
“Pak Ilham? Maksud kamu... Ilham Jati Rahwana?” Paramitha mengernyit penasaran.
Ardana mengangguk sambil tersenyum. Mulutnya masih mendekati telinga Paramitha hingga tidak menyadari sesuatu sedang bergerak cepat ke arah wajahnya sendiri.
“Kamu kenal, kan? Sekarang beliau juga ada di desa ini. Kami datang berdu—.”
PLAK!!
Ardana membelalak lalu mundur tiga langkah dari Paramitha dan meringis. Wajah gadis ini merah padam namun yang pasti bukan karena dia memberitahu soal Ilham. Yang menjadi masalah adalah caranya mengatakan itu seperti akan mengecup telinga Paramitha. Pipi kirinya menjadi sasaran tamparan. Cukup sakit dan rasanya seperti dipukul dengan lembaran besi yang dipanaskan hingga nyaris membara.
“Lain kali, kalau ingin memberitahu sesuatu langsung katakan saja. Jangan seperti tadi atau kamu akan kulaporkan pada beliau!” Paramitha mengancam dengan ekspresi kemarahan yang sama seperti sebelumnya. Mata merah kehitamannya menjadi tampak jelas dari yang sebelumnya, pertanda dia sangat marah.
Lagi, Ardana dibuat ciut nyali melihat tatapan menyeramkan gadis Catranata tersebut. Ditambah dengan bayangan kalau sampai perbuatannya dilaporkan pada Ilham, entah apa yang akan dilakukan purnawirawan Kopassus itu terhadapnya. Lebih jauh lagi itu akan berisiko pada pekerjaannya.
“Eh? A—aku minta maaf! Serius, yang tadi itu tidak sengaja!” Ardana berusaha mencegah agar dia tidak dilaporkan. Sedetik kemudian dia kembali mendekat.
Paramitha melotot tajam. “Jangan mendekat!”
Ardana mengangkat tangan lalu mundur. Daripada kena tampar lagi, lebih baik menuruti apa yang dikatakan oleh Paramitha. Benar-benar memalukan kalau sampai bermasalah di kampung orang sementara dia ada tugas yang harus dituntaskan. Untuk beberapa saat dia tidak mengeluarkan sepatah katapun, menunggu Paramitha mengatakan sesuatu sebagai respon atau ancaman baru lain yang akan membuatnya pusing.
Paramitha mendengus kesal melihat tingkah laku Ardana. Dia memalingkan muka sambil memejamkan mata. Ingin sekali tangannya menampar orang yang ada di hadapannya itu karena benar-benar tidak sopan, terlepas dari sengaja atau tidak. Kalau bukan karena pengakuannya datang bersama dengan Ilham, pemuda itu tidak akan diberinya ampun. Sudah lama dia tidak mengandalkan kemampuan bela diri yang dipelajarinya ketika masih bersekolah di SMA. Dan Ardana nyaris saja menjadi sasaran karena tindakan yang dianggap kurangajar.
“Jadi... beliau tahu aku tetap pulang ke sini?” tanyanya kemudian tanpa menoleh.
“Ti—tidak, Pak Ilham tidak tahu kamu pulang,” jawab Ardana, “karena ada hal penting yang sedang kami selesaikan di sini.”
“Begitu, ya?” Paramitha menghela napas.
Dia mendekati Ardana yang masih mengusap-usap pipinya. Bekas tamparannya tidak hanya meninggalkan warna merah namun juga nyaris lecet. Ada sedikit kasihan melihat orang di depannya itu ekspresi menahan perih luar biasa. Ardana yang terkejut hanya bisa diam tanpa bergerak ketika tangannya yang menutupi bekas tamparan disingkap oleh Paramitha.
“Kita ke rumah sahabatku. Pipimu itu harus diobati atau Pak Ilham akan curiga. Dia hapal betul dengan tamparan atau pukulanku,” ucapnya.
Ardana menelan ludah dengan perasaan ngeri. Ini baru ditampar, belum dipukul. Akhirnya tidak ada pilihan lain selain pasrah dan menurut. Dalam posisinya seperti itu, dia benar-benar seperti anak itik kampung yang mengikuti kemanapun induknya pergi. Mereka berdua berjalan menuju rumah dengan pekarangan luas yang berada beberapa belas meter dari tempat mereka berbicara tadi. Sebuah rumah panggung dari kayu jati yang megah langsung terlihat. Di beranda, tampak Nina yang sedang duduk di kursi sambil menunjukkan ekspresi harap-harap cemas. Wanita itu pasti takut terjadi sesuatu pada Paramitha.
“Duh, Neng... indit ka pasar meni lila pisan? Ibu kira kamu kenapa-napa. Lah, ini téh saha?” Nina langsung menghampiri keduanya sambil mengerutkan kening melihat Ardana.
Paramitha hanya menyunggingkan senyum sambil menyerahkan belanjaan di tangannya pada Nina.
“Maaf, Bu. Tadi di jalan bertemu dia, temanku juga. Dia ada di desa ini katanya ada keperluan penting,” jelasnya singkat.
Nina mengangguk-angguk. “Kamu temannya Paramitha? Ibu baru tahu... sok atuh, masuk dulu. Tapi, pipinya kenapa merah begitu?”
__ADS_1
Paramitha menoleh pada Ardana sesaat. Yang ditatap hanya diam seperti kambing yang kekenyangan.
“Tadi sempat kena celaka, Bu. Tapi tidak apa-apa, kok. Biar aku yang obati saja.” Dia sengaja berbohong agar tidak membuat Nina bertanya-tanya lebih jauh lagi.
Nina mengangkat bahu sambil berbalik kembali ke dalam rumah dengan membawa belanjaan yang diserahkan Paramitha padanya. Sementara wanita paruh baya itu beranjak menuju dapur, Paramitha naik ke beranda dan masuk ke kamarnya untuk mengambil kotak P3K. Ardana duduk di kursi yang sebelumnya diduduki Nina sambil mengedarkan pandangan. Suasana rumah besar itu terasa sangat nyaman dan menyejukkan. Dia bisa merasakan semilir angin segar yang melintasi lehernya. Jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya agak berjauhan karena masing-masing sudah memiliki pekarangan yang cukup lebar. Pembatas didominasi dengan tanaman hias atau pohon tertentu seperti kamboja dan lainnya. Suasana yang sangat natural, tidak seperti di Jagakarsa di mana dia harus bertatap muka dengan gang sempit dan tembok rumah yang nyaris berdekatan.
Tidak sampai satu menit Paramitha sudah kembali dengan kotak P3K di tangan, lalu duduk di kursi yang kosong di samping Ardana. Antara dirinya dengan pemuda itu hanya dibatasi meja kayu jati yang diatasnya dilapisi kain taplak meja.
“Tahan sedikit, ini memang sakit.” Tangannya mengambil sesuatu dari dalam kotak.
Entah apa yang dibubuhkan Paramitha, yang jelas Ardana merasakan sakit luar biasa di pipi. Wajahnya meringis kecil. Namun itu hanya sesaat. Selanjutnya berganti dengan rasa dingin dan perih yang semula menguat perlahan hampir tidak terasa lagi. Ketika dilihat olehnya, hanya sebotol minyak pemulih luka tradisional berwarna biru muda dengan merek bergambar orang tua yang sedang memijat pasien dalam posisi duduk.
Selepas membubuhkan minyak tadi, Paramitha menutup bagian yang nyaris lecet dengan perban dan merapatkannya dengan plester. Ardana masih tidak bergerak dan tetap membiarkan pipinya diobati sampai selesai.
“Jangan dibuka dulu. Biarkan penyembuhannya bekerja selama beberapa jam ke depan. Kira-kira enam jam maksimalnya,” pesan Paramitha sambil memasukkan kembali botol minyak di tangannya ke dalam kotak P3K.
“Terima kasih,” balas Ardana. “Dan sekali lagi, aku minta maaf untuk yang tadi.”
“Kumaafkan kali ini, jangan ulangi lagi.” Paramitha menerima permintaan maaf Ardana.
Tidak berapa lama kemudian, Nina datang dengan dua cangkir teh manis hangat dan aneka kudapan ringan yang dibawa dengan nampan. Sajian-sajian itu diletakkan di atas meja yang memisahkan Ardana dan Paramitha. Tanpa mengucapkan apa-apa, Nina kembali ke dalam setelah mengedipkan mata pada Paramitha dan tersenyum. Sebuah kode yang dipahami oleh si gadis bahwa dirinya dikira berbohong dan... soal asmara anak muda.
“Ih, Ibu!” batinnya mengelak.
Paramitha menunduk sambil mendesah pelan. Baru kali ini dia melihat Nina sampai menggodanya ketika datang dengan membawa laki-laki. Mungkin karena berpikir dirinya sudah tumbuh menjadi anak gadis, wanita yang notabene ibu sahabatnya itu merasa senang seperti halnya pada Sumita, putri kandungnya sendiri. Bedanya adalah Sumita sudah memiliki kekasih dan dia belum.
Setelah beberapa saat hanya diam, Ardana teringat sesuatu lalu menoleh pada bungkusan kue surabi yang mulai dingin.
“Duh, gawat! Seharusnya aku segera kembali pada Pak Ilham tapi malah terbawa ke sini,” desisnya.
Tanpa disadarinya, apa yang keluar dari lisannya ternyata terdengar oleh Paramitha. Dia menoleh dengan wajah datar namun tampak penasaran.
“Kamu mau kembali ke Pak Ilham, ya?” tanyanya.
“Eh, i—iya, aku... seharusnya kembali bertemu beliau di balai desa,” jawabnya agak gelagapan.
* * * * *
Balai Desa Cikembang
Di saat yang sama
__ADS_1
Ilham tidak berkedip memerhatikan ratusan lembar kertas putih dan buram kekuningan ukuran A4 yang bertumpuk di depannya. Semuanya adalah berkas berisi laporan orang hilang dari berbagai sumber yang disimpan di balai Desa Cikembang. Sebagian kertas sudah dalam kondisi sedikit rusak karena disimpan menjadi satu dengan arsip lama desa yang kurang diperhatikan karena dianggap tidak relevan dengan perkembangan jaman. Di sebelahnya duduk seorang lelaki berseragam krem yang sebaya dengannya dengan tubuh sedikit tambun dan berkepala sedikit botak. Orang ini adalah Odang Suparman, sang kepala desa.
“Yah, ini sudah semua yang Anda butuhkan terkait kasus orang hilang di Hutan Sirnasurya,” katanya sambil mempersilakan Ilham untuk mulai membuka data.
Ilham mengangguk, “Sebelumnya terima kasih untuk bantuannya, Pak Kades. Memang ini salah satu dasar yang paling saya butuhkan untuk memulai penyelidikan. Setidaknya, saya bisa tahu ringkasan kronologi sebelum mereka menghilang.”
Odang tersenyum puas. “Sudah tugas kami. Lagipula, desa ini sering dikambinghitamkan setiap ada kejadian orang hilang di Hutan Sirnasurya. Memang, Desa Cikembang adalah desa yang paling dekat dengan hutan buatan itu,” ujarnya.
“Saya buatkan suguhan dulu, ya? Waduh, maaf pagi-pagi Anda jadi repot mengurusi berkas,” ucapnya kemudian.
Ilham yang tidak ingin merepotkan mencoba menolak. “Tidak perlu, Pak Kades. Saya cuma mampir sebentar ke sini.”
“Eh... nanti saja dulu, Pak Ilham. Tanggung, pagi-pagi begini enaknya ngopi atawa ngeteh heula atuh,” timpal Odang.
“Baiklah, apa saja boleh, deh.” Ilham menyerah seraya menganggukkan kepala. Tidak enak terus-terusan menolak apalagi sikap Odang begitu ramah padanya.
Sambil beranjak ke luar ruangan, Odang mencari pelayan yang biasa bertugas menyiapkan hidangan. Lelaki sedikit tambun ini celingukan ke kiri dan kanan begitu kakinya melangkah ke bagian beranda balai desa. Yang dicari kedapatan baru tiba dengan menenteng belanjaan berisi konsumsi untuk kegiatan di sana seperti kopi, gula, pisang dan bahan makanan lainnya. Pemuda tanggung berambut gondrong ikal yang turun dari motor keheranan melihat sang kepala desa menatapnya seperti ada sesuatu yang darurat.
“Jajang, di dalam ada tamu. Buatkan kopi dan pisang goreng heula, nya? Sekalian untuk kamu juga sarapannya,” perintahnya.
“Siap, Pak Kades!” jawab Jajang singkat.
Satu urusan selesai. Odang segera berbalik ke ruang kantornya untuk kembali menemani Ilham yang masih serius memerhatikan semua data para korban hilang. Sang kepala desa sengaja mendiamkannya beberapa saat setelah melihat wajah Ilham tampak datar dengan rahang agak menegang. Tampak jelas kalau orang yang datang dari Bandung ini sedang berpikir keras.
Sebenarnya Ilham bukan hanya sedang berpikir untuk menyusun langkah-langkah tepat yang akan dilakukan. Kronologi kehadiran dari sebagian besar korban sebelum hilang sudah dipahaminya. Namun Ardana yang seharusnya membantu proses penelusuran kini entah ada di mana dan membuatnya sedikit jengkel. Pemuda itu tadi pamit untuk mencari sarapan pagi dan Ilham memintanya segera kembali ke balai desa jika sudah selesai. Namun hingga lewat dari tiga puluh menit, Ardana tidak kunjung tampak batang hidungnya.
“Pak Ilham, saya sudah siapkan kopi dan pisang goreng. Santai saja dulu, ya?” Odang mengejutkannya sedikit, membuat lelaki ini mengedipkan mata tiga kali lalu menoleh.
“Aduh, saya jadi merepotkan begini. Sarapannya kan nanti bisa di rumah Anda,” balas Ilham dengan nada tidak enak.
Odang terkekeh, “Kalau menunggu di rumah saya nanti sarapannya malah kesiangan. Saya lupa mengingatkan istri saya untuk memasak makanan khusus. Yah, setidaknya kita bisa makan pisang goreng dan minum kopi atau teh, ya kan?”
Ilham hanya tertawa sambil kembali melirik berkas orang hilang yang ada di meja.
“Ardana... ke mana kamu pergi heh?” gerutunya dalam hati.
“Pak Kades...! Gawat, Pak! Gawat...!”
Sebuah teriakan dari luar balai desa kemudian mengejutkan keduanya. Mereka sama-sama keluar dan mendapati beberapa warga desa berkerumun dengan berbagai kondisi. Di antara mereka bahkan ada yang kakinya berlumuran lumpur dan tanah basah.
“Pak Kades, ada mayat ditemukan di dekat Hutan Sirnasurya. Kita harus ke sana!”
__ADS_1
* * * *