
Paramitha berhasil lolos dari serangan Togar. Sosok yang sudah menjadi mayat hidup yang separuh makhluk mutan itu terhuyung begitu tendangan dari mangsanya mengenai bagian belakang tubuhnya. Kemampuan bela diri yang dipelajari si gadis ketika masih duduk di bangku SMA benar-benar sangat berguna di suasana genting seperti sekarang. Sambil membangun ulang pertahanan Paramitha tidak mengendurkan genggaman kujang hitamnya. Matanya yang merah kehitaman tidak lepas dari mengamati pergerakan yang dilakukan Togar.
Sosok Togar berusaha bangkit. Makhluk ini menggeram marah karena tidak kunjung mampu menancapkan gigi-giginya di leher Paramitha. Bahkan salah satu matanya menjadi buta karena tusukan kujang. Dengan kondisi berdarah-darah, ia kembali mengayunkan tangan besarnya sambil berlari ke arah Paramitha.
GRRRRRAAAAARRRRGGGHHH!!
Lagi-lagi amukannya berhasil dimentahkan dengan mudah oleh Paramitha. Gadis ini mampu menghindar sambil berguling ke sisi kiri bawah Togar yang kesulitan menggerakkan tangan kanannya yang terlanjur terayun ke arah yang salah.
Clap! Clap!
Paramitha berhasil menusukkan lagi kujangnya ke bagian belakang tubuh Togar. Kali ini menyasar kepala yang ditumbuhi daging hidup yang berdenyut kencang. Tentakel dari lubang telinga kiri dan kanan bereaksi dengan berputar-putar ke belakang mencoba membelit leher Paramitha. Si gadis membalas dengan cepat. Kedua benda hidup itu langsung putus hanya dengan sekali tebas karena berada tepat saling berdekatan. Terjatuh di lantai lorong kemudian menggeliat sesaat dan akhirnya tidak bergerak untuk selama-lamanya.
Jasad Togar kembali mengalami regenerasi mendadak. Tidak hanya itu, tubuhnya juga berubah sedikit lebih tinggi dan besar. Paramitha segera mundur dan tetap menjaga jarak. Makhluk mutan di depannya kini meraung-raung kesakitan. Bagian kepalanya yang masih berbentuk manusia seketika retak terbelah dua dan remuk. Tubuh tanpa kepala tersebut masih tetap bereaksi dengan mengamuk. Tangan kanannya yang berukuran besar terus merusak dinding dan langit-langit lorong.
Melihat proses perubahan yang mengerikan itu Paramitha memilih terus menjauh. Meski merasa ngeri, rasa penasarannya untuk tetap melihat jauh lebih besar.
“Apa yang sebenarnya dilakukan orang ini semasa hidupnya, dengan semua yang ada di sini?” gumamnya.
Di saat yang sama, enam dari beberapa jasad tentara yang tersebar di area lorong di belakangnya hidup kembali. Sama seperti sosok Togar, makhluk-makhluk ini mengalami proses perubahan namun sedikit berbeda. Tangan kanan mereka sama-sama berubah menjadi lebih besar dan panjang dengan kulit yang robek semuanya hingga hanya menampilkan jaringan otot dan daging yang merah. Tidak ada pergantian wujud selain pada bagian mata yang semula keabu-abuan hampa, kini menjadi warna hitam seutuhnya. Pada setiap mata hitam tersebut muncul bintik-bintik merah yang menyala dalam kegelapan.
Paramitha mau tidak mau juga harus mewaspadai mereka. Keenam mayat hidup itu kini membuatnya tersudut. Sosok Togar masih terus mengamuk sambil memegangi pangkal leher yang buntung dan mengucurkan darah. Satu-satunya jalan untuk meloloskan diri adalah jalur lorong lain yang berada tepat di sebelah kanannya. Namun Paramitha tidak tahu ke bagian mana akan berujung, atau malah akan ada cabang lain yang membuatnya kebingungan. Di saat seperti itu dia masih sempat memikirkan keadaan Ardana. Dari suara ledakan tadi hatinya percaya pemuda itu juga berada di tempat yang sama.
“AYEUNA MANEH BAKAL PAEH KU AING!” ancam salah satu dari mereka dengan suara yang berat dan serak.
“KADIEU SIAH! ULAH KABUR TI AING!” Yang lain ikut bersuara sambil menggeram keras.
Gadis Catranata ini mulai mencari cara untuk menyelamatkan diri. Namun pertama-tama dia ingin membuat keenam makhluk di depannya terhambat lebih dulu. Kedua matanya menyapu cepat seluruh bagian lorong dan sisa jasad lain yang tetap terbujur kaku. Hingga sebuah granat yang tampak masih aktif di pangkuan satu mayat terdekat menarik perhatiannya. Tanpa mengulur waktu lagi Paramitha segera memungutnya. Beberapa tahun lalu Ilham pernah mengajarinya cara menggunakan granat meski tidak sampai memraktekkannya. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk melakukannya sendiri tanpa bimbingan lelaki purnawirawan Kopassus tersebut.
