
Ardana berjalan santai menuju rumah kepala desa yang menjadi tempatnya tinggal sementara bersama Ilham. Rumah besar berdinding bata merah bernuansa khas Sunda itu tampak sepi jika dilihat dari luar. Memasuki area pekarangan yang dibatasi pagar besi, pemuda ini langsung bertatap muka dengan Ilham dan Odang yang sedang duduk mengobrol di beranda. Dia melempar senyum pada kedua lelaki paruh baya tersebut sambil mengangguk sopan.
“Geus ti mana, Kasep? Katingalina asa bungah pisan,” Odang menyapanya dengan ramah.
“Saya tadi mengantar seseorang untuk makan malam di kedai bakso seberang puskesmas, Pak,” jawab Ardana.
“Oh, begitu? Sini, duduk dulu. Nanti biar Ibu yang buatkan kopi satu lagi,” ajak Odang.
Ardana menggeleng, “Terima kasih, Pak. Saya mau langsung ke kamar saja.”
“Habis kencan, ya? Tadi saya lihat kamu makan malam berdua bersama seorang gadis, lho. Tahu tidak, Dang? Mesranya melebihi jaman kita-kita ini masih muda,” ledek Ilham seraya melirik Ardana lalu beralih pada Odang.
Odang hanya terkekeh geli mendengarnya lalu menyulut rokok daun kawung kesukaannya. Ardana langsung terperanjat. Dia baru menyadari orang yang tadi dicurigainya sebagai penguntit di kedai bakso ternyata memang benar Ilham, seperti dugaan awalnya. Tanpa membalas lagi, setelah mengangguk sopan sekali lagi pemuda ini langsung masuk ke kamar tamu yang berada di ruang tengah.
Klek!
Setelah menutup pintu kamarnya, Ardana melepaskan jaket lalu membaringkan badan di atas ranjang kayu yang hanya muat untuk satu orang. Sambil menghela napas, matanya terpejam. Bayangan saat-saat mendebarkan tadi kembali diputar dalam pikirannya.
Dia masih tidak percaya sudah melakukan sesuatu yang sebelumnya sangat tidak berani untuk dilakukan. Terbawa oleh suasana yang begitu mendekatkan keduanya, semua terjadi begitu saja. Tatapan lekat Paramitha yang sangat indah membuatnya terhipnotis namun dalam keadaan yang sangat sadar. Sesaat setelah adegan tidak terelakkan itu terjadi, mereka saling merapatkan badan dalam dekapan yang hangat. Saling merasakan detak jantung masing-masing. Benteng keangkuhan di hatinya seketika hancur.
“Aku tidak peduli dengan masa lalumu meski Pak Ilham sudah menceritakannya padaku. Sebaliknya, itu jutsru membuatku tidak ingin kehilangan dirimu. Kamu tetap Paramitha yang kukenal sejak pertama kali kita bertemu.” Ucapan yang dia bisikkan di telinga Paramitha kembali bergema di telinganya sendiri.
Paramitha melepaskan dekapan Ardana lalu menatap penuh kecemasan. “Apa kamu sadar dengan yang kamu katakan, Ardana? Malam ini dan hari-hari kedepannya, kita mungkin saja bisa terus berbahagia. Tapi... siapa yang tahu sesuatu yang buruk akan terjadi? Kumohon kamu pikirkan kembali lagi.”
Ardana menggeleng tegas. “Penolakanmu setelah yang tadi sudah kita lakukan, tidak akan kuterima. Aku sudah terlanjur maju dan tidak akan mundur. Dan kamu pun tidak menolaknya, kan? Ketika aku mengatakan siap menjagamu, kamu harus tahu itu adalah keseriusanku. Dengar, aku mencintaimu bukan karena kamu berasal dari keluarga Catranata. Yang kurasakan... adalah kenyamanan bisa berada bersamamu,” jelasnya.
Dia mengangkat tangan Paramitha lalu menggenggamnya kembali. Diarahkannya ke dadanya sendiri dengan perlahan lalu sedikit ditekan, sebagai bentuk penegasan.
“Kamu bisa rasakan detak jantungku,” katanya, “rasakanlah sendiri bahwa aku tidak main-main.”
Paramitha terdiam. Detak jantung Ardana yang begitu cepat bisa langsung dirasakannya. Keraguan yang sempat muncul setelah dihantui ketakutan akan konsekuensi hubungan keduanya sedikit demi sedikit menghilang. Kehadiran Ardana dalam hidupnya seolah pesan kehidupan yang memberitahunya untuk tidak perlu takut karena masa lalu kelamnya. Sekarang dia memiliki semangat besar dari sosok si pemuda untuk menghadapinya.
