matanya tanpa sengaja tertuju pada bagian dada kanan di seragam makhluk mutan yang ada di depannya itu. Terdapat bet bordir bertuliskan sebuah nama yang pernah disebut Paramitha tentang ingatan masa lalu si gadis yang terlampau kelam. Orang yang bertanggugjawab atas kematian kedua orangtua kekasihnya. Togar Siahaan, yang kini berevolusi menjadi makhluk mengerikan dengan sifat ganas tak terkendali.
“Jadi dia yang bernama Togar? Sayang sekali, sekarang bukan lagi manusia,” desis Ardana.
Paramitha menyaksikan pemandangan tegang kedua yang justru sangat menakutkan baginya. Bukan pada sosok Togar yang sudah tidak bisa lagi dikatakan manusia seutuhnya lagi, namun keselamatan Ardana yang melompat menghadapi makhluk itu secara frontal. Gadis itu mulai merasakan kekhawatiran besar. Takut jika sesuatu yang buruk akan menimpa si pemuda karena meremehkan makhluk mutan di depannya.
GRARRAAAGGGGHHH!
Ardana menarik napas panjang sambil berkonsentrasi. Karena di belakang Togar yang bermutasi juga sudah bermunculan banyak jerangkong separuh mutan bertentakel, mereka akan sangat merepotkan. Dia harus menggiring Togar agar menjauh ke posisi yang sangat memudahkan untuk menghabisinya. Ardana tidak ingin lagi bermain kucing-kucingan.
Dengan sikap seolah bersiap menembak, Ardana mengecoh Togar yang maju menyerangnya dengan berlari ke kanan lalu sedikit berputar ke belakang. Setelah dirasa tepat, tangan kirinya mengambil sebuah granat fosfor yang menggantung di bagian dada kiri rompi anti peluru yang dikenakannya. Benda itu dilemparkan tepat ke arah gerombolan jerangkong di belakang Togar.
Klentang! Klentang!
BLEGGAAAARRR...! WHUUUZZZZ....!
Para jerangkong dengan tumor di beberapa bagian tubuh itu tampak kebingungan melihat sebuah benda berwujud minuman kaleng dengan kepala kecil di atasnya melayang ke arah mereka. Tidak lama setelah Ardana menggulingkan badan beberapa kali ke arah yang sama, ledakan hebat yang berubah menjadi kobaran api hebat tanpa ampun melahap semua makhluk mutan bertubuh semi skeleton itu. Sebagian kecilnya bahkan sempat menjilat bagian belakang tubuh si sasaran utama. Tidak berhenti di situ, efek ledakan ternyata juga menyambar beberapa drum bahan bakar minyak yang ternyata masih terisi penuh. Ledakan kedua dan ketiga hingga seterusnya saling bersahutan dan nyaris memekakkan telinga.
BLEGGAAAAARRR...!
BLEGGAAAAARRRRRR...!
Di dalam APC ANOA, Paramitha memegangi kedua telinga rapat-rapat. Semua kaca anti peluru yang ada di kendaraan lapis baja buatan Pindad itu sempat bergetar kecil. Deru napas si gadis berubah lebih cepat. Perlahan dia kembali melongok ke arah depan. Salah satu truk yang berada tidak jauh di kiri depan tiba-tiba meledak hingga terangkat satu meter dari permukaan lantai basement, membuatnya kembali merunduk di balik kursi pengemudi. Setelah tidak terdengar lagi ledakan susulan, barulah Paramitha berani mendongakkan kepala sambil bangkit. Yang tampak di depannya saat ini adalah seluruh area basement menjadi terang benderang oleh nyala api di mana-mana. Sisanya bahkan masih membakar dinding dan lantai tempat tersebut akibat sebagian minyak yang tersebar karena terlempar ke berbagai arah.
“A—Ardana... di mana dia? Ardana?”
__ADS_1
Paramitha mulai panik mendapati Ardana tidak ada dalam jarak pandangnya. Hanya ada beberapa makhluk mutan dan mayat hidup yang meraung-raung kesakitan sambil jatuh dan bangun seraya berusaha memadamkan api yang terus membakar tubuh mereka. Beberapa jerangkong dan aneka makhuk berwujud aneh lainnya jatuh tersungkur saat semua tumor di kepala dan dada meletus karena tidak tahan panas.
Gadis itu menoleh ke arah pintu belakang palka. Ingin rasanya dia keluar lalu mencari Ardana. Niatnya terpaksa diurungkan saat melihat kobaran api masih menjilati apapun yang terciprat oleh minyak dari dalam beberapa drum yang meledak. Tumpahannya yang belum terbakar lambat laun juga dilalap si jago merah yang mengganas.
Sementara itu, yang sedang dicari-cari oleh si gadis berada dalam keadaan yang tidak cukup baik. Ardana berusaha bangkit dari balik reruntuhan serpihan besi dan bangunan berukuran kecil yang menimpa tubuhnya. Tidak mengira ulahnya sendiri hampir membuat nyawanya melayang, pemuda ini menyeringai meski punggungnya kembali merasakan sakit, begitu pula dengan pergelangan tangan kirinya. Berguling-guling tanpa mengindahkan reruntuhan dari atas bukan bagian dari idenya, namun itu juga harus diterimanya.
Saat mendongakkan wajah ke depan, bangunan pemantau terbakar hebat hingga ke bagian dalam. Sedemikian hebatnya kobaran api sampai-sampai beberapa struktur besi di setiap sudut tempat itu maupun pada beberapa kendaraan mulai berubah menjadi merah membara. Hawa di sekelilingnya pun terasa sedikit panas. Zat yang terkandung dalam bahan bakar minyak yang meledak tadi dipastikan mengandung efek yang dahsyat.
“Ke mana Togar? Seharusnya dia ikut terbakar.” Ardana yang menyadari Togar tidak ada di sana menoleh ke kiri dan kanan kemudian belakang. Si perwira pasukan rahasia yang bermutasi itu tidak tampak di antara makhluk mutan dan mayat hidup yang terbakar hidup-hidup.
“Ia tidak mungkin menghilang begitu saja,” sambungnya sambil berusaha berdiri.
Ardana berjalan tertatih-tatih sambil menodongkan senjata ke arah beberapa makhluk mutan yang masih meraung-raung dan berlarian kesana-kemari. Sesekali dia melepaskan tembakan ke arah satu atau dua dari mereka yang masih mencoba menyerangnya. Tidak butuh diberondong hingga menghamburkan puluhan lebih peluru. Dia memutuskan kembali ke rantis Komodo yang sempat ditinggalkan untuk berjaga-jaga. Begitu tahu kendaraan tersebut tidak ikut terbakar, dia merasa sangat bersyukur. APC ANOA tempat Paramitha bersembunyi juga tampak baik-baik saja. Kotak besi beserta barang-barang temuan lainnya juga terselamatkan.
“Mitha!” panggilnya dengan agak keras.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Ardana sambil mengulurkan tangan.
Paramitha menyambutnya dengan hati-hati sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling mereka. Sama seperti Ardana, dia juga penasaran lalu mencoba mencari Togar di antara jasad makhluk mutan yang mayat hidup di sekitar mereka.
“Togar, Dan. Ke mana orang itu?” tanyanya.
Ardana menggeleng lalu mengalihkan pandangan ke arah bangunan pemantau yang rusak parah.
“Jangan menyebutnya lagi manusia, Mitha. Makhluk yang bermutasi itu sepertinya berhasil lolos. Pasti belum jauh dari sini. Tapi... sempat kulihat bagian belakang tubuhnya terjilat kobaran api.”
__ADS_1
“Bagaimana dengan Pak Ilham, kamu sudah bisa menghubungi beliau? Beliau pasti tidak berhenti mencemaskan keadaan kita.”
“Belum. Aku masih kesulitan menghubunginya.”
Paramitha menundukkan wajanya sedikit sambil menatap kujang hitam yang ada dalam genggamannya. Dia terdengar mendesah kecil sambil mengatupkan kedua belah bibirnya. Ardana hanya memerhatikan raut wajahnya tanpa berusaha menegur ataupun membelai. Selama beberapa saat keduanya masih berdiri saling berhadapan tanpa berusaha saling pandang.
Ardana memberanikan diri memulai dengan menggandeng tangan Paramitha. Seperti tersentak, gadis itu mengangkat wajahnya dengan ekspresi penuh tanda tanya. Si pemuda meninggalkannya sejenak untuk kembali ke atas rantis Komodo di sebelah ANOA, di mana barang temuan dari delapan truk militer sudah diamankan. Dia tampak sedang menyortir beberapa arsip yang dipandangnya sangat penting untuk dipindahkan ke dalam ranselnya. Sisanya yang hanya berupa laporan perjalanan dibakar. Tidak lupa, pistol Glock 41 dengan amunisi khusus juga diambilnya.
Tinggal tersisa kotak hitam panjang yang sama sekali belum sempat dibuka. Benda tersebut akhirnya dibawa juga oleh Ardana di tangan kirinya.
“Sebaiknya kita teruskan mencari jalan keluar dari sini. Kukira ini sudah hampir mendekati akhir,” ujarnya seraya kembali ke hadapan Paramitha.
* * * * *
Salah seorang personil Kopassus yang berjalan di depan Ilham tiba-tiba mengangkat kepalan tangan. Kedua matanya yang selalu awas mendapati sesuatu yang menarik perhatiannya. Tampak sebuah konsentrasi cahaya yang cukup terang di ujung depan sana. Semua orang yang ada di dalam lorong kecil itu sontak berhenti.
“Ada apa, Din?” tanya Ilham penasaran.
“Seperti ada kobaran api,” jawab si personil Kopassus berpangkat letnan dua bernama Didin itu. “Sesuatu sudah terjadi di depan sana. Mau diteruskan ke sana sekaligus memeriksanya juga, Pak?”
Ilham melongok ke depan sambil mengerutkan kening. Lelaki paruh baya ini terdiam, tidak langsung memutuskan.
Didin dan ketiga anak buahnya memerhatikan wajah Ilham dengan sedikit tanda tanya. Mereka sudah siap menerima perintah selanjutnya jika dibutuhkan.
“Mari kita lihat apa yang ada di sana!” Ilham mengokang senapan serbunya seraya mengangguk tegas.
__ADS_1
Tanpa dikomando lagi keempat serdadu Kopassus itu kembali bergerak dengan Ilham di antara mereka. Semakin dekat dengan sumber nyala terang benderang di ujung sana, bau daging yang hangus terbakar mulai tercium.
* * * * *