Tanpa memikirkan apalagi melakukan pertimbangan Paramitha melepaskan kunci granat. Begitu berhasil, bom itu tidak dilemparkan melainkan langsung digelindingkan ke bawah kaki keenam mayat hidup yang terus maju. Paramitha langsung berlari cepat ke jalur lorong di sebelah kanannya tanpa menoleh lagi. Dari sudut matanya gadis ini sempat melihat makhluk-makhluk itu kebingungan mendapati sebuah benda keras seukuran kepalan tangan menggelinding di bawah kaki mereka.
BLEGGAAARRR!!
Lima detik kemudian suara ledakan terdengar begitu dekat di belakang. Gulungan asap dan debu menyebar ke berbagai arah.
__ADS_1
“Aaaaakh!” Paramitha refleks menjatuhkan badannya dalam posisi terduduk. Kujangnya terlepas dan kedua tangannya menutupi telinga dengan erat. Suara ledakan granat yang tadi hampir merusak pendengarannya.
Suara berdengung menggema kuat mengganggu indera pendengarannya. Gadis ini untuk sementara waktu tidak bisa mendengar apapun dengan baik. Kujang hitam yang sempat terlepas diambilnya kembali sambil berusaha berdiri. Sejenak diamatinya senjata tradisional warisan keluarganya yang masih dalam kondisi baik.
TATATATATAT! TATATATATATATATAT!
Nyalak senjata api beruntun terdengar dari arah lain meskipun samar. Paramitha terkesiap sambil terus berjalan sedikit tertatih mencari sumber asalnya. Keyakinannya tentang keberadaan Ardana di area lorong itu semakin kuat dan menambah semangatnya.
* * * * *
Beberapa puluh meter dari lokasi Paramitha, tepatnya di antara jalur lorong yang bercabang dengan banyak ruangan, Ardana terus berlari ke sana dan sini sambil sesekali melepaskan tembakan ke berbagai arah. Mendapati dirinya terkepung, pemuda ini tidak lantas patah arang. Satu demi satu mayat hidup dan makhluk mutan yang mencoba menyerang atau menyudutkannya dibuat tumbang dengan kepala yang hancur. Sesekali dia menggunakan pisaunya untuk menikam bagian belakang leher mereka ketika sudah sangat terpepet.
Dalam situasi demikian Ardana masih bisa mengingat dengan jernih semua pelatihan yang dijalaninya. Sekuat mungkin dia mengesampingkan rasa takutnya demi bertahan agar bisa menemukan Paramitha. Menghilangnya gadis itu yang diduga kuat ada di tempat yang sama dengannya membuat pemuda ini bertempur dengan fanatik. Padahal lawannya bukan lagi manusia.
Seperti tengah dirasuki, setiap mayat hidup yang berhasil menyentuhnya langsung dibanting ke lantai. Tangannya yang menghunus pisau panjang tidak mengenal ampun dengan berkali-kali menghujam setiap tubuh mereka yang jatuh di bawah kaki Ardana.
“Mendekatlah kalau kalian ingin mati kedua kalinya!” serunya garang sambil memutar badan.
Sayangnya, karena memang bukan lagi manusia seutuhnya, makhluk-makhluk itu tetap saja menyerangnya. Hampir dari berbagai arah mereka terus berdatangan. Ardana yang kewalahan terpaksa menjaga jarak lebih jauh dan tidak lagi melakukan close combat. Dia terus mundur sambil menembak satu demi satu mayat hidup yang menerjang.
GRRRAAAOOOORRRRGGHHH!!
Sesosok makhluk tinggi besar tiba-tiba mencegatnya, beberapa puluh meter di depan tepat di antara perempatan jalur lorong. Ardana nyaris terpeleset karena terkejut. Sambil bersusah payah bangkit dia terus menatap makhluk yang berjalan ke arahnya. Wujud sosok tersebut lebih menyeramkan dari yang pertama dihadapinya. Sedikit mirip, namun seluruh tubuhnya benar-benar seperti dicabik kasar hingga menampilkan daging tubuh yang masih berdarah-darah. Tidak ada sabit bertongkat yang menjadi senjatanya, selain kedua tangan yang panjang dengan kuku yang besar dan sangat tajam. Wajahnya mirip perpaduan tengkorak dan gorilla yang seluruh bagiannya tampak membusuk.
Ardana bersiaga dengan menodongkan senjatanya sambil kembali mundur ke arah semula. Langkahnya tertahan begitu mendengar suara geraman ramai di belakang.
“Ingat, Dan. Jangan mati di sini.”
Pemuda ini kini benar-benar terkepung. Seolah tidak ada celah untuk bisa melarikan diri dari para mayat hidup dan makhluk mutan yang datang dari depan dan belakang. Makhluk tinggi besar di hadapannya menyeringai memamerkan gigi-gigi tajam dengan tatapan tajam menakutkan.
“Lucu, ya?” Ardana mencoba membuat kesal sosok itu. Dia membentangkan tangan dengan gelagat menantang. Sebuah ide gila tiba-tiba muncul dalam pikirannya.
“Kamu punya tangan yang besar dengan kuku yang tampak mematikan,” katanya lagi, ”maju dan serang aku!”
__ADS_1
GRRRAAAAAOOORRRGGGHHH!!
Seakan mengerti, makhluk setinggi lima meter itu menyerangnya dengan ganas. Lantai dan dinding lorong bergetar kecil setiap kali kakinya menjejak kuat. Tangan kanannya yang melebarkan cakar besar dan tajam mengayun cepat menyasar tubuh si pemuda yang masih berdiri tegap. Jantung Ardana berdegup kencang dan kakinya mulai terasa sedikit lemas.
Hampir saja tubuhnya tercabik dan tercerai-berai seandainya dia tidak menjatuhkan diri ke arah yang searah dengan ayunan tangan makhluk itu. Antara percaya dan tidak karena berhasil melakukan tindakan gila tadi, Ardana sempat terhenyak beberapa saat sebelum akhirnya tersadar. Senapan serbu SS2 V-4 di tangannya kembali menyalak memecah keheningan.
TATATATATATATATATAT!
Ardana berharap tembakannya berhasil menumbangkan sosok besar tersebut. Namun dugaannya keliru, makhluk itu dengan cepat berbalik mengayunkan cakarnya dengan tangan kiri. Satu jengkal lagi leher pemuda ini akan hancur kalau tidak segera kembali menghindar dengan melompat mundur.
“Bagaimana bisa aku menemukan Paramitha kalau terus menerus dicegat begini?” gerutunya sambil menjauh dan terus berlari.
Sosok berwajah setengah tengkorak dan gorilla tadi ternyata tidak melepaskannya begitu saja. Tubuhnya yang besar berputar cepat memburu Ardana yang berlari kelabakan mencari jalan untuk meloloskan diri. Si pemuda yang tidak menyangka akan dikejar oleh makhluk yang sama kembali dilanda kekalutan. Kemanapun dirinya bergerak selalu saja berhasil disusul dengan cepat. Dengan sisa amunisi yang mulai cekak tidak banyak yang dapat dilakukannya selain terus melakukan gerakan pengecohan.
Entah berada di bagian area lorong yang mana karena terus berputar kesana-kemari, Ardana akhirnya menemukan sebuah titik buntu dengan sebuah jalan menurun ke bagian bawah. Tampaknya itu menuju ke lantai berikutnya.
“Heaaaaa!”
Brukk!
Gbrakk!
Tanpa berpikir panjang lagi Ardana langsung melompat ke sana. Akibatnya cukup fatal karena kakinya tidak sengaja tergelincir. Tubuhnya jatuh berguling di barisan anak tangga tanpa bisa dicegah, lalu menghantam keras lantai beton di ujungnya. Mulai dari leher hingga kaki semuanya terasa nyaris remuk.
Ardana meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya. Dia sempat terkulai beberapa saat di sana sambil mengaduh kesakitan. Meski harus mengalami nasib yang kurang beruntung, sisi positifnya adalah berhasil lolos dari kejaran makhluk tinggi besar yang sejak tadi terus memburunya.
“Sepertinya... lebih baik turun dengan cara baik-baik daripada melompat begini,” gumamnya.
Sebuah jalur lorong yang tampak berbeda menyapa penglihatannya. Seluruh bagian dinding dan lantainya bukan lagi dibuat dari beton. Semua dilapisi plat baja keperakan yang cukup tipis dengan banyak lampu yang menghiasi sudut kiri dan kanan langit-langit. Tidak adanya listrik yang aktif membuatnya tertap bergantung pada cahaya senter yang dimilikinya.
Ardana memaksakan diri untuk berdiri lagi meski masih merasa sakit. Sambil bertumpu pada pembatas sisi kiri tangga matanya menyapu teliti kondisi tempat yang ada di hadapannya. Meski tampak modern namun dengan terlalu banyak noda darah yang mengotori dinding dan lantai membuatnya tampak sangat menyeramkan dari yang Ardana lihat sebelumnya. Bau amis di sana lebih kuat daripada area di atasnya. Dengan terpaksa dia mengenakan topeng gas yang sejak keberangkatan hanya menggantung di bawah lehernya dan menjadi hiasan.
“Apa yang akan kudapatkan di sini?” gumamnya penuh penasaran.
__ADS_1
* * * * *