Ardana membelai wajah gadis itu kembali. Nyaris saja adegan mendebarkan di antara keduanya di awal diulangi, kalau bukan karena tangan Paramitha segera mencegahnya.
__ADS_1
“Cukup, aku percaya! Jangan ulangi itu lagi, kalau begitu caranya kamu sama saja mengambil kesempatan dalam kesempitan!” sergah gadis itu. Wajahnya yang kembali memerah berpaling ke kiri.
Ardana merasa sangat senang karena bisa memenangkan hati gadis itu sepenuhnya.
“Iya, iya. Baiklah, sekarang kuantar kamu pulang. Kalau nanti bisa terlewat dari jam batasnya bisa-bisa Bu Nina berpikir yang tidak-tidak tentang kamu,” balasnya.
Bayangan detik-detik setelah adegan mendebarkan itu mulai menghilang, kembali ke dalam memori jangka panjangnya untuk tersimpan sebagai kenangan. Ardana menarik napas lega. Perasaannya sudah tersampaikan pada hati yang didambakannya. Meski tidak pernah tahu bagaimana hubungannya dengan Paramitha akan berjalan, dia tetap yakin akan mampu melaluinya bersama-sama.
* * * * *
Pagi-pagi sekali, Ardana dan Ilham sudah berada di Hutan Sirnasurya. Khusus bagi si pemuda, suasana yang suram dan menyeramkan sedikit demi sedikit mulai membuatnya terbiasa. Sejauh mata memandang, tidak ada tanda-tanda yang dapat menjadi petunjuk. Ilham nyaris buntu memikirkan bagaimana makhluk-makhluk mengerikan yang mereka hadapi sebelumnya bisa muncul dan berkeliaran di hutan itu pada malam hari.
Hari ini dia memutuskan untuk mencari sumber kemunculan makhluk-makhluk itu. Jarak pandang yang terbatas di area hutan mulai membuatnya terbiasa. Begitu juga dengan Ardana. Dari lokasi penemuan tulang belulang kemarin, mereka berjalan lurus menuju area selatan hutan. Jaraknya memang jauh, namun keputusan Ilham kali ini dirasa lebih baik bagi keduanya. Mengingat kegagalan di malam kedua yang membuat Ardana tersesat.
“Padahal ini masih pagi. Ternyata sama saja seramnya,” ketus Ardana.
Memasuki area selatan Hutan Sirnasurya dari arah luar langsung maupun menembus dari arah utara ternyata tidak ada bedanya. Hawa menyeramkan yang lebih kental menyapa begitu mereka menginjakkan kaki di sana. Pepohonan yang lebih rapat benar-benar membuat suasana tampak seperti menjelang senja. Namun Ardana dan Ilham masih bisa mengenali semua benda yang ada di sekitar mereka. Hanya saja, di beberapa titik selalu ada dahan pohon yang mirip seperti siluet makhluk menyeramkan. Membuat Ardana kelabakan dan menodongkan senjatanya ke arah yang dimaksud. Kondisi tanah masih lembap meski tidak sampai menciptakan lapisan lumpur tipis, tertutupi dedaunan yang sudah berguguran dari waktu ke waktu.
Ilham menengadah ke atas lalu menurunkan pandangannya, menyapu dari kanan ke kiri. “Tidak perlu. Kita masih bisa mengenali dan melihat semuanya dengan jelas,” tukasnya.
“Kalau kamu mau menyalakan sendiri, nyalakan saja. Tidak apa-apa,” sambungnya.
Ardana segera menyalakan lampu senter LED yang menempel di helm kevlarnya. Satu lagi yang berada di bawah ujung laras senjatanya juga dinyalakan. Di depannya, Ilham masih bertahan tanpa bantuan cahaya.
Dalam jarak sekitar dua puluh meter lebih di depan ada sebuah tanah lapang yang tidak seberapa lebar. Ilham memberi tanda berhenti. Diikuti oleh Ardana, keduanya mengambil posisi di bawah salah satu pohon sambil memantau keadaan di depan. Ilham menggembungkan rahangnya sedikit.
Tidak seperti seluruh area lain di Hutan Sirnasurya yang didominasi oleh pepohonan yang dahannya saling merapat, tanah yang sedang dia amati tampak berbeda. Lebarnya tidak lebih dari ukuran standar lapangan futsal. Di masing-masing sudutnya terdapat satu pohon dengan diameter lebih besar dari pepohonan lainnya. Dedaunan yang berserakan tampak lebih tebal, seperti sengaja ditumpuk sejak waktu yang lama.
Ilham memicingkan mata. Ada satu hal yang membuatnya tertarik. Di tengah tanah lapang tersebut terdapat sebuah plang besi berukuran 1x1 meter yang sudah berkarat terpancang pada sebuah tiang kayu yang sedikit lapuk. Jika dipertegas lebih jelas lagi, ada tulisan dan lambang yang sudah terkikis hingga nyaris sulit terbaca dari kejauhan.
“Kamu tahu, Dan? Kalau ada plang terpancang di tengah tanah lapang, artinya ada sesuatu yang ditandai,” ujarnya.
“Iya, iya. Saya paham, Pak. Tapi, kenapa Anda bisa berpikir ke arah sana?” Ardana mengiyakan namun tetap tidak mengerti. Baginya plang besi di depan sana tidak menandakan apa-apa.
__ADS_1
“Kamu tidak curiga sama sekali?” tanya Ilham.
“Sebenarnya sih tidak, Pak. Itu tampak seperti plang berisi informasi atau semacamnya,” jawab Ardana sekenanya.
“Bisa jadi, tapi untuk apa diletakkan di area selatan dan bukan di luar seperti di malam kedua waktu itu?” sanggah Ilham. Dia bergerak mendahului Ilham menuju tanah lapang di depan.
Mau tidak mau, Ardana mengikuti sambil sesekali menoleh ke belakang, lalu ke kiri dan kanan. Kedua kaki mereka terbenam hingga nyaris mencapai pertengahan betis. Ardana menyorotkan cahaya senternya ke arah plang agar Ilham bisa membacanya dengan lebih jelas. Yang membuat bulu kuduk si pemuda merinding adalah noda darah yang melekat pada hampir seluruh bagian plang. Seolah-olah sengaja ditorehkan oleh entah siapapun itu.
BATAS AMAN HUTAN SIRNASURYA. DILARANG MELEWATI BATAS INI BAGI PENDUDUK SIPIL DARI MANAPUN.
Ilham tersenyum kecut membaca tulisan yang ada pada plang di hadapannya. Di belakangnya, Ardana mengeja kalimat tadi dalam hati.
“Menuliskan batas aman, tapi tidak jelas garis patok selanjutnya,” gumamnya.
Ardana bergerak mundur. Tiba-tiba kaki kirinya menyenggol sesuatu yang berat dan tersembunyi di balik dedaunan.
“Apa ini?” Dia berjongkok lalu menyingkirkan semua daunnya.
Dahinya mengerut rapat. Sesuatu menyerupai sepatu tentara berhasil tersingkap dari tumpukan dedaunan yang gugur. Ketika diteruskan lagi menyapu semuanya, kedua mata pemuda ini membelalak. Sepatu tentara tadi ternyata bagian dari sebuah kaki dengan celana taktis bercorak kamuflase. Dia tahu itu bukan seragam TNI dari kesatuan manapun meski bernuansa hijau. Lagi-lagi, hanya seonggok potongan kaki manusia yang hampir membusuk namun tidak berbau.
“Pak, lihat ini!” panggilnya sambil menoleh pada Ilham.
Ilham tertegun melihat temuan Ardana. Lelaki ini ikut berjongkok di sebelah kanan.
“Milik tentara? Tapi dari sisa celananya, saya bisa pastikan model seragamnya tidak menunjukkan dari kesatuan atau matra manapun di TNI,” ujarnya menyimpulkan.
“Coba singkirkan semua dedaunan di tanah lapang ini!” perintahnya.
Ardana bertindak sigap dan mulai menyapu semua dedaunan yang gugur menutupi tanah lapang. Tidak hanya sebatas memberi perintah, Ilham pun membantunya. Potongan-potongan anggota tubuh lain berupa kaki dan tangan dengan sisa seragam tentara yang sama kembali ditemukan. Jumlahnya mencapai enam belas potongan. Namun tidak ada bagian kepala atau badan utuh. Ketika semua daun gugur berhasi disingkirkan, mereka baru tahu sedang berdiri di atas sebuah lapisan beton solid yang tampak kuat.
Ilham tampak terperangah. “Apa-apaan ini?”
* * * * *
__ADS